15/06/2026
🎧
(130)
*MAJLIS SAYYID SULTHAN*
(Catatan Al-Abrar, 29 April 1995)
Maulana ngendika:
> *_"Jika sebagian anggota badan mengerjakan kejelekan maka semua anggota tubuh yang lain juga ikut."_*
Baos beliau "ketika satu anggota badan melakukan keburukan maka anggota tubuh yang lain turut menanggung dampaknya" dapat dipahami sebagai perumpamaan tentang kesatuan diri manusia. Dalam perspektif akhlak, manusia bukanlah kumpulan bagian yang berdiri sendiri, melainkan satu sistem yang saling terhubung. Perbuatan tangan, ucapan lisan, atau pandangan mata tidak berhenti pada fungsi organ itu saja, tetapi membentuk keadaan batin, memengaruhi pikiran, dan pada akhirnya memengaruhi seluruh perilaku seseorang. Keburukan yang dilakukan oleh satu bagian tubuh menimbulkan resonansi moral yang menjalar ke seluruh diri.
Dalam kajian tasawuf, tubuh dipandang sebagai alat yang dikendalikan oleh hati. Ketika satu anggota tubuh terbiasa pada keburukan, hati akan ternodai oleh bekas perbuatan tersebut. Noda ini kemudian memengaruhi cara hati memandang kebenaran, sehingga anggota tubuh lain pun mudah terdorong mengikuti kecenderungan yang sama. Inilah sebabnya para ulama menekankan penjagaan seluruh anggota badan, karena kerusakan pada satu pintu dapat membuka pintu-pintu kerusakan lainnya dalam diri manusia.
Dari sisi psikologis dan etika, kebiasaan buruk pada satu perilaku seringkali menurunkan kontrol diri secara umum. Seseorang yang membiarkan matanya melihat yang tidak pantas, misalnya, lebih mudah tergelincir pada ucapan atau tindakan yang serupa dalam kualitas moralnya. Keburukan itu membentuk pola, dan pola tersebut menyatukan seluruh perilaku dalam satu arah yang sama. Karena itu, menjaga satu anggota tubuh dari keburukan sejatinya adalah upaya menjaga keseluruhan diri dari kerusakan.