08/08/2020
๐ง๐ฟ๐ถ๐ด๐ผ๐ป๐ผ๐บ๐ฒ๐๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฎ๐๐ฒ๐บ๐ฎ๐๐ถ๐ธ๐ฎ
Kehidupan manusia tidak akan lepas dari pengukuran. Orang kuno dari dulu sudah melakukan kegiatan ini untuk menentukan luas tanah, luas bangunan tempat tinggal, atau tinggi suatu bangunan pemujaan.
Aktifitas ini memerlukan bahasa yang bisa mengintepretasikan dan menjawab suatu pertanyaan seputar pengukuran.
"Berapa jauh?"
"Berapa luas?"
"Berapa dalam?"
Ketiga pertanyaan yang sudah dilontarkan sejak ribuan tahun itu merupakan kasus yang bisa diwakili tentang pengukuran suatu jarak.
Matematika sebagai bahasa pengatar dalam kehidupan manusia sehari hari mempunyai alat khusus dalam kegiatan pengukuran ini.
Trigonometri yang ditemukan jaman dahulu pertama kali digunakan dalam permasalahan pengukuran jarak. Trigonometri sangat baik digunakan dalam survey lapangan dan pembuatan peta pada masa lalu.
Bagaimana mengukur jarak kita ke bintang di angkasa sudah dilakukan ahli astronomi (bahkan) pada peradaban sebelum masehi.
Sekarang, coba kita lihat ke apa yang kita pegang sekarang. Smartphone kita sudah bisa menentukan lokasi kita di muka bumi. Teknologi ini merupakan gabungan apik dari kompas, satelit, elektronik dan (tentunya) trigonometri. Semua teknologi yang mega tersebut memiliki pondasi matematika yang kuat khususnya trigonometri.
Era modern juga menggunakan konsep trigonometri jauh lebih dari sekedar mengukur jarak. Salah satunya adalah pemodelan matematika dan matematika analisis tentang pola kejadian berulang atau proses periodik.
Sebagai contoh gerakan piston pada mesin yang berulang dalam waktu tertentu, detak jantung yang berulang, deburan
ombak yang bergerak berulang dan sebagainya. Semua bisa dianalisis sebagai bentuk gelombang yang bisa
diintepretasikan dalam trigonometri.
Sebut saja salah satunya deret Fourier yang melibatkan trigonometri, bisa kita temui dalam berbagai persamaan dalam dunia nyata seperti persamaan panas, persamaan gelombang akustik.
Namun pada suatu saat, masalah pengukuran dan perhitungan dalam masalah matematis di dunia nyata seringkali tidak berjalan mulus. Hal ini bisa jadi dikarenakan pengukuran dalam skala besar. Oleh karena itu hampiran dan pembatasan memegang peranan penting dalam proses pengukuran.
Hampiran dan pembatasan tidak bisa lepas dari ketaksamaan. Ketaksamaan merupakan proses membandingkan dua elemen yang tak sama. Kakak lebih tua dari adik, Jakarta lebih jauh dari Semarang jika diukur dari jawa timur, empat lebih kecil dari lima dan berbagai contoh ketaksamaan yang sederhana.
Ketaksamaan matematika bisa jadi sangat luas dibahas dalam matematika teori namun seringkali permasalahan dalam matematika terapan membutuhkan ketaksamaan matematika untuk melihat batasan dalam suatu pengukuran yang dilakukan.
Misalkan saja error dalam suatu algoritma merupakan suatu bentuk ketaksamaan.
Berkaitan dengan trigonometri dan ketaksamaan matematika, program studi Matematika Universitas Lambung Mangkurat mencoba berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang trigonometri dalam webinar seri 2 yang diadakan besok pagi.
Bagaimana cara daftarnya? klik saja tautan di sini ๐
s.id/WebinarMathULM
Bagaimana cara gabung di link zoomnya? klik saja tautan di sini ๐
https://zoom.us/j/96803247703?pwd=U2JsNUcwRUpybUd0THJFZnRmMVRLZz09
Sampai ketemu besok di zoom meeting...