06/06/2025
"Tidak akan kau temukan Tuhanmu hingga kau lenyapkan dirimu dari segala selain-Nya."
– al-Hallaj
Dalam pernyataan tajam ini, al-Hallaj membawa kita pada inti pengalaman spiritual: bahwa untuk menemukan Tuhan, manusia harus kehilangan dirinya, yakni fana (lebur) dari ego dan segala sesuatu yang menjadi selain Tuhan.
Pernyataan al-Hallaj adalah ajakan untuk melepaskan semua atribut yang mengikat: kehendak, keinginan, identitas, bahkan rasa memiliki. Dan dalam sejarah spiritualitas Islam, tidak ada peristiwa yang merepresentasikan ikhwal ini seintens peristiwa qurban.
Qurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan. Ia adalah pengingat, bahkan penghadir, dari peristiwa puncak dalam kisah spiritual Ibrahim dan Ismail. Ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Anak yang ditunggu bertahun-tahun, yang dicintai sepenuh hati. Sejatinya, yang disembelih bukan Ismail, melainkan rasa "memiliki" terhadap Ismail. Yang diminta lenyap adalah ego Ibrahim yang berkata: “Ismail milikku.”
Inilah yang disebut al-Hallaj dengan “melenyapkan diri dari segala selain-Nya.” Dalam qurban, kita tidak hanya menyembelih hewan, kita menyembelih ego, ambisi, kesombongan, keterikatan duniawi --segala yang menutupi wajah Ilahi dalam cermin jiwa kita.
“Qurban yang sejati adalah ketika kau serahkan hatimu, bukan hanya hartamu, kepada Tuhan,” begitu kata Al-Ghazali. Maka qurban bukan soal daging yang mengalir ke dapur orang miskin, tetapi tentang batin yang mengalir ke samudera Ilahi, dengan melewati tahapan-tahapan tajrid (pelepasan), takhalli (pengosongan), dan tahalli (penghiasan diri dengan sifat-sifat Ilahiah).
Al-Hallaj, dalam ekstasenya pernah berseru: “Ana al-Haqq” --“Akulah Kebenaran.” Sebuah pernyataan kontroversial yang membuatnya dihukum mati. Namun bagi para sufi, seruan ini bukanlah klaim keilahian, tetapi kesaksian bahwa diri yang profan telah lenyap, yang tinggal hanya Kebenaran itu sendiri. Dalam bahasa qurban, al-Hallaj telah menyembelih dirinya sendiri: bukan daging dan darah, tetapi nafs, ego, dan keberadaan palsu yang telah menjauhkan manusia dari wajah Tuhannya.
Dalam kehidupan kita hari ini, qurban adalah panggilan untuk merayakan “kehilangan”. Bukan kehilangan yang sia-sia, melainkan kehilangan yang membebaskan. Kita diminta untuk melepaskan --ambisi yang membelenggu, relasi yang penuh kepemilikan, bahkan keinginan untuk dipuji dalam beribadah. Selama diri masih mengklaim “aku”: aku beriman, aku berkorban, aku dekat dengan Tuhan. Maka “aku” itulah yang justru jadi hijab.
Seorang sufi berkata, “Tak ada dua dalam satu rumah. Jika Tuhan ingin tinggal di hatimu, keluarkan dirimu terlebih dahulu.” Maka qurban adalah momen spiritual untuk membersihkan rumah jiwa dari segala yang bukan Tuhan.
Di zaman yang penuh kelekatan ini, di mana identitas, status sosial, harta, bahkan amal saleh bisa menjadi bentuk baru dari ego. Maka qurban menantang kita untuk menafsir ulang: siapa yang sejatinya harus disembelih hari ini? Bukan sapi atau kambing, tetapi mungkin kesombongan kita dalam merasa paling dekat dengan Tuhan, atau perasaan bahwa Tuhan hanya milikku, bukan milikmu.
Qurban mengajarkan: yang benar-benar dekat dengan Tuhan adalah mereka yang “sudah tiada”. Tiada dalam arti telah kehilangan dirinya demi Dia. Seperti al-Hallaj. Seperti Ibrahim. Seperti Ismail yang rela menjadi persembahan cinta. Allahu a’lam[]