PP Qomarul Huda

PP Qomarul Huda Web PP Qomarul Huda semoga bisa menjadi wadah bagi santri, alumni, calon santri dan masyarakat agar dapat bersilaturahmi :D

14/01/2020

PonPes Qomarul Huda Pambrian Purwareja Klampok Banjarnegara adalah pesantren salaf yang mengajarkan dasar-dasar keilmuan Islam.
Berbagai literatur klasik (kitab kuning) dari berbagai fan (cabang ilmu islam) diajarkan disini.Dengan menggunakan metode sorogan dan bandongan, selain juga metode klasikal, memberikan proses ta'lim wa tarbiyyah kepada para santri sebagai bekal awal mengetahui cabang-cabang keilmuan Islam.
Sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi meneruskan perjuangan para ulama, mencetak generasi yang tafaquh fid Din dan berakhlakul karimah.

16/12/2018

Sanad Fiqih Imam Asy-Syafii (bag-1-masyayikh-hijaz)

Dalam Tahdzib al-Asma wa al-Lughat (1/19), Imam Nawawi menuliskan ketersambungan sanad ulama-ulama madzhab al-Syafi’iyyah dari semua jalurnya ke sang maha guru, Imam al-Syafi’i. setelahnya beliau juga menuliskan sanad Imam al-Syafi’I sampai kepada rasulullah s.a.w. Beliau menyebut, ada 3 jalur yang menyambungkan ilmu Muhammad bin Idris al-Syafi’i kepada Nabi s.a.w.; Sufyan bin ‘Uyaynah, Ahli Hadis Makkah, kedua; Muslim bin Khalid al-Zinjiy, Imam sekaligus Hakim penduduk Makkah. Dan ketiga; Malik bin Anas.

Muslim bin Khalid al-Zinjiy

Seperti kebanyakan anak-anak Islam lain, hal pertama yang Muhammad bin Idris pelajari adalah ilmu Quran sekaligus menghafalnya. Di umur yang belia; 7 tahun, Muhammad bin Idrsi sudah mengkhatamkan hafalan qur’annya lengkap. Hebatnya hafalannya itu punya sanad bersambung sampai kepada Nabi s.a.w., melalui Hafidz Makkah yang mengajarinya; Ismail bin Qasthanthin.

Abu Hatim al-Razi (327 H), ketika menulis biografi (Manaqib) Imam al-Syafi’i (1/106), beliau menjabarkan ketersambungan sanad Qur’an Ismail bin Qasthanthin kepada Nabi s.a.w., melalui Ibn Abbas dan juga Ubay bin Ka’ab.

Kecerdasan Muhammad bin Idris kecil memang sudah terlihat sejak belia. Bahkan ketika anak-anak seusianya sedang mengaji dan menulis apa yang didikte-kan oleh sang guru dari bacaan al-Qur’an, beliau tidak menulisnya karena memang tidak punya media untuk menulis. Akan tetapi beliau menghafalnya. Selesai mendikte, seluruh murid sudah menulis sedangkan Muhammad bin Idris malah sudah menghafalnya di otaknya. Sampai-sampai sang guru berkata: “aku malu kalau harus meminta iuran kepadamu”; karena memang Muhammad bin Idris hanya mendengar lalu menghafalnya.

Setelah menghafal al-Qur’an, beliau pergi ke suku Hudzail; suku di pinggiran kota Makkah yang terkenal dengan kefashihan bahasa dan kecakapan mereka terhadap gramatikal bahasa Arab beserta sya’irnya; guna memperdalam ilmu bahasa Arab.

Yaqut bin Abdullah bin Abdullah al-Rumi al-Hamawiy (626 H) dalam kitabnya Mu’jam al-Udaba’ (6/2395) menyebut bahwa Muhammad bin Idris belajar Bahasa Arab bersama kaum Hudzail itu selama lebih dari 17 tahun. Dari sini Muhammad bin Idris mendapat julukan Adiib yang artinya sang sastrawan; lunak dalam berbicara, indah dalam bertutur kata, fashih dalam berbahasa dan banyak sya’ir yang beliau kuasai.

Sampai akhirnya suatu ketika ia bertemu dengan guru Fiqih pertamanya; Muslim bin Khalid al-Zinji (179 H), seorang M***i dan juga Hakim penduduk Makkah yang terkagum dengan kecerdasan Muhammad bin Idris dalam berbahasa dan sya’ir.

Sebagaimana diceritakan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (1/8). Beliau (al-Zinjiy) berkata kepada Muhammad bin Idris: “Allah telah memuliakanmu di dunia dan akhirat. Tidakkah kau salurkan kecerdasanmu berbahasa untuk memahami isi al-Quran dan sunnah Nabi s.a.w. (ilmu Fiqih)?”. dari sinilah Muhammad bin Idris akhirnya sadar lalu menjadikan ilmu Fiqih sebagai objek utama pembelajarannya. Sejak saat itu, Majlis Ilmu al-Zinjiy menjadi destinasi utama Muhammad bin Idris yang selalu beliau datangi untuk mengetahui bagaimana sleuk beluk Fiqh, yang ketika itu al-Zinjiy termasuk Faqih ahl-Hadits.

Tidak salah Muhammad bin Idris memilih Guru, beliau memilih guru yang ilmunya bersanad dampai Nabi s.a.w.; karena memang Muslim bin Khalid al-Zinjiy sebelu menjadi m***i, beliau memperoleh fiqih dari Abdul Malik yang dikenal dengan Ibnu Juraij (150 H), asli Makkah, dan beliau belajar fiqih dari Faqih Makkah; ‘Atha bin Abi Rabbah (114 H), yang mengambil ilmu langsung dari 3 sahabat Nabi s.a.w.; Sayyidah ‘Aisyah, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah r.a. Sudah barang tentu ketiga sahabat Nabi s.a.w. ini mengambil ilmu dari Rasul s.a.w. (Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat 1/19)

Sufyan bin ‘Uyaynah

Seringnya duduk di majlis fiqih al-Zinjiy, membuat Muhammad bin Idris makin haus akan ilmu tersebut, yang kemudian membuat beliau berguru kepada Sufyan bin ‘Uyaynah (198 H) yang disebut-sebut sebagai ahli hadits-nya penduduk makkah oleh kebanyakan orang, termasuk al-Zinjiy.

Dalam al-Thabaqat al-Kubro (1/35), Ibn Sa’id menyebut Sufyan bin ‘Uyaynah sebagai ahli fiqih juga ahli hadits juga ahli tafsir, dan melahirkan beberapa kitab dalam ilmu tersebut. Muhammad bin Idris memuji gurunya, Sufyan bin ‘Uyaynah bahwa tidak ada yang punya alat fatwa selengkap alatnya Dufyan bin ‘Uyaynah tersebut. Maksudnya bahwa Sufyan bin ‘Uyaynah dalam berfatwa mempertimbangkan segala hal sedetail mungkin agar tidka terjadi kesalahan dalam berfatwa.

Beliau (Sufyan bin ‘Uyaynah) berguru kepada ‘Amr bin Dinar (126 H), Ulama berdarah Persia, lahir di yaman dan wafat di Makah. Ibn Dinar adalah satu di antara banyaknya Tabi’in yang mengambil ilmu dari tangan Sahabat Ibnu Umar r.a., dan sudah barang tentu, Ibnu ‘Umar mengambil ilmu dari sumber ilmu; Rasulullah s.a.w.

Malik bin Anas

Semua sejarawan muslim menempatkan nama Malik bin Anas sebagai guru Imam al-Syafi’i di urutan pertama; karena memang dari 2 guru yang disebutkan, Muhammad bin Idris berguru kepada Malik bin Anas lebih lama. Yakni sejak ia datang ke Madinah umur 13 tahun, sampai Malik bin Anas wafat di tahun 179 H, pada usia Muhammad bin Idris 29 tahun. Begitu tutur Imam Nawawi dalam al-Majmu’-nya (1/8)

Maka wajar sekali jika Muhammad bin Idris menjadi orang yang paling hafal Fiqih Ahl Madinah, toh beliau menetap di Madinah menemani Anas bin Malik 16 tahun. Akan tetapi, sesuai urutan masa, Malik bin Anas bukanlah guru pertama; karena Muhammad bin Idris sudah mempelajari Fiqih dari beberapa ulama Makkah sebelum ia sampai ke Madinah.

Seringnya duduk di majlis fiqih ulama-ulama Makkah, Muhammad bin Idris penasaran dengan nama yang selalu disebut-sebut dalam majlis tersebut sebagai ulama Ahli Hijaz yang masyhur seantero Imperium Abbasiyah ketika itu; yakni Malik bin Anas, Imam Madzhab al-Malikiyah. Ketamakannya akan ilmu, membuat Muhammad bin Idris sangat bernafsu ingin berangkat ke Madinah guna belajar kepada Imam Malik.

Karena tahu, Imam Malik bukan orang sembarang, Muhammad bin Idrsi pun berfikir untuk menjadi tamu dan murid yang juga bukan sembarang. Yang terbesit dalam fikirannya adalah bertemu imam Malik dengan membawa Hafalan kitab Imam Malik, al-Muwatha’. Sayangnya ia tidak memiliki kitab tersebut. Akhirnya dia meminjam kitab al-Muwatha’ dari seseorang di Mkkah dan menghafalnya.

Dalam Mu’jam al-Udaba’ (6/2395) disebutkan bahwa Muhammad bin Idris menghafal Kitab al-Muwatha yang berisi ribuan hadits itu hanya dalam waktu 9 malam saja, lengkap dengan sanadnya. Setelah beres menghafal, Muhammad bin Idris datang ke kantor gubernur Makkah, guna meminta surat rekomendasi yang ditujukan kepada Gubernur Madinah agar menemaninya bertemu Imam Malik. Beberapa sumber menyebut bahwa Gubernur Makkah ketika itu seorang kerabat dari keluarga ibunya Muhammad bin Idris.

Sampai di Madinah, Gubernur Madinah sempat mengeluh dengan surat rekomendasi yang dibawa Muhammad bin Idris soal permintaannya untuk menemaninya bertemu Imam Malik. Beliau sampai mengatakan: “wahai anak muda, berjalan kaki tanpa alas dari ujung Makkah sampai ujung madinah itu lebih mudah bagiku disbanding harus menuju rumah Malik bin Anas!”. Karena memang semua orang tahu, Malik bin Anas ulama kharisatik yang tidak asal sembarang menerima tamu.

Muhammad bin Idris akhirnya berhasil membawa sang pejabat ke depan rumah Imam Malik. Mereka disambut oleh salah seorang pembantu Imam Malik. Ia mengatakan: “kalau ingin bertanya, tuliskah dalam secarik kertas, nanti aku sampaikan dan aku sampaikan juga jawabannya. Kalau ingin periwayatan hadits, silahkan tunggu di masjid sesuai jadwal majlis beliau (Malik bin Anas)”.

Sang pejabat menjawab: “tidak! Aku ke sini untuk membawa surat penting dari gubernur Makkah untuk tuanmu. Tolong sampaikan kami ingin bertemu sekarang!”

Pembantu itu masuk sambil menutup pintu. Tidak lama ia kembali sambil membawa bangku dan meletakkannya di depan kedua tamunya. Keluarlah sang Imam dan duduk di bangku yang sudah disediakan pembantunya. Sang pejabat menyerahkan surat yang di dalamnya tertulis permintaan sang gubernur Makkah untuk Muhammad bin Idris yang ingin menjadi murid beliau. Setelah itu Muhamad bin Idris mulai mengenalkan diri sendiri kepada sang Imam.

Imam Malik lalu berkata: “Ya Muhammad. Bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah telah memberikan cahaya dalam hatimu, maka jangan padamkan itu dengan maksiat! Engkau adalah laki-laki yang akan mempunyai kedudukan tinggi di kemudian hari. Besok, kembali ke sini lagi. Akan ada seseorang yang membacakan untukmu kitab Muwatha’-ku.”

Muhammad bin Idris kemudian berkata: “aku sudah menghafalnya, wahai Imam!”. Esoknya, ia datang kembali ke rumah Imam Malik dan “menyetorkan” hafalannya kepada sang Imam, dan Imam Malik pun kagum. Bahkan ketika Muhammad bin Idris merasa cukup dan berhenti, Imam Malik justru mengatakan: “teruskan, anak muda!”.

Muhammad bin Idris menceritakan pertemuan tersebut dan mengungkapkan bahwa Imam Malik adalah orang yang tinggi besar dengan kewibaan nampak jelas di wajahnya. “ketika ia melihatku, aku tahu bahwa Malik bin Anas adalah ulama yang Allah anugerahkan Farasah (firasat)”. Begitu kata Imam al-Syafi’Ii yang direkam oleh Imam al-Baihaqi (458 H), dalam kitabnya Manaqib al-Syafi’i (1/103).

Setelah itu, Muhammad bin Idris menetap di Madinah mengeruk ilmu dari Imam Malik bin Anas, sampai hari wafatnya sang Imam, sebelu akhirnya Muhammad bin Idris muda meninggalkan Madinah menuju Yaman.

Lebih jauh tentang Imam Malik dan Sanad ilmu beliau, kami sudah jelaskan dalam artikel sebelumnya dalam rubric ini. Silahkan [KLIK].

Masyayikh Hijaz & Masayikh Iraq

Dr. Ahmad Nahrawi Abdul Salam, ulama masyhur Indonesia dari al-Azhar Mesir, dalam kitab beliau Imam al-Syafi’i fi Madzhabaihi al-Qadim wa al-Jadid (hal. 58) menyebutkan bahwa masa-masa Muhammad bin Idris di Hijaz (Makkah Madinah) adalah masa Tahshil al-Ilmiy; yakni fase paling optimal dalam menuntut ilmu bagi perkembangan keilmuan Muhammad bin Idris.

Sejak selesai menghafal al-Qur’an di usia 7 tahun ketika masih di mekkah, lalu berangkat ke Madinah, sampai Malik bin Anas wafat, di usia Muhammad bin Idris 29 tahun, beliau tidak punya pekerjaan lain kecuali belajar. Karenanya, di fase inilah Imam al-Syafi’i muda benar-benar menyerap seluruh apa yang ada pada fiqih Ahl al-Hijaz; baik dari ulama Makkah juga ulama Madinah.

Ini yang disebut oleh Dr. Ahmad Nahrawi sebagai Marhalah al-Tahshil al-‘Ilmiy al-Hijaziy; dan guru-guru beliau disebut Al-Masyayikh al-Hijaziyyun. Setelah Madinah, destinasi Imam al-Syafi’i muda setelah itu adalah Yaman, tidak lama kemudian menuju Iraq. Di Iraq inilah mulai fase Tahshil-Ilmi yang kedua bersama ulama-ulama Iraq yang mayoritasnya bermadzhab al-Hanafiyah. insyaAllah di artikel selanjutnya ada penjelasan terkait Masyayikh al-Iraq.

Di antara ulama-ulama Hijaz yang menjadi guru Muhammad bin Idris;

Masyayikh Makkah; Muslim bon Khalid al-Zinjiy (180 H), Sufyan bin ‘Uyaynah (198 H), Daud bin Abdurrahman al-‘Aththar (174 H), Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Dau.

Masyayikh Madinah; Malik bin Anas (179 H), Ibrahim bin Sa’d al-Anshary (184 H), Abdul Aziz Muhammad al-Darawardi (186 H), Ibrahim bin Abi Yahya al-Aslami (184 H), Muhammad bin Ismail bin Abi Fudaik (199 H), Abdullah bin Nafi’ al-Shani’ (206 H).

04/01/2018

Ngaji..
Wirid Para Abdal (3): Tentang Imam Ibrahim at-Taimi, al-A’masy dan Ibnu WabrahPenerima pertama wirid al-Musabba`ât al-`Asyara dari Nabi Hidhir, berdasarkan hikayat dalam Quttul Qulûb dan Ihyâ’ adalah Imam Ibrahim at-Taimi, lalu dituturkan oleh A’masy dan dikemukakan oleh wali Abdal bernama Kurz bin Wabrah, sebagai amalan yang diterima dari kawannya. Imam Ibrahim at-Taimi mendapat mimpi bertemu Kanjeng Nabi Muhammad dan beliau mengabarkan fadhilah dari wirid itu, setelah sebelumnya bertemu dengan Hidhir di Mekkah. Sementara Syaikh Kurz bin Wabrah mendapat hadiah wirid mulia dari sahabatnya dari Syam.Tanggapan sebagian ahli hadits tentang ini berbeda dari kalangan sufi. Hafizh Murtadho az-Zubaidi, berusaha menjelaskan, dengan berusaha memahami selain dari sudut ilmu hadits, juga dari ilmu tasawuf, sehingga, untuk al-Fadho’ilul A’mâl menurutnya bisa diamalkan. Begini komentar pensyarah Ihyâ’ itu, ketika mengomentari ini:“Al-A’masy menyebutkan/meriwayatkan ini darinya bi`ainihi menurut pengarang kitab Quttul Qulûb, dari awal sampai akhirnya, dan menukil juga pengarang kitab Al-Awâriful Ma`arif (kitab tasawuf terkenal karangan as-Suhrawardhi)secara ringkas, dan yang diriwayatkan dari al-A’masy, berkata: “Saya mendengar dari Ibrahim at-Taimi, berkata: “Saya berdiam30 hari tidak makan.” Dan Ibnu Asakir meriwayatkan di dalam Kitab at-Târîkh (Tarikh Ibnu Asakir) dari jalan Umar bin Farwah dari Abdurrahman bin Habib dari Sa`id bin Said dari Kurz bin Wabrah dari seorang laki-laki Syam dari Ibrahim bahwa Hidhir mengahadiahi al-Mussaba`ât al-Asyar, dan berkata di bagian akhirnya, bahwa Nabi Muhammad memberinya adalah “tidak memiliki asal” dan tidak syah di dalam hadits (ilmu hadits). Ijtima’nya Hidhir dengan Kanjeng Nabi Muhammad tidak ada ijtima’nya, dan juga hidup dan wafatnya.”“Saya (Hafizh Murtadho az-Zubaidi) berkata: “Iniadalah masalah terkenal dalam ikhtilaf antara para ahli hadits dan para pemimpin sufi, dan pembicaraan itu tambah panjang. Dan Hafizh Ibnu Hajar telah mendatangkan beberapa jalan (riwayat) soal itu di dalam kitab al-Ishôbah di dalam biografi tentang Hidhir, dan ini juga didasarkan dengan kaidah-kaidahnya para ahli hadits. Tentang Said bin Said al-Jurjani, al-Bukhori mengatakan tidak syah haditsnya, dan Abu Thayyibah dipandang lemah oleh Yahyabin Main, dan Kurz bin Wabrah yang menerima dari laki-laki Syam, adalah laki-laki itu majhul (tidak jelas), saya tidak tahu siapa dia. Akan tetapi hal yang seperti ini dapat diterima untuk al-Fadhô’ilul A’mâl, apalagi umat telah menerimanya, wallohu a’lam” (Ithâfus Sâdatil Muttâqîn bi Syarhi Ihyâ’i `Ulûmiddîn, V: 135).Bagi para ahli wirid dan para guru sufi, pertemuan dengan jalan mimpi, adalah sudah biasa. Bahkan sebagian guru-guru tarekat besar juga ada yang dibaiat secara barzakhi, dan itu diterima, seperti yang dialami pendiri tarekatTijaniyah. Para ahli hadits mempersoalkan itu, karena menurut dan berdasarkan ilmu mereka dengan kriteria-kriteria tertentu yang tidak selamanya sama dengan para sufi, sehingga sebagian mereka membuahkan penolakan. Akan tetapi, bagi guru-guru sufi, hal-hal seperti itu akan ditahkik kembali melalui jalan kasyaf. Yang menarik adalah jalan tengah yang diberikan Hafizh Murtadho az-Zubaidi, “untuk al-Fadhô’ilul A’mâl dan umat telah menerimanya,” dan wirid itu diamalkan oleh umat, karena substansi dan jenis-jenis wirid di dalam al-Musabba`at al-Asyar, semuanya tidak ada yang salah: surat-surat pendek, ayat Kursi, tasbih, sholawat, istighfar, dan doa; dan tentu telah diujicoaba darigenerasi ke generasi.Tiga orang penting di dalam al-Musabba`ât al-Asyar ini, selain Kanjeng Nabi Muhammad dan Hidhir, adalah Imam Ibrahim at-Taimi, al-A’masy, dan Kurz bin Wabrah yang diceritakan memperoleh amalan itu untuk diamalkan dari sahabatnya, sehingga wirid ini sampai kepada umat.Ibrahim at-TaimiTentang tokoh ini, ada salah satu perkataanya yang dikutip oleh Imam al-Bukhori dalam al-Jâmi’ ash-Shohîh, di Kitab “al-Îmân” pada bab No. 36 tentang “Khouful Mu’min min an yahbitho `amaluhu wahuwa la yasy`ur, dan berkata Ibrahim at-Taimi…” (Bab “Rasa Takut seorang mukmin dari lenyapnya amalan yang dilakukan dalam keadaan dia tidak menyadarinya”).Imam Ibrahim at-Taimi kemudian dikutip: “Tidaklah aku menghadapkan ucapanku kepada perbuatanku kecuali aku khawatir pasti aku akan didustakan” (dalam IbnuHajar, Fathul Bârî, I: 109).Imam Ibrahim at-Taimi adalah seorang ahli ibadah dan hadits di kalangan tabiin (pengikut para sahabat Nabi Muhammad). Adz-Dzahabi dalam Mîzânul I’tidâl menyebutnya: “Ibrohim bin Yazid bin Syarik, at-Taimi, seorang yang terpercaya, meski tidak mendengar langsung dariSayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshoh” (Mîzânul I’tidâl, I: 203, No. tokoh 250). Sedangkan dalam kitabnya yang lain berjudul Siyâr A’lâmin Nubalâ’, adz-Dzahabi menyebut Imam Ibrohim at-Taimi ini pada jilid V: 60, No tokoh 19:Dia disebut sebagai imam panutan di kalangan tabiin, ahli fiqh dan ahli ibadah di Kufah (Irak). Memperoleh hadits dari ayahnya sendiri, Yazid bin Syarik at-Taimi, dan ayahnya adalah imam panutan p**a di Kufah, yang meriwayatkan dari sahabat Umar, Abu Dzar dan banyak tokoh besar,dan Ibrahim an-Nakho’i mengambil darinya, hadits-haditsnya ada di Kutubus Sittah. Selain itu Ibrahim at-Taimi juga mengambil dari Harist bin Suwaid, Anas bin Malik, Amru bin Maimun, dan banyak lagi, dan mengambil secara mursal dari Sayyidah Aisyah. Yang meriwayatkan darinya adalah al-A’masy, Muslim al-Buthain, Bayan bin Bisyr dan Yunus bin Ubaid.”Dia dikenal sebagai seorang “sholih, taat kepada Alloh, alim, ahli fiqh, dan pemberi nasehat.” Dikenal sebagai orang yang penyayang, dan berani menanggung penderitaan untuk membela seseorang berhadapan dengan kekuasaan yang zhalim. Diceritakan oleh Ibnu Sa`ad dari Ali bin Muhammad begini:“Hajjaj (bin Yusuf) mencari orang bernama Ibrahim an-Nakho’i (seorang tabiin yang sholih, untuk dipenjara). Maka datanglah utusan dan berkata: “Saya menginginkan Ibrahim.” Ibrahim at-Taimi berkata: “Saya Ibrahim, dan tidak ingin menunjukkan Ibrahim an-Nakho’i.” Maka diperintahkanlah Ibrahim untuk dipenjara, di tempat yang tidak ada sinar matahari dan sangatdingin. Orang lain di ruangan itu dibelenggu p**a dengan belenggu yang sama.”“Kondisi Ibrohim kian memburuk. Ketika sang ibu mengunjunginya,dia tidak bisa lagi mengenalinya. Ibrahim berada di sel sampai dia meninggal. Hajjaj dalam mimpinya melihat ada orang mengumumkan bahwa ada seseorang yang wafat saat itu dan akan masuk surga. Pada pagi harinya Hajjaj menemukan bahwa Ibrahim at-Taimi sudah meninggal” (Dikutip oleh adz-Dzahabi dalam Siyâr A’lâmin Nubalâ’, V: 62).Al-Mizzi dalam kitab Tahdzibul Kamâl menyebutkan dengan mengutip: “Ibnu Main menyebutnya “terpercaya”. Abu Hatim menyebutnya: “Sholihul Hadits”. Al-A’masy menyebutnya bahwa Ibrahim at-Taimi pernah berkata: “Dia pernah tidak makan selama 30 hari” (Hafizh al-Mizzi, Tahdzîbul Kamâl, II: 232, No. 264).Al-A’masyPeriwayat wirid al-Musabba`ât al-Asyara ini dariImam Ibrahim at-Taimi adalah al-A’masy. Namanya adalah Sholih bin Mihran al-Asadi al-Kahili al-A’masy. Hafizh Al-Mizzi mengetengahkan biografinya dalam kitab Tahdzîbul Kamâl. DiaTinggal di Kufah, Irak, tetapi asalnya dikatakan dari Thabaristan, seorang tabiin, dan melihat sahabat Anas bin Malik.Menurut Hafizh al-Mizzi, al-A’masy meriwayatkan hadits dari Abas bin Abi Iyas, Ibrahim at-Taimi, Ibrahim an-Nakho’i, Ismail bin Abi Kholid, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup banyak. Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah Sufyan ats-Tsauri, Sufyan `Uyainah, Qodhi Iyadh, dan lain-lain.Beberapa tokoh berpandangan begini tentang al-A’masy: “Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu al-Madini, bahwa dia memiliki 1300 hadits. Ibnul Madini juga mengatakan bahwa al-A’masytidak mengambil dari Anas bin Malik (secara langsung), hanya dia melihat dia sholat, dan mengambil hadits dari Anas lewat Aban bin Iyas dan Yazid ar-Riqasy. Akan tetapi menurut Abul Husain al-Munadi dia memang melihat Anas bin Malik tetapi tidak meriwayatkan darinya (secara langsung).Bersambung...

28/12/2017

Ngaji...Wirid Para Abdal (2): Hidhir Pembimbing Sebagian Sufi dan Doa-DoanyaDalam Kitab Quttul Qulûb itu, Ibnu `Athiyah, menyebutkan bahwa Nabi Hidhir memberikan hadiah kepada Imam Ibrahim at-Taimi, dan Kanjeng Nabi Muhammad mengabarkan keutamaan wirid itu, melalui jalur mimpi. Imam al-Ghozali dalam Ihyâ’, juga menyebut riwayat Ibrahim at-Taimi dan Ibnu Wabrah, dalam bagian “Kitab al-Adzkâr wa ad-Da`awât”, pada bagian “Tartibul al-Aurôd wa Tafshilu Ihyâ’il Lail. Imam Al-Ghozali juga menyebut bahwa Kurz bin Wabrah termasuki Abdal, dan menyebut dzikir itu dengan sebutan al-Musabba`atul`Asyar (10 jenis wirid yang dibaca 7 x dengan mengikutkan basmalah), dengan cerita yang sama disebutkan oleh Ibnu Athiyah, yang isinya adalah bacaan-bacaan terdiri dari surat-surat pendek, sholawat, istighfar, dan doa yang dibaca tujuh kali, pagi dan sore hari (dalam Hafizh Murtadho az-Zubaidi, Ithâfu as-Sâdatil Muttaqîn bi Syarah Ihyâ’ Ulûmiddin, Darul Fikr, V: 134).Dalam versi Ihyâ’ ini, pada bagian tasbih 7x, tidak diteruskan dengan Lâ haula walâ quwwata illâ billâhill `Aliyyil Azhîm; dan tidka menyebutkan jenis istighfarnya, kecuali: istighfaruntuk dirinya, kedua orang tua, dan untuk orang mukmin laki-laki-perempuan; dan dalam ceritanya tentang Hidhir, juga menyebut bahwa Hidhir adalah “Râ’isul Abdâl” (pimpinan para Abdal).Wirid al-Musabba`ât al-Asyara ini, di kalangan sebagian thoriqot, diamalkan dengan ditambahi wirid-wirid lain. Di antara yang dikenal memiliki wirid ini, adalah Imam al-Jazuli shôhibud Dalâ’ilil Khoirôt, Imam Dardir Shohibul Kholwati dalam ash-Sholawât ad-Dardiriyah-nya, dan Imam ash-Showi al-Maliki bahkan mensyarahi wirid ini; juga Imam Ibrahim ad-Dasuqi yang memasukkannya dalam al-Hizbush Shoghîr, yang pembacaan wirid dari Hdhir itu didahului beberapa bacaan, termasuk bacaan Ismullôh, Yâ Bari’u; dan masih banyak lagi yang mengamalkan wirid ini.Wirid al-Musabba`ât al-`Asyar di atas, menjelaskan satua hal bahwa di kalangan para guru besar tasawuf, Nabi Hidhir diakui membimbing sebagian sufi di antara mereka yang berusaha dekat dengan Alloh. Ibnu Athiyah dan Imam al-Ghozali, bahkan menyebutkan lewat riwayat dari cerita Imam Ibrahim at-Taimi itu, Hidhir adalah pemimpin para Abdal.Dalam Kitab Kasyful Mahjûb, al-Hujwiri mengetengahkan bimbingan Hidhir kepada Imam Ibrohim bin Azhom ketika menyebutkan tokoh-tokoh tabi’in; demikian juga Imam al-Qusyairi dalam kitab ar-Risâlah al-Qusyairiyah,ketika membicarakan Imam Ibrohim bin Azhom; dan Syaikh Faridhuddin al-Athar dalam Tadzkiratul Auliyâ’, dalam cerita juga tentang Imam Ibrahim bin Azhom (Tokoh iniberbeda dengan Imam Ibrahim at-Taimi).Al-Hujwiri menyebutkan begini kaitannya dengan Hidhir: “Dia (Syaikh Ibrohim bin Azhom) unik dalam tarekat ini, dan paling terkemuka di antara sejawatnya. Dia murid Nabi Hidhir.”Cerita yang dimuat dalam ar-Risâlah al-Qusyairiyah begini:“Ibrahim lebih s**a memakan dari hasil kerja tangannya seperti bertani, bekerja di kebun atau yang lainnya. Di padang sahara, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang mengajari Ismullôh al-A’zhom, lalu dia berdoa dengan nama itu, dan setelah itu tidak beberapa lama diabertemu dengan Hidhir yang berkata kepadanya: “Yang mengajarimu Ismullôh al-A’zhom adalah saudaraku Dawud.” Cerita ini saya peroleh dari penuturan Abu Abdurrahman as-Sulami,” kata Imam al-Qusyairi.Cerita tentang Hidhir seperti di atas juga dikemukakan Syaikh Fariduddin al-Athar dalam Tadzkîratul Auliyâ’, dan menambahkan penjelasan begini: “Kemudian terjadi perbincangan panjang antara Hidhir dan Ibrahim(bin Azhom). Hidhir `alahissalam adalah orang pertama yang membuat Ibrahim berbicara banyak dan terbuka, dengan izin Alloh.”Selain itu, Nabi Hidhir juga dikenal dalam membimbinmg sebagian sufi dalam memudawamahkan sholawat dengan redaksi: Shollallôhu `alâ Muhammad. Di antaranya, saya memperoleh cerita dari KH. Baiquni (Gus Baiq), cucu KH. Achmad Shiddiq (Rais Am PBNU pada zaman Gus Dur), bahwa kakeknya, Mbah KH. Muhammad Shiddiq, memperoleh wirid sholawat Shollallôhu `alâ Muhammad dari Nabi Hidhir untuk dibaca setelah Sholat Jumat sampai sebelum matahari terbenam, sebanyak 1000 x.Dalam Kitab Afdholush Sholawât `alâ Sayyidis Sâdât, Imam Yusuf bin Ismail an-Nabhani juga bercerita soal sholawat pendek dengan redaksi Shollallôhu `alâ Muhammad, ketika membahas sholawat ke-10. Dalam kitab itu dijelaskan begini, kaitanya dengan Hidhir:“Imam asy-Sya’roni berkata: “Rasululloh sholallôhu `alai wasallam pernah bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan sholawat ini, maka ia telah membukakan 70 pintu rahmat untuk dirinya, dan Alloh menyebarkan kecintaan-Nya ke dalam hati manusia, kemudian jika ada orang yang membencinya, maka orang yang membencinya itu orang yang memiliki sifat munafik dalam hatinya.”“Syaikh kita, Ali al-Khowash rodhiyallôhu `anhu mengatakan bahwa hadits ini dan hadits sebelumnya, yaitu: “Keadaan kalian yang paling dekat denganku adalah ketika salah seorang darikalian mengingatku dan bersholawat kepadaku.”Kami meriwayatkan kedua hadits ini, dari sebagian orang-orang arif, dari Hidhir dari Rasululloh. Menurut kami, hadits ini menduduki tempat kesahihan yang paling tinggi, meskipun para ahli hadits tidak menetapkannya sesuai dengan istilah mereka.“Pendapat ini diperkuat oleh keterangan al-Hafizh as-Sakhowi dari Majduddin al-Fairuzabadi,penulis kitab al-Qômus, dengan sanadnya kepada Imam as-Samarqondhi,ia berkata: “Aku mendengar Hidhir dan Ilyas berkata: “Kami mendengar Rasulullah shollallôhu `alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin mengatakan: “Shollallôhu `alâ Muhammad,” melainkan Alloh akan menjadikan manusia mencintainya meskipun mereka membencinya, dan demi Alloh, tidaklah mereka mencintai orang itu sehingga Alloh `azza wajalla mencintainya.” Kami pernah mendengar Rasululloh shollallôhu `alaihi wasallam bersabda di atas mimbar: “Barang siapa yang berkata: “Shollallôhu `alâ Muhammad”, maka sesungguhnya ia telah membukakan untuk dirinya 70 pintu rahmat.”Nabi Hidhir inilah yang menurut Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya tentang Hidhir berjudul az-Zuhrun Nadhir fî Hâli al-Hidhir (Maktabah Ahlul Atsar, 2004), yang dimaksud oleh khabar-khabar Kanjeng Nabi Muhammad, meski diinkari oleh sebagian ahli hadits. Dia ini dipanggil dengan kunyah Abul Abbas. Pada bagian “Dzikrul Ahbâr allatî Warodat annal HidhrKâna fî Zamânin Nabî shollallôhu `alaihi wasallam Tsumma Ba’dahu ilâ al-Ân, diketengahkan riwayat-riwayatkaitannya dengan Hidhir pada zaman Nabi sampai zaman ini.Akan tetapi, tokoh wahhabi salafi juga menulis pandangannya sendiri tentang Hidhir, dalam kitab berjudul at-Tahdzir minal Qouli bi Hayâtil Hidhr yang ditulis Muhammad bin Ibrohim al-Luhaidan (Darul Kutub was Sunnah, 1992).Imam al-Ghozali dalam kitab Ihyâ’ juga mengemukakan salah satu doa Nabi Hidhir selain al-Musabba`ât al-`Usyr di atas, dalam bagian Doa Nabi Hidhir `alaihissalam (dalam cetakan versi Syarah Ihyâ’, Ithâfu Sâdatil Muttaqîn, V: 69):“Dikatakan bahwa Hidhir dan Ilyas `alaihimas salam apabila bertemu di dalam setiap tahun musim (maksudnya musim haji) tidak pernah meninggalkan kalimat-kalimatini ketika mereka berpisah:Bismillâh Mâ Syâ’allâhLâ Haula walâ Quwwata illâ billâh Mâ Syâ’allâhKullu Ni’matin minallôh Mâ Syâ’allâhAl-Khoiru Kulluhu biyadillâh Mâ Syâ’allâhLâ Yashrifus Sû’a illallôh (tidak ditambahi Lâ Haula walâ quwwata illâ billâh)“Dengan nama Alloh, apa yang dikehendaki Alloh. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Alloh dan apa yang dikehendaki Alloh. Setiap nikmat berasal dari Allah, apa yang dikehendaki Alloh. Segala kebaikan berada di dalam kekuasan Alloh, apa yang dikehendaki Alloh. Tidak ada sesuatupun selain Alloh sanggup menyingkirkan kejahatan.”Imam al-Ghozali dalam kitab Ihyâ’ itu mengatakan: “Barang siapa membacanya tiga kali setiap pagi, aman dari kebakaran banjir dan maling, insya Alloh.”Al-Hafizh Murtadho az-Zubaidi dalam Ithâfus Sâdatil Muttaqîn mengomentari: “Barang siapa membacanya tiga kali… ini adalah lafazh dalam kitab al-Qutt, dan lafzah dari Abu Dzar menyebutkan “barang siapa yang membaca 3 x di pagi dan sore dia aman dari kebakaran, banjir,dan maling.

27/12/2017

ngaji....
Wirid Para Abdal (1): Al-Musabba`at Al-`AsyarJudul kitabnya adalah Quttul Qulûb fî Mu`âmalatil Mahbûb wa Washfith Tharîq al-Mazîd ilâ Maqômit Tauhîd, dikarang oleh/yang disusun Imam Muhammad bin Ali bin Athiyah al-Haritsi atau Abu Tholib Al-Makki (Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1997). Pada fasal ke-4"fi Dzikri ma yustahabbu minadz dzikri wa qiro'atil ayyil mandub ilaiha ba'dat taslim min sholatish shubhi" terdapat cerita wiridnya wali abdal, Imam Kurz bin Wabrah yang memperoleh dari temannya, dari Imam Ibrahim at-Taimi. Kitab ini menghimpun wirid-wirid harian, yang menjadi rujukan para ulama tasawuf zaman dulu.Dalam salah satu bagian kitabnya itu, Ibnu Athiyah menukil riwayat bersumber dari Said bin Said dari Abu Thayyibah, dari Kurz bin Wabrah (dari teman Ibrahim at-Taimi), dari Nabi Hidhir dari Nabi Muhammad). Ceritanya dimulai:“Kurz bin Wabrah adalah seorang wali abdal, beliau berkata: “Saya didatangi oleh seorang teman dari Syam yang menghadiahkan sebuah hadiah. Teman saya itu berkata: “Wahai Kurz terimalah hadiah ini, sebab itu adalah hadiah yang bagus.” Saya bertanya: “Wahai temanku, dari siapa engkau mendapatkan hadiah tersebut?” Dia menjawab: “Saya mendapatkannya dari Ibrahim at-Taimi.”“Saya (Kurz bin Wabrah) bertanya: “Apakah engkau tidak menanyakan dari siapa dia mendapatkannya?” Beliau menjawab: “Tentu saja saya tanyakan.” Dia berkata (tentang Ibrahim Taimi): “Ketika saya sedang duduk di depan halaman Ka’bah, yaitu di saat membaca tahlil, tahmid, dan tasbih, tiba-tiba datang seorang laki-laki menghampiriku. Dia mengucapkan salam kepadaku dan duduk di sebelah kananku. Di zaman saya, saya belum pernah melihat orang yang wajahnya lebih tampan daripada dia. Saya tidak pernah menemukan pakaian yang lebih bagus daripada yang dipakai olehnya. Saya tidak pernah melihat pakaian yang lebih putih daripada pakaian yang dipakai olehnya. Saya belum pernah melihat bauwangi yang lebih harum daripada bau harum laki-laki itu.”Saya bertanya kepadanya: “Wahai Hamba Alloh dari mana dan siapa Anda ini?” Hamba Alloh itu menjawab: “Aku adalah Hidhir.” Saya bertanya kembali kepadanya: “Untuk kepentingan apa Anda ke sini?” Hidhir menjawab: “Saya datang kesini untuk menyampaikan salam Anda dan menyampaikan rasa cinta kepada Alloh Azza wajalla. Selain itu saya punya hadiah yang ingin saya hadiahkan kepada Anda.”Saya (Ibrahim at-Taimi) bertanya: Hadiah apa?” Hidhir menjawab: “Hadiah tersebut adalah ketikamatahari terbit dan sebelum terbenam Anda membaca (pagi dan sore):1. Surat al-Fatihah 7 x.2. Surat an-Nas 7 x.3. Surat al-Falaq 7 x.4. Surat al-Ikhlas 7 x.5. Surat al-Kafirun 7 x.6. Ayat Kursi 7 kali.7. Tasbih, subhanalloh walhamdulillah wala ilaha ilalloh wallohu akbar, 7 x.8. Sholawat 7 x.9. Istighfar, untuk Anda, orang tua, keturunan, istri, orang mukmin laki-laki dan perempuan yang hidup dan yang telah wafat, 7 x.10. Setelah itu berdoa: “Ya Alloh,Ya Rabb, lakukanlah untukku dan untuk mereka (orang-orang mukmin), baik langsung atau nanti, dalam hal agama, dunia dan akhirat, keputusan yang selayaknya Engkau perbuat, janganlah engkau putuskan wahai Tuhanku yang layak menurut kami (sementara menurut Engkau tidak layak). Sesungguhnya engkau Maha Pengampun, Mahabijak, Mahadermawan, Mahamulia, Maha Penyayang dan Maha Pengasih, sebanyak 7 x.”“Pikirkanlah oleh Anda (Ibrahim at-Taimi) untuk tidak meninggalkan wirid di atas pagi dan sore.” Saya berkata kepada Hidhir: “Saya sangat ingin kalau Anda memberitahu siapa yang memberi hadiah ini?” Hidhir menjawab: “Saya mendapatkan hadiah ini dari Nabi Muhammad.” Saya bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku pahala membaca bacaan tersebut?” Hidhir menjawab: “Jika engkau bertemu Nabi Muhammad tanyakan tentang ganjaran wirid tersebut, beliau akan memberitahukan kepadamu.”Selainjutnya Imam Ibrahim at-Taimi memberitahukan bahwa suatu malam dia mimpi melihat para malaikat datang kepadanya. Para malaikat membawanya masuk ke dalam surga. Tiba-tiba di dalam surga, melihat sesuatu yang sifat-sifatnya sangat agung. Imam Ibrahim at-Taimi bertanya kepada malaikat: “Untuk siapasemua ini?” Para malaikat menjawab: “Semua itu disediakan untuk orang yang melakukan amalan seperti yang engkau lakukan.”Ibrahim at-Taimi menyatakan bahwa dalam mimpi tersebut dirinya makan buah dari surga dan diberi minum oleh para malaikat dari air surga. Kemudian dia berkata: “Setealah itu datang Nabi Muhammad kepadaku beserta 70 orang Nabi dan 70 baris malaikat. Panjangnya tiap barisan itu seukuran dari masyriq sampai maghrib. Nabi Muhammad membaca salam kepadaku dan memegang tanganku.Saya bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, Hidhir memberitahu kepadaku bahwa dirinya mendengar langsung darimu perihal bacaan wirid ini.” Rasulullah kemudian menjawab: “Benar apa yang dikatakan Hidhir. Dan setiap berita yang disampaikan dia benar adanya. Dia tokoh ilmuan penduduk bumi. Dia pemimpin para wali abdal. Dia salah seorang tentara Alloh `azza wa jalla di muka bumi.”PenegasanKemudian saya (Ibrahim at-Taimi) bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana orang yang mengamalkan bacaan di atas, namun ia tidak mimpi seperti mimpi yang aku alami, apakah dia mendapatkan pemberian seperti yang engkau berikan ini.”Rasulullah menjawab: “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar, orang yang mengamalkan bacaan di atas, namun tidak pernah melihatku dan surga dalam mimpinya, seluruh dosa-dosanya yang dilakukan akan diampuni dan Alloh akan menjauhkan kemarahan-Nya dan kutukan-Nya dari dia. Selain itu Alloh akan memerintahkan kepada malaikat Atid untuk tidak mencatat sedikitpun kejelekannya sampai setahun. Demi Dzat yang telah mengutusku secara benar menjadi Nabi, tidaklah mengamalkan bacaan tersebut, kecuali orang yang diciptakan oleh Alloh sebagai manusia yang bahagia. Dan, tidaklah meninggalkan amalan ini, kecuali orang yang diciptakan Alloh sebagai manusia yang rugi/sial.”Kata penulis kitab itu, selanjutnya: “Setelah mimpi itu, Syaikh Ibrahim at-Taimi selama empat bulan tidak makan dan tidak minum. Kemungkinan besar, itu sebagai efek dari mimpinya itu. Tapi Alloh lebih tahu hal yang sebenarnya. “ Riwayat itu disampaikan al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi.Tentang Syaikh Ibrahim at-Taimi dan Imam Kurz bin Wabrah, akan dijelaskan berikutnya.

Address

Jalan Purwareja Klampok
Banjarnegara
53474

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PP Qomarul Huda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to PP Qomarul Huda:

Share