Institut Teknologi Yogyakarta - STTL "YLH"

Institut Teknologi Yogyakarta - STTL "YLH" Institut Teknologi Yogyakarta merupakan pengembangan perguruan tinggi Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Yogyakarta yang berdiri pada tahun 1983

05/10/2014
07/05/2014

Selamat malam semua, bgmn kabar kamu hari ini?

19/02/2014

19/02/2014

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Walhi Jawa Barat masih mencari nama dua perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka pencemar lingkungan oleh Kepolisian Polda Jabar Walhi Jabar mengapresiasi apa yang telah dilakukan Polda Jabar terhadap perusahaan pencemaran lingkungan tersebut Kami mengapresiasi

29/08/2013

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Kabut asap menyelimuti Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau. Kabut asap mengakibatkan jarak pandang di bawah 500 meter. 'Sejak operasional Bandara SSK II dibuka...

29/08/2013

ANTARA News - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mendorong peningkatan penggunaan biodiesel dalam porsi biosolar sebagai upaya menstabilkan pasar keuangan yang bergejolak dan melemahnya nilai tukar rupiah.

10/07/2013

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1434 H, Semoga diber kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan Ibadah Ramadhan tahun ini.. Amiin..

01/07/2013

Jangan Lupa Kunjungi Acara Pameran Bidang Lingkungan Indowaste, Indowater, Indorenergy 3-5 Juli 2013 di JCC Jakarta Convention Center, sekaligus sarana temu Alumni Teknolog Lingkungan

25/04/2013

SELAMAT SIANG AKADEMIA JOGJA..Diiklim ekstrim seperti saat ini, Tetap Hamemayu Hayuning Bawono ya..

22/04/2013

Mamayu Hayuning Bawono..Selamat Hari Bumi

18/10/2012

INDONESIA GALANG DUKUNGAN PERPANJANG TENGGAT PROTOKOL KYOTO

Denpasar - Indonesia menggalang dukungan dari negara maju dan berkembang untuk memperpanjang tenggat waktu pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca dalam Protokol Kyoto yang akan berakhir pada November 2012.

Menurut Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar di Denpasar, Rabu, penggalangan dukungan akan dilakukan melalui Dialog Cartagena ke-9 di Sanur, Denpasar, pada 17-19 Oktober 2012.

"Yang paling krusial dalam pertemuan ini adalah bagaimana menindaklanjuti Protokol Kyoto dan konsep perpanjanganya nanti dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim di Doha, Qatar, akhir tahun ini," katanya.

Kalau pun di Doha ada negara-negara yang mengusulkan penggantian Protokol Kyoto, dia berharap isinya masih mengacu pada "Bali Road Map" dan "Bali Action Plan" yang disepakati negara-negara peserta Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada Desember 2007.

Dalam "Bali Road Map" disebutkan bahwa negara-negara maju yang selama ini banyak menyumbang emisi gas rumah kaca wajib memberikan bantuan kepada 120 negara berkembang.

"Sampai sekarang bantuan itu tidak direalisasikan oleh negara-negara maju yang punya histori melakukan kejahatan lingkungan. Sayangnya banyak negara-negara maju termasuk Amerika Serikat menolak keputusan dalam Protokol Kyoto itu," kata Rachmat selaku Ketua Delegasi Indonesia dalam Dialog Cartagena ke-9.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup itu mengajak negara-negara berkembang ikut mendesak Amerika Serikat dan negara-negara maju menjalankan Protokol Kyoto.

"Amerika Serikat meminta penurunan emisi karbonnya 17 persen, padahal semestinya 40 persen. Kami memaklumi hal itu, tapi Amerika Serikat juga harus membuktikan kemampuannya mengurangi emisi karbonnya," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa pengurangan gas rumah kaca tidak akan membuat pembangunan ekonomi tersendat. "Pembangunan itu perlu energi, tapi bukan berarti energi itu dihabiskan begitu saja. Saat ini ada 76 proyek yang menjalankan pedoman emisi gas rendah," ujarnya.

Rachmat mengklaim bahwa komitmen pemerintah Indonesia mengurangi gas rumah kaca mendapat sambutan luar biasa dari negara-negara lain, apalagi pengurangannya bisa mencapai 26 persen ditambah dengan dukungan dana APBN untuk merealisasikan upaya tersebut.

Beberapa delegasi yang mengikuti Dialog Cartagena ke-9 di Denpasar adalah kalangan pejabat pembuat kebijakan tentang perubahan iklim di negaranya masing-masing. Pertemuan itu akan dihadiri 65 delegasi dari 29 negara.

"Yang hadir dalam pertemuan ini ada menteri, wakil menteri, dan pemegang kendali kebijakan perubahan iklim. Tapi pertemuan ini bukan ministerial meeting," kata demikian Rachmat Witoelar. *BL/aw/antara follow our twitter |

Address

Jalan Janti Km 4, Gedong Kuning
Bantoel
65111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Institut Teknologi Yogyakarta - STTL "YLH" posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Institut Teknologi Yogyakarta - STTL "YLH":

Share