15/09/2017
KAMMI UNTUK MU
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia,
Bagi saya yang masih ‘newbie’, ‘noob’, ‘gak expert’, membicarakan organisasi mahasiswa ekstra kampus satu ini mungkin terkesan ‘sok’, masih AB1 dengan lancangnya “curhat” tentang KAMMI, baca buku pergerakan saja masih sedikit, diskusi saja masih gagap, pemikiran kenegaraan belum utuh, Islam masih belajar, mau membicarakan KAMMI layaknya akh Eri Muriyan atau ukh Alikta HS?
Tapi saya ingat dengan motto (mungkin) KAMMI yang diajarkan oleh akh Yogik Irawan, “perubahan dan perbaikan”. Siapa tahu curhatnya AB1 ini bisa berdampak positif? Insyaallah, juga sebelumnya selaku kader KAMMI, saya ingin meminta maaf jika ada kesalahan dalam curhat kali ini.
Bagi saya, KAMMI adalah jalan saya dalam berubah, berhijrah. Kala itu ada sebuah seminar yang diadakan oleh KAMMI, saya kurang tahu pasti apakah komsat Idaman atau daerah Banjarbaru, yang jelas kala itu anak-anak KAMMI menghadirkan orang-orang yang dalam sudut pandang saya adalah “prestasi hebat”, yaitu Presiden Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat akh Ari Yanto”, Sekretaris Jendral BEM Universitas Lambung Mangkurat akh “Dimas Nurhadi”, juga ukh “Erni Arniati Noviasari” yang mana menjadi mahasiswa berprestasi dalam sayap ilmu, jika tak salah dalam hal PKM kala itu, saya sedikit lupa. Yang jelas mereka semua adalah kader dari KAMMI.
Jujur, dalam beberapa tahun saya dilahirkan sampai saya masuk dalam perguruan tinggi sudut pandang saya tentang orang taat beragama adalah “ketinggalan zaman” dan “kuno”, karena yang saya lihat jika dia seorang remaja yang taat cenderung pergaulannya tertutup, prestasinya juga biasa-biasa saja. Maka saya alergi dengan Islam kala itu, walau agama saya Islam, walau saya sholat, puasa dan bersyahadat namun kiranya saya tak menerapkan Islam secara menyeluruh, tak menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan.
Lewat KAMMI, ada sesuatu yang menggiring saya agar mendekati Islam, karena saya melihat rolemodel luar biasa. Walaupun akhir-akhir ini jika dipikir kembali, apakah saya akan masuk organisasi ekstrakampus yang lain seandainya mereka lebih dahulu menawarkan saya “big role model” dengan jabatan penting di kampus atau sayap ilmu yang melangit? Bisa jadi, karena organisasi ekstrakampus lainpun memiliki kader-kader besar nan hebat yang bisa dibanggakan. Tapi, saya bersyukur Allah mengarahkan saya untuk bergabung dengan aliansi mahasiswa ini. Karena logika saya, umur yang relatif muda tapi dapat memberikan pengaruh luar biasa, bahkan dapat bersaing dengan organisasi ekstrakampus lain misalnya dalam hal perebutan posisi penting dalam dunia kampus adalah suatu bukti bahwa KAMMI memiliki alur kaderisasi yang bagus. Juga sedikit pengamatan saya tentang organisasi lain yang cenderung sudah mulai menjauh dari ruh Islam (yang saya agung-agungkan), bisa terlihat dari pemikiran dan kondisi para kadernya yang sering tampil di laman media sosial, cara berpakaiannya atau tingkah lakunya dalam sosial kemasyarakatan. Berbeda dengan anak-anak KAMMI, yang pemikiran dan ideologinya terjaga dan gerakgeriknya sangat dekat dengan pemikiran Islam, Islam yang sesuai dengan saya pastinya, yang saya s**a, yang saya s**a juga pastinya apa yang diatur oleh Allah dan diajarakn oleh Rasulullah. Islam tidak sempit. Bukan tugas saya memang menilai organisasi lain, namun kiranya cukup pantas untuk dituliskan sebagai opini saya dalam membandingnya KAMMI.
KAMMI bagi saya pasti berarti. Karena disinilah kesensitifan, pemikiran, curiga, gundah dan sedih saya dapat dilampiaskan. Orasi, penggalangan dana, obsesi menjadi ketua BEM Universitas, Penghafal Quran, mengajak orang-orang pada kebaikan (Islam) dapat disalurkan, difasilitasi. Sifat kekanakan lagi buruk perlahan tergusur karena pemikiran Islam yang melalang buana di kepala merubah anak yang kasar lagi acuh tak acuh terhadap orang tua menjadi anak yang orang tuanya sampai berkata “kok kamu berbeda nak?”, para kader yang senantiasa tersenyum cantik jika bertemu, genggam erat tangan yang hangat, juga keikhlasan di jalanan yang menyentuh.
KAMMI membuka pemikiran saya khususnya terhadap Indonesia juga dunia. Saya yang dulunya mencaci maki Indonesia saat kalah dalam sepakbola sekarang malah berkata “masih ada hari esok wahai Indonesia ku”. Kebanggaan terhadap merah putih, namun tak menjadikan lupa akan kebahagiaan orang-orang dari negri lain.
KAMMI juga yang mendekatkan saya dengan Islam. Kiranya sudah saya jelaskan diawal bagaimana detail yang paling berkesan dalam hidup adalah ketika saya hijrah itu. Niat kuat untuk hijrah dimulai dari situ. Walaupun pada perjalannnya proses hijrah saya terjadi ketika saya putusakn untuk “sudah” dengan do’I, si belum halal. KSI Asy-Syifa menjadi penyempurnanya.
KAMMI, bagi saya sangat hebat.
Jika kita melihat KAMMI-KAMMI khususnya di luar jawa, organisasi ini terbilang sukses dan menjadi favorit bagi mahasiswa yang haus akan keadilan, haus akan obsesi dengan niat baik, lapar akan kontribusi nyata bagi negri. Di kalimantan, kalimantan selatan jika dibandingkan jawa bisa dibilang KAMMI disini masih kecil, namun dalam perjalanan waktu KAMMI disini akan menjadi sangat besar, karena hal besar selalu dimulai oleh hal kecil terlebih dahulu.
Namun, sesuatu yang kecil tak akan pernah menjadi besar jika tak ada usaha untuk menjadi besar. Latar belakang dan sejarah KAMMI yang hebat, gambaran lapangan dari berbagai daerah, juga cita-cita dan visi KAMMI yang megah tak akan pernah tercapai jika kader dari KAMMI tak mengusahakan terlaksananya semua itu.
Cara yang tepat agar para kader mengusahakan cita-cita dan visi dari KAMMI adalah dengan menjadi mereka cinta terhadap KAMMI itu sendiri, dan cinta berawal dari rasa kenyamanan dari pengurusnya, rasa nyaman hadir karena kebutuhan yang terpenuhi dari setiap pengurus. Kebutuhan pengurus yang beragam juga harus membuat KAMMI agar lebih peka terhadap ekspetasi dari pengurusnya, obsesinya dan apa saja yang diinginkannya.
Melakukan diskusi evaluasi bulanan KAMMI atau membuat kuesioner pada para pengurus bisa menjadi solusi lalu mengambil langkah bersama-sama dalam perealisasiannya. Dengan cara itu, saat KAMMI sudah menjadi tempat untuk pulang para kadernya jangan heran jika kader mati-matian dalam memperjuangkannya.
Karena KAMMI adalah organisasi yang hebat, dengan cita-cita hebat, kader-kader hebat juga jalan yang hebat Islam. Sangat disayangkan jika memiliki kader yang bahkan tak ada niat untuk membesarkannya.
Epilog…
Sebentar lagi DM1 untuk KAMMI Komsat Idaman Banjarbaru, para kader pasti sibuk mencari mahasiswa yang mau ikut untuk mngikuti DM. Segala jenis bentuk kata-kata yang menganggungkan KAMMI bisa menjadi solusi yang tepat karena memang begitu adanya, namun komsat satu dan yang lain tak sama persis, ada yang sudah besar seperti Brawijaya misalnya ada yang masih berjaung agar menjadi besar, idaman. Maka jangan sampai kita selaku kader KAMMI Komsat Idaman mengecewakan para kader baru ini.
Evaluasi, diskusi dan bersama-sama dan perealisasian KAMMI yang lebih baik adalah pilihan.
Ini jalan Islam, jalan diridhoi Allah swt. Saya selaku kader KAMMI, walau lelah namun Allah selalu balas amal yang hari ini saya lakukan. Jangan pernah merasa rugi.
Sedikit pengantar untuk kalian
Reo Dwi Saputra
Ahmad Syllia Maulana
Wahyudi Wildan
Munawarah
Masda Lifah