16/08/2026
Delapan puluh satu tahun merdeka,
Bendera masih sama merahnya.
Tapi kenapa darah di jalanan warnanya lebih pekat dari sang saka?
Ditengah perayaan dengan petasan,
Tanah NTT bergetar, rumah rumah rebah seperti doa yang belum selesai.
Ibu memeluk anak dibawah langit yang retak, bapak menatap sawah yang kini retak juga. Korban berjatuhan dimana mana.
Sedang jauh disana, ditengah Upacara khidmat, Keadilan dan kebijaksanaan justru dijual di meja meja penjilat.
Apa yang terjadi?
Negeri ini carut marut, sahabat.
Koruptor bertepuk tangan paling keras saat lagu “Indonesia Raya” bergema.
Pejabat berpidato tentang rakyat, sambil lupa bagaimana wajah rakyat.
Tapi,
Ditengah carut marut negeri ini
Masih ada guru yang tetap mengajar, dengan gaji yang bahkan tak cukup untuk merdeka.
Masih ada pemuda yang bersama berpikir, berusaha, demi terwujudnya cita-cita bangsa.
Masih ada petani yang menanam padi sambil berdoa “Tumbuhlah, seperti harapan kami pada negeri ini”.
Merdeka itu bukan hanya 17 Agustus.
Merdeka adalah saat kita berani jujur,
Saat kita tidak diam melihat yang salah,
Saat kita tetap menanam meski tanahnya tandus.
Dirgahayu Indonesia.
Yang retak, tapi belum patah.
Yang luka, tapi belum mati.
Mari kita jahit kembali,
Dengan doa, kerja, dan keberanian.
Merdeka!🇮🇩
Lekas pulih Indonesiaku🕊
©️ Agustus 2026 | Creative by Bidang Cyber Media dan Pengelolaan Opini Publik PC PMII Kota Bandung 2025-2026
____________________
-81