Forum Kajian Antropologi Indonesia

Forum Kajian Antropologi Indonesia Untuk Indonesia yang Multikultural

Buku ini membahas tentang budaya dan tradisi orang Tionghoa di Kota Medan. Sangat menarik untuk dibahas. Di antaranya me...
25/04/2026

Buku ini membahas tentang budaya dan tradisi orang Tionghoa di Kota Medan. Sangat menarik untuk dibahas. Di antaranya mengupas terbentuknya masyarakat multikultural di Kota Medan, aktivitas sosial, religi, ekonomi, pendidikan, dan politik Tionghoa Medan.

Seperti yang diketahui, banyak kosakata dan budaya Hokkian yang terserap ke dalam pergaulan sehari-hari, misalnya kata lu, gua, cepek, goceng, angpau, cuan, toko, tauke, tukang, becak, bakmi, siomay, tauco, baju koko, kebaya encim, dan masih banyak lagi.

Selain itu, buku ini juga membeberkan rahasia sukses Tionghoa Medan dalam dunia bisnis, yaitu mengandalkan jejaring bisnis. Jejaring bisnis bisa terbentuk lewat Guānxì (relasi/hubungan), seperti menjaga nama baik, menjaga “muka”, menjaga hubungan jangka panjang, asas resiprositas, dan lain-lain. Guānxì juga memperkuat lagi jejaring bisnis. Lalu dipadukan dengan kiasu (takut kalah) yang positif, weiji (jeli menangkap peluang saat krisis) dan 6C (cengli, cuan, cincai, ciak, ciok dan cau) untuk mencapai sukses.

Bagaimana dengan dunia politik? Setelah Reformasi 1998, orang Tionghoa mulai aktif menghidupkan lagi perkumpulan sosial, a.l. PSMTI (1998), dan INTI (1999). Beberapa anggotanya bergabung dengan partai politik nasional, antara lain: PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Nasdem. Tionghoa Medan juga aktif melakukan bakti sosial lintas etnik dan agama, yang merupakan bentuk kepedulian dan perhatian pada sesama. Sangatlah mulia mencari kesamaan, bukan mencari-cari perbedaan, sehingga keharmonisan berbangsa dan persatuan nasional akan terwujud.

Selamat kepada Ibu Dr. Mariana Makmur, MA. atas penerbitan buku Tionghoa Medan. FKAI cukup bangga bekerjasama dengan menerbitkan hasil penelitian desertasi beliau di Universitas Sumatera Utara.

Kami akan menginformasikan kembali mengenai distribusi buku ini. Sementara ini silakan hubungi kami untuk informasi terbaru di [email protected]

TIONGHOA MEDANMerajut Kebhinnekaan Dalam Keharmonisan BerbangsaBuku ini membahas tentang budaya dan tradisi orang Tiongh...
21/04/2026

TIONGHOA MEDAN
Merajut Kebhinnekaan Dalam Keharmonisan Berbangsa

Buku ini membahas tentang budaya dan tradisi orang Tionghoa di Kota Medan. Sangat menarik untuk dibahas. Di antaranya mengupas terbentuknya masyarakat multikultural di Kota Medan, aktivitas sosial, religi, ekonomi, pendidikan, dan politik Tionghoa Medan.

Seperti yang diketahui, banyak kosakata dan budaya Hokkian yang terserap ke dalam pergaulan sehari-hari, misalnya kata lu, gua, cepek, goceng, angpau, cuan, toko, tauke, tukang, becak, bakmi, siomay, tauco, baju koko, kebaya encim, dan masih banyak lagi.
Selain itu, buku ini juga membeberkan rahasia sukses Tionghoa Medan dalam dunia bisnis, yaitu mengandalkan jejaring bisnis. Jejaring bisnis bisa terbentuk lewat Guānxì (relasi/hubungan), seperti menjaga nama baik, menjaga “muka”, menjaga hubungan jangka panjang, asas resiprositas, dan lain-lain. Guānxì juga memperkuat lagi jejaring bisnis. Lalu dipadukan dengan kiasu (takut kalah) yang positif, weiji (jeli menangkap peluang saat krisis) dan 6C (cengli, cuan, cincai, ciak, ciok dan cau) untuk mencapai sukses.

Bagaimana dengan dunia politik? Setelah Reformasi 1998, orang Tionghoa mulai aktif menghidupkan lagi perkumpulan sosial, a.l. PSMTI (1998), dan INTI (1999). Beberapa anggotanya bergabung dengan partai politik nasional, antara lain: PDIP, Partai Demokrat, dan Partai Nasdem. Tionghoa Medan juga aktif melakukan bakti sosial lintas etnik dan agama, yang merupakan bentuk kepedulian dan perhatian pada sesama. Sangatlah mulia mencari kesamaan, bukan mencari-cari perbedaan, sehingga keharmonisan berbangsa dan persatuan nasional akan terwujud.

Selamat kepada Ibu Dr. Mariana Makmur, MA. atas penerbitan buku Tionghoa Medan. FKAI cukup bangga bekerjasama dengan menerbitkan hasil penelitian desertasi beliau di Universitas Sumatera Utara.

Kami akan menginformasikan kembali mengenai distribusi buku ini. Sementara ini silakan hubungi kami untuk informasi terbaru di [email protected]

VIDEO:KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES XXII/2025Merawat Tubuh Bangsa: Refleksi Peranan Komunitas dalam Pembangunan
06/12/2025

VIDEO:
KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES XXII/2025
Merawat Tubuh Bangsa: Refleksi Peranan Komunitas dalam Pembangunan

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES XXII/2025Merawat Tubuh Bangsa: Refleksi Peranan Komunitas dalam Pembangunan📅 Selasa, 2 Desember 2025🕘 09.00–12.00 WIB🏛️...

Hestu Prahara, S.Sos., M.Si., Ph.D. adalah dosen di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unive...
28/11/2025

Hestu Prahara, S.Sos., M.Si., Ph.D. adalah dosen di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Program Sarjana Antropologi untuk periode 2024–2028. Penelitiannya berfokus pada antropologi tentang pembangunan dan budaya teknokratis dalam berbagai program intervensi, dengan perhatian khusus pada bagaimana pengetahuan, kebijakan, dan praktik pemerintahan saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari para aktornya. Minat keilmuannya mencakup formasi dan transformasi budaya, serta isu-isu perkotaan yang menelaah estetika dan politik ruang, tata kelola, dan bagaimana berbagai dimensi tersebut berkonvergensi membentuk pengalaman manusia, etika keseharian, serta imajinasi sosial mengenai kehidupan dan kematian yang baik. Saat ini, ia tengah menginisiasi sebuah proyek penelitian tentang tata kelola kematian di lingkungan perkotaan, menggunakannya sebagai pintu masuk untuk mengeksplorasi hubungan antara ruang, tata kelola, dan pengalaman hidup warga kota dalam memaknai kehidupan dan kematian.
Pada kuliah umum ini, beliau akan memberikan kuliah bertema Antropologi (tentang) Pembangunan: Peluang Terapan dan Tantangannya.

Mia Siscawati saat ini mengajar di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia. Ia menerima ge...
28/11/2025

Mia Siscawati saat ini mengajar di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia. Ia menerima gelar MA dan Ph.D. dari University of Washington. Selain itu beliau juga menempuh Pendidikan MA dalam Sustainable International Development Studies dari Brandeis University, Amerika Serikat. Mia Siscawati dikenal sebagai ahli dalam antropologi feminis, gender dan lingkungan, serta gender dan pembangunan. Selain mengajar dan sibuk dalam penelitian, beliau juga aktif terlibat di berbagai gerakan sosial di Indonesia speerti gerakan mengenai perempuan, masyarakat adat, dan lingkungan. Ia juga dikenal sebagai pendiri dan anggota dewan penasihat di beberapa organisasi.
Mia Siscawati akan memberikan kuliah tentang bagaimana ia membaca dinamika dan variasi ruang antropolog (akademik, NGO, advokasi) pada konteks pembangunan, serta isu keberpihakan dan etika dalam praktik antropologi terapan.

Dr.  Scott Guggenheim mendapatkan gelar doktor dari John Hopkins University, Amerika Serikat. Beliau seorang antropolog ...
28/11/2025

Dr. Scott Guggenheim mendapatkan gelar doktor dari John Hopkins University, Amerika Serikat. Beliau seorang antropolog yang telah bekerja di Meksiko, Kolombia, Ekuador, Filipina, Afganistan, Indonesia dan lainnya. Scott Guggenheim akan memberikan kuliah mengenai pengalamannya di Indonesia dalam menginisiasi dan menerapkan berbagai program community-driven development. Beliau akan menjadi pemberi kuliah pertama pada Koentjaraningrat Memorial Lectures nanti.

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES XXII/2025Merawat Tubuh Bangsa: Refleksi Peranan Komunitas dalam PembangunanSelasa, 2 ...
26/11/2025

KOENTJARANINGRAT MEMORIAL LECTURES XXII/2025
Merawat Tubuh Bangsa: Refleksi Peranan Komunitas dalam Pembangunan

Selasa, 2 Desember 2025 Pukul 09.00-12.00 WIB Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP, Universitas Indonesia

Koentjaraningrat Memorial Lecture (KML) tahun ini bertujuan merefleksikan peran dan posisi antropolog Indonesia di tengah program-program pembangunan yang semakin mengintegrasikan manusia dan komunitasnya ke dalam logika teknokratik. Kali ini kami menawarkan konsep care menjadi kunci untuk membaca ulang sejarah keterlibatan antropolog dalam program pembangunan. Care memberi bahasa baru bagi tradisi panjang antropologi Indonesia yang sejak awal berakar pada praktik lapangan, kerja kedekatan, dan tanggung jawab sosial terhadap komunitas yang didampinginya. Jika dulu antropologi berkontribusi pada membangun manusia dalam kerangka teknokratik pembangunan, kini tantangannya adalah bagaimana “merawat tubuh bangsa”, menjaga kehidupan sosial, ekologis, dan moral bangsa melalui etika perawatan (ethic of care) yang lahir dari kedekatan, empati, dan tanggung jawab.

“Tubuh bangsa” menjadi medan intervensi: manusia dipandang sebagai aset pembangunan ketika berhasil, atau sebagai beban ketika gagal. Tema “Merawat Tubuh Bangsa” mengajak kita meninjau kembali warisan Koentjaraningrat tentang mentalitet pembangunan, serta mendiagnosis bagaimana logika pembangunan hari ini dijalankan, dikritik, dan diimajinasikan ulang melalui antropologi.

Koentjaraningrat Memorial Lecture XXII/2025 kali ingin berupaya untuk mengajukan refleksi kritis dan etis: bagaimana antropolog memahami dan bekerjasama dengan komunitas masyarakat yang menjadi subyek risetnya dalam upaya pembangunan? Sehingga, etnografi perlu dibayangkan kembali sebagai alat pembebasan, sebuah cara untuk “merawat” tubuh sosial bangsa.

Info: http://fkai.org
Pendaftaran: https://bit.ly/daftar_KML2025

*Undangan Forum Diskusi Rabu  #008 : Launching dan Bedah Buku “Tionghoa Medan"*Merupakan kebahagiaan kami untuk *Launchi...
29/10/2025

*Undangan Forum Diskusi Rabu #008 : Launching dan Bedah Buku “Tionghoa Medan"*

Merupakan kebahagiaan kami untuk *Launching sekaligus Bedah Buku “Tionghoa Medan”* yang di tulis oleh *Dr. Mariana Makmur, MA*, sebagai Dosen Antropologi Sosial - FISIP USU sekaligus Peneliti ETNOGRAFIK Research Center Universitas Sumatera Utara (ERC USU).

Kegiatan ini bertujuan, mengenalkan Buku “Tionghoa Medan” sebagai salah satu karya yang dihasilkan dari proses berpengetahuan oleh penulis dan memahami posisi dan kontribusi buku ini bagi pemahaman mengenai etnisitas, identitas kultural, pluralisme dan ke Indonesiaan, baik secara akademik maupun dalam konteks kebijakan.

Kegiatan ini di inisiasi kolaborasi AAI Pengda Sumut dengan Program Studi Antropologi Sosial FISIP USU, ERC USU, S2-S3 Studi Pembangunan USU, S2 Sekolah Pascasarjana Antropologi Sosial - UNIMED, dan ARTIKULA. Kegiatan akan dilaksanakan pada:
Hari / Tanggal : Rabu / 29 Oktober 2025,
Waktu : Pukul 10.00 - 12.30 Wib
Tempat : Zoom Meeting, https://us05web.zoom.us/j/88931596369?pwd=sC7raLIgL1Zk2OtkUvsMWBHrc58e9M.1

Menghadirkan :
1. Penulis Buku, *Dr. Mariana Makmur, MA*, Dosen Antropologi Sosial, FISIP USU dan Peneliti ERC USU
2. Pembedah I, *J.Anto*, Aktifis, Wartawan Senior, Penulis, Pemerhati Tionghoa
3. Pembedah II, *Geger Riyanto, Ph.D*, Dosen Antropologi FISIP Universitas Indonesia
4. Kegiatan akan di moderasi oleh *Dr. Saruhum Rambe, M.Si*, Dosen Antropologi Sosial, FISIP USU dan Peneliti ERC USU

Silahkan melakukan registrasi di https://forms.gle/jfFn1CqyLwchGLDt9. Sampai ketemu di arena diskusi.

Panitia Bersama
*Forum Diskusi Rabu #008*

Buku ini membahas formasi (pembentukan) identitas kultural Tionghoa Medan  Masa Orde Baru dan Reformasi. Pemerintahan Or...
08/08/2025

Buku ini membahas formasi (pembentukan) identitas kultural Tionghoa Medan Masa Orde Baru dan Reformasi. Pemerintahan Orde Baru menerapkan berbagai kebijakan dan memainkan peran penting dalam membangun identitas kultural orang Tionghoa. Kebijakan asimilasi diterapkan sebagai solusi terhadap masalah Tionghoa yaitu dengan menghapus dan membongkar pilar-pilar identitas etnis Tionghoa. Kebijakan negara ini tertuang dalam Inpres No. 14/1967, tanggal 6 Desember 1967, dan Surat Keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966. Kebijakan tersebut melarang orang-orang Tionghoa di Indonesia mengekspresikan di hadapan publik berbagai hal berkaitan dengan aktivitas kultural Tionghoa, seperti melaksanakan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa, serta menghimbau agar mengganti nama perorangan dan nama keluarga Tionghoa dengan nama Indonesia.

Setelah peristiwa Mei 1998 dan runtuhnya rezim Orde Baru, perlakuan negara terhadap orang Tionghoa berubah, dengan terbitnya berbagai kebijakan pemerintah yang memberikan pengakuan terhadap status orang Tionghoa. Era Reformasi memberikan kebebasan berekspresi terhadap berbagai aspek identitas etnis dan kultural yang sebelumnya dilarang. Keppres no.6 tahun 2000, dikeluarkan untuk mencabut Inpres No. 14/1967, sehingga orang Tionghoa dapat dengan bebas menampilkan identitas kulturalnya, yang sebelumnya harus disembunyikan, dan atau dihilangkan di hadapan publik.

Identitas kultural yang diekspresikan tersebut menggambarkan bahwa kultural Tionghoa Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat lainnya dan merupakan bagian dari keragaman etnik yang memperkaya budaya di Indonesia sebagai bagian dari masyarakat yang multi-etnik.

Temuan lapangan menunjukkan identitas kultural orang Tionghoa di Medan terlihat menguat dalam sejumlah aspek pada era Reformasi. Dengan perspektif psikokultural yang dikemukakan de Vos dan Romanucci-Ross (2006), ditemukan bagaimana masyarakat Tionghoa Medan, mempertahankan dan melestarikan identitas primordialnya. Bagaimana identitas etnis memengaruhi perilaku setiap warga masyarakat, dengan melihat adanya perasaan subjektif yang berkaitan dengan kepemilikan kelompok.

Selamat kepada Ibu Dr. Mariana Makmur, MA. atas penerbitan buku Tionghoa Medan. FKAI cukup bangga bekerjasama dengan menerbitkan hasil penelitian desertasi beliau di Universitas Sumatera Utara.

Kami akan menginformasikan kembali mengenai distribusi buku ini. Sementara ini silakan hubungi kami untuk informasi terbaru di [email protected]

Address

Babakan Madang 15, Sentul Selatan
Bogor
16810

Telephone

+628129484957

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Forum Kajian Antropologi Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Forum Kajian Antropologi Indonesia:

Share