STID Al-Biruni Cirebon

STID Al-Biruni Cirebon kampus SEKOLAH TINGGI ILMU DAKWAH AL-BIRUNI CIREBON, KARAKTERISTIK KADER DAKWAH KPI & PMI

@[785601

13/05/2020

KERJA KERAS SEEKOR BURUNG
(bekerja keras dalam keterbatasan)
Oleh: apotsuM

Jika sebelumnya kita harus pergi pagi-pagi sekali baik untuk sekolah, kuliah, kekantor, bertemu klien kini. Saat ini kita bisa berkumpul dan sarapan bersama keluarga dengan apapun yang kita miliki. bisa bercengkrama dengan keluarga menjadi barang mahal bagi orang yang tinggal diperkotaan atau urban area saat ini.

Ada hal lain yang patut kita syukuri yakni solidaritas, kesetiakawanan dan gotong royong muncul di situasi seperti ini. Ketika banyak orang terdampak secara ekonomi dan kesehatan, publik langsung tergerak untuk membantu dan mendonasikan apa yang mereka punya. Indonesia memang terkenal sebagai negara dermawan sedunia menurut Charity Aid Foundation dalam World Giving Index 2018 hal ini juga dibuktikan saat pandemi Covid-19.

Warga Indonesia langsung turun membantu dengan apa yang mereka punya. Ini sangat patut kita syukuri bahwa kita dieratkan oleh persaudaraan karena peristiwa ini kita kesampingkan perbedaan politik dan sara untuk kemanusiaan. Kita tetap optimis dan realistis terhadap keadaan maka kita akan menularkan semangat positif bagi orang lain. Selalu mulai dari hal kecil, lakukan secara rutin sehingga menjadi kebiasaan baik, tingkatkan menjadi suatu pola hidup.

Nelson Mandela pernah berujar “Ketika kita membiarkan cahaya kita sendiri bersinar, kita secara tidak sadar memberi izin orang lain untuk melakukan hal yang sama jadilah lilin diruangan yang gelap”

"Kita harus menyiapkan diri dengan berbagai skenario. Tidak boleh pesimistis. Kita harus tetap berikhtiar dan bekerja keras dalam upaya pemulihan-pemulihan baik pemulihan kesehatan maupun ekonomi. Insyaallah kita bisa," kata Presiden dalam sidang kabinet paripurna melalui telekonferensi dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Selasa, 14 April 2020.

Kekhilafan Balkhi

Sebagaimana dikisahkan oleh ahli Tasawuf, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, orang itu bernama Al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishaq.

Pada suatu hari, Al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama Al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia p**ang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang dituju sangat jauh tempatnya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di Masjid langsung bertanya kepada Al-Balkhi, sahabatnya. "Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau p**ang begitu cepat?"

"Dalam perjalanan", jawab Al-Balkhi, "Aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan".

"Keanehan apa yang kamu maksud ?" tanya Ibrahim bin Adham penasaran.

"Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak", jawab Al-Balkhi menceritakan, "Aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Aku pun kemudian bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal ia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa".

"Tidak lama kemudian", lanjut Al-Balkhi, "Ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat".

"Lantas apa hubungannya dengan kep**anganmu?" tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kep**angan sahabat karibnya itu dengan segera.

"Maka aku pun berkesimp**an", jawab Al-Balkhi seraya bergumam, "Bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang, buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan p**a mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera p**ang saat itu juga".

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, "Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja, apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?"

Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu p**alah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, "Wahai Abu Ishaq, ternyata engkaulah guru kami yang baik".

Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

Hikmah Hikayatl:

Dari kisah di atas mengingatkan kita semua pada hadits yang diriwayatkan dari Miqdam bin Ma'dikarib -radhiyallahu 'anhu-, bahwasanya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda, yang artinya: "Tidak ada sama sekali cara yang lebih baik bagi seseorang untuk makan selain dari memakan hasil karya tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud -'alaihis salam- makan dari hasil jerih payahnya sendiri" (HR. Bukhari).

Inilah akhir dari kisah atau paparan mengenai Kisah Inspiratif Al Balkhi dan Si Burung Pincang. Semoga kisah atau cerita di atas dapat memberikan inspirasi dan motiasi bagi kita yang sedang dilanda wabah apa lagi sebentar lagi di jawa Barat akan diterapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) 3 hari lagi, yaitu tanggal 06 Mei 2020.

Mudah-mudahan ibadah puasa kita dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan diterima oleh Alloh SWT. Dan mudah-mudahan Alloh tetapkan kita orang-orang yang optimis dan bekerja keras dengan penuh kesabaran.

Wallohu a’lam

Belakang pasar sandang The Call Good Book
05 Mei 2020
-11

10/05/2020

NYALAKAN LAMPU PELITA
Oleh: apotsuM

Pada saat menulis tema Ramadhan hari ke-12 tiba-tiba listrik mati lampu, untung masih punya lampu dari botol kratingdaeng dengan bahan bakar minyak goreng diberi sumbu kecil dan menyalalah lampu sumbu kecil pengganti lilin. Kalau dulu waktu kecil namanya lampu Pelita yang bahan bakarnya minyak tanah.

Orang yang lahir tahun 1970-an ke belakang tidak asing lagi dengan yang namanya lampu Pelita atau lampu Teplok. Lampu Pelita itu bagian utamanya terdiri dari tampungan minyak tanah, sumbu dan semprong yang terbuat dari kaca. Sumbunya adalah bagian yang memancarkan api, dimana sumbu berhubungan langsung dengan minyak tanah dan menyerapnya pelan untuk terus menyala. Supaya nyala lampu stabil, maka digunakan pelindung atau tudung lampu berlubang di bagian atas yang disebut semprong. Lampu akan terus menyala sampai minyak tanah yang ada di tampungan terserap habis. Itulah lampu Pelita pada masanya, menjadi penerang yang lebih utama dalam kehidupan.

“Engkaulah Sebagai Pelita dalam Kegelapan”, salah satu penggalan syair lagu Pahlwan Tanpa Tanda Jasa. Ada lagi yang mengungkapkan penggambaran Tuhan dengan lampu Pelita yang selalu dinyalakan.

Bukti Adanya Alloh

Percaya bahwa Alloh itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Alloh itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata. Benarkah Alloh itu ada? Kita tidak pernah melihat Alloh. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Alloh. Karena itu, tidak heran ji[ka orang-orang atheist menganggap Alloh itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.

Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Alloh. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Alloh itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” banyak pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Alloh itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Alloh itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Alloh, maka Alloh itu tidak ada.

Orang alim itu kemudian menampar p**i si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.
“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” si Atheist mengaduh. Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?” “Ini sakitnya di sini”, si Atheist menunjuk-nunjuk p**inya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.
Orang banyak berkata, “Tidak!”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Alloh. Karena kita tidak bisa melihat Alloh, bukan berarti Alloh itu tidak ada. Alloh ada. Meski kita tidak bisa melihat-Nya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [QS. Al Furqoon:61].

Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Alloh menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59].

Laksana Lampu Pelita

Selanjutnya orang alim meneguhkan lagi bahwa Alloh SWT ada, laksana Lampu Pelita yang selalu dinyalakan. Perhatikan bagaimana sebuah lampu Pelita menyala. Ia perlu sebuah kaca pelindung supaya tidak tertiup angin agar api kecilnya tetap menyala. Ia selalu minta diisi minyak tanah sebagai sumber bahan bakarnya.

Ketika tidak ada minyak tanah maka lampu pelita tidak bisa menyala. Begitu juga ketika tempatnya ada, minyak tanahnya ada, sumbunya ada tapi tidak disulut korek api, tidak akan menyala juga. Untuk bisa menyala lampu Pelita harus disulut korek api. Posisi korek api adalah posisi penentu.

Begitu juga dengan keyakinan keimanan seseorang tentang adanya Alloh SWT, selama Alloh masih sering dilupakan manusia, maka Alloh itu tidak ada. Karena adanya Alloh SWT ketika namanya selalu disebut dan selalu diingat sebagaimana Lampu Pelita disulut dengan korek api akan menyala. Alloh SWT ada memancarkan cahayanya, mana kala manusia selalu menyebut dan mengingat-Nya.

”Alloh (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alloh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak p**a di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Alloh membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Alloh memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Annur: 35).

Mudah-mudahan Alloh SWT menerima ibadah puasa kita dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan ini. Alloh ada bersama kita, Aamiin.

Wallohu a’lam

Belakang pasar sandang The Call Good Book
05 Mei 2020
-12

Pembina STID AL BIRUNI CIREBON.KH.LUKMAN HAKIM, MA
07/05/2020

Pembina STID AL BIRUNI CIREBON.
KH.LUKMAN HAKIM, MA

Kajian Rutin Kitab Hikam Tematik Bareng Kang Lukman setiap Rabu Malam Kamis Pukul 20.30

Ayo kuliah......!!!!!!!!!!Info lebih lanjut bisa hubungi contact person yang tertera di brosur..
28/04/2020

Ayo kuliah......!!!!!!!!!!

Info lebih lanjut bisa hubungi contact person yang tertera di brosur..

_Assalamualaikum wr wb_Daftar kuliah di *STID AL BIRUNI CIREBON* sekarang sangat mudah, hanya tinggal klik formulir onli...
23/04/2020

_Assalamualaikum wr wb_
Daftar kuliah di *STID AL BIRUNI CIREBON* sekarang sangat mudah, hanya tinggal klik formulir online, isi data, dan kamu sudah terdaftar sebagai *Mahasiswa baru* di kampus kami.

🌏 : https://bit.ly/3cBZ7aB

🏧 Pembayaran pendaftaran melalui transfer

_Wassalamualaikum w w_

🏫 STID Al Biruni Cirebon
📍 Alamat : Jl. Pondok Pesantren No. 01 Babakan Ciwaringin Cirebon 45167

Konfirmasi lebih lanjut. Silahkan hubungi nomor WA di bawah ini.
👇
☎️ 087829856468 (Asyrofi)

Create a new survey on your own or with others at the same time. Choose from a variety of survey types and analyze results in Google Forms. Free from Google.

01/04/2020
Kampus Stid albiruni mengucapkan HUT RI 74 THNMERDEKA
17/08/2019

Kampus Stid albiruni mengucapkan HUT RI 74 THN
MERDEKA

Bisa japri lgs mengenai kampus STID ALBIRUNITaubi nopal (087827936154)
16/08/2019

Bisa japri lgs mengenai kampus STID ALBIRUNI
Taubi nopal (087827936154)

Yg jauh merapat ..langkah kan kaki kita untuk hal yg baik Dan Allah akan menghitung berapa langkah yg kamu tempuh untuk ...
03/07/2019

Yg jauh merapat ..langkah kan kaki kita untuk hal yg baik
Dan Allah akan menghitung berapa langkah yg kamu tempuh untuk berjalan dlm kebaikan.

08/01/2019

PANGAPUNTEN..
Sekedar menyampaikan Informasi dari Abah Luqman (KH. Luqman Hakim) saat ini nama beliau sedang digunakan seseorang yg minta pulsa lewat SMS dan Jejaring sosial lainnya.. ditegaskan itu bukan beliau dan jangan hiraukan permintaanya baik dlm bentuk meminta pulsa atau lainnya yg mengatasnamakan beliau..
Maturkesuwun..

NGAJI RUTINAN
26/12/2018

NGAJI RUTINAN

25/12/2018

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Mahasiswa!!!

Kami segenap pengurus BEM periode 2018/2019 akan melaksanakan penggalangan dana untuk saudara2 kita di Banten dan Lampung. Bagi yg ingin mengikuti kegiatan ini, boleh merapat di kampus hari Rabu tanggal 26 Desember 2018 pukul 08.30 di kampus. Adapun kegiatan ini akan terfokus di Lampu merah Palimanan.

Bagi yg ingin berdonasi bisa langsung TF ke nomor rekening 4128-01-011928-53-4
Atas Nama Yudha Setiawan (Ketua BEM)
Harap konfirmasi bukti TFnya

Sekian dan terima kasih
Departemen Humas~

Address

Jalan Pesantren No. 1 Babakan Ciwaringin Cirebon
Cirebon

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when STID Al-Biruni Cirebon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to STID Al-Biruni Cirebon:

Share