Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung

Call Directions Website

Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung Menjadi pusat studi dan informasi keushuluddinan yang unggul, kompetitif, dan layak bersaing.

"Tidak akan kau temukan Tuhanmu hingga kau lenyapkan dirimu dari segala selain-Nya."– al-HallajDalam pernyataan tajam in...
06/06/2025

"Tidak akan kau temukan Tuhanmu hingga kau lenyapkan dirimu dari segala selain-Nya."
– al-Hallaj

Dalam pernyataan tajam ini, al-Hallaj membawa kita pada inti pengalaman spiritual: bahwa untuk menemukan Tuhan, manusia harus kehilangan dirinya, yakni fana (lebur) dari ego dan segala sesuatu yang menjadi selain Tuhan.

Pernyataan al-Hallaj adalah ajakan untuk melepaskan semua atribut yang mengikat: kehendak, keinginan, identitas, bahkan rasa memiliki. Dan dalam sejarah spiritualitas Islam, tidak ada peristiwa yang merepresentasikan ikhwal ini seintens peristiwa qurban.

Qurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan. Ia adalah pengingat, bahkan penghadir, dari peristiwa puncak dalam kisah spiritual Ibrahim dan Ismail. Ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Anak yang ditunggu bertahun-tahun, yang dicintai sepenuh hati. Sejatinya, yang disembelih bukan Ismail, melainkan rasa "memiliki" terhadap Ismail. Yang diminta lenyap adalah ego Ibrahim yang berkata: “Ismail milikku.”

Inilah yang disebut al-Hallaj dengan “melenyapkan diri dari segala selain-Nya.” Dalam qurban, kita tidak hanya menyembelih hewan, kita menyembelih ego, ambisi, kesombongan, keterikatan duniawi --segala yang menutupi wajah Ilahi dalam cermin jiwa kita.

“Qurban yang sejati adalah ketika kau serahkan hatimu, bukan hanya hartamu, kepada Tuhan,” begitu kata Al-Ghazali. Maka qurban bukan soal daging yang mengalir ke dapur orang miskin, tetapi tentang batin yang mengalir ke samudera Ilahi, dengan melewati tahapan-tahapan tajrid (pelepasan), takhalli (pengosongan), dan tahalli (penghiasan diri dengan sifat-sifat Ilahiah).

Al-Hallaj, dalam ekstasenya pernah berseru: “Ana al-Haqq” --“Akulah Kebenaran.” Sebuah pernyataan kontroversial yang membuatnya dihukum mati. Namun bagi para sufi, seruan ini bukanlah klaim keilahian, tetapi kesaksian bahwa diri yang profan telah lenyap, yang tinggal hanya Kebenaran itu sendiri. Dalam bahasa qurban, al-Hallaj telah menyembelih dirinya sendiri: bukan daging dan darah, tetapi nafs, ego, dan keberadaan palsu yang telah menjauhkan manusia dari wajah Tuhannya.

Dalam kehidupan kita hari ini, qurban adalah panggilan untuk merayakan “kehilangan”. Bukan kehilangan yang sia-sia, melainkan kehilangan yang membebaskan. Kita diminta untuk melepaskan --ambisi yang membelenggu, relasi yang penuh kepemilikan, bahkan keinginan untuk dipuji dalam beribadah. Selama diri masih mengklaim “aku”: aku beriman, aku berkorban, aku dekat dengan Tuhan. Maka “aku” itulah yang justru jadi hijab.

Seorang sufi berkata, “Tak ada dua dalam satu rumah. Jika Tuhan ingin tinggal di hatimu, keluarkan dirimu terlebih dahulu.” Maka qurban adalah momen spiritual untuk membersihkan rumah jiwa dari segala yang bukan Tuhan.

Di zaman yang penuh kelekatan ini, di mana identitas, status sosial, harta, bahkan amal saleh bisa menjadi bentuk baru dari ego. Maka qurban menantang kita untuk menafsir ulang: siapa yang sejatinya harus disembelih hari ini? Bukan sapi atau kambing, tetapi mungkin kesombongan kita dalam merasa paling dekat dengan Tuhan, atau perasaan bahwa Tuhan hanya milikku, bukan milikmu.

Qurban mengajarkan: yang benar-benar dekat dengan Tuhan adalah mereka yang “sudah tiada”. Tiada dalam arti telah kehilangan dirinya demi Dia. Seperti al-Hallaj. Seperti Ibrahim. Seperti Ismail yang rela menjadi persembahan cinta. Allahu a’lam[]

02/08/2021
Kita masih dikepung  kesulitan. Kita juga tengah dihadang oleh wabah yang entah sampai kapan tuntasnya.Kesulitan yang di...
29/07/2021

Kita masih dikepung kesulitan. Kita juga tengah dihadang oleh wabah yang entah sampai kapan tuntasnya.

Kesulitan yang dihadapi dan tak bisa ditebaknya kapan pandemi ini berakhir mudah-mudahan tak menyurutkan kita untuk terus menggenggam harapan dan menihilkan niat untuk tetap semangat.

Menuntut ilmu adalah kewajiban. Menempa dan mematangkan diri dengan pengetahuan adalah keharusan, begitu agama menuturkan. Ilmu yang digali dan pengetahuan yang diupayakan sebagai cara mematangkan diri, mudah-mudahan menjadi perisai yang bernilai bagi setiap pembelajar untuk teguh dan tabah dalam menghadapi wabah.

Mudah-mudahan Allah meridloi dan berkenan memberikan kemudahan dan perlindungan. Selamat bergabung. Semoga menjadi pembelajar yang sehat, bahagia dan bergembira.[]

Ayo Wisuda... !
08/03/2021

Ayo Wisuda... !

Hari-hari ini, kita semua tidak hanya dilanda kecemasan tapi juga kegelisahan. Kita cemas karena pandemi Covid belum men...
10/02/2021

Hari-hari ini, kita semua tidak hanya dilanda kecemasan tapi juga kegelisahan. Kita cemas karena pandemi Covid belum menunjukkan k***a yang melandai. Kita cemas, kapan situasi berkabut ini akan menemu ujungnya.

Kita juga gelisah, karena orang terdekat kita tiba-tiba terpapar dan kemudian dinyatakan positif Covid. Kegelisahan ini saya rasakan, beberapa teman dekat akhirnya harus "mencicipi" sengatan Corona. Beberapa teman "dipaksa" menyingkir dan harus menyendiri di ruang isolasi.

Sungguh, ini nyata! Musuh ada di sekeliling kita tapi kita tak sanggup mengendus ia ada dimana. Kita gelisah dan semakin gelisah karena bisa jadi kita adalah korban berikutnya.

Ada setitik harapan bahwa pemerintah juga tak diam dengan memberikan perlindungan dan penjagaan untuk warganya. Gelombang vaksinasi sudah dan akan terus dilakukan. Musuh yang hebat harus juga dilawan dengan perlawanan yang tak kalah hebatnya. Vaksinasi adalah ikhtiar bahwa kita wajib melakukan perlawanan dan tak sudi bertekuk letut oleh ancaman dan serangan lawan. "Jadilah kuat bersama penderitaan", begitu katanya Nietzsche.

Betul, kita sedang cemas juga gelisah tapi tidak lantas menihilkan kesetiakawanan. Membuat kita menjadi soliter. Defisit bela rasa dan pertolongan terhadap sesama.

Dalam kondisi kecemasan dan kegelisahan, bela rasa atau "pertolongan adalah menyelamatkan bukan memanjakan bukan memamerkan kebaikan, bukan mempermuliakan diri dan bukan sama sekali mengharapkan balasan. Menolong memasok rasa bahagia karena membuat kita merasa berguna", begitu kata Putu Wijaya.

Tabik.

RADEA

Selamat dan sukses. Semoga membawa berkah untuk semuanya;
10/02/2021

Selamat dan sukses. Semoga membawa berkah untuk semuanya;

Sila buat teman-teman mahasiswa yang membutuhkan ikhwal keringanan pembayaran UKT;
04/02/2021

Sila buat teman-teman mahasiswa yang membutuhkan ikhwal keringanan pembayaran UKT;

04/02/2021
Suatu ketika, Soe Hok Gie pernah berkata, "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta". Ya, cintalah, yang "me...
05/01/2021

Suatu ketika, Soe Hok Gie pernah berkata, "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta". Ya, cintalah, yang "mempersatukan" kami. Cintalah yang menjadi dorongan untuk kami sudi berphoto bersama... 😂

Melampaui kecintaan untuk mengabadikan kebersamaan dalam bingkai photo, tentu saja, kami memiliki kecintaan yang sama terhadap lembaga dimana kami "hidup" dan mengabdi di dalamnya.

Bagi kami, cinta adalah energi. Cinta adalah spirit yang menghidupkan tindakan-tindakan yang sedang dan akan kami lakukan. Cinta sebagai alas dan jangkar kami terjemahkan ke dalam tiga nilai utama, "uswah hasanah" (leadership), "khidmah" (service excellence), dan "wasathiyah" (moderation).

Semoga Tuhan meridloi. Semoga sejarah menjadi saksi.[]



Address

Jalan A H Nasution No. 105
Bandung
40614

Opening Hours

Monday 07:00 - 16:00
Tuesday 07:00 - 16:00
Wednesday 07:00 - 16:00
Thursday 07:00 - 16:00
Friday 07:00 - 16:00
Saturday 07:00 - 16:00
Sunday 07:00 - 16:00

Telephone

+62227800525

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share