23/09/2022
P e t u a l a n g •
Tiga dari beberapa siswa yang sempat saya ajar di kelas 6.
Aribi, seorang penyair dari tanah Maroangin. Saya sempat speechless ketika mendengar ia membacakan puisi hasil ciptaannya sendiri, sungguh di luar ekspektasi saya. Seorang anak yang sering pergi memanjat pohon bersama teman2nya mampu merangkai puisi dengan makna yg begitu dalam (pround of you boy🥺). Aribi bercita-cita menjadi tentara, katanya ia ingin membela negaranya dan akan menahan rasa sakit yang ia terima.
Awal, anak dengan gaya bicaranya yang khas ala anak jakarta. Entah ia belajar dari nonton TV atau memang pernah mendengar seseorang berbicara seperti itu. Tapi, itu yang membuatnya berbeda. Seorang anak dengan cita-cita tinggi, menjadi Astronot. Saya tidak menyangka di pelosok Barru, di bawah langit Maroangin menemukan cita-cita setinggi ini. Sangat salut padamu dik, meskipun harus menempuh 1 jam lebih perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki ia tetap semangat belajar untuk mengejar cita-citanya.
Akram, anak yang aktif ketika belajar namun kadang pemalu dan pendiam ketika kuajak bicara. Ia s**a bernyanyi, ketika kami membuka kelas menyanyi ia dengan semangat ingin mengikuti kelas tersebut. Namun, karena hanya sendiri, ia pun malu dan tidak jadi mengikutinya. Kelak, Akram ingin menjadi seorang dokter agar dapat mengobati orang yang sakit.
Ketiga anak di atas hanya beberapa dari puluhan anak di Maroangin. Bukan saya, tapi merekalah yg telah mengajari saya banyak hal. Tentang kesederhanaan, semangat yang tinggi, dan rasa syukur atas apa yang telah saya peroleh hingga detik ini.
Semoga sukses adik-adik dan bisa bersua kembali di lain waktu.
Terima kasih Maroangin atas 5 harinya yang penuh warna.
————
Cerita Sokola kak .inn