14/08/2023
Sayyid Ali Bin Abdullah Ath Thoyyib Al Hasani
Penyebar Thariqah At Tijaniyyah di Nusantara
Sayyidina Syeikh al-Arif Billah al-Waliy al-kabir Habibb al-Syarif Ali bin Abdullah al-Thoyyib al-Azhari al-Madani al-Hassani RA, adalah seorang Ulama besar yang berasal dari Kota Rosulullah SAW. Beliau dilahirkan di Madinah al-Munawwarah kira-kira pada penghujung Abad ke-19 dan berasal dari keluarga keturunan ahlul Bayt Nabi SAW. Sayyid Ali al-Thoyyib adalah putra dari Syarif Abdullah bin Mustofa bin Hamid bin ahmad bin Sayyid Muhammad al-Thoyyib al-Sufyani.
Sayyid Ali telah mendapatkan Pendidikan Agama pertama dari keluarganya sendiri, yang adalah Zurriyah Sayyidina Ali bin Abi Thalib “sang pintu kota Ilmu” Karramallahu Wajhahu. Kemudian pada usia 9 Tahun Beliau dibawa ke Negeri Mesir untuk menuntut Ilmu. Di Mesir, Sayyid Ali belajar di Universitas al-Azhar kairo, salah seorang gurunya yang terkenal adalah : Syeikh Hassan al-Saqa Rohimahullah, seorang Khotib di al-Azhar al-Syarif. Dalam Ilmu ushuluddin Beliau mengikuti Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana dirumuskan oleh Imam Abu Hassan al-Ashari RA dan Imam Maturidi RA adapun dalam Ilmu Fiqih Sayyid Ali mengikuti Madzhab al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’I RA. Sayyid Ali merupakan pelajar yang tekun disamping dikaruniai kecerdasan yang luar biasa ditambah lagi ketaatannya beribadah kepada Allah SWT dengan mengikuti Sunnah Kakeknya Yakni Nabi Muhammad SAW. Setelah tinggal di Mesir , selama kurang lebih 20 tahun, Sayyid Ali Hijrah menuju kota Makkah dan mengajar ilmu agama di sana selama kurang lebih 6 tahun. Di Hijaz al-Haromain, Sayyid Ali berguru p**a kepada Ulama-ulama setempat, Khususnya kepada al-Sayyid al-Habibb Husain al-Hibshi Rohimahullah, seorang M***i Madzhab Imam Syafi’i di Makkah al-Mukarromah.
Sayyid Ali al-Thoyyib M***i Madzhab Syafi’i.
Setelah tinggal di Makkah, Sayyid Ali Pulang ke Kampung halamannya (Madinah). Karena kepakaranya dalam Ilmu Fiqih khususnya Madzhab Imam Syafi’I, beliau dipercaya untuk mengajar dan memberi fatwa (menjadi M***i) berdasarkan Madzhab Syafi’I di Madinah al-Munawwaroh. Meskipun saat itu usianya sangat muda namun karena keahliannya, Beliau diberi Gelar sebagai “Amin al-Fatwa al-Syafi’iyyah” sebagai bukti pengakuan masyarakat Madinah akan kedalaman ilmu agama Beliau.
Sayyid Ali al-Thoyyib Kholifah Thoriqoh al-Tijaniyyah
Sayyid Ali disamping mempelajari ilmu-ilmu syariat, Beliau kemudian mempelajari Ilmu Tasawuf, Khususnya Thoriqoh al-Muktabarah. Dalam Ilmu Thoriqoh, Sayyid Ali mengikuti Thoriqoh al-Mukatabaroh al-Tijaniyyah yang dibangun oleh Sayyidina Syeikh Abul Abbas Ahmad al-Tijani RA (1737-1815). Pertama beliau berguru kepada Syeikh Adam bin Muhammad Syaib al-Barnawi RA kemudian kepada Syeikh Muhammad Hasyim RA, seorang Ulama Ahli Hadits termahsyur di Madinah dan lebih dikenal dengan nama Imam Alfa Hasyim RA.
Dalam kitab “al-Munyat Fi Thoriqot al-Tijaniyyah” yang disusun oleh Syeikh Ali al-Thoyyib RA disebutkan sanad Ijazah Beliau dalam Thoriqoh Tijaniyyah : “Dan telah mengijazahkan kepadaku (Sayyid Ali al-Thoyyib) seluruh awraad Thoriqot Tijaniyyah (Yaitu) Syeikhul Allamah Adam bin Muhammad Syaib al-Barnawi RA pada Tahun (Musim) Haji 1324 Hijriyyah (1906/1907) dan menurut beliau, telah mengizinkan kepadanyaWA NAFAANA BIHI AMIN. Dan bagiku ada sanad lainnya di dalam Taqdim dan Kholifah (Yaitu) Syaikhina al-Allamah Zaman Imam al-Hadits di kota Madinah al-Munawwarah yaitu Syeikh Muhammad al-Hasyimi yang termahsyur dengan nama Alfa Hasyim dan Beliau dari al-Hajji Sa’id dari Syeikh Umar bin Sa’id (al-Fouthi) dari Syeikh Muhammad Ghola dari Syaikhina Ahmad al-Tijany RA dari Nabi Muhammad SAW dengan Muwajahah dan Musyafahah”
Diriwayatkan p**a bahwa Syeikh Alfa Hasyim telah memberikan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah kepada Sayyid Ali al-Thoyyib pada bulan rajab 1334 H bersetuju dengan tahun 1915/1916 M.
Menurut keterangan dari Syeikh Fakhruddin al-Owaisi (Madinah) bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib menerima p**a ijazah Tijaniyyah dari Syeikhul Islam Ibrohim Niyasse RA yang menerima ijazah dari Syeikh Ahmad Sukayrj dari Syeikh Ahmad Abdal Lawi dari Syeikh Ali Tamasini dari Syeikh Quthbil Maktum Ahmad Tijani dari Rosulullah SAW. Keterangan tersebut ada dalam Kitab “Rihlah al-Hijaziyah” susunan Syeikh Ibrohim Niyasse RA.
Seorang Ahli Sejarah Afrika bernama Ighba Visigh menyatakan dalam karangannya Bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib setelah belajar kepada Syeikh Alfa Hasyim, beliau Kemudian kembali ke Mesir dimana menurut Beliau masyarakat Umum di sana tidak banyak mengetahui tentang Tariqoh Tijaniyyah. Namun Sayyid Ali al-Thoyyib mengatakan bahwa ada sekitar 12.000 orang yang telah masuk Thariqoh Tijaniyyah di Mesir pada masa itu. (Jadi Sayyid Ali al-Thoyyib itu, Beliau sebelum menyebarkan Thoriqoh al-Tijaniyyah di Indonesia, Beliau juga sempat menyebarkan Thoriqoh al-Tijaniyyah di Mesir, dan sehingga lebih dari 12.000 orang masuk dalam Ajaran Syeikh Ahmad al-Tijany yakni Thoriqoh al-Tijaniyyah)
Pintu Gerbang/Perantara/Penyambung dan Penyebar Thariqoh Tijaniyyah Di Indonesia
Sekitar Tahun 1918-an Sayyid Ali berkunjung ke Indonesia dalam rangka dakwah. Informasi awal tentang kedatangan Sayyid Ali al-Thoyyib ke Indonesia dicatat oleh seorang orientalis Belanda yang bernama G.F Pijper dalam bukunya yang berjudul “Fragmenta Islamica”, menurut keterangan yang dihimpun oleh G.F Pijper yang mengaku telah bertemu dan melakukan wawancara dengan Sayyid Ali al-Thoyyib di Lereng Gunung Gede, Cianjur-Jawa Barat. Sayyid Ali al-Thoyyib pertama kali datang ke Cianjur dan menjadi kepala Madrasah Muawwanat al-Ikhwan selama 3 Tahun, kemudian pindah ke Kampung Arab Empang, Bogor dan menjabat Kepala Madrasah al-Falah al-Wahidiyah selama 3 Tahun, kemudian pindah lagi ke Tasikmalaya dan kembali mengajar selama 2 Tahun, kemudian pindah lagi ke Cianjur, selain itu Sayyid Ali al-Thoyyib juga mengunjungi beberapa tempat di Pulau Jawa sebelum akhirnya kembali ke Madinah al-Munawwaroh.