Kalam Q Sya'ier

Kalam Q Sya'ier Dengan adanya statemen ini kita bisa saling beri masukan juga saling mengisi kekurangan dan bisa men

16/04/2023

بسم الله الرحمن الرحيم

Seputar Gerhana
GERHANA

Shalat wajib 5 waktu disyariatkan saat peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Adapun Isra' dan Mi'raj terjadi pada hari Senin Legi tanggal 27 Rajab –3 H (hijriah)/19 Maret 619 M (masehi).

Sebagian riwayat mengatakan 16 bulan sebelum hijrah, sebagian lagi mengatakan 5 tahun sebelum hijrah. Sedangkan shalat gerhana baru disyariatkan 6 tahun 2 bulan setelah Isra' dan Mi’raj.

Shalat gerhana disyariatkan pertama kali pada tahun ke-5 hijrah, yakni ketika terjadi gerhana bulan total pada malam Rabu 14 Jumadal Akhirah 4 H, bertepatan dengan 20 November 625 M.

Sejak disyariatkannya shalat gerhana, 14 Jumadal Akhirah 4 H/20 November 625 M sampai Rasulullah SAW wafat pada hari Senin Legi, 14 Rabi’ul Awal 11 H/8 Juni 632 M terjadi 3 kali gerhana matahari dan 5 kali gerhana bulan. Menurut riwayat, Rasulullah SAW wafat tanggal 12 Rabi’ul Awal. Lebih detalinya gerhana yang terjadi dalam kurun waktu tersebut berdasarkan perhitungan hisab tadqiqi, lihat tabel di bawah.
Sejak disyariatkannya shalat gerhana sampai beliau wafat, Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana hanya dua kali.

Yang pertama saat gerhana bulan, 14 Jumadal Akhirah 4 H yang bertepatan dengan 20 November 625 M; dan yang kedua saat gerhana matahari, 29 Syawal 10 H yang bertepatan dengan 27 Januari 632 M.

Namun di dalam kitab Syarah Shahihul Bukhari Liibnil Bathal disebutkan bahwa Rasulullah SAW shalat gerhana beberapa kali.

Kenapa Rasulullah hanya shalat satu kali gerhana bulan dan satu kali gerhana matahari, padahal setelah disyariatkannya shalat gerhana, menurut hisab masih terjadi 4 kali gerhana bulan dan 3 kali gerhan matahari? Memang betul secara hisab terjadi beberapa kali gerhana bulan dan matahari namun waktu terjadinya gerhana bulan maupun matahari terlalu dekat dengan terbit dan terbenamnya bulan atau matahari, sehingga waktunya sempit.
Berikut sedikit uraian kronologi gerhana yang ada di tabel.

1. Enam bulan setelah gerhana bulan yang pertama kali disyari'atkan tepatnya 15 Dzulhijjah 4 H/17 Mei 2626 M terjadi gerhana bulan parsial namun waktunya menjelang shubuh dan beberapa saat setelah shubuh bulan tenggelam dalam keadaan gerhana.

2. Sebelas bulan berikutnya tepatnya 29 Dzulqo'dah 5 H/21 April 627 M terjadi gerhana matahari, namun persentasi piringan matahari yang tertutup hanya 5 persen, kemungkinan besar tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

3. Sebelas bulan kemudian tepatnya 14 Dzulqo'dah 6 H/25 Maret 628 M terjadi gerhana bulan dengan persentasi gerhana 31 persen namun terjadi saat-saat maghrib. Awal gerhana terjadi sebelum bulan terbit, sehingga saat terbit, bulan sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberpa menit sebelum waktu isya', gerhana sudah berakhir.

4. Enam bulan berikutnya tepatnya 29 Jumadal Ula 7 H/3 Oktober 628 M terjadi gerhana matahari, namun persentasi piringan matahari yang tertutup hanya 12 persen. kemungkinan besar tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Awal gerhana terjadi sebelum matahari terbit dilihat dari Madinah, sehingga saat terbit, matahari sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberpa menit setelah matahari terbit, gerhana sudah berakhir.

5. Lima bulan berikutnya tepatnya 14 Dzulqo'dah 7 H/15 Maret 629 M terjadi gerhana bulan total di tengah malam. Bulan Maret adalah mulai berakhirnya musim dingin. Aktifitas malam masyarakat Arab masih rendah karena beberapa hari sebelumnyah suhu udara masih dingin. Disamping itu sisa-sisa mendung kemungkinan masih banyak sehingga bulan yang sedang gerhana luput dari perhatian masyarakat Madinah saat itu, selebihnya wallohu A'lam.

6. Dua belas bulan berikutnya, tepatnya 15 Dzulqo'dah 8H/4 Maret 630 M terjadi gerhana sebagian dengan persentasi puncak gerhan sekitar 68 persen, namun terjadi saat-saat maghrib. Awal gerhana terjadi sebelum bulan terbit, sehingga saat terbit, bulan sudah dalam keadaan gerhana, lalu beberapa menit (23 menit) setelah matahari terbenam (waktu maghrib) gerhana sudah berakhir.

7. Duapuluh tiga bulan berikutnya tepatnya 29 Syawal 10 H/27 Januari 632 M terjadi gerhana matahari dengan persentasi puncak gerhana 82 persen. Bertepatan dengan peristiwa gerhana tersebut, tepatnya malam hari sebelum gerhana, Sayyid Ibrohim putra Rasulullah SAW dari ibu Maria Al-QIbtiyah wafat. Pada saat gerhana matahari inilah pertama kali sekaligus terakhir kalinya Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana matahari.

*****

Kontroversi Gerhana Matahari Zaman Nabi

Ketika terjadi gerhana, kita pasti teringat akan wafatnya sayyid Ibrohim, putra Rasulullah SAW dari Maria Al-Qibtiyah binti Syam’un (Istri Jariyah rosul hadiah dari penguasa Mesir, Juraij bin Mina Al-Mukaukis ) yang wafat saat terjadi gerhana matahari, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :

ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺣﺴﺎﻥ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﻋﻦ ﺃﻣﻪ ﺳﻴﺮﻳﻦ ﻗﺎﻟﺖ : ﺣﻀﺮﺕ ﻣﻮﺕ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻜﺴﻔﺖ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻳﻮﻣﺌﺬ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺎﺱ : ﻫﺬﺍ ﻟﻤﻮﺕ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ‏« ﺇﻥ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻻ ﺗﻨﻜﺴﻒ ﻟﻤﻮﺕ ﺃﺣﺪ ﻭﻻ ﻟﺤﻴﺎﺗﻪ ‏» . ﻭﻣﺎﺕ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﻼﺛﺎﺀ ﻟﻌﺸﺮ ﺧﻠﻮﻥ ﻣﻦ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﺳﻨﺔ ﻋﺸﺮ

Dari Abdurrohman bin Hasan bin Tsabit dari ibunya Sirin katanya:“Saya telah menghadiri kematian Ibrahim putra Rosululooh SAW. Dan pada hari tersebut terjadi gerhana matahari. Lantas orang pada kasak-kusuk bahwa gerhana tersebut terjadi karena wafatnya Ibrohim, kemudian Rasulullah SAW bersabda
“ Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, tidaklah keduanya gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Beliau wafat pada hari Selasa, 10 hari dari bulan Rabi’ul Awal tahun 10 H.
Menurut riwayat yang kuat menyebutkan bahwa gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya sayyid Ibrohim terjadi pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 10 H sementara menurut riwayat lain menyebutkan bulan Romadlon dan bulan Dzulhijjah, bahkan ada yang menyebutkan terjadi pada saat penjanjian hudaibiyah.

Hal ini sangat anomali dengan kaedah hisab yang mana gerhana matahari mestinya terjadi pada pada akhir bulan qomariyah (penileman)
yakni saat ijtimak/konjungsi, sedangkan gerhana bulan terjadi pada saat purnama/badr.
Dari penelusuran hisab, sejak tahun 8 (tahun lahirnya sayyid Ibrohim) sampai 10 hijriyah hanya terjadi satu kali gerhana matahari, yaitu gerhana cincin yang terjadi pada hari Senin Pon, 29 Syawal 10 H, bertepatan dengan 27 Januari 632 M, terjadi pada pagi hari jam 07:15 dan berakhir pada jam 09:53. waktu Madinah.

Dengan demikian maka kemungkinan besar wafatnya sayyid Ibrohim adalah malam Senin, 29 Syawwal 10 H.
Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan terjadi pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 10 H? Riwayat tersebut tidaklah salah karena saat itu masyarakat Arab belum mempunyai kalender baku yang menjadi patokan syar’i secara umum. Saat itu sistem kalender masih sering berubah, kabilah Arab seringkali menambah atau mengurangi bilangan bulan dalam setahun untuk kepentingan perang, kadang dalam setahun ada 13 bulan. Kalender qomariyah mulai tertib setelah nabi menyampaikan ayat ke 36 surat At-Taubah pada waktu khutbah hari Tasyrik di Mina.

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ‏( ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 36 ‏)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus” (At-Taubah 36)

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﺴِﻲﺀُ ﺯِﻳَﺎﺩَﺓٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ ﻳُﻀَﻞُّ ﺑِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻳُﺤِﻠُّﻮﻧَﻪُ ﻋَﺎﻣًﺎ ﻭَﻳُﺤَﺮِّﻣُﻮﻧَﻪُ ﻋَﺎﻣًﺎ ﻟِﻴُﻮَﺍﻃِﺌُﻮﺍ ﻋِﺪَّﺓَ ﻣَﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻴُﺤِﻠُّﻮﺍ ﻣَﺎ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺯُﻳِّﻦَ ﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻮﺀُ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻬِﻢْ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ‏( ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ 37 ‏)

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (At-Taubah 37)

Sebelum ayat tersebut turun, kalender bulan qomariyah diselaraskan dengan kalender syamsiyah sehingga dalam 3 tahun terdapat tahun yang jumlah bulannya 13 bulan. Sebelum dan sa’at berkembangnya Islam di jazirah Arab, baik kalender Qomariyah (Lunar Calendar) maupun Syamsiyah (Solar Calendar) sudah dikenal akan tetapi belum ada patokan tahunnya serta kaidah-kaidah yang baku yang menjadi ketetapan kalender sehingga baik awal tahun maupun awal bulan serta jumlah bulan dalam setahun tidak beraturan.

Baru pada masa kholifah Umar bin Khottob beliau mengumpulkan segenap sahabat serta elit-elit pemerintahan pada hari Rabu 20 Jumadil Akhir tahun 17 dari hijrah yang bertepatan dengan 8 Juli 638 M, untuk membahas perlunya sebuah kalender yang baku. Akhirnya disepakati sebuah kalender yang berbasis bulan, Lunar System.

Diputuskan bahwa awal tahun hijri dimulai pada sa’at nabi berangkat hijrah ke Madinah yaitu tahun 622 M sedangkan awal bulannya dimulai dari Muharrom, karena pada sa’at itu berakhirnya aktivitas ibadah haji dan menuju kehidupan yang baru. 1 Muharrom 1 H bertepatan dengan 16 Juli 622 M tepat pada hari Jumat Legi.

*****

Hukum Shalat Gerhana

Menurut Jumhurul Ulama’, shalat gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan hukumnya sunnah muakkadah, sunnah yang sangat ditekankan, seperti Shalat Hari Raya.

Menurut pendapat Malikiyah dan Hanafiyah untuk gerhana bulan sunnah mandubah berbeda dengan shalat gerhana matahari yang menurut mereka sunnah muakkadah.

Sebagian ulama’ berpendapat bahwa hukum shalat gerhana adalah fardlu kifayah seperti shalat jenazah.
Firman Allah di dalam Al-Qur'an :

ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞُ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﻟَﺎ ﺗَﺴْﺠُﺪُﻭﺍ ﻟِﻠﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﻠْﻘَﻤَﺮِ ﻭَﺍﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻟِﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻬُﻦَّ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ‏( ﻓﺼﻠﺖ 37 ‏)

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah engka sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak.(QS. Fushshilat : 37)

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan. Di dalam hadits disebutkan:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﺁﻳَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﻳَﻨْﻜَﺴِﻔَﺎﻥِ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺃَﺣَﺪٍ ﻭَﻻَ ﻟِﺤَﻴَﺎﺗِﻪِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮﻫُﻤَﺎ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺻَﻠُّﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺠَﻠِﻲَ

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga gerhana pulih kembali. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Shalat gerhana disunnahkan dilakukan secara berjama'ah, lebih utama lagi dilaksanakan di masjid. Disunnahkan mandi sebelum berangkat shalat gerhana. Tidak disunnahkan adzan dan iqomah ketika akan melaksanakan shalat gerhana, tetapi cukup dengan seruan "Asshalatu Jami'ah".

Imam shalat gerhana disunnahkan dengan suara keras saat membaca Al-Fatihah dan Surat untuk gerhana bulan dan dengan suara lirih untuk gerhana matahari.
Menurut madzhab Hambali, Khottobi dan Ibnu Mundzir disunnahkan keras juga pada shalat gerhana matahari.
Tata cara shalat gerhana sebagai berikut:

1. Dikerjakan dengan 2 (dua) rakaat seperti shalat sunnah biasa, tanpa rukuk dua kali. Bahkan tidak syah jika dilakukan dengan 2 kali berdiri dan 2 kali rukuk menurut pendapat imam Abu Hanifah.

2. Dikerjakan dengan 2 rakaat, di dalam setiap rakaat 2 kali berdiri membaca Al-Fatihan dan surat dan 2 kali ruku' tanpa memanjangkan bacaan surat setelah Al-Fatihah saat berdiri, serta tanpa memanjangkan bacaan tasbih di dalam ruku' dan sujudnya.

3. Dikerjakan dengan 2 rakaat, di dalam setiap rakaat 2 kali berdiri dan 2 kali ruku'. Pada setiap rakaa't setelah membaca Al-Fatihah membaca surat yang panjang, lalu ruku' dan membaca tasbih yang panjang, lalu berdiri membaca Al-Fatihah lagi, lalu membaca surat yang panjang namun tidak sepanjang surat sebelumnya, lalu rukuk kembali dan membaca tasbih yang panjang, lalu I'tidal, lalu sujud dua kali dengan memanjangkan tasbih, sujud yang pertama lebih lama daripada sujud yang kedua. Kemudian berdiri untuk roka'at yang kedua dengan tata cara seperti rakaat pertama. Bacaan surat dan tasbih pada roka'at yang kedua lebih pendek dari pada roka'at yang pertama.

Dari ketiga cara di atas yang paling utama adalah nomor tiga.
Setelah selesai shalat disunnahkan khutbah dua kali jika dilakukan secara berjama'ah, jika shalat sendirian tidak disunnahkan khutbah.
Namun menurut imam Ahmad, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf tidak disunnahkan khutbah walaupun berjama'ah.
Di dalam khutbahnya disunnahkan menyeruhkan taubat dari maksiat, memperbanyak shodaqoh, berbuat kebaikan, memperbanyak dzikir, do'a dan istighfar.

Jika gerhana berbarengan dengan shalat janazah maka didahulukan shalat janazah. jika berbarengan dengan shalat fardu dan shalat Id maka didahulukan shalat gerhana jika waktu shalat fardlu masih luas tetapi jika takut waktunya shalat fardlu habis maka didahulukan shalat fardlunya daripada shalat gerhana. Apabila berbarengan dengan shalat Jumat jika waktunya masih luas maka didahulukan shalat gerhana lalu khutbah Jumat sekaligus khutbah gerhana. jika gerhana berbarengan dengan shalat taroweh dan witir maka didahulukan shalat gerhana walaupun dikhawatirkan tidak cukup waktu untuk shalat taroweh maupun witir.

*****

Kapan makmum masbuq terhitung mendapatkan raka'at?

Seperti kita ketahui bahwa tata cara shalat gerhana ini berbeda dengan shalat biasa dimana terdapat dua kali rukuk dan dua kali berdiri, kecuali pendapat Hanafi.

Menurut madzhab Maliki : Makmum terhitung dapat rakaat jika makmum bisa mendapati rukuk yang kedua bersama imam dengan thuma'ninah. Walaupun tidak mendapati rukuk yang pertama bersama imam tetap terhitung dapat rakaat karena menurut Maliki rukuk dan berdiri yang pertama adalah sunnah.

Menurut madzhab Syafi'i dan Hambali : Makmum terhitung dapat rakaat jika makmum bisa mendapati rukuk yang pertama bersama imam dengan thuma'ninah, sehingga jika hanya mendapati imam di dalam rukuk yang kedua saja maka tidak terhitung dapat rakaat bersama imam.

*****

Waktu Shalat Gerhana

Menurut ilmu hisab, di dalam gerhana bulan, bayangan yang menutupi bulan itu ada dua. Yang pertama bayangan penumbra dan yang kedua banyak umbra. Bayangan umbra adalah bayangan inti bumi sedangkan bayangan penumbra adalah bayangan bias bumi, sehingga saat bayangan penumbra menyentuh piringan bulan, tidak bisa diidentifikasi secara kasat mata, bulan terlihat seperti biasa, utuh namun agak redup sedikit. Gerhana bulan baru bisa diidentifikasi dengan mata telanjang ketika bayangan umbra menyentuh piringan bulan.
Dengan demikian secara umum yang disebut gerhana bulan yaitu sejak bayangan umbra (bayangan inti) bumi menyentuh piringan bulan sampai seluruh bayangan umbra lepas dari piringan bulan.

Adapun gerhana matahari yaitu sejak bayangan umbra bulan menyentuh piringan matahari sampai seluruh bayangan umbra lepas dari piringan matahari.

Menurut fiqih, masuknya waktu shalat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari adalah sejak tertutupnya piringan bulan atau matahari. Batas akhir waktu shalat gerhana matahari adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh atau terbenamnya matahari walaupun terbenam masih dalam keadaan gerhana.
sedangkan batas akhir gerhana bulan adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh atau terbitnya matahari walaupun bulan masih dalam keadaan gerhana.

Menurut imam Syafi'I dan imam Malik, shalat gerhana boleh dilakukan pada saat-saat makruhat karena termasuk shalat yang ada sebabnya. Menurut imam Hanafi dan Imam Achmad tidak boleh, namun cukup dengan membaca tasbih sebagai gantinya.

*****

Bagaimana kalau menurut hisab terjadi gerhana tetapi tertutup mendung?

Mengqiyaskan seperti halnya hilal, dari Ibnu Daqiq Al-Iidi dan Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfahnya, Syeikh Bakhit Al-Muthi'i menjelaskan bahwa jika menurut hisab yang qoth'i (kuat kepastinnya) hilal sudah ada dan memungkinkan untuk bisa dilihat setelah maghrib, namun ternyata tidak bisa dilihat karena terhalang mendung maka hal ini bisa menggunakan perhitungan hisab untuk penentuan awal bulan. Jika penentuan awal bulan saja yang notabene menentukan sesuatu yang wajib cukup dengan hisab yang qoth'i maka apalagi untuk menentukan sesuatu yang sunnah, gerhana misalnya. Kita semua tahu bahwa hisab hilal, gerhana bulan maupun gerhana matahari adalah perhitungan yang sama-sama pasti dan meyakinkan.

Namun Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfah terkait shalat gerhana mengatakan bahwa: Jika bulan atau matahari terhalang oleh mendung sebelum gerhana terlihat tetapi menurut ahli hisab terjadi gerhana maka tidak ada konskuensinya, artinya tidak sunnah shalat gerhana, karena hukum asalnya tidak terjadinya gerhana.

Namun jika bulan atau matahari terlihat gerhana lalu kemudian mendung dan bimbang gerhana sudah selesai atau belum walaupun menurut ahli hisab gerhana sudah selesai maka tetep sunnah shalat gerhana karena hukum asalnya terlihatnya gerhana.

Beliau menegaskan tidak ada tempat bagi ahli hisab dalam hal ini, yakni tidak boleh berdasarkan hisab semata walaupun hisab yang qoth'i sekalipun.

*****

Apakah sunnah takbiran saat terjadi gerhana?

Di sebahagian wilayah masjid-masjid, saat terjadi gerhana diramaikan dengan takbiran seperti halnya takbiran hari raya.
Mulai awal gerhana sampai berakhirnya gerhana.
Rasulullah SAW bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﺁﻳَﺘَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻻَ ﻳَﻨْﺨَﺴِﻔَﺎﻥِ ﻟِﻤَﻮْﺕِ ﺃَﺣَﺪٍ ﻭَﻻَ ﻟِﺤَﻴَﺎﺗِﻪِ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻛَﺒِّﺮُﻭﺍ ، ﻭَﺻَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺗَﺼَﺪَّﻗُﻮﺍ ‏( ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ‏)

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan tidaklah terkait kematian atau kehidupan seseorang. Karenanya jika kalian melihat gerhana itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah (HR. Bukhari)

Menurut para ulama dalam koridor madzhab empat tidak memaknai "Fakabbiru" di dalam hadits tersebut dengan takbiran seperti hari raya tetapi bermakna mengagungkan Allah dalam arti kekuasaan Allah yang sangat luar biasa di mana benda-benda langit yang besar (matahari dan bulan) tunduk dan patuh atas perintah Allah SWT. atau dengan kata lain katakanlah "Allohu Akbar".

الله تعالى ورسوله اعلم

NB
*****

Harapan

Walaupun hukum shalat gerhana, baik Khusuful Qomar maupun Kusufusy Syams adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) sebagaimana shalat Hari Raya, akan tetapi sangat sedikit dari umat Islam yang peduli dengan syariat tersebut. Yakni acuh tak acuh dengan hal tersebut, seakan-akan shalat gerhana adalah shalat yang tidak ada tuntunan dan perintahnya.
Untuk itu demi melanggengkan syariat Islam yang berupa shalat gerhana yang mulai langka di negeri ini serta demi syiarnya Islam, maka apabila kita melihat/mengetahui fenomena gerhana marilah kita bersama memperbanyak takbir, tahmid, istighfar, dan shadaqah serta melaksanakan shalat gerhana. Shalat gerhana bisa dilaksanakan selama gerhana matahari berlangsung, walaupun tidak total.

بسم الله نورالله نور محمدSekelumit tentang Makna dzikirPerbedaan Dzikir dengan ibadah lain adalah kalau ibadah lain (Sha...
16/04/2023

بسم الله نورالله نور محمد

Sekelumit tentang Makna dzikir

Perbedaan Dzikir dengan ibadah lain adalah kalau ibadah lain (Shalat, Puasa, Haji) mempunyai waktu-waktu tertentu dan juga mempunyai waktu yang dilarang untuk melakukannya sedangkan dzikir kepada Allah tidak mengenal tempat dan waktu, dilakukan secara terus menerus tanpa henti (istiqamah) agar memperoleh kemenangan.

Dzikir yang dilakukan terus menerus tersebut tentu saja Dzikir khafi (Dzikir tanpa bersuara) sedangkan Dzikir Jahar (Bersuara) yang biasanya dilakukan secara berjamaah memilki batas waktu dan tempat.

Dzikir Jahar dan Dzikir Khafi itu keduanya memiliki dalil yang kuat baik bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadist.

Bagi pengamal Tarekat, kedua jenis dzikir ini telah biasa dilakukan.
Dzikir khafi sebagai amalan khusus dilakukan dihening bening, tengah malam atau menjelang subuh tanpa diketahui oleh siapapun....
sedangkan dzikir jahar dilaksanakan setelah shalat berjamaah atau disaat selesai melakukan suluk, dzikir jahar selesai suluk biasanya berupa Tahlil ( لا اله الا الله )...

Bagi yang menganggap dzikir jahar (dengan suara keras) itu keliru, ada baiknya membaca hadist berikut.

Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata: “ Sesungguhnya mengeraskan dzikir saat selesai sholat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-“. Ibnu Abbas juga mengatakan: “ Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat ku dengar dzikir itu” (HR. Bukhari: 796, dan Muslim: 919)

Suatu saat, Imam Ghazali ditanya oleh seseorang, “Katanya setan dapat tersingkir oleh zikir kita, tapi mengapa saya selalu berzikir namun setan tak pernah terusir?”

Imam Ghazali menjawab, “Setan itu seperti anjing. Kalau kita hardik, anjing itu akan lari menyingkir. Tapi jika di sekitar diri kita masih terdapat makanan anjing, anjing itu tetap akan datang kembali. Bahkan mungkin anjing itu bersiap-siap mengincar diri kita, dan ketika kita lengah, ia menghampiri kita.”

Al Ghazali lalu meneruskan, “Begitu p**a halnya dengan zikir. Zikir tidak akan bermanfaat jika di dalam hati masih kita sediakan makanan-makanan setan. Ketika sedang memburu makanan, setan tidak akan takut untuk digebrak dengan zikir mana pun. Pada kenyataannya, bukan setan yang menggoda kita tetapi kitalah yang menggoda setan dengan berbagai penyakit hati yang kita derita.
Zikir harus dimulai setelah kita membersihkan diri kita dari berbagai penyakit hati dan menutup pintu-pintu masuk setan ke dalam diri kita.”

Dzikir yang sebenarnya adalah menyebut nama yang asli dari sisi-Nya, nama yang langsung diturunkan oleh Allah SWT bukan nama yang kita dengar dari manusia dan bukan p**a nama yang kita baca dari buku.
Nama yang diturunkan dari sisi-Nya inilah yang memberikan bekas di hati sanubari manusia dan memiliki energi tak terhingga.

bukan yang anda dapatkan di buku, bukan yang anda dapatkan dari ceramah-ceramah, tapi anda harus mencari aparat Allah Ta’ala, para Ulama yang telah diberikan izin oleh Rasulullah SAW untuk menyampaikan nama-Nya sehingga nama tersebut memiliki energi tak terbatas.

ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﻧِﻲ ﺃَﺫْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥِ ‏( 152)

“ Maka ingatlah kepada Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu ,Bersyukurlah kepada Ku ,Dan janganlah kamu ingkar kepada Ku “. ( Qs. Al Baqarah : 152)

“Dzikirlah akan DAKU, Aku akan mengingatkan namaku
kepadamu “.

sabda Rasulullah Saw :

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ - ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ‏« ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﻇَﻦِّ ﻋَﺒْﺪِﻯ ﺑِﻰ ، ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻣَﻌَﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﺫَﻛَﺮَﻧِﻰ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺫَﻛَﺮَﻧِﻰ ﻓِﻰ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺫَﻛَﺮْﺗُﻪُ ﻓِﻰ ﻧَﻔْﺴِﻰ ، ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﻛَﺮَﻧِﻰ ﻓِﻰ ﻣَﻸٍ ﺫَﻛَﺮْﺗُﻪُ ﻓِﻰ ﻣَﻸٍ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ، ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻰَّ ﺑِﺸِﺒْﺮٍ ﺗَﻘَﺮَّﺑْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ، ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻰَّ ﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ﺗَﻘَﺮَّﺑْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺑَﺎﻋًﺎ ، ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺗَﺎﻧِﻰ ﻳَﻤْﺸِﻰ ﺃَﺗَﻴْﺘُﻪُ ﻫَﺮْﻭَﻟَﺔً ‏»

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu -, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kump**an, Aku akan mengingatnya di kump**an yang lebih baik daripada pada itu (kump**an malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat .” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Hadits qudsi dari Mu’az bin Anas secara marfu’:
Allah swt.berfirman: “Tidaklah seseorang berdzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Akupun akan berdzikir untuknya dihadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berdzikir pada-Ku dihadapan orang-orang kecuali Akupun akan berdzikir untuknya ditempat yang tertinggi’ “. (HR. Thabrani).

Betapa luar biasa orang yang telah berdzikir dengan benar, menyebut nama Allah dengan metodologi warisan Rasulullah SAW sehingga ketika dia mengingat Allah maka Allah pun mengingatkan secara khusus, ini terjadi karena antara dirinya dengan Allah Ta’ala telah tersambung hubungan langsung, nur ala Nurin telah turun dan bersemayam dalam qalbu nya.

Dzikir yang memberi bekas dan bisa mengeluarkan energi tak terbatas tersebut bukan dzikir yang kita ucapkan oleh mulut kita, manusia dengan segala kelemahan dan kekotoran tidak mungkin mampu berdzikir seperti itu, akan tetapi dzikir dari sisi-Nya tersebut yang tersalur lewat Rasulullah SAW sampai kepada ulama pewarisnya yang terakhir itu yang bisa memberikan bekas, bisa memindah-mindahkan bukit dan bisa membuat orang mati berbicara.

“Dan sesungguhnya andaikata ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dapat membuat gunung-gunung berjalan/berguncang dahsyat atau bumi dipotong-potong/ dibelah-belah atau orang-orang mati diajak bicara / dapat bicara (hidup kembali) niscaya Kitab Suci itu ialah Al-
Qur’an. Dan merekapun tidak juga beriman (dan juga masih tidak terpikir juga untuk merisetnya, walaupun Tuhan mengatakan KEDAHSYATAN AL-QUR’AN itu bertubi-tubi)”

ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﻗُﺮْﺁﻧًﺎ ﺳُﻴِّﺮَﺕْ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝُ ﺃَﻭْ ﻗُﻄِّﻌَﺖْ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺃَﻭْ ﻛُﻠِّﻢَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ ﺑَﻞْ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﺃَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻴْﺄَﺱِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻟَﻮْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻬَﺪَﻯ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺗُﺼِﻴﺒُﻬُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﺻَﻨَﻌُﻮﺍ ﻗَﺎﺭِﻋَﺔٌ ﺃَﻭْ ﺗَﺤُﻞُّ ﻗَﺮِﻳﺒًﺎ ﻣِﻦْ ﺩَﺍﺭِﻫِﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﻭَﻋْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳُﺨْﻠِﻒُ ﺍﻟْﻤِﻴﻌَﺎﺩَ
artinya :
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.
(QS. AR-RA’AD ayat 31).

Dzikir yang dilakukan pagi dan petang setiap saat tanpa mengenal lelah itulah yang akan memberikan kemenangan dunia akhirat.
Kalau anda disuruh berdzikir 24 jam tanpa henti, bagaimana anda melakukan aktifitas dunia? Mencari nafkah, belajar dan lain sebagainya?.

Itulah hebatnya Islam, diwariskan metodologi dari Rasulullah SAW yang dengan metodologi itu membuat anda secara otomatis berdzikir walau sedang makan, bekerja, berjalan bahkan ketika anda tidur secara otomatis Qalbu terus menerus berzikir itulah yang digambarkan

“ Tidur nya orang berilmu lebih ditakuti setan dari ibadah orang bodoh ”.

Dzikir yang Hakiki dilakukan diluar alam sadar, sebagaimana jantung berdetak, mata berkedip tanpa menunggu perintah anda secara sadar, begitu juga zikir khusus, secara otomatis qalbu anda akan hidup dan terus memuja-Nya.

Rasulullah SAW mengatakan seberat berat perkerjaan adalah mengingat Allah dan semudah-mudah perkerjaan adalah mengingat Allah.
Sulit, susah, mustahil ketika belum menemukan pembimbing dan metodologi yang tepat dan menjadi sangat sangat mudah ketika telah menemukan Sang Ahli Dzikir yang membimbing dan menuntun anda.

Baik bagi orang yang telah memiliki Guru untuk membimbing maupun belum, Dzikir kepada Allah hendaknya dilakukan secara terus menerus, menjadi semangat bagi kita ummat Islam dimanapun berada.
Setan tentu saja tidak akan senang dengan orang-orang yang sering berdzikir dan berusaha dengan segala cara menghalangi. Cara paling mudah setan menggoda adalah dengan masuk kedalam hati orang-orang munafik, kemudian orang yang telah disusupi setan itu melarang orang-orang berdzikir, orang-orang memuja Allah dan orang-orang yang ingin selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan segudang dalil yang terkadang dia sendiri tidak begitu paham.

Tidak usah dipedulikan orang-orang tersebut walaupun anda disebut gila atau riya’, teruskanlah anda berdzikir baik sendiri maupun berjamaah, karena Rasulullah SAW 14 abad yang silam telah terlebih dahulu memberikan peringatan akan bahaya orang-orang munafiq yang disusupi setan tersebut.

“Dari Abu Sa’id radliya Allahu ‘anh bahwa Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perbanyaklah dzikir kepada Allah sehingga mereka (orang-orang munafiq ) mengatakan : (Engkau) orang gila”. (HR. Ahmad , Abu Ya’la , Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan beliau menshahihkannya)

“Dari Ibnu ‘Abbas radliya Allahu ‘anhuma ia berkata : Bersabda Rosulullah sholla Allahu ‘alaihi wa sallam : Berdzikirlah kalian kepada Allah sehingga orang-orang munafiq mengatakan : Sesungguhnya kalian orang-orang yang riya’ (pamer ‘amal). ” (HR. Ath-Thabrani)..
Untuk lebih jelas nya silahkan bertanya kepada guru yang ahli di bidang nya.

الله تعالى ورسوله اعلم.

16/04/2023

Benarkah......

Tentang zakat fitrah memakai uang menurut madzahibul arba'ah

Madzhab Syafi'iyyah: Sepakat tidak boleh zakat fitrah dengan menggunakan uang, meskipun ada hikayah, satu pendapat yang memperbolehkan, tetapi pendapat ini syadz dan bathil.


Madzhab Malikiyyah: Jumhur dalam madzhab maliki tidak boleh zakat fitrah dengan menggunakan uang, akan tetapi Imam Ibnu Qosim memperbolehkan dengan uang.

Madzhab Hanabilah: Terdapat Khilaf,
al-Madzhab menurut Hanabilah tidak di perbolehkan secara mutlak,

Pendapat lain memperbolehkan secara mutlak sebagaimana Madzhab Hanafi

Pendapat lain memperbolehkan dengan uang hanya pada zakat mal, bukan zakat fitrah

Pendapat lain memperbolehkan zakat dengan uang jika ada hajat atau maslahah, dan pendapat ini di dukung ibnu taimiyyah

Madzhab Hanafiyah: Sepakat bolehnya zakat menggunakan uang, baik itu zakat mal, zakat fitrah, dll.


Kemudian mengenai pindah Madzhab maka diantara syaratnya adalah tidak boleh talfiq dan dalam satu qodhiyyah

Sehingga seumpama seorang madzhab syafi'iyah ingin mengeluarkan zakat dalam bentuk uang maka pindah madzhab ke Hanafiyah, namun harus dalam satu qodhiyyah dan tidak boleh talfiq, dalam artian ukuran sho' nya harus ikut dengan ukuran sho' nya hanafiyyah, karena ukuran sho' dalam madzhab syafi'i dan hanafi berbeda.

Namun ada pendapat yang memperbolehkan pindah madzhab secara mutlak, dalam artian meskipun talfiq tetap diperbolehkan.

Namun untuk ke hati hatian apabila ingin menggunakan uang untuk zakat fitrah maka ikut satu qodhiyyah madzhab hanafiyyah.

krus nominalnya yaitu uang setara dengan 1/2 sho' untuk gandum, dan 1 sho' untuk selain gandum (anggur,kurma,jair ) Sesuai dengan ketentuan dari madzhab hanafiyah.

Taqlid / mengeluarkan zakat dengan menggunakan uang ini sangat di dukung oleh ulama ulama kontemporer, seperti pendapatnya syaikh kholil al-bangkalan dalam al-matnu asy-syarifnya, yang di syarah i oleh KH. Thoyfur Ali Wafa dalam Kitab al-Misan al-Lasif, juga Syaikh Wahbah Zuhaili, Syaikh Yusuf Qordhowi, Syaikh Ali Jum'ah dalan al-bayan al-Qowim.

Maka jika ingin taqlid diperbolehkan dan sangat di dukung ulama kontemporer, karena di era sekarang uang lebih bermanfaat, lebih senang daripada bahan pokok. Zaman sekarang bahan pokok rata rata sudah terpenuhi namun yang di kejar adalah gaya hidup.

degan uang maka seharga beras ..jika beras 1 kg rp 10,000 ribu maka zakat fitranya rp 25,000 ribu..atau 2. kg , ¹/2 setengah

Referensi
runjukan kitab

(إعانة الطالب,

(قَوْلُهُ لاَ تُجْزِئُ قِيْمَةٌ) أَيْ لِصَاعِ الْفِطْرَةِ بِاْلاِتِّفَاقِ عِنْدَنَا، فَيَتَعَيَّنُ إِخْرَاجُ الصَّاعِ مِنَ الْحَبِّ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْقُوْتِ الغَالِبِ اهـ

(إعانة الطالبين, 2/198)

لاَ يَجُوْزُ لِلْمُخْرِجِ مُطْلَقًا دَفْعُ الْقِيْمَةِ عَنِ الزَّكَاةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِاْلأَعْيَانِ، وَهِيَ زَكَاةُ غَيْرِ مَالِ التِّجَارَةِ وَلاَ يُجْزِئُ اهـ (قَوْلُهُ وَلاَ دَفْعُ عَيْنِهِ) أَيْ وَلاَ يَجُوْزُ دَفْعُ الْعَيْنِ فِيْ مَالِ التِّجارَةِ عَنِ الزَّكَاةِ وَلاَ يُجْزِئُ لأَنَّ مُتَعَلّقَهَا القِيْمَةُ اهـ

(المجموع شرح المهذب, 5/428-429)
اِتَّفَقَتْ نُصُوْصُ الشَّافِعِيِّ  أَنَّهُ لاَيَجُوْزُ إِخْرَاجُ القِيْمَةِ فِيْ الزَّكَاةِ، وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَجَمَاهِيْرُ اْلأَصْحَابِ، وَفِيْهِ وَجْهٌ أَنَّ الْقِيْمَةَ تُجْزِئُ حَكَاهُ وهُوَ شَاذٌّ بَاطِلٌ. (فَرْعٌ) قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ إِخْرَاجُ الْقِيْمَةِ فِيْ شَيْءٍ مِنَ الزَّكَوَاتِ اهـ

(الميزان الكبرى)

وجوز أبو حنيفة إخراج القيمة عن الفطرة اه‍
📚 *المجموع شرح المهذب جز 5 صح 428*
اﺗﻔﻘﺖ ﻧﺼﻮﺹ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺧﺮاﺝ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﺰﻛﺎﺓ ﻭﺑﻪ ﻛﺬا ﻓﻲ اﻻﺻﻞ ﻭاﻟﺼﻮاﺏ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﻗﻄﻊ اﻟﻤﺼﻨﻒ ﻭﺟﻤﺎﻫﻴﺮ اﻻﺻﺤﺎﺏ *ﻭﻓﻴﻪ ﻭﺟﻪ ﺃﻥ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﺗﺠﺰﺉ ﺣﻜﺎﻩ ﻭﻫﻮ ﺷﺎﺫ ﺑﺎﻃﻞ ﻭﺩﻟﻴﻞ اﻟﻤﺬﻫﺐ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ اﻟﻤﺼﻨﻒ.* (ﻓﺮﻉ)
ﻗﺪ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺧﺮاﺝ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ ﺷﺊ ﻣﻦ اﻟﺰﻛﻮاﺕ

📚 *فقه الزكاة يوسف القرضاوي جز ٢ صح ٢٨٢*
واما عند الحنابلة فذكر في المغني أن ظاهر مذهب أحمد أنه لا يجزئ إخراج القيمة في شيئ من الزكوات لازكاة الفطر ولازكاة المال لأنه خلاف السنة وفي مختصر خليل أن دفع القيمة لايجزئ وقد تبع فيه إبن الحاجب وابن بشير وقد اعترضه في التوضيح بأنه خلاف ما في المدونة ونصه المشهور في إعطاء القيمة أنه مكروه ولا محرم (قال في المدونة ولا يعطي مما لزمه من الزكاة العين عرضا أو طعاما ويكره للرجل اشتراء صدقته اھ فجعله من شراء الصدقة وأنه مكروه ومثله لإبن عبد السلام. اھ.

-------------
📚 *الفقه الإسلامي وادلته جز ٣ صح ٢٢٠٤*
ﻗﺎﻝ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ (¬1): ﺗﺠﺐ ﺯﻛﺎﺓ اﻟﻔﻄﺮ ﻣﻦ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻴﺎء: اﻟﺤﻨﻄﺔ ﻭاﻟﺸﻌﻴﺮ ﻭاﻟﺘﻤﺮ ﻭاﻟﺰﺑﻴﺐ، ﻭﻗﺪﺭﻫﺎ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﻣﻦ ﺣﻨﻄﺔ ﺃﻭ ﺻﺎﻉ ﻣﻦ ﺷﻌﻴﺮ ﺃﻭ ﺗﻤﺮ ﺃﻭ ﺯﺑﻴﺐ، ﻭاﻟﺼﺎﻉ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﺃﺭﻃﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﺮاﻗﻲ، ﻭاﻟﺮﻃﻞ اﻟﻌﺮاﻗﻲ ﻣﺌﺔ ﻭﺛﻼﺛﻮﻥ ﺩﺭﻫﻤﺎ، ﻭﻳﺴﺎﻭﻱ 3800 ﻏﺮاﻣﺎ؛ ﻷﻧﻪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼﻡ ﻛﺎﻥ ﻳﺘﻮﺿﺄ ﺑﺎﻟﻤﺪ ﺭﻃﻠﻴﻦ، ﻭﻳﻐﺘﺴﻞ ﺑﺎﻟﺼﺎﻉ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﺃﺭﻃﺎﻝ (¬2)، ﻭﻫﻜﺬا ﻛﺎﻥ ﺻﺎﻉ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ (¬3) ﻭﻫﻮ ﺃﺻﻐﺮ ﻣﻦ اﻟﻬﺎﺷﻤﻲ، ﻭﻛﺎﻧﻮا ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻥ اﻟﻬﺎﺷﻤﻲ.
ﻭﺩﻟﻴﻠﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺗﻘﺪﻳﺮ اﻟﻔﻄﺮﺓ ﺑﺼﺎﻉ ﺃﻭ ﻧﺼﻔﻪ: ﺣﺪﻳﺚ ﺛﻌﻠﺒﺔ ﺑﻦ ﺻﻌﻴﺮ اﻟﻌﺬﺭﻱ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: ﺧﻄﺒﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺎﻝ: «ﺃﺩﻭا ﻋﻦ ﻛﻞ ﺣﺮ ﻭﻋﺒﺪ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﻣﻦ ﺑﺮ، ﺃﻭ ﺻﺎﻋﺎ ﻣﻦ ﺗﻤﺮ، ﺃﻭ ﺻﺎﻋﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﻴﺮ» (¬4).

ﺩﻓﻊ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻋﻨﺪﻫﻢ: ﻳﺠﻮﺯ ﻋﻨﺪ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻲ ﻋﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺫﻟﻚ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﺩﺭاﻫﻢ ﺃﻭ ﺩﻧﺎﻧﻴﺮ ﺃﻭ ﻓﻠﻮﺳﺎ ﺃﻭ ﻋﺮﻭﺿﺎ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺷﺎء؛ ﻷﻥ اﻟﻮاﺟﺐ ﻓﻲ اﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺇﻏﻨﺎء اﻟﻔﻘﻴﺮ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺃﻏﻨﻮﻫﻢ ﻋﻦ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا اﻟﻴﻮﻡ» ﻭاﻹﻏﻨﺎء ﻳﺤﺼﻞ ﺑﺎﻟﻘﻴﻤﺔ، ﺑﻞ ﺃﺗﻢ ﻭﺃﻭﻓﺮ ﻭﺃﻳﺴﺮ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺩﻓﻊ اﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻴﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ اﻟﻨﺺ ﻣﻌﻠﻞ ﺑﺎﻹﻏﻨﺎء ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ (¬1): ﺗﺆﺩﻯ ﺯﻛﺎﺓ اﻟﻔﻄﺮ ﻣﻦ اﻟﺤﺒﻮﺏ ﻭاﻟﺜﻤﺎﺭ اﻟﻤﻘﺘﺎﺗﺔ ﻭﻫﻲ ﺻﺎﻉ، ﻭﺗﻔﺼﻴﻞ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺄﺗﻲ.
ﻳﺮﻯ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ: ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺠﺐ ﻣﻦ ﻏﺎﻟﺐ ﻗﻮﺕ اﻟﺒﻠﺪ ﻣﻦ ﺃﺻﻨﺎﻑ ﺗﺴﻌﺔ ﻓﻘﻂ: ﻗﻤﺢ ﺃﻭ ﺷﻌﻴﺮ ﺃﻭ ﺳﻠﺖ (ﻧﻮﻉ ﻣﻦ اﻟﺸﻌﻴﺮ) ﺃﻭ ﺫﺭﺓ ﺃﻭ ﺩﺧﻦ ﺃﻭ ﺗﻤﺮ ﺃﻭ ﺯﺑﻴﺐ ﺃﻭ ﺃﻗﻂ: ﻭﻫﻮ ﻳﺎﺑﺲ اﻟﻠﺒﻦ اﻟﻤﺨﺮﺝ ﺯﺑﺪﻩ، ﻓﻴﺘﻌﻴﻦ اﻹﺧﺮاﺝ ﻣﻤﺎ ﻏﻠﺐ اﻻﻗﺘﻴﺎﺕ ﻣﻨﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻷﺻﻨﺎﻑ اﻟﺘﺴﻌﺔ، ﻭﻻ ﻳﺠﺰﺉ اﻹﺧﺮاﺝ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻫﺎ، ﻭﻻ ﻣﻨﻬﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻘﻮﺕ ﻏﻴﺮﻩ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺝ اﻷﺣﺴﻦ، ﻛﺎﻟﻘﻤﺢ ﺑﺪﻝ اﻟﺸﻌﻴﺮ. ﻭﺯﻛﺎﺓ اﻟﻔﻄﺮ ﺻﺎﻉ (ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻣﺪاﺩ) ﻭاﻟﻤﺪ: ﺣﻔﻨﺔ ﻣﻞء اﻟﻴﺪﻳﻦ اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺘﻴﻦ.
ﻭﺫﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺠﺐ ﻣﻦ ﻏﺎﻟﺐ ﻗﻮﺕ اﻟﺒﻠﺪ ﺃﻭ اﻟﻤﺤﻞ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﺑﺎﺧﺘﻼﻑ اﻟﻨﻮاﺣﻲ، ﻭاﻟﻤﻌﺘﺒﺮ ﻓﻲ ﻏﺎﻟﺐ اﻟﻘﻮﺕ ﻏﺎﻟﺐ ﻗﻮﺕ اﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻳﺠﺰﺉ اﻷﻋﻠﻰ ﻋﻦ اﻷﺩﻧﻰ، ﻻ اﻟﻌﻜﺲ، ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺰﻳﺎﺩﺓ اﻻﻗﺘﻴﺎﺕ ﻓﻲ اﻷﺻﺢ ﻻ ﺑﺎﻟﻘﻴﻤﺔ
-------------
📚 *الموسوعة الفقهية الكويتية جز ٢٣ صح ٣٤٣*
ﺫﻫﺐ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﺰﺉ ﺇﺧﺮاﺝ ﺯﻛﺎﺓ اﻟﻔﻄﺮ اﻟﻘﻴﻤﺔ ﻣﻦ اﻟﻨﻘﻮﺩ ﻭﻫﻮ اﻷﻓﻀﻞ، ﺃﻭ اﻟﻌﺮﻭﺽ، ﻟﻜﻦ ﺇﻥ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻦ اﻟﺒﺮ ﺃﻭ ﺩﻗﻴﻘﻪ ﺃﻭ ﺳﻮﻳﻘﻪ ﺃﺟﺰﺃﻩ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ، ﻭﺇﻥ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻦ اﻟﺸﻌﻴﺮ ﺃﻭ اﻟﺘﻤﺮ ﺃﻭ اﻟﺰﺑﻴﺐ ﻓﺼﺎﻉ، ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﻤﺎ - ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺎﺱ ﻳﺨﺮﺟﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﺎﻋﺎ ﻣﻦ ﺷﻌﻴﺮ ﺃﻭ ﺗﻤﺮ ﺃﻭ ﺳﻠﺖ (3) ﺃﻭ ﺯﺑﻴﺐ. ﻗﺎﻝ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ: ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ، ﻭﻛﺜﺮﺕ اﻟﺤﻨﻄﺔ ﺟﻌﻞ ﻋﻤﺮ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﺣﻨﻄﺔ، ﻣﻜﺎﻥ ﺻﺎﻉ ﻣﻦ ﺗﻠﻚ اﻷﺷﻴﺎء. ﺛﻢ ﻗﺎﻝ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ: ﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﻫﺬﻩ اﻷﺷﻴﺎء اﻷﺭﺑﻌﺔ اﻝﻣﻦﺻﻮﺹ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺤﺒﻮﺏ ﻛﺎﻟﻌﺪﺱ ﻭاﻷﺭﺯ، ﺃﻭ ﻏﻴﺮ اﻟﺤﺒﻮﺏ ﻛﺎﻟﻠﺒﻦ ﻭاﻟﺠﺒﻦ ﻭاﻟﻠﺤﻢ ﻭاﻟﻌﺮﻭﺽ، ﻓﺘﻌﺘﺒﺮ ﻗﻴﻤﺘﻪ ﺑﻘﻴﻤﺔ اﻷﺷﻴﺎء اﻟﻤﻨﺼﻮﺹ ﻋﻠﻴﻬﺎ، ﻓﺈﺫا ﺃﺭاﺩ اﻟﻤﺘﺼﺪﻕ ﺃﻥ ﻳﺨﺮﺝ ﺻﺪﻗﺔ اﻟﻔﻄﺮ ﻣﻦ اﻟﻌﺪﺱ ﻣﺜﻼ، ﻓﻴﻘﻮﻡ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﻣﻦ ﺑﺮ، ﻓﺈﺫا ﻛﺎﻧﺖ ﻗﻴﻤﺔ ﻧﺼﻒ اﻟﺼﺎﻉ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﻗﺮﻭﺵ ﻣﺜﻼ، ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻦ اﻟﻌﺪﺱ ﻣﺎ ﻗﻴﻤﺘﻪ ﺛﻤﺎﻧﻴﺔ ﻗﺮﻭﺵ ﻣﺜﻼ، ﻭﻣﻦ اﻷﺭﺯ ﻭاﻟﻠﺒﻦ ﻭاﻟﺠﺒﻦ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻷﺷﻴﺎء اﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﻳﻨﺺ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﺸﺎﺭﻉ، ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦ اﻟﻌﺪﺱ ﻣﺎ ﻳﻌﺎﺩﻝ ﻗﻴﻤﺘﻪ (1) .

📚 *المتن الشريف صح ٣٠*
وتجب زكاة الفطر بإدراك آخر جزء من رمضان مع أول جزء من شوال على من ملك ما يفضل عن قوته وقوت عياله يوم العيد وليلته وهي صاع من غالب قوت البلد ومن تلزمه فطرة نفسه لزمته فطرة من تجب عليه كزوجته وولده الصغير ويسن أن يخرجها قبل صلاة العيد. ويجوز إخراج القيمة.
-------------
📚 *الميسان اللصيف صح ٩٤١*
وتجب زكاة الفطر بإدراك آخر جزء من رمضان مع أول جزء من شوال على من ملك ما يفضل عن قوته وقوت عياله يوم العيد وليلته وهي صاع من غالب قوت البلد ومن تلزمه فطرة نفسه لزمته فطرة من تجب عليه كزوجته وولده الصغير ويسن أن يخرجها قبل صلاة العيد. ويجوز إخراج القيمة.
(ويجوز إخراج القيمة) *وهذا مما انفرد به المصنف رحمه الله من بين سائر أصحابنا رحمهم الله إذ لم يقل به أحد من الأئمة الشافعية* قال الرملي فى النهاية فلا تجزئ القيمة بالإتفاق قال الشبراملسي أي مذهبنا إھ. وذهب إلى جواز ذلك الإئمة الحنفية بل إخراج القيمة عندهم أفضل ففي تنوير الأبصار ما نصه ودفع القيمة أفضل من دفع العين على المذهب قال شارحه في الدر المختار وهذا في السعة أما في الشدة فدفع العين أفضل كما لا يخفى إھ *وكان شيخنا إسماعيل الزين رحمه الله يقلد هذا المذهب ويقول القيمة في هذا الزمان أنفع للمستحق من العين لأنه يتصرف فيها بما لا يتصرف في العين فإنه يمكن أن يشتري بها اللباس للعيد وغيره مما يطلب في ذلك اليوم وما هو أنفع له بخلاف العين.*

فإخراج النقود عن زكاة الفطر محل خلاف والذي عليه جمهور أهل العلم من المالكية والحنابلة والشافعية عدم الإجزاء، ويجزئ ذلك عند الحنفية وقد اختار الإجزاء شيخ الإسلام ابن تيمية في حال ما إذا كان إخراجها نقوداً أعظم مصلحة للفقير،

س ٢٧ : هل يجوز إخراج زكاة الفطر نقوداً؟ الجواب: يجوز إخراج زكاة الفطر نقوداً، وهو مذهب طائفة من العلماء يعتد بهم كما أنه مذهب جماعة من التابعين، منهم: الحسن البصري فروي عنه أنه قال : « لا بأس أن تعطي الدراهم في صــدقـة الفطر» (١)، وأبو إسحاق السبيعي (٢)، فعن زهير قال : سمعت أبا إسحاق يقول: «أدركتهم وهم يعطون في صدقة الفطر الدراهم بقيمة الطعام » (۳)، وعمر بن عبد العزيز، فعن وكيع عن قرة قال : جاءنا كتاب عمر بن عبد العزيز في صدقة الفطر : نصف صاع عن كل إنسان أو قيمته : نصف درهم » (٤). مذهب الثوري وأبي حنيفة، وأبي يوسف وهو وهو مذهب الحنفية، وبه العمل والفتوى عندهم في كل زكاة، وفي الكفارات، والنذر ، والخراج وغيرها (٥)، وهو أيضاً مذهب الإمام الناصر،

والمؤيد بالله من أئمة أهل البيت الزيدية (1) . وبه قال إسحاق بن راهويه وأبو ثور إلا أنهما قيدا ذلك بالضرورة، كما هو مذهب بقية أهل البيت (۲)، أعني جواز القيمة عند الضرورة وجعلوا منها : طلب الإمام

المال بدل المنصوص.

وهو قول جماعة من المالكية كابن حبيب، وأصبغ، وابن أبي حازم، وابن دينار (۳) ، وابن وهب (٤) على ما يقتضيه إطلاق النقل عنهم في تجويز إخراج القيم في الزكاة الشاملة لزكاة المال وزكاة الرؤوس، بخلاف ما نقلوه عن ابن القاسم وأشهب من كونهما أجازا إخراج القيمة في الزكاة إلا زكاة الفطر وكفارة الأيمان .

وعليه، فنرى أن هناك جمعاً لا بأس به من الأئمة، والتابعين، وفقهاء الأمة ذهبوا إلى جواز إخراج قيمة زكاة الفطر نقوداً، هذا في عصورهم القديمة وقد كان نظام المقايضة موجوداً، بمعنى أن كل السلع تصلح

وسائل للتبادل وخاصة الحبوب، فكان بيع القمح بالشعير، والذرة بالقمح وهكذا، أما في عصرنا وقد انحصرت وسائل التبادل في النقود وحدها، فنرى أن هذا المذهب هو الأوقع والأرجح، بل نزعم أن من خالف من العلماء قديماً لو أدرك زماننا لقال بقول أبي حنيفة، ويظهر لنا هذا. فقههم وقوة نظرهم .

كما أن إخراج زكاة الفطر نقوداً أولى؛ للتيسير على الفقير أن يشتري أي شيء يريده في يوم العيد ؛ لأنه قد لا يكون محتاجاً إلى الحبوب، بل هو محتاج إلى ملابس، أو لحم، أو غير ذلك، فإعطاؤه الحبوب يضطره إلى أن يطوف بالشوارع ليجد من يشتري منه الحبوب، وقد يبيعها بثمن بخس أقل من قيمتها الحقيقية، هذا كله في حالة اليسر، ووجود الحبوب بكثرة في الأسواق، أما في حالة الشدة وقلة الحبوب في الأسواق، فدفع العين أولى من القيمة مراعاة لمصلحة ،الفقير فالأصل الذي شرعت له زكاة الفطر مصلحة الفقير وإغناؤه في ذلك اليوم الذي يفرح فيه المسلمون، وقد ألف العلامة أحمد بن الصديق الغماري كتابا ماتعا في تلك المسألة أسماه «تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال»، ورجح فيه مذهب الأحناف بأدلة كثيرة، ومن أوجه عديدة، وصلت إلى اثنين وثلاثين وجها؛ لذا نرى ترجيح قول من ذهب إلى إخراج قيمتها، وهو الأولى في هذا الزمان والله تعالى أعلى وأعلم.
البيان القويم لتصحيح بعض المفاهيم, ص ١٢٤-١٢٦

(فرع) لا تجزئ قيمة.
(قوله: لا تجزئ قيمة) أي لصاع الفطرة بالاتفاق عندنا، فيتعين إخراج الصاع من الحب أو غيره من القوت الغالب.
[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ١٩٧/٢]

(مَسْأَلَةٌ) لَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ فِي الْفِطْرَةِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وقال أبو حنيفة يجوز وحكاه ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعُمَرَ بْنِ عبد العزيز والثوري قال وقال اسحق وَأَبُو ثَوْرٍ لَا تُجْزِئُ إلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ
[النووي، المجموع شرح المهذب، ١٤٤/٦]

وَفِي الْهِدَايَةِ وَيَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ فِي الزَّكَاةِ وَالْكَفَّارَةِ وَصَدَقَةِ الْفِطْرِ وَالْعُشْرِ وَالنَّذْرِ اهـ.
[ابن نجيم ,البحر الرائق شرح كنز الدقائق ومنحة الخالق وتكملة الطوري ,2/238]

ويجوز دفع القيمة وهي أفضل عند وجدان ما يحتاجه لأنها أسرع لقضاء حاجة الفقير وإن كان زمن شدة فالحنطة والشعير وما يؤكل أفضل من الدراهم.
قوله: "ويجوز دفع القيمة" قال في التنوير وجاز دفع القيمة في زكاة وعشر وخراج وفطرة ونذر وكفارة غير الاعتكاف اهـ قوله: "عند وجدان ما يحتاجه" أي الفقير أي من هذه الأصناف التي تخرج منها الفطرة بأن كان الزمن زمن خصب قوله: "لقضاء حاجة الفقير" أي وحاجة الفقير متنوعة قوله: "وما يؤكل" أي ولو من غير هذه الأعيان بأن يدفع عنها بالقيمة.
[الطحطاوي ,حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح ,page 724]

(وجاز دفع القيمة في زكاة وعشر وخراج وفطرة ونذر وكفارة غين الاعتاق) وتعتبر القيمة يوم الوجوب، وقالا يوم الاداء.
[علاء الدين الحصكفي، الدر المختار شرح تنوير الأبصار وجامع البحار، صفحة ١٣٠]

وَلَا يَجُوزُ إِخْرَاجُ الْقِيمَةِ. وَعَنْهُ، يَجُوزُ.
ـــــــــــــــــــــــــــــ
قوله: ولا يَجُوزُ إخْرَاجُ القِيمَةِ. هذا المذهبُ مُطْلَقًا. أعْنِى، سواءٌ كان ثَمَّ حاجَةٌ أم لا، لمَصْلَحَةٍ أوْلا، الفِطْرَةُ وغيرُها. وعليه أكثرُ الأصحابِ. وجزَم به في «الوَجيزِ» وغيرِه. وقدَّمه في «الفُروعِ» وغيرِه. وعنه، تُجْزِئُ القِيمَةُ مُطْلَقًا. وعنه، تُجْزِئُ في غيرِ الفِطْرَةِ. وعنه، تُجْزِئُ للحاجَةِ، مِن تعَذُّرِ الفَرْضِ ونحوِه. نقلَها جماعَةٌ؛ منهم القاضى في «التَّعْلِيقِ». وصحَّحَها جماعَةٌ؛ منهم ابنُ تَميمٍ، وابنُ حَمْدانَ. واخْتارَه الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ. وقيلَ: ولمَصْلَحَةٍ أيضًا. واخْتارَه الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ أيضًا. وذكَر بعضُهم رِوايَةً، تُجْزِئُ للحاجَةِ.
[المرداوي، علاء الدين، الإنصاف في معرفة الراجح من الخلاف ت التركي، ٤٤٨/٦]

( 1966 ) مسألة : قال : ( ومن أعطى القيمة لم تجزئه ) قال أبو داود قيل لأحمد وأنا أسمع أعطي دراهم يعني في صدقة الفطر قال أخاف أن لا يجزئه خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم . وقال أبو طالب , قال لي أحمد لا يعطي قيمته , قيل له : قوم يقولون , عمر بن عبد العزيز كان يأخذ بالقيمة
المغني لابن قدامة الجزء الثاني ص: 357

‫والانْتَقَالُ مِنْ مَذهَب إِلَى مَذهَب آخَرَ وَلَوْ فِى بَعْضِ الْمَسَائل فيه ثَلَاثَةُ أَقْوَال قِيلَ يَمْتَنعُ‬‎ ‎‫مُطلَقًا وَقِيلَ يَجُوزُ مُطْلَقًا وَقِيلَ إِنَّ لَمْ يَجْمَع بَينَ الْمَذْهَبِينِ عَلَى صَفَةٌ تُخَالِفُ الإِجَمَاعَ جَازَ‬‎ ‎‫وَإِلا فَلَا كَمَنْ تَزَوَّج بلاَ صَدَّاقٍ وَلَا وَلي وَلَا شُهُود فَإِنَّ هَذَه الصُّورَةَ لَا يَقُولُ بِهَا أَحَدٌ‬‎ ‎‫

فَائِدَةٌ : لا يَجُوزُ في مَذهَب الأمام الشافعي رَحمَهُ اللهُ تَعَالَى إِخْرَاجُ الْعَرْضِ عَنِ الْقِيمَة فَمَنْ أَرَادَ إِخْرَاجَهُ عَنْهَا قَلَّدَ غَيْرَهُ ممَّنْ يَرَى الجَوَازَ كَمَا أَفْتَى ابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُ بِجَوارَ التَّقْلِيدَ في ذلكَ
وَمِنْ الْمُدَوَّنَة قَالَ مَالِكَ : لَا يُجْزِتُهُ أَنْ يَدْفَعَ فِي الْفِطْرَةِ ثَمَنًا ، وَرَوَى عِيسَى عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ : فَإِنَّ فَعَلَ أَجْزَاهُ

wallohu alam bishowab

Address

Provinsi
Garut

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kalam Q Sya'ier posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share