06/05/2016
Dalam peribahasa Arab, Manusia adalah "Hewan yang berbicara". Selintas pepatah ini rancu dan membingungkan, tetapi apabila kita bisa menangkap hakikatnya, ia sungguh luar biasa. Penulis akan menguraikannya sebagai berikut.
Pertama, hewan. Hewan adalah salah satu makhluk yang memiliki tingkah laku beragam, ia bisa jinak, buas, mengerikan, diam, takut, dll. Begitupula dengan manusia, ia bisa bersahabat, saling bunuh, penuh cinta-kasih, bengis, sadis, gemar membantu, dll. Hal ini dikarenakan manusia memiliki qalbu (hati). Kata hati dalam bahasa Arab diartikan bolak-balik, plintat-plintut dan tidak konsisten. Jadi jangan heran, jika pagi hari ia lemah lembut penuh kasih sayang, tapi sorenya ia telah memaki-maki orang lain.
Kedua, berbicara. Kata berbicara berarti mengeluarkan huruf, kata, kalimat dan bahasa melalui mulut seseorang yang kemudian ditangkap oleh telinga orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya, misalnya hewan dan tumbuhan. Meskipun hewan dapat berkomunikasi/interaksi dengan sesama, tetapi mereka tidak mengeluarkan huruf, kata atau ucapan hanya saja mereka berinteraksi melalui: auman, ringkikan, kicauan, dll. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan.
Huruf dan kata merupakan ciri manusia modern karena tidak dikenal oleh manusia purba atau homo sapiens. Sementara alat komunikasi manusia purba yaitu dengan kode atau gambar bukan dengan huruf, abjad atau angka. Sehingga bisa dikatakan bahwa huruf, abjad atau angka merupakan batas pembeda masa sejarah dengan masa pra-sejarah atau manusia purba dengan manusia modern.
Sementara itu, ucapan selain menggunakan huruf atau abjad juga menggunakan bahasa, salah satu alat komunikasi lainnya. Setiap tempat atau wilayah memiliki bahasa dan dialek yang berbeda-beda. Meskipun satu daerah bahasanya sama, tetapi kosa kata dan dialek pasti berbeda-beda satu tempat dengan tempat yang lainnya. Hal inilah yang menunjukkan bahwa bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan. Singkatnya bahwa bahasa adalah instrumen-alat pembentuk kebudayaan. Wajar jika dikatakan bahwa bahasa adalah titik pembatas antara masa pra-kebudayaan dengan masa kebudayaan. Jika suatu daerah belum atau tidak mengenal bahasa bisa dipastikan bahwa wilayah tersebut tidak memiliki kebudayaan tersendiri.