17/05/2026
*MASALAH PENDIDIKAN HARI INI BUKAN KARENA KURANGNYA PELAJARAN*
------------------------------------------
Hari ini mungkin bukan kurangnya pelajaran.. tetapi hilangnya hubungan antara guru dan murid.
Syekh Ramadhan al-Buthi sangat memperhatikan peran seorang guru
dalam keberhasilan pendidikan Islam.
Baginya, pendidikan tidak cukup hanya memindahkan ilmu ke kepala murid.Yang lebih penting ialah membangun hubungan yang
mampu menghidupkan hati dan kesadaran mereka.
Relasi guru murid bagi syekh Buthi ialah:
علاقة صديق وأخ كبير بإخوانه وأصدقائه الصغار.
“Hubungan seorang sahabat dan kakak besar dengan adik-adiknya.”
Menurut beliau, guru agama bukan sekadar pengajar materi. Ia harus
menjadi: sahabat, pembimbing dan
tempat murid merasa aman untuk bertanya dan bertumbuh.
Beliau juga mengatakan:
وما ساعة الدرس بالنسبة إليه إلا وسيلة لتوطيد
أسباب التعارف بينه وبين طلابه
“Jam pelajaran hanyalah sarana untuk mempererat hubungan antara guru
dan murid.”
Artinya, kelas bukan sekadar tempat menyelesaikan silabus. Tapi juga ruang: • memahami keresahan murid , mengenali kepribadian mereka, dan membangun kedekatan hati.
Karena itu, Syekh Al-Buthi mengkritik guru yang masuk kelas mengajar lalu pulang. Tanpa pernah benar-benar mengenal muridnya, berbicara dengan mereka, atau memahami persoalan yang mereka hadapi.
Ilmu akhirnya terasa dingin dan jauh dari kehidupan nyata.
Beliau juga mengingatkan guru :
- Jangan sampai menjadikan podium mengajarnya seperti “singgasana” jauh tinggi di atas murid- muridnya. Akhirnya ia pun:
- Tidak mau menerima pertanyaan kecuali yang dianggap sopan dan formal.
- Tidak memberi ruang bagi murid untuk berdiskusi atau berbicara terus terang ketika mereka belum memahami pelajaran. Lalu beliau menjelaskan dampaknya.
Ketika seorang murid terus menerima teori agama, namun tidak menemukan hubungan hangat dengan gurunya, maka muncul kegelisahan dalam dirinya.
Ia memiliki banyak pengetahuan, tetapi bingung bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.Ini yang akan terjadi Jika hubungan guru dan murid hanya sebatas absensi dan formalitas kelas, tanpa kedekatan dan ruh persaudaraan :
أنه لا يمارسها بعد ذلك إلا ريثما يصبها في ورقة الامتحان لينال عليها أكبر قدر ممكن من الدرجات .
Ia belajar bukan lagi untuk menghidupkan nilai dalam dirinya, tetapi sekadar untuk
menuliskannya di lembar ujian demi memperoleh nilai lepas setinggi mungkin. Bagi Syekh Al-Buthi, pendidikan Islam tidak cukup dibangun dengan: • kurikulum,
• target nilai
• dan tumpukan materi. Tetapi dengan keteladanan,
• kasih sayang,
• kerendahan hati,
• dan hubungan tulus antara guru dan murid.
Karena terkadang, satu guru yang dekat di hati muridnya lebih membekas daripada seribu nasihat panjang.
*Referensi :*
Syekh Ramdhan Al-Buthi dalam Kitab _At-Tajribah Al-Tarbiyah Al-Islamiyyah._