12/06/2017
Vapemagazine.id – Va**ng menjadi tren yang semakin digandrungi semakin hari. Tak hanya sekadar tren, va**ng juga dipercaya alternatif terbaik untuk mengurangi rokok yang berdampak pada membaiknya kondisi kesehatan seorang perokok.
Meski begitu, di mana ada dukungan, pasti ada penolakan. Sama halnya dengan va**ng yang masih dikelilingi suara sumbang terkait kesehatan dan zat yang terkandung dalam e-liquidnya. Di bawah ini adalah beberapa fakta ilmiah bahwa va**ng jauh lebih aman bagi kesehatan daripada rokok.
1. Uap Vaporizer Mengandung Nikotin, tapi Tidak Beracun
Pada Desember 2013, Oxford Journal merilis temuan pengamatan soal racun yang mungkin terkandung dalam uap yang diembuskan va**rs. Hasilnya, tak ada racun yang bisa berbahaya bagi ‘va**rs pasif’. Meski begitu, uap tersebut tetap mengandung nikotin dalam jumlah kecil.
2. Va**ng Tidak Membuat Pembuluh Darah Kaku
Berdasarkan penelitian peneliti Yunani dari Pusat Bedah Jantung Onassis, va**ng tidak membuat pembuluh darah menjadi kaku. Di sisi lain, pada perokok, mengisap dua batang saja sudah cukup untuk membuat pembuluh darah semakin kaku yang dampaknya bisa berujung pada serangan jantung karena aliran darah terhambat.
3. Va**ng Tidak Memengaruhi Pasokan Oksigen ke Jantung
Dr. Konstantino Farsalinos dari Pusat Bedah Jantung Onassis menjadi orang yang menemukan fakta ini. Berdasarkan temuannya, va**ng tidak memengaruhi pasukan oksigen ke jantung.
Temuan ini lantas berhasil dipaparkan di kongres tahunan asosiasi kardiologi Eropa yang digelar di Amsterdam, Belanda pada 2013.
4. Va**ng Aman untuk Jantung
Peneliti dari jurnal internasional penelitian lingkungan dan kesehatan masyarakat sempat meneliti dampak e-liquid bagi sel jantung. Hasilnya, setelah menguji 20 lebih e-liquid, mereka menemukan bahwa memanaskan e-liquid sama sekali tak berdampak pada sel jantung.
5. Va**ng Efektif untuk Berhenti Merokok
Tim dari Universitas Jenewa dan Universitas Auckland melakukan riset bersama terkait dampak va**ng bagi mantan perokok. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah va**ng bisa mencegah mantan perokok kembali ke tembakau. Selain itu, bagi perokok aktif, va**ng efektif untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut.
6. Va**ng Tak Berhubungan dengan Penyalahgunaan Rokok bagi Remaja
Peneliti Universitas Oklahoma, Dr. Ted Wagener meneliti dampak dari penggunaan vaporizer pada 1300 mahasiswa. Dalam penelitian itu, hanya satu orang yang mengaku pernah va**ng yang kemudian mengisap rokok. Dari data tersebut, disimpulkan bahwa va**ng tidak bisa dijadikan kambing hitam atas penyalahgunaan tembakau bagi remaja.
7. Perasa e-Liquid Membantu Berhenti Merokok
Hasil lain dari penelitian Dr. Konstantino Farsalinos menyebut, perasa dalam e-liquid berperan penting terhadap berkurangnya penggunaan rokok bahkan sepenuhnya berhenti merokok.
8. Kesehatan Perokok Meningkat setelah Beralih ke Va**ng
Sebuah tim peneliti gabungan independen dari Universitas Alberta, Kanada, melakukan riset tentang dampak kesehatan seseorang saat beralih dari merokok ke va**ng. Hasilnya, 91 persen orang di survei tersebut mengaku kesehatannya dalam berbagai aspek membaik setelah beralih ke va**ng. Selain itu, 97 persen orang di survei itu juga mengaku batuk kronisnya berkurang atau sembuh.
9. Tak Ada Bahaya Kesehatan bagi ‘Vapers Pasif’
Sebuah kelompok peneliti dari Perancis menemukan bahwa uap vaporizer hilang dalam waktu 11 detik. Di sisi lain, asap rokok masih tetap ada selama rata-rata 20 menit usai diembuskan.
Konsensus dalam penelitian itu adalah terekspos uap vaporizer sama sekali tak berbahaya bagi publik.
10. Va**ng Tak Memiliki Dampak Signifikan bagi Pernapasan
Dalam sebuah penelitian bertajuk ‘dampak terekspos uap vaporizer’, sejumlah peneliti melakukan studi terkait dampak uap terhadap pernapasan. Hasilnya, perokok pasif dinyatakan lebih berbahaya dibanding va**rs pasif. Dalam studi itu juga disimpulkan, vaporizer tak memiliki dampak buruk yang signifikan dalam kesehatan pernapasan.
Dari fakta-fakta ini, masih mau asap? Atau beralih ke uap?