Fak. Ilmu Komunikasi - Univ. Islam Nusantara

Fak. Ilmu Komunikasi - Univ. Islam Nusantara Untuk mempromosikan dan mensosialisasikan Fak. Ilmu Komunikasi di Univ. Islam Nusantara

05/05/2015

Selamat kepada teh anisa, sebagai juara 1 Lomba Debat FIKom, disusul kang kasnuri sebagai runner up-1 dan kang sebagai runner up-2..

Gel. 3 PMB Universitas Islam Nusantara (UNINUS) sampai akhir bulan ini, test akan dilaksanakan di Gd. Fak. Teknik UNINUS...
08/08/2014

Gel. 3 PMB Universitas Islam Nusantara (UNINUS) sampai akhir bulan ini, test akan dilaksanakan di Gd. Fak. Teknik UNINUS tanggal 30 Agustus 2014..

Oh iya, peringkat UNINUS ada perkembangan lho.. Menurut lembaga internasional yang sering memperingkatkan (*bener ga sih memperingkatkan? :-D ) rangking perguruan tinggi di dunia yakni 4icu dan webometrics, posisi Uninus saat ini masuk dalam jajaran 100 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dan jajaran 10 besar perguruan tinggi negeri/ swasta terbaik di Bandung..

Rangking menurut 4icu
72. Univ. Kristen Maranatha Bandung
73. Univ. Islam Sultan Agung Semarang
74. Univ. Pancasakti Tegal
75. Univ. Islam Nusantara Bandung
76. Univ. Tarumanegara Jakarta
77. Univ. Widyatama Bandung
78. Univ. Pattimura Ambon

Rangking menurut webometrics
90. Univ. Islam Nusantara Bandung
91. Univ. Pancasila Jakarta
92. Univ. Sanata Darma Jogjakarta
93. Univ. Islam Bandung
94. Institut Seni Indonesia
95. Univ. Muhammadiyah Semarang

Ayoo, yang masih semangat untuk kuliah di wilayah Bandung dengan kualitas terbaik dan harga premium, daftarkan langsung di UNINUS yang beralamat di Jl. Soekarno - Hatta No. 530 Bandung..

Come Join Us..!!!!! :-D

08/03/2014

Resep Alvin Adam ini cukup berhasil memancing para narasumber untuk menceritakan kisah-kisah mendalam

Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung mulai membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun angkatan 2014/2015 per-...
01/03/2014

Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung mulai membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun angkatan 2014/2015 per-bulan april, terdiri dari 7 Fakultas :

- FKIP (Keguruan Ilmu Pendidikan)
- FKUM (Hukum)
- FIKOM (Ilmu Komunikasi)
- FAI (Agama Islam)
- FTEK (Teknik)
- FAPERTA (Pertanian)
- FEKON (Ekonomi)

Come join us in UNINUS.. ;)

08/12/2013

Seorang dokter Eropa berkata :
jika semua manusia amalkan 3 sunnah saja (sunnah makan, sunnah di Kamar Mandi, sunnah tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karna tidak ada pasien.

Yang penting ini adalah SUNNAH

1. BAB duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ambeien. BAB jongkok lebih bersih dan menyehatkan. ---> dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.

2. Kencing berdiri resiko prostat dan batu ginjal. Kencing jongkok
lebih bersih dan menyehatkan. ---> yg terpenting itu adalah
SUNNAH.

3. Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna.
Bilamana dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan
tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan. ---> yg terpenting
itu adalah SUNNAH.

4. Makan dan minum berdiri mengganggu perncernaan. Dengan duduk lebih santun dan menyehatkan. ---> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

5. Makan di kursi, masih kurang menyehatkan. Dengan duduk
dilantai, tubuh akan membagi perut menjadi 3 ruang: udara,
makanan dan air. ---> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

6. Makan buah setelah makan (cuci mulut) kurang bagus bagi
lambung, karena ada reaksi asam. Yang sehat adalah makan buah
sebelum makan, membantu melicinkan saluran pencernaan
dan membuatnya lebih siap. ---> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

7. Tengkurep & terlentang tidak bagus untuk kesehatan. Tidur
menghadap kanan lebih menyehatkan. ---> yg terpenting itu adalah SUNNAH.

8. Banyak Rahasia Sunnah yg telah diteliti para pakar, dari segi
hikmah, manfaat, dan kesehatan. Benarlah yg dikatakan : dibalik
sunnah ada kejayaan. Bagi kita, jika misalnya belum tau manfaatnya, terus saja semangat mengikuti adab dan tuntunan
Rasul. Manfaat itu efek samping, motivasi utamanya adalah
mengikuti adab dan tuntunan Rasul.

9. Seorang dokter Eropa berkata : jika semua manusia amalkan 3
sunnah saja (sunnah makan, sunnah di Kamar Mandi, sunnah
tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karna tidak ada pasien.

Mari kita semua amalkan, 24 jam hidup dengan sunnah. Bahkan
tidur lelap, setiap detiknya akan dianggap dzikir jika sesuai
dengan sunnah. "Barang siapa menghidup- hidupkan sunnahku,
dia cinta kepadaku. Barang siapa cinta kepadaku, bersamaku di
dalam surga"

19/11/2013

Mengapa (Harus) Belajar Ilmu Komunikasi?

Secara umum, komunikasi dapat dimaknai sebagai proses pengiriman (transmits) informasi untuk merubah perilaku individu lain (the audience). Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yang dapat terjadi padasetiap gerak langkah manusia. Komunikasi amat esensial dalam buat pertumbuhan kepribadian manusia. Para ahli ilmu sosial telah berkali-kali mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan kepribadian. Ashley Montagu, seorang Antropolog yang cukup terkenal, dengan tegas menulis : “the most important agency through which the child learns to be human is communication, verbal also nonverbal”. (media yang paling penting bagi anak belajar untuk menjadi manusia adalahkomunikasi,verbal maupun nonverbal

Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain di lingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain di lingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun non-verbal. Melalui komunikasi kita berbicara dengan diri kita sendiri, mengenal serta mengevaluasi diri sendiri; melalui komunikasi kita berkenalan serta berinteraksi dengan orang lain, dan mengungkapkan perasaan kita terhadap orang lain; dan melalui komunikasi kita memecahkan segala macam persoalan, mengembangkan gagasan baru, serta berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain.

Tapi seringkali orang bertanya, “untuk apa kita belajar berkomunikasi”, “bukankah sejak lahir kita sudah diajarkan berkomunikasi?” “Bukankah komunikasi sudah kita terima begitu saja (taken for granted) dari orang tua kita?”

Komunikasi adalah suatu hal yang sangat kompleks dan merupakan kegiatan yang menantang (challenging activity), demikian rumitnya, hamper setiap orang pernah mengalami mengalami kegagalan dalam berkomunikasi (miskomunikasi). Terlebih saat ini kita telah memasuki sebuah era yang disebut sebagai “masyarakati nformasi” (Information society), yaitu sebuah era yang masyarakat nya telah menjadikan komunikasi melalui proses pengiriman informasi sebagai sebuah komoditas kepentingan-kepentingan ekonomi. Dengan demikian, dalam era masyarakat informasi, keahlian komunikasi adalah kemampuan yang mutlak dimiliki banyak setiap agar bisa siap menghadapi dunia yang telah menjadikan komunikasi sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Maka bermunculan begitubanyak profesi dalam bidang komunikasi, hamper semua bidang pekerjaan membutuhkan orang-orang yang memiliki skill komunikasi. Mulai dari public relation officer, trainer, motivator, editor, jurnalis, analis media, reporter, programmer TV, media researcher, Media Planner, public speaker. Ataupun pekerjaan-pekerjaan yang lebih berkaitan dengan dunia akademis, seperti dosen dan peneliti, yang memang membutuhkan para ahli di bidang ilmu komunikasi.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai “untuk apa kita belaja rberkomunikasi?, dan aggapan umum bahwa sejak lahir kita sudah diajar kan berkomunikasi, menemukan jawabannya ketika ada bagitu banyak calon mahasiswa yang berbondong-bondong memasuki program studi ilmukomunikasi, mereka menyadari bahwa meskipun komunikasi adalah sesuatu yang secara inheren kita terima sejak lahir, namun itu belum cukup untuk bisa menghadapi dunia globalisasi seperti sekarang ini. Setiap orang yang ingin mempersiapkan dirinya terjun kedalam masyaraka tinformasi (information society) membutuhkan pengetahuan sistematis mengenai komunikasi dan membutuhkan skill – teoritis maupun praktis – mengenai proses komunikasi.

Malam Bimbingan dan LDKM tgl 21-22 Oktober 2013 di Vila Kidang Kencana dan Vila Ciyung Wanara, Ciwalini - Ciwidey, Bandu...
18/11/2013

Malam Bimbingan dan LDKM tgl 21-22 Oktober 2013 di Vila Kidang Kencana dan Vila Ciyung Wanara, Ciwalini - Ciwidey, Bandung

Gaji Jurnalis Masih dibawah Rata-rataPendidikan jurnalis saat ini sangat banyak ditawarkan di perguruan tinggi, dan pemi...
12/11/2013

Gaji Jurnalis Masih dibawah Rata-rata

Pendidikan jurnalis saat ini sangat banyak ditawarkan di perguruan tinggi, dan peminatnya pun menjadi semakin meningkat. Menjadi jurnalis merupakan pilihan karir yang menarik bagi anda yang menyukai tantangan, s**a menulis dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Banyak pertanyaan seputar dunia jurnalistik termasuk salah satunya adalah besaran gaji yang didapat oleh seorang jurnalis.

Tanggung jawab jurnalis sangatlah besar karena jurnalis merupakan penghubung antara sumber berita dan masyarakat luas. Akurasi merupakan satu hal penting dalam kerja seorang jurnalis, lemahnya akurasi bisa menyebabkan tidak tepatnya penggunaan data, fakta dan nama sehingga melahirkan kesalahan dalam sebuah berita dan masyarakat pun mendapat informasi yang salah.

Gaji jurnalis atau pekerja media di Indonesia masih banyak yang di bawah rata-rata atau menerima gaji sangat rendah, dibandingkan beban pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai alat sosial kontrol masyarakat. Standar Upah Minimum Kota (UMK) dan Upah Minimum Propinsi (UMP) yang masih kerap digunakan perusahaan media sebagai patokan untuk menggaji jurnalisnya.

UMP sendiri ditetapkan berdasarkan komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) kebutuhan sandang, pangan dan papan yang disurvey oleh Dewan Pengupahan masing-masing propinsi. Dalam komponen KHL, laptop dan rekreasi tidaklah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi para pekerja, tapi bagi jurnalis, laptop bukanlah barang mewah melainkan kebutuhan riil jurnalis untuk menunjang kinerja di lapangan yang makin dituntut lebih cepat dalam menyajikan informasi. Fase pekerjaan yang cepat dan dikejar waktu juga sering membuat para jurnalis menghadapi tingkat stress yang tinggi, untuk itu kebutuhan akan rekreasi sangatlah diperlukan.

Rata-rata jurnalis yang baru diangkat menjadi karyawan tetap digaji seputaran Rp. 1.700.000 – Rp. 2.200.000. Akan tetapi di luar Jakarta seperti daerah Palu, Semarang dan Medan, jurnalis digaji hanya sebesar Rp. 500.000 – Rp.700.000. Seharusnya jurnalis untuk entry level position bisa memperoleh gaji layak sebesar Rp. 2.700.000 – Rp. 3.500.000. Hanya ada 4 perusahaan media di Indonesia yang memberikan gaji layak diatas standar gaji minimum jurnalis yaitu Kompas, Bisnis Indonesia (Rp.5.000.000), Jakarta Post (Rp. 5.500.000) dan Jakarta Globe (Rp. 5.500.000).

Dengan kondisi pengupahan yang kurang seperti saat ini, sering kita lihat adanya praktek suap jurnalis atau yang lebih dikenal dengan pemberian ”amplop” kepada jurnalis. Bentuk pemberian ”amplop” ini berbeda-beda dapat berbentuk uang atau biaya transportasi, barang berupa doorprize seperti alat-alat kebutuhan rumah tangga, Fasilitas, hiburan, dan service di luar acara.

Menurut Nezar Patria, Ketua Aliansi Jurnalis Independen, Upah yang layak dapat membangun pers yang berkualitas di Indonesia. Tanpa jaminan mendapat upah yang layak, jurnalis rentan mengabaikan kode etik jurnalis dan terjebak pada praktek suap/sogok yang mengikis indepedensi mereka dalam membuat produk jurnalistik yang berkualitas. Akibatnya publik akan mendapat informasi yang bias kepentingan dan manipulatif.

Sumber :

Talkshow dengan pembicara Nezar Patria, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Indonesia

http://fspmindependen.wordpress.com/2008/09/17/mengklasifikasi-amplop-bagi-jurnalis/

Oleh Winuranto Adhi, Koordinator Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta Modus pemberian "amplop" kepada jurnalis kian beragam. Tak lagi sekadar menyelipkan sejumlah duit ke dalam amplop, kini makin mar...

05/11/2013

Berbicara tapi Tangan Sibuk Bermain HP

Setidaknya judul yang saya ambil ini (masih) belum lazim di Jepang.

Pemandangan ini banyak saya lihat ketika saya dan keluarga mudik ke Tanah Air Tercinta, Indonesia dua tahun yang lalu. Tidak hanya di pusat perbelanjaan, restoran bahkan ketika kita berkumpul bersama di rumah salah seorang teman pun kita bisa melihat pemandangan unik ini.
Mulut berbicara tapi mata tidak menatap lawan bicara. Iya, karena terlalu sibuk dengan telpon genggamnya masing-masing. Tidak terbayang kalau itu dilakukan di sini, walhasil kita akan dianggap tidak sopan dan tidak menghargai si lawan bicara, dan akhirnya dikucilkan dalam pergaulan.
Sepertinya pemandangan ini sudah bukan hal yang aneh lagi di Indonesia, khususnya di Jakarta, karena saya melihat ada keluarga makan di restoran tapi hampir semuanya melakukan percakapan/ngobrol dengan mata menatap layar HP-nya masing-masing.

Sibuk apa ya?

Update status di FB, Nge-tweet, nge-WA, nge-LINE? Sepertinya kalau tidak eksis sedetik saja kok jadi masalah besar dan mengancam jiwa.

Berhubungan dengan social media sama sekali tidak salah kok, kenapa salah?

Aktif di jaringan sosial ini banyak juga nilai positifnya, kita bisa menjaga silaturahmi dengan sesama dan jadi tahu keadaaan sobat dan kerabat kita kapan pun. Tapi ya mbok yao, kalau kita lagi berbicara atau mengobrol dengan orang (bukan binatang), baik itu dengan anak kita, suami, orang tua, bahkan teman pun, diletakkan dulu telpon genggam di meja dan tataplah lawan bicara di depan kita. Karena itu menandakan kita antusias dan menghargai pembicaraan si lawan bicara. Dan kalaupun ada telpon masuk atau pesan masuk, mintalah permisi untuk menjawabnya dengan segera. Bukan hal yang rumit saya pikir berlaku seperti itu, saya lihat manner ini masih dijunjung tinggi di sini, walaupun dengan sesama teman, pada saat menjawab telpon yang mendadak bunyi atau menjawab pesan yang masuk, demi menjaga perasaan orang yang sedang berbicara, mereka meminta ijin terlebih dahulu untuk mengangkat telpon atau menjawab pesannya itu.

Saya memang tidak gaul dan tidak mengerti apa yang sedang tren di Indonesia saat ini, tapi apakah tren ketak-ketik HP saat mengobrol sudah menjadi pemandangan yang lumrah dan lazim?
Mungkin kalau ada 5 orang yang berkumpul, 2 orang sibuk dengan HP, lalu yang 3 orangnya antusias berbicara tanpa ketak-ketik HP, itu baru dikatakan ada ketidaknyamanan, karena mungkin 2 orang ini dianggap tidak menghargai para lawan bicaranya itu, tapi kalau semuanya, ke-5 orang itu juga melakukan ketak-ketik secara serempak, sepertinya kok ya bisa dikatakan, tidak ada yang dirugikan dan suasana juga terlihat nyaman-nyaman saja, tapi bagi yang tidak biasa melihatnya jadi pemandangan yang aneh dan unik sekali, apalagi kalau ternyata dari ke-5 orang tersebut saling bersahut-sahutan di medsoc juga, hihi kocak juga raga ada di dunia nyata tapi jiwa melayang di dunia maya. Kalau begitu kenapa harus kumpul bareng ya?

Teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang pun bercerita, kalau pemandangan itu memang sudah biasa di Indonesia, hanya saja bagi temen-temen yang belum biasa, mungkin bingung sendiri sambil pegang jempol kaki tentu saja, apabila melihat sekumpulan orang yang sedang ngobrol tapi tidak tahu bicara ditujukan ke siapa, karena semua yang berbicara/ngobrol itu memandang ke bawah semua (HP).

Mudah-mudahan saja anak-anak kecilnya tidak tertular dengan wabah ini, gawat juga kalau sampai mereka juga berbicara pada orang tua bahkan kakek-nenek tapi jari tangan sibuk berketak-ketik di HP-nya. Atau sudah banyak terjadi?

Salam Hangat dari Jepang

Weedy Koshino

04/11/2013

Makna Lain, Tahun Baru Islam 1 Muharram

Sesuai namanya, tahun baru ini, adalah tahun baru untuk penanggalan umat Islam. Berbeda dengan umat lain, yang penanggalannya, ditandai dengan kelahiran sang pembawa ajaran, seperti tahun Masehi ditandai dengan kelahiran nabi Isa. Tetapi tahun baru Islam ditandai dengan sebuah peristiwa heroik. Yakni, peristiwa hijrahnya nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.

Lahirnya, penanggalan itu, didasarkan pada kebutuhan, ketika itu, Umar Bin khatab yang menjadi kepala pemerintahan, merasa kesulitan untuk mencatatkan agenda kenegaraan, karena ada beberapa versi yang digunakan, seperti menggunakan dasar penanggalan tahun gajah, tahun masehi dll.

Maka, berdasarkan hasil Musyawarah, dan atas saran dari Ali bin Thalib karamallahu wajhahu, maka Khalifah Umar ibnu al-Khattab pun, akhirnya menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Islam.

Lalu, apa makna Muharam itu, bagi kita semua?

Pertama, untuk menghindari kultus individu, maka penentuan tahun baru itu, bukan didasarkan pada kelahiran, tetapi pada peristiwa, ini menunjukkan Islam sebagai agama yang progresif, bergerak maju, tidak stagnan, dia bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa lain, sesuai kebutuhan zaman, kebutuhan tempat dan kebutuhan manusia pada saat itu.

Kedua, Hijrah itu sendiri artinya berpindah, bisa jadi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, atau berpindah dari suatu peristiwa ke peristiwa lain, atau berpindah dari perilaku yang satu ke perilaku lain, yang inti dari perpindahan itu, menuju pada hal yang lebih baik dari sebelum perpindahan. Jadi, jika umat Islam stagnan pada satu kondisi, apakah perilaku, kondisi, dan wilayah dan tidak menunjukkan perubahan pada sesuatu yang lebih baik, maka sesungguhnya, dia telah meninggalkan ruh, hijriah itu sendiri.

Ketiga, Muharram itu sendiri, artinya yang diharamkan atau sangat dihormati. Pada bulan haram itu, -umat Islam memiliki empat bulan Haram-, umat Islam diharamkan untuk berperang, pada bulan itu, genjatan senjata dilakukan, dengan kata lain, semangat muharram adalah semangat perdaiamaian. Sehingga mereka yang mengenal esensi tahun hijriah yang dimulai pada satu muharram, adalah mereka yang memiliki kesadaran akan perdamaian, bersifat kasih sayang pada seluruh umat manusia, menjadikan kehadirannya sebagai berkah bagi alam semesta.

Keempat, inti dari seluruh ajaran Islam, dalam konteknya hijriah, adalah perubahan pada sesuatu yang menuju pada kebaikan, pada kemajuan dan kemanfaatan bagi seluruh manusia, pada seluruh alam semesta dengan semangat damai sejahtera, penuh kasih sayang, sehingga tujuan Allah menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamien itu –rahmat bagi alam semsta- itu dapat diwujudkan oleh para pemeluknya…. Wallahu A’lam bish-shawab.

Iskandar Zulkarnaen

03/11/2013

Kenapa Musti Paranoid dengan Islam?

Tampaknya propaganda negatif barat tentang Islam anehnya malah justru lebih berhasil di Indonesia.

Di tempat dimana Islam justru menjadi keyakinan mayoritas, walaupun secara pribadi saya pun sangsi apakah nilai nilai Islami benar benar telah diletakkan ataupun dilaksanakan didalam tiap sendi didalam kehidupan di Indonesia. Tentunya, kenyataan kemajemukan di Indonesia pun menjadi dasar mengapa Islam pun bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih membumi di Indonesia. Adaptif, terhadap keanekaragaman budaya disini tanpa harus meninggalkan akar aslinya juga. Tak bisa juga meninggalkan unsur khas Timur Tengahnya, karena toh kebudayaan yang menyertai Islam memang berasal dari sana kan?

Satu paket yang bisa diterima seutuhnya, atau mengambil inti pembelajarannya saja yang bersumber tentu dari Al Quran dan Al Hadist sendiri. Seperti contohnya gaya berbusana. Mengenakan gamis, bagi kaum pria pun cenderung karena kecintaan terhadap Islam dan budayanya sendiri. Ilmu yang mempelajari perilaku dan kebiasaan Rasulullah SAW dengan harapan untuk dapat semakin memperbaiki ibadah dan perilaku pun menjadi garis yang cukup jelas, mengapa banyak yang melakukannya.

Dan seperti agama atau budaya lain yang masuk ke Indonesia, tidak ada salahnya untuk menerapkannya disini. Pertanyaan yang lucu justru muncul pada saat orang mulai anti melihatnya. Menganggapnya “kearab araban” dan tidak perlu dilakukan di Indonesia.

Kenapa musti jadi ekstrim seperti itu tanggapannya? Coba lirik lagi sekeliling kita. Lebih baik lagi, coba lihat bagaimana diri kita berbusana. Apakah jeans atau celana khaki yang kita pergunakan itu asli Indonesia? Apakah blazer, rok panjang ataupun selutut ini asli Indonesia? Atau bahkan tanktop yang dipergunakan itu asli Indonesia? Demikian juga dengan sneakers, sepatu boot atau high heel kebanggaan itu.

Apa itu asli Indonesia? Kalau semua orang berpikiran ingin menjadi “asli” Indonesia, bisa kebayang kan? Betapa maraknya perkantoran, pusat perbelanjaan dengan kerumunan orang yang seperti hendak datang untuk sebuah karnaval ala 17 agustusan atau Kartinian. Atau salah salah malah tak pakai baju sama sekali? Bisa jadi.

Ini baru dalam hal berbusana. Dimana sisi ketakutan berlebihan akan Islam ditunjukkan oleh (sayangnya) kebanyakan orang Islam sendiri dan beberapa gelintir minoritas yang mengaku pluralis namun tetap tak bisa menerima perbedaan yang ada.

Belum lagi di masalah peraturan. Kata hukum syariah seperti dianggap momok. Tidak pantas diterapkan di Indonesia, konon, katanya. Namun hukum yang bermuara di adat istiadat pun di tiap daerah masih juga diterapkan. Betul dan setuju, tidaklah patut untuk memaksakan hukum Syariah di tempat dimana orang masih terlalu dini untuk mengerti arti dari Syariah sebenarnya, dan terlalu jauh untuk penerapannya dimana orang pun masih belum mengerti hukum sebaik baiknya dan bahkan turut melanggar dalam kesehariannya seperti di Indonesia sendiri.

Sistem hukum di Indonesia tidak sempurna. Warisan dari sebuah bangsa yang dulunya saja sulit untuk mengakui kedaulatan Indonesia bahkan sampai berpuluh tahun kedepannya. Dan sayangnya, mentalitas untuk sekedar menunduk pada para meneer atau yang berbau barat pun masih saja diturunkan bahkan ke generasi yang tidak pernah bersinggungan sama sekali dengan era penjajahan.

Saat hukum tak mampu menjadi adil di Indonesia, apakah kemudian menjadi salah buat segelintir orang kemudian mencari sebuah ’suaka’ baru akan keadilan, didalam sebuah unsur yang sudah lama melengkapi dirinya baik dari sisi historis ataupun pencariaannya sendiri? Dalam hal ini Syariah ?

Pertanyaan yang bisa dijawab oleh masing masing pribadi, terlepas apa keyakinannya.

Memaksakan kehendak, baik dari Islam sendiri maupun yang lain jelas hukumnya. Tidak boleh. Tapi mempunyai perbedaan pandangan mengenai sesuatu baik itu keseharian maupun penerapan secara pribadi dan hak untuk mengemukakan pendapatnya adalah dilindungi oleh undang undang. Jadi apabila ada sekelompok orang yang bercita cita mewujudkan khilafah Islam tanpa melakukan tindakan kekerasan dalam mewujudkan perjuangannya, ya hal itu merupakan suatu kenyataan berdemokrasi yang tentu juga harus diterima dengan baik.

Tidak perlu paranoid juga menanggapinya, itu adalah bagian dari demokrasi. Diterima atau tidak, itu urusan masing masing pribadi dengan cara menyikapinya.

Lucu, apabila menyuarakan toleransi tetapi semata demi mewakili ganjalan di hati tentang Islam sebetulnya. Grundelan, ketidak s**aan akan Islam dan budayanya yang kemudian dibalut dengan kata Indonesia, atau menawarkan sebuah makanan basi bernama pluralisme. Dari berbagai perbincangan, perdebatan , diskusi yang panas ataupun tidak, sebetulnya bisa dilihat dengan baik dimana adanya kesamaan pada kedua sisi yang selalu berseberangan : sejujurnya memang tidak toleransi, dan saling sikut karena memang ada ketidaks**aan secara pribadi.

Tak perduli apakah itu dari mayoritas atau minoritas. Keduanya bisa sama sama rasis, fasist tanpa terkecuali. Yang merasa mayoritas kadang terlalu percaya diri karena “jumlah” yang dianggap banyak padahal dalam hitungan yang sebenarnya juga tidak jelas, sementara yang mengaku minoritas pun mengaku pluralis tapi dalam hati yang paling dalam pun sebetulnya menolak kehadiran Islam didalam setiap sendi budaya di Indonesia dan sehari hari.

Mau dibungkus dengan baik seperti apa, namanya bangkai pasti tercium baunya kan? Tak perlu dipungkiri, atau dihindari, karena memang pada akhirnya akan menjadi sulit untuk benar benar menerima orang lain apa adanya dan secara jujur mengatakan bahwa orang yang berbeda itu tidak apa apa saat sebuah keyakinan sudah terpatri dengan baiknya di dalam hati.

Di dalam ranah keyakinan, ya memang itu yang terjadi kan? Siapa yang mau berargumen lebih dalam diperbolehkan disini, tentu dengan pemahaman akan kejujuran bersikap sendiri.

Apakah seseorang yang tidak beragama pun menjadi lebih baik dalam hal ini, karena bisa mengesampingkan urusan berkeyakinan dalam kehidupannya. Apabila hukum manusia dan etika yang diterapkannya dalam keseharian, bisa jadi itu adalah yang terbaik. Tetapi bahkan seorang yang tidak beragama sekalipun bisa memandang rendah kepada orang yang dianggapnya konyol karena masih mempunyai keyakinan terhadap sesuatu yang “tidak kelihatan dan gak logis ” ini.

Jadi sama saja kan?

Bagaimana dengan agnostik? Percaya dengan Tuhan tanpa perlu mengenal adanya agama? Tampaknya netral dan damai kan? Seorang agnostik akan mempunyai keyakinan bahwa memang ada Pencipta yang menciptakan dunia dan seisinya dan mengatur keseluruhan siklus hidup dari lahir, berkarya sesudah itu mati dan ( mungkin) alam setelah itu tanpa mau terjebak didalam apa yang lebih dikenal mereka dengan doktrin doktrin bernama agama sendiri. Apakah ini yang ideal, untuk hidup di Indonesia ataupun di dunia yang berisi keragaman ini ? Saat mereka memilih untuk penerapan sendiri tanpa mengkritisi orang yang berkeyakinan ataupun mempunyai pikiran yang “miring” terhadapnya, ya itu bisa jadi pilihan yang terbaik bagi mereka.

Sayangnya, amat jarang menemui seorang agnostik yang gak usil mengomentari atau bahkan sinis menghadapi orang yang masih percaya Tuhan dan memilih sebuah keyakinan didalam paket “berkeyakinannya” itu. Jadi masih tetap ada celahnya juga

Tidak akan pernah selesai. Seorang (mengaku) muslim yang selalu menganggap agama lain itu salah. Minoritas minoritas yang (mengaku) menjunjung tinggi perbedaan, padahal dalam hati hanya selalu bisa melihat keburukan di dalam Islam sendiri. Atheis yang (mengaku) tidak percaya Tuhan dan sudah absolut akan pilihannya, tetapi masih gemar mempertanyakan keyakinan orang lain hanya sekedar untuk bersenang senang. Liberal yang menyuarakan kebebasan, tetapi melarang orang lain untuk berpendapat yang tidak setuju akan kebebasan.

Seorang agnostik yang sudah memilih jalan ‘tengah’ dan universal, tetapi masih tetap berkeyakinan bahwa pilihan ini yang paling feasible, sementara yang lainnya salah.

Pada akhirnya, semua pihak harus bisa berkaca pada diri sendiri. Mempertanyakan motif didalam diri sendiri dan bukan melulu mempertanyakan apa motif orang lain didepannya. Selama grundelan, ketidak puasan dan pikiran ini masih disuarakan berbalut dengan toleransi tetapi bernada sumbang, keselarasan tidak akan pernah tercapai sebagai tujuannya.

Tidak lagi keluar sebagai keutuhan musik yang menyejukkan hati, tapi lebih pada masing masing individu yang tak mampu menahan diri masing masing untuk memainkan nada sekencang kencangnya secara pribadi dan berharap banyak bahwa suatu karya yang merdu akan tercipta di sana apabila seseorang lain mau mendengarkannya dengan seksama.

Jujurlah kita pada diri sendiri terlebih dahulu, ketimbang selalu menghidangkan makanan berbentuk manis bersalut gula yang pada akhirnya tak mempunyai nilai apa apa selain datangnya sakit gigi.

Baskoro Endrawan

03/11/2013

Mempersiapkan Diri Untuk Berbicara di Depan Umum

Berbicara di depan umum ? Gampang gampang susah. Gampang bagi yang sudah biasa mempraktekkannya,tetapi susah,untuk yang belum pernah mencobanya. Segala sesuatu itu selalu ada permulaannya. Dan setiap permulaaan akan menghadirkan kekuatiran dan kegugupan. Seperti halnya kita pertama belajar naik sepeda atau sepeda motor.

Berbicara di depan umum.bukan hanya untuk seorang “tokoh”saja.seperti yang banyak diperkirakan orang. Karena setiap orang suatu waktu ,pasti pernah diminta untuk berbicara di depan umum. Apakah dalam acara ulang tahun,pernikahan,sebagai wali murid ataupun dalam berbagai pertemuan.

Nah,bisa di bayangkan apabila seseorang,yang belum pernah berbicara di depan umum,tiba tiba “ditodong “ untuk tampil. Ia akan merasa tersudut. Maju kena ,mundurpun kena. Maju ke depan,tanpa pengetahuan apapun tentang langkah awal berbicara di depan umum,hampir dipastikan akan membuat orang menjadi grogi dan berbicara tidak tentu ujung pangkalnya. Yang tentunya akan mempermalukan diri sendiri.

Bila memilih mundur,maka semua mata akan tertuju kepada kita,karena dianggap tidak sopan menolak undangan untuk berbicara. Hal yang kelihatan sepele,tapi akan berakibat panjang ,dalam memberikan kontribusi negatif dalam diri, Karena merasa harga dirinya anjlok atau terpukul. Pada hakekatnya,setiap orang adalah pemimpin. Bisa jadi sebagai pimpinan perusahaan,pimpinan organisasi ,pemimpin di kantornya ataupun pemimpin dalam keluarga. Dan sebagai pemimpin,maka setiap orang seharusnya siap atau mempersiapkan diri,untuk tampil berbicara di depan umum.

Dalam perjalanan panjang yang saya lalui,baik berbicara di berbagai kampus dan berbagai ragam komunitas masyarakat,ternyata lebih dari 80 persen dari audience yang hadir,tidak berani tampil kedepan untuk berbicara di depan umum.Walaupun hal ini bukanlah merupakan hasil research ilmiah,namun setidaknya pengalaman yang berulang selama belasan tahun,sudah dapat dikatakan sebagai suatu bukti yang empiris. Karena itu saya merasa tergelitik untuk menulis dan mempostingkan artikel ini.

Ibarat sebuah resep masakan,maka “resep” yang saya tulis disini bukanlah hasil copas dari buku buku,Melainkan hasil pengalaman hidup saya selama 15 tahun,sebagai pembicara diberbagai kota di tanah air.jadi boleh dikatakan “resep” hasil uji coba sendiri. Dengan prinsip sederhana :” Jangan pernah mengajarkan kepada orang lain ,sesuatu yang kita sendiri tidak bisa melakukannya.”

Pengertian “Umum”

Siapapun kita,apapun kedudukan kita dalam kehidupan sosial,tidak menjadi masalah. Karena setiap orang,bisa saja sewaktu waktu “ditodong” untuk berbicara di depan umum. Pengertian umum disini,adalah orang yang tidak kenal. Bila kita seorang pengajar,maka berbicara di depan siswa atau mahasiswa,tentunya sama sekali tidak ada masalah. Tetapi bila suatu waktu kita diminta berbicara di depan orang orang yang sama sekali tidak kita kenal,maka hal ini tidak lagi akan menjadi sesuatu yang mudah. Karena kita sudah keluar dari zona:”kenyamanan dan keakraban.”.Akibatnya ada 2 hal: maju untuk berbicara dan kemudian mempermalukan diri sendiri dengan berbicara tergagap gagap di depan forum atau mengakui bahwa kita tidak berani maju untuk berbicara . Keduanya sangat tidak menguntungkan kita.

Karena efek yang ditimbulkan ,tidak hanya dirasakan pada saat itu saja,melainkan,memberikan suatu pukulan bathin bagi kita. Hal ini akan menurunkan rasa percaya diri dan rentetannya adalah menurunnya kinerja . Bahkan mungkin dalam beberapa waktu akan menjadi uring uringan ,karena perasaan tertekan.Hal ini bisa terjadi pada siapapun,apapun latar belakang sosial kita.

Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk menuliskan artikel sederhana ini,dengan harapan,semoga dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi ,untuk membangkitkan daya daya hidup yang ada di dalam diri kita. Saya tidak akan berteori panjang lebar ataupun mengutip pendapat para ahli,karena saya sudah menerapkan selama kurun waktu 15 tahun .Dengan harapan,semoga apa yang saya tulis ini akan merupakan langkah langkah yang bermanfaat.. Walaupun jelas ,jauh dari kesempurnaan.

LANGKAH LANGKAH PERSIAPAN SEBELUM TAMPIL SEBAGAI PEMBICARA

Kenali audience kita, Kepada siapa kita akan berbicara. Karena berbicara dihadapan anak anak muda ,gaya dan bahasa yang kita gunakan akan beda bila audience kita orang dewasa.

Langkah Kedua:

Tahu apa yang ingin disampaikan. Fokus dan jangan berangan untuk berbicara panjang lebar.Hindari memakai teks,kecuali kertas kecil,yang bertuliskan pokok pokok hal yang akan dibicarakan

Langkah ketiga :

Berpakaian rapi dan sesuai dengan tempat dan keadaan. Bila di depan warga RT/RW tentunya jangan memakai dasi dan jas. Cukup batik .Tapi bila bicara dalam acara formal,sebaiknya memakai pakaian lengkap dengan dasi dan jas.

Langkah Keempat:

ketika melangkah maju,berjalanlah tegak dan jangan tergesa gesa.

Sebelum mulai bicara, lakukanlan “eyes contact”,dengan jalan “menyapu” seluruh ruangan dengan pandangan mata. Kemudian berbicaralah dengan jelas kata perkata. Hindarkan mengunakan kata kata :”anda atau kamu”,(kecuali berbicara didepan murid murid .)Jangan melawak di depan publik,apalagi mengeluarkan guyonan yang tidak etis. Cobalah memahami,bahwa 30 detik pertama,orang akan menilai kita. Begitu penampilan kita amburadul.maka selanjutnya apapun yang kita bicarakan,tidak akan di dengar lagi.

Langkah Kelima:

Bila ketika kita sedang berbicara,disana sini masih suara berisik,berhentilah sejenak.Arahkan pandangan kesuara berisik tadi. Hal ini adalah teguran halus tanpa suara,yang seharusnya dimengerti oleh audience.,bahwa siapapun yang berbicara di depan,harus di hargai .

Langkah Keenam:

Batasi diri. Jangan saking semangatnya bicara kita menjadi lupa diri. Pembicaraan yang paling efektif di dengar oleh audience adalah dari menit pertama ,hingga menit ke 20. Sesudah itu perhatian audience akan menurun.

Langkah Ketujuh:

Hindarilah mengaruk sana sini,memasukkan tangan ke kantong celana atau gerakan apapun yang tidak perlu. Jangan lupa ,pada waktu kita berdiri di depan,seluruh perhatian tertuju pada diri kita.Selesai berbicara,ucapkanlah terima kasih dan salam,kemudian turun atau berjalan perlahan kembali ke tempat duduk semula.

Tips sederhana ini adalah pemahaman dasar bagi setiap orang yang akan tampil berbicara di depan umum (sebagai pemula).Kendati dengan memahami ke 7 langkah ini dengan baik,bukan secara serta merta bisa langsung menjadi seorang pembicara yang handal. Namun setidaknya,dengan menguasai pemahaman yang sederhana ini,sudah dapat menghindarkan suatu hal,yaitu mempermalukan diri sendiri,karena tidak ada persiapan sama sekali..

Jangan lupa: pada hakekatnya, setiap orang minimal adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.Dam bila kita tidak bisa memimpin diri sendiri,mustahil bisa meminpin orang lain.

Semoga bermanfaat,

Tjiptadinata Effendi

Address

Jalan Soekarno/Hatta No. 530
Bandung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Fak. Ilmu Komunikasi - Univ. Islam Nusantara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share