abataca | Bimbingan Belajar Membaca

abataca | Bimbingan Belajar Membaca Mendidik Anak Senang Membaca; Kami siap memberikan garansi Anak-anak Anda tidak sekedar Bisa Baca tapi juga Gemar Membaca. Kurikulum Membaca
2.

VISI
Menjadi bimbingan belajar anak-anak usia dini yang berkualitas, cerdas, ceria, berbudi pekerti luhur serta memiliki kesiapan baik fisik maupun mental dalam memasuki pendidikan dan kehidupan selanjutnya. MISI
Melahirkan peserta didik yang mampu melakukan kegiatan baca, tulis, hitung dan bahasa Inggris dasar secara optimal dengan menggabungkan aspek-aspek psikomotorik, kognitif, dan afektif se

cara seimbang serta dapat diaplikasikan dalam kesehariannya. TUJUAN
• Membentuk karakter anak yang kritis dan inovatif sekaligus kreatif, sesuai dengan tumbuh kembang anak secara bertahap serta disesuaikan dengan pertumbuhan psikologis anak.
• Membentuk insan yang beriman, bertakwa, disiplin, mandiri, memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi dan menjadi tunas bangsa unggul

KURIKULUM
Kurikulum terdiri dari program yang berisi aspek-aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif yang diberikan secara bertahap. Yang sesuai dengan kompetensi dan potensi anak.
1. Kurikulum Menulis
3. Kurikulum Matematika logika
4. Kurikulum Bahasa Inggris dasar

METODE PEMBELAJARAN
Adapun metode pembelajaran yang di gunakan oleh ABATACA terbagi menjadi 3 (Tiga) system, yaitu:
• FUN LEARNING
Semua proses pembelajaran dilakukan dengan cara bermain. Menggunakan alat permainan edukatif sehingga menjadikan suasana 100% menyenangkan antara guru dan murid
• ONE on ONE System
Sistem pembelajaran individual. Murid yang lebih banyak berperan aktif sebagai objek pembelajaran.
• STEP by STEP System
Memiliki modul sendiri berdasarkan kurikulum yang ada , juga memanfaatkan semua peralatan yang ada di dalam kelas sebagai alat pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter anak gemar belajar/ cerdas. Adapun ciri-ciri anak karakter gemar belajar adalah sbb :
• Belajar tidak disuruh
• Jiwa sosial tinggi
• Sering bertanya
• Rasa ingin tahu tinggi
• Mudah diarahkan
• Belajar tidak bersyarat
• Percaya diri
• Mandiri

KEISTIMEWAAN
1. Gemar membaca dan memahaminya.
2. Gemar menulis apa yang dibaca dan melatih motorik halus anak.
3. Basic English, yaitu materi bahasa inggris tingkat dasar anak - anak yang disajikan dengan santai dan tidak menjemukan, sehingga anak-anak merasa enjoy dalam belajar. Selain penguasaan vocabullary kami menekankan kemampuan speaking.
4. Tematik aplikasi Logika “kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur”.
5. Hal diatas merupakan garansi kami apabila anak mengikuti pendidikan selama 6 bulan dengan catatan absensi anak baik.
6. Garansi uang kembali (setelah melalui masa garansi pendidikan 3 bulan secara gratis)

KETENTUAN ANAK BERGARANSI
1. Anak berada pada rentang usia 3 – 6 tahun.
2. Tidak termasuk anak berkebutuhan khusus (Autis, Down Syndrome, Hyper Aktiv dll).
3. Jumlah kehadiran (Absensi) anak dalam masa pendidikan baik.

belajar menyenangkan, nyaman insya Alloh hasilnya maksimal
21/07/2016

belajar menyenangkan, nyaman insya Alloh hasilnya maksimal

belajar asik... belajar menyenangkan dimanapun....mimi (nama murid ini) selalu semangat belajar dan mengerjakan pelajara...
20/07/2016

belajar asik... belajar menyenangkan dimanapun....

mimi (nama murid ini) selalu semangat belajar dan mengerjakan pelajaran saat les bersama abataca. dan di sudut ruangan ini (ngumpet di belakang meja dan kursi) adalah tempat kes**aannya.

ayah, bunda yang anaknya mau semangat seperti mimi. bisa hubungi abataca di WA 083815231456. terbatas di area jakarta selatan.

Bismillah... abataca di rumah baru...Silahkan mampir...
13/03/2015

Bismillah... abataca di rumah baru...

Silahkan mampir...

09/10/2014

[LOKER] Dibutuhkan Staff Pengajar utk Bimbel Baca ABATACA

Persyaratan: Muslimah/Berjilbab, Pendidikan min. SMA/sederajat, Senang dengan anak-anak, domisili di sekitar Karawang.

Kirimkan lamaran/ datang langsung ke:
Bimbel Baca Abataca
Ruko Perumnas BTJ Blok I/37 Karawang.
SMS/ WA: 085779966846

20/07/2014

- Rhenald Kasali, Ph.D
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

diambil dari: http://mm.fe.ui.ac.id/index.php/berita/261-encouragement-prof-rhenald-kasali-phd via SDIT Insan Mandiri

Sebaiknya dibaca oleh para pendidik dan pejuang pendidikan

29/04/2014

Prof. Malik Badri, ahli Psikologi Islam kelas dunia, tidak setuju pd pendapat yg kini populer dalam bidang psikologi anak yg melarang orang tua untuk bersikap tegas pada anak dan bahkan melarang mereka untuk berkata "Jangan!".

Menurut Prof. Malik Badri, pemikiran seperti ini banyak dipraktekkan di Barat dan ditularkan ke dunia Islam. Argumen pertamanya sederhana saja, kurang lebihnya: "Kalau memang Barat lebih tahu cara mendidik anak yang baik, mengapa di sana begitu banyak anak durhaka yg tdk mau mendengar orang tuanya ketika beranjak dewasa, tidak respek pada orang tuanya, dan bahkan panti jompo laku keras di sana?"

Ust. Fauzil Adhim juga berpendapat demikian.
Beliau mengatakan,"Jangan Berkata Jangan. Tetapi ini tidak menunjukkan keharusan membuang kata jangan agar pesan kita lebih efektif. Jika kita menilik al-Qur’an, Anda akan menjumpai nasihat orangtua yang diabadikan oleh Allah Ta’ala. Inilah nasihat Luqman kepada putranya. Ia berkata,…“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah merupakan kezaliman yang besar.” (Luqman [31]: 13).

Inilah nasihat seorang ayah yang benar-benar mengantarkannya kepada kemuliaan tertinggi, yakni meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah nasihat yang mendapat berkah berlimpah dari Allah Ta’ala; membawa kebaikan kepada yang dinasihati dan mendatangkan pahala bagi mereka yang membaca nasihatnya disebabkan Allah Ta’ala telah abadikan sebagai ayat suci-Nya. Inilah nasihat yang mengantarkan pengucapnya, yakni Luqman, meraih surga Allah SWT. Dan nasihat ini diawali dengan kata la (tidak, jangan).

Nah, lalu bagaimana cara kita melarang anak selama ini? Katakan jangan kepada anak, tetapi sertailah penjelasan. Berilah mereka pembanding dan penguat atau alternatif tindakan yang bisa mereka ambil.

Proses jatuh bangun atau yang disebut dengan kegagalan dalam mengembangkan dan pemahaman pikiran adalah sebuah fase yang...
04/02/2014

Proses jatuh bangun atau yang disebut dengan kegagalan dalam mengembangkan dan pemahaman pikiran adalah sebuah fase yang wajar untuk menuju suatu pencapaian atau kesuksesan. Butuh usaha dan kemauan yang tinggi. Penuh kesabaran dalam menanam nilai pencapaian. Konsep penanaman inilah yang harus kita tanamkan dalam diri anak-anak sejak dini.

Kata kunci dari belajar dan mengajar adalah perubahan. Ya, perubahanlah yang menjadi ukuran apakah seorang anak sudah belajar dan seorang guru atau guru sudah mengajar. Maka setiap langkah guru men...

09/12/2013

Anak adalah amanah Alloh kepada orangtua, hatinya masih bagaikan tambang asli yang masih bersih dari segala macam corak dan warna. Ia siap dibentuk untuk dijadikan apa saja tergantung keinginan pembentuknya. Jika dibiasakan dan dibina untuk menjadi baik maka ia akan menjadi baik. Kedua orangtua, guru dan pendidiknya pun akan menuai kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya bila dibiasakan terhadap keburukan dan diabaikan pembinaannya laksana binatang ternak, maka buruklah jadinya dan ia pun merugi. Orang tua dan para pendidiknya pun akan turut menanggung dosanya.
-Ihya 'Ulumuddin, Al Ghazali-

15/09/2013

abataca | Bimbingan Belajar Membaca has launched the new email on yahoo - [email protected]

bagaimana menanamkan agar anak cinta buku? Anak saya dua orang, umur 9 dan 7 tahun, sangat s**a mainan dan tidak s**a ba...
19/08/2013

bagaimana menanamkan agar anak cinta buku? Anak saya dua orang, umur 9 dan 7 tahun, sangat s**a mainan dan tidak s**a baca buku. Yang kecil bahkan minta mainan mobil remot sampai menangis-nangis, tidak kami turuti, kami berusaha membelokkan….

Dalam pengajian Permata kemarin, seorang ibu bertanya kepada Ustadz Khairul Umam, Lc, “Ustadz, bagaimana menanamkan agar anak cinta buku? Anak saya dua orang, umur 9 dan 7 tahun, sangat s**a mainan...

18/07/2013

Burung tak pernah bisa mengubah arah angin, tapi ia bisa mengatur, kemana kedua sayapnya hendak dikepakkan.

di

Address

Karawang
41361

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when abataca | Bimbingan Belajar Membaca posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to abataca | Bimbingan Belajar Membaca:

Share