14/09/2014
FILSAFAT KETUHANAN
Penuhanan dalam agama adalah suatu yang dengan sadar bersedia untuk dikuasai oleh-Nya baik bagi mereka yang hanya mempercayainya dengan perasaan maupun bagi mereka yang memikirkan-Nya dalam perenungan yang filsafati. Tuhan itu dianggap Maha Membiarkan, berarti perbuatan buruk seperti perkosaan, pencurian, penindasa, dan berbagai dekadensi moral bukallah kehendak Tuhan, manusia hanya dibiarkan untuk memilih dengan bebas, mana yang buruk dan mana yang baik, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang indah dan mana yang jelek. Sehingga dengan demikian manusia beredoman kepada Kitab Suci-Nya. Jadi yang akan dikaji dalam penulisan ini hanyalah tekstual kitab Suci bukan penerapan agama secara empiris, karena tidak menutup kemungkinan umat yang menjalankan aturan agama tidak lagi sesuai dengan para pembawanya (nabi).
Ada beberapa cara yang dilakukan para pencari Tuhan untuk membuktikan keberadaan Tuhan, antara lain sebagai berikut :
Pertama.
Melalui pembuktian bawha Tuhan sebagai pengatur kehidupan, yaitu karena pada alam raya ini ditemukan keteraturan orbit satelit pada planet, orbit elektron dan proton, sifat benda cair, gas dan padat, sehingga melahirkan berbagai hukum alam sehingga ditemukanlah berbagai alat seperti alat komunikasi, teropong, kamera, komputer, dinamit, mesin, lampu, listrik, pesawat, kapal laut, mobil, dan senjata.Hukum alam tidak hanya berlaku untuk ilmu-ilmu eksakta tetapi juga untuk ilmu-ilmu sosial. Inilah pembuktian keberadaan Tuhan melalui LOGIKA KEILMUAN.
Kedua.
Melalui pembuktian bahwa Tuhan sebagai pemcipta yang berkehendak, yaitu Tuhan menciptakan warna lukisan mata kupu-kupu yang menakutkanbagi musuhnya padahal ia begitu indah dan lemah, ketika Tuhan menciptakan cahaya indah yang tidak memanaskan tubuhnya kunang-kunang, ketika Tuhan menciptakan strategi penyamaran bunglon agar tidak dikejar pemangsanya, ketika Tuhan menciptakan kantong kanguru untuk bayinya, ketika Tuhan menciptakan berbagai penyakit kelamin guna memberi hikmah kepada para pelaku seks bebas, lalu diberi solusi pernikahan dalam agama-Nya. Kemudian berbagai kelainan dan penyimpangan seperti homoseks dan seks diluar nikah dilarang, serta begitu juga dengan dilarangnya manusia membunuh sesama manusia, memusnahkan tumbuhan dan binatang secara zalim serta merusak lingkungan sebagaimana yang diatur dalam Kitab Suci-Nya. Inilah pembuktian keberadaan Tuhan melalui jalur pengaturan ETIKA MORAL.
Ketiga.
Melalui pembuktian bahwa Tuhan sebagai pemberi rasa pada manusia berbudaya, yaitu deberi-Nya rasa dongkol, benci, muak, marah, dendam, kepada sesuatu. Kemudian diberi oleh-Nya Kitab Suci yang mengajarkan dongkol, benci, muak, marah, dendam kepada sesuatu yang pada tempatnya, seperti ketidakadilan, kedzaliman, penyelewengan, penindasan, dan dekandensi moral lainnya. Inilah yang disebut dengan “nahi mungkar”. Sebaliknya pada kesempatan lain diberi oleh-Nya rasa cinta, kasih, sayang, rindu, s**a dan gembira, kemudian diberi-Nya Kitab Suci yang mengajarkan cinta, kasih, sayang, rindu s**a dan gembira dalam membantu orang tua, fakir miskin, anak yatim piatu, serta orang terlantar. Inilah yang dimaksud dengan “amar makruf”. Hal demikian memberi pembuktian keberadaan Tuhan melalui jalur pemciptaan ESTETIKA SENI.
Berbeda dengan sifat Tuhan, benda apapun dialam raya ini yang diciptakan oleh Tuhan terkurung oleh keterbatasannya pada ruang dan waktu, artinya benda tersebut harus mengisi ruang dan melewati waktu. Sifat Tuhan tidak demikian, karena terlepas dari keterbatasan ruang dan waktu. Oleh karena itu pada gilirannya akan mendapar kesulitan kalau mempertanyakan tempat Tuhan dan waktu Tuhan, walaupun dengan sebuah penghormatanbesar yang namanya Surga atau Nirwana. Bila benda apapun di alam raya ini memerlukan ruang, sehingga kita kemudian mengenal kata di atas, dibawah, disamping kiri, disamping kanan, didepan, dan dibelakang, maka hal tersebut tidak berlaku pada Tuhan. Apabila kita memang hendak memuliakan-Nya, kata-kata “TUHAN DI ATAS ARASY” hendaknya dijadikan sebagai penghormatan, karean atas melebihi bawah. Kata-kata”YESUS BERADA DISEBELAH KANAN ALLAH BAPA” hendaknya dijadikan sebagai penghormatan pada Nabi Isa AS saja. Kata-kata “SHANG HYANG WIDI WASA MENOLEH KEKIRI DAN KEKANAN” hendaknya dijadikan keluasan ciptaan-Nya. Oleh karena itu diperlukkan ilmu ketuhanan (ilmu tauhid) untuk menikmati peribadatan secara filsafati, karena kalau tidak, kita sampai kepada usaha mengecilkan arti ketuhanan itu sendiri. Inilah yang oleh para filosof disebut sebagai perenungan tentang Tuhan.
Jadi tidak ada kata “Ketika Tuhan menyaksikan”, karena selamanya Tuhan melihat yang disebut dengan Maha Melihat (Asy Syahid) dan mustahil Tuhan berhenti melihat sebab akan membuat diri-Nya tidak kuasa melihat. Tidak ada kata “Ketika Tuhan mencipta” karena selamanya Tuhan mencipta yang disebut dengan Maha Pencipta (Al Khaliq), mustahil Tuhan berhenti mencipta sebab akan membuat diri-Nya beristirahat sehingga tidak kuasa lagi.
Pantheisme adalah paham yang mengatakan Tuhan berapa dimana-mana, paham ini lahir untuk memperlihatkan kemahakuasaan Tuhan sehingga berada dimana-mana. Tetapi malah menimbulkan masalah karean akan mempersulit seseorang membuang kotoran karena Tuhan berada ditempat itu, oleh karenanya pengkajian terhadap Tuhan selanyaknya dilakukan melalui nama dan sifat-Nya.