05/08/2026
Ketika Allah ﷻ menakdirkan sebuah musibah kepada kita, jangan langsung berprasangka buruk. Bisa jadi, di balik musibah itu Allah sedang menghendaki kebaikan yang besar.
Musibah bisa menjadi sebab:
- Gugurnya dosa-dosa.
- Diangkatnya derajat seorang hamba.
- Kembalinya hati kepada Allah.
- Tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata:
قال الإمام ابن القيم رحمه الله: تمام الخذلان انشغال العبد بالنعمة عن المنعم، وبالبلية عن المبتلي
“Kesempurnaan kehinaan seorang hamba adalah ketika ia sibuk dengan nikmat hingga melupakan Dzat Yang Memberi nikmat, dan sibuk dengan musibah hingga melupakan Dzat Yang Memberi ujian.”
Betapa sering kita hanya memikirkan bagaimana keluar dari musibah, namun lupa bertanya:
“Apa hikmah yang Allah inginkan dari ujian ini?”
Seorang mukmin tidak hanya melihat musibah dengan mata, tetapi juga melihatnya dengan hati. Ia yakin bahwa semua takdir Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu ia pahami saat ini.
Allah Ta’ala berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Semoga Allah menjadikan setiap ujian sebagai sebab bertambahnya iman, dihapuskannya dosa, dan diangkatnya derajat kita di sisi-Nya.
اللهم اجعل بلاءنا رفعةً في درجاتنا، وتكفيرًا لذنوبنا، وقربًا إليك.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.