16/06/2023
Saya dan bahasa Arab
Saya mengenal bahasa Arab pertama kali pada masa kanak-kanak saya sekitar kelas 3 SD (1977-1978) karena saya bersekolah diniyah pada sore hari. Sayangnya sekolah itu bubar setelah sekitar 1 tahun saya bersekolah di situ. Yang saya ingat saya belajar menulis huruf Arab, ismul isyarah dan beberapa kata-kata benda (isim) bahasa Arab. Minat saya terhadap bahasa Arab muncul ketika saya mengunjungi sepupu saya -- Nur Alian -- yang merupakan alumni dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di tempat tinggalnya, Nur Alian memamerkan skripsinya yang semua diketik rapi dalam bahasa Arab (1988). Menurut sepupu saya, mesin ketiknya hanya ada 1 di IAIN Sunan Kalijaga dan untuk meminjamnya harus antri. Skripsi sepupu saya membahas mengenai beragam khat Arab. Saat itu saya juga mendengarkan penjelasannya mengapa sebuah kalimat seperti bismillahirrahmanirrahim bisa dibaca meskipun pada tulisannya tidak terdapat harakat. Selain itu, sepupu saya memamerkan sebuah kitab fiqih ibadah karya kakek buyut (bapak dari nenek) saya -- Abdul Manan -- yang pernah tinggal di Jabal Qubays selama 13 tahun di akhir 1800-an. Kitab fiqih itu ditulis di atas kertas yang bertanda air pemerintahan hindia belanda. Salah satu putera dari kakek buyut saya adalah Muhammad Bakri yang mendirikan Masjid Ampel di Jalan Penatusan Purwokerto. Saat itu saya masih merupakan siswa SMA Negeri 1 Purwokerto kelas 3 jurusan Ilmu Sosial dan dorongan dari kakek saya apak dari ibu -- yang menyuruh saya melanjutkan ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga turut memotivasi saya belajar bahasa Arab. Setelah saya lulus SMA (1989), saya melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen. Untuk memenuhi pesan kakek saya, saya juga mencoba mendaftar ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1990) walaupun saya sudah tahu kalau saya tidak bakal lulus menembus peluang menjadi mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut karena latar belakang saya dari sekolah umum. Karena indekos saya justru lebih dekat ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, maka akhirnya saya berkenalan dengan seorang mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Arab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang seangkatan dengan saya bernama Muhbir bin Ardani yang berasal dari Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat (1991). Saya mulai dekat dengan Muhbir setelah bulan Ramadhan tahun 1991 ketika saya bertanya apa bacaan yang tertulis di spanduk yang ada di masjid IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat melakukan shalat Tarawih di sana. Saya bertanya karena tulisan Arabnya tanpa harakat. Muhbir merupakan alumni Pondok Pesantren Leler (SMP) dan Pondok Pesantren Kebarongan (SMA). Saya dan Muhbir saling bertukar ilmu bahasa. Saya mengajari Muhbir bahasa Prancis dan Muhbir mengajari saya bahasa Arab. Kami berdua sering mempraktekan muhadatsah bahasa Arab. Hampir setiap malam ba'da Isya hingga menjelang subuh saya sering berdiskusi dengan Muhbir tentang berbagai kasus bahasa Arab dari tinjauan Nahwu, Shorof dan Balaghah. Saya mempelajari Al-Ajurumiyyah hingga Mutamimmah meskipun tidak tuntas. Untuk menunjang pengembangan pengetahuan bahasa Arab, saya membeli kamus Idris Marbawi dan sebuah buku karya Aly Abu Bakar Basalamah berjudul Cara Mudah Belajar Bahasa Arab dan juga kamus Arab-Inggris terbitan Beirut karya Elias A. Elias serta sebuah mu'jam معجم قواعد اللغة العربية في جداول و لوحات. Saya juga sering meminjam dari Muhbir, majalah berbahasa Arab terbitan IAIN Sunan Kalijaga. Karena faktor s**a, akhirnya saya membeli kitab-kitab kuning standar pesantren, kitab Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim, Bulughul Maram, Riyadhus Shalihin dan sebagainya. Jika ada pameran buku di Gedung Wanita Yogyakarta, saya berusaha mencari tahu informasi tentang buku-buku atau kamus bahasa Arab. Sekitar 1992, saya tertarik dengan sebuah kamus Arab-Prancis. Saya tidak jadi membelinya karena harganya sangat mahal waktu itu. Karena seringnya berdiskusi dengan Muhbir, akhirnya saya mengetahui adanya kasus-kasus bahasa Arab serta kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Arab. Pada 1992 hingga 1994 saya mulai menggunakan software Al-Qirtosh yaitu software (dibawah DOS) yang digunakan untuk mengetik tulisan Arab. Pada masa itu, windows belum seberapa terkenal di Indonesia karena pasar software di Indonesia didominasi oleh WordStar dan Lotus 123. Saya mulai menggunakan
Windows Arabic mulai tahun 1994. Mulai tahun 1993 saya s**a mendengarkan siaran berbahasa Arab dari صوت اميركا (Suara Amerika Seksi Bahasa Arab). Dan untuk mendengarkannya saya harus rela malam-malam bangun sekitar jam 1 dini hari. Dari berita-berita Amerika Seksi Bahasa Arab saya jadi tahu penggunaan bahasa Arab fushah di media massa. Banyak kasus menarik seperti penggunaan Isytighal pada pembukaan berita. Kasus Isytighal sendiri dibahas secara rinci pada kitab Alfiyyah Ibnu Malik. Ada istilah-istilah yang awalnya terdengar aneh tetapi setelah beberapa waktu berlalu menjadi biasa. Sebag
h Gadjah Mada Yogyakarta di Fakultas Ekonomi