08/05/2014
Memaknai Gerakan Ilmu di Muhammadiyah
6 01 2010
“Jadilah kalian dokter, jadilah kalian insinyur, jadilah kalian guru, jadilah kalian arsitektur tapi kembalilah kepada Muhammadiyah.”
(KHA. Dahlan)
Pesan yang pernah disampaikan oleh KH. Ahmad Dahlan satu abad yang silam ini secara tersirat mengandung pesan yang dalam tentang pentingnya sebuah ilmu dalam menggerakan persyarikatan Muhammadiyah. Sebab dengan seperangkat ilmu pengetahuanlah Muhammadiyah akan bisa mewujudkan cita-citanya menjadi gerakan rahmatan lil’alamin bagi semua makhluk.
Semangat gerakan ilmu ini, tentunya sejalan dengan semangat Islam dalam mendidik manusia. Dalam Islam, ilmu menjadi aspek yang penting dalam mengarungi kehidupan di muka bumi ini. Maka sangat wajar, jika wahyu yang pertama sekali diturunkan dalam Islam berkaitan dengan instruksi Allah kepada manusia untuk mencari ilmu (QS: al-Alaq). Dengan bekal ilmu pengetahuan yang kuat serta didasari oleh keimanan yang kokohlah manusia akan memiliki kemampuan yang maksimal dalam mengelola kehidupan di dunia ini.
Kebesaran Muhammadiyah dengan seluruh perangkat amal sosial dan struktur gerakannya, sesungguhnya wujud sekaligus hasil dari interpretasi dan aksi KH. Ahmad Dahlan beserta para pendahulu Muhammadiyah dalam mengimplementasikan gagasan Al-Qur’an dalam aspek gerakan ilmu tersebut. Gerakan Ilmu oleh KH. Dahlan mampu ditransformasikan ke dalam ranah praktis untuk menjawab serta memberikan solusi terhadap persoalan dan tantangan kehidupan di tanah air. Seperti lahirnya lembaga pendidikan Muhammadiyah saat itu, bukan semata-mata berorientasi “usaha” semata, melainkan memiliki fungsi gerakan amal dalam bentuk perwujudan ilmu pengetahuan dalam tatanan kehidupan berbangsa. Karena keterbelakangan, keterpurukan, serta kebodohan sosial yang kemudian menyebabkan tumbuh suburnya prilaku musyrik dan amoralitas, akibat belum terbangunnya gerakan ilmu pengetahuan yang kokoh dalam masyarakat.
Muhammadiyah pada masa awal, sebenarnya telah bergerak dalam ranah tersebut, yaitu ranah gerakan ilmu. Kuntowijoyo menyebutkan, geneologis gerakan Muhammadiyah berawal dari gerakan ilmu (pemikiran), gerakan organisasi (institusionalisasi), dan gerakan amal (amal usaha). Akan tetapi ntah kenapa, upaya memaknai kembali Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu dalam konteks sekarang seakan-akan terhenti. Setidaknya hal ini ditandai dengan semakin kurang berdayanya Muhammadiyah berhadapan dengan tantangan dan perubahan zaman di abad 21 ini. Mustofa W. Hasyim mencotohkan, ketika terjadi perubahan dan tantangan dalam skala lokal, nasional maupun global bersamaan dengan kasus-kasusnya, Muhammadiyah seperti tidak menyiapkan jawaban-jawaban yang jernih, ilmiah dan praktis. Justru jawaban yang diberikan Muhammadiyah masih bersifat normatif dan politis.
Hal ini paling tidak, menandai masih gagapnya Muhammadiyah berhadapan dengan peradaban yang hadir saat ini. Tentu saja semua ini sebuah pertanda semakin redupnya gerakan ilmu yang pernah tumbuh subur dalam diri Muhammadiyah. Seharusnya sebagai organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah tidak bisa lepas dari gerakan Ilmu. Beberapa kali mantan ketua Umum PP. Muhammadiyah Prof. DR. Ahmad Syafii Maarif mengingatkan, agar Muhammadiyah harus kembali membangkitkan gerakan ilmu. Sebab Muhammadiyah akan dengan cepat ditinggalkan perkembangan peradaban saat ini tanpa dilandasi dengan gerakan ilmu. Karena ilmu dan peradaban adalah dua aspek yang tidak bisa terpisahkan. Maka jika Muhammadiyah ingin menjadi lokomotif dari peradaban manusia di abad 21 ini. Mau tidak mau, Muhammadiyah harus mampu memaknai kembali gerakan ilmu dalam Muhammadiyah. Seperti apa bentuknya, bagaimana indikatornya, dan prasyarat apa yang harus disiapkan, menjadi elaborasi penting yang harus dijawab sekaligus diimplementasikan dalam ber-Muhammadiyah.
sumber : suara-muhammadiyah.com