Ma'had Aly Zawiyah Jakarta

Ma'had Aly Zawiyah Jakarta Pendidikan Agama
Mohon doa restu dan dukungannya dalam proses izin Mahad Aly Zawiyah Jakarta

https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-05-ketika-rasulullah-%ef%b7%ba-p**ang-dalam-k...
24/08/2026

https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-05-ketika-rasulullah-%ef%b7%ba-p**ang-dalam-keadaan-gemetar/
🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*

*Hari 04 — Ketika Rasulullah ﷺ Pulang dalam Keadaan Gemetar*

Ada malam ketika manusia paling mulia p**ang dalam keadaan gemetar.

Di Gua Hira, tempat yang selama ini menjadi ruang sunyinya, Rasulullah ﷺ tiba-tiba didatangi Malaikat Jibril عليه السلام.

Jibril berkata:

«اقْرَأْ

“Bacalah.”»

Rasulullah ﷺ menjawab:

«مَا أَنَا بِقَارِئٍ

“Aku tidak dapat membaca.”»

Jibril kemudian memeluk beliau dengan kuat. Peristiwa itu berulang hingga kemudian disampaikan ayat:

«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.”
(QS. al-‘Alaq [96]: 1–3)»

Kemudian Rasulullah ﷺ p**ang.

‘Āisyah رضي الله عنها meriwayatkan:

«فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ

“Rasulullah ﷺ p**ang membawa wahyu itu dalam keadaan hatinya bergetar.”
(HR. al-Bukhārī)»

Sesampainya di rumah Khadijah رضي الله عنها, beliau berkata:

«زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي

“Selimuti aku. Selimuti aku.”»

Lalu Khadijah menyelimuti beliau hingga rasa takut itu mereda.

Perhatikanlah.

Ini adalah Rasulullah ﷺ.

Manusia yang kelak berdiri menghadapi Quraisy.

Manusia yang kelak berhijrah meninggalkan tanah kelahirannya.

Manusia yang kelak menghadapi peperangan, kehilangan sahabat-sahabat yang dicintainya, dan memikul risalah untuk seluruh umat manusia.

Tetapi ketika amanah besar itu pertama kali datang,

beliau p**ang dalam keadaan gemetar.

🌱 Ternyata takut tidak selalu berarti lemah

Kita sering mengira orang kuat adalah orang yang tidak takut.

Padahal kehidupan Rasulullah ﷺ menunjukkan sesuatu yang lebih indah.

Seseorang dapat merasa takut dan tetap menjadi manusia yang sangat kuat.

Keberanian bukan tidak adanya rasa takut.

Keberanian adalah ketika rasa takut tidak membuat kita meninggalkan apa yang Allah amanahkan.

Dan ada satu hal lain yang sangat menyentuh.

Ketika Rasulullah ﷺ mengalami sesuatu yang mengguncang dirinya, beliau p**ang.

Beliau datang kepada Khadijah.

Beliau tidak berpura-pura baik-baik saja.

Beliau tidak merasa harus selalu terlihat kuat.

Beliau mengatakan apa yang beliau rasakan.

Dan Khadijah رضي الله عنها tidak menertawakan ketakutan itu.

Tidak mengecilkannya.

Tidak mengatakan:

"Mengapa engkau takut?"

Khadijah justru menyelimuti beliau.

Kadang orang yang sedang terguncang tidak membutuhkan ceramah panjang.

Ia membutuhkan tempat yang membuatnya merasa aman.

Seseorang yang tidak buru-buru menghakimi.

Seseorang yang bersedia tinggal sebentar di sampingnya.

🌿 Jejak Jiwa

Ada hari ketika kita menerima tanggung jawab baru dan merasa takut.

Ada keputusan besar yang membuat dada berdebar.

Ada perubahan hidup yang kita tahu harus dijalani, tetapi kita belum tahu apa yang menunggu di depan.

Jangan terlalu cepat menyimpulkan:

“Kalau aku takut, berarti aku tidak mampu.”

Rasulullah ﷺ pernah gemetar ketika menerima awal dari amanah terbesar dalam sejarah manusia.

Maka rasa takut bukan selalu tanda bahwa kita harus mundur.

Kadang ia hanya tanda bahwa apa yang sedang kita hadapi memang besar.

Dan ketika hari terasa terlalu berat, carilah “Khadijah” dalam kehidupan kita:

orang yang aman untuk diajak p**ang.

Tetapi jangan lupa—

jadilah p**a Khadijah bagi seseorang.

Ketika ada yang datang kepada kita dengan hati bergetar, jangan buru-buru memberinya jawaban.

Mungkin yang pertama ia perlukan bukan nasihat.

Mungkin ia hanya membutuhkan “selimut”:

ketenangan,

penerimaan,

dan seseorang yang berkata melalui kehadirannya,

“Aku ada di sini.”

Renungan hari ini

Jika hari ini ada sesuatu yang membuat kita takut, jangan langsung berlari menjauhinya.

Tanyakan:

“Apakah ini tanda bahwa aku harus berhenti, atau justru sebuah amanah yang sedang meminta keberanianku untuk bertumbuh?”

Dan lihatlah orang-orang di sekitar kita.

Adakah seseorang yang sedang membutuhkan tempat aman untuk p**ang?

Karena malam ketika wahyu pertama turun mengajarkan kita:

bahkan hati yang kelak menguatkan dunia pernah bergetar.

Dan ketika hati itu bergetar,

Allah menyediakan sebuah rumah, sebuah selimut, dan seorang Khadijah.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

24/08/2026

#1 Lomba Puisi "Kemerdekaan Dalam islam" HUT RI ke 81 | Ma'had Aly Zawiyah Jakarta

23/08/2026

LIVE KULIAH AHAD

23/08/2026

LIVE KULIAH AHAD | Bersama : Dr. KH. Lutfi Chairullah, MA ~ Ayatul Ahkam | 23/08/2026

https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-03-mengapa-rasulullah-%ef%b7%ba-memilih-kesun...
21/08/2026

https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-03-mengapa-rasulullah-%ef%b7%ba-memilih-kesunyian-hira/
30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ : Hari 03 — Mengapa Rasulullah ﷺ Memilih Kesunyian Hira?

Sebelum menerima wahyu, Rasulullah ﷺ belajar berada dalam sunyi.

Ketika kehidupan Makkah dipenuhi hiruk-pikuk perdagangan, persaingan kabilah, dan praktik kemusyrikan, Muhammad ﷺ justru sering menjauh sejenak.

Beliau pergi ke Gua Hira.

Bukan karena membenci manusia.

Bukan p**a karena hendak meninggalkan kehidupan.

Tetapi beliau melakukan taḥannuth—beribadah dan berkhalwat selama beberapa malam.

Sayyidah ‘Āisyah رضي الله عنها meriwayatkan:

«ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ

“Kemudian beliau dibuat mencintai kesunyian. Beliau berkhalwat di Gua Hira dan beribadah di sana.”
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)»

Perhatikan kalimatnya:

حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ

“Dijadikan beliau mencintai kesunyian.”

Ada masa ketika manusia membutuhkan keramaian.

Tetapi ada p**a masa ketika jiwa membutuhkan ruang untuk tidak mendengar siapa-siapa selain suara hatinya sendiri.

Rasulullah ﷺ membawa bekal dan tinggal di Hira beberapa malam. Setelah itu beliau kembali kepada Khadijah رضي الله عنها, mengambil bekal lagi, kemudian kembali.

Jadi kesunyian Nabi ﷺ bukanlah pelarian.

Beliau pergi ke Hira, lalu kembali kepada kehidupan.

Itulah yang menarik.

🌱 Tidak semua menjauh berarti meninggalkan

Kadang kita terlalu lama berada di tengah suara manusia.

Pendapat orang.

Pujian orang.

Kritik orang.

Berita.

Pesan.

Layar.

Percakapan yang tidak pernah selesai.

Sampai akhirnya kita mengetahui banyak hal tentang dunia, tetapi semakin sulit mendengar apa yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.

Hira mengajarkan sesuatu yang semakin mahal pada zaman kita:

kemampuan untuk berhenti.

Bukan berhenti dari tanggung jawab.

Tetapi berhenti sejenak dari kebisingan agar hati kembali mengetahui arah.

Sebab ada pertanyaan yang jawabannya tidak ditemukan dengan semakin banyak berbicara.

Ada kegelisahan yang tidak selesai dengan semakin banyak membuka layar.

Dan ada kejernihan yang baru datang ketika manusia bersedia duduk sebentar bersama dirinya di hadapan Allah.

Namun ada hal yang jauh lebih indah.

Rasulullah ﷺ tidak mengetahui bahwa di tempat sunyi itulah sejarah manusia akan berubah.

Beliau belum mengetahui bahwa suatu malam Jibril عليه السلام akan datang membawa:

«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. al-‘Alaq [96]: 1)»

Hira yang sunyi ternyata sedang menjadi tempat persiapan bagi sebuah amanah yang sangat besar.

🌿 Jejak Jiwa

Mungkin kita pun pernah mengalami masa ketika hidup terasa sepi.

Orang-orang menjauh.

Kesibukan berkurang.

Rencana tertunda.

Pintu yang kita harapkan belum terbuka.

Jangan terlalu cepat menganggap setiap kesunyian sebagai kekosongan.

Boleh jadi ada masa ketika Allah mengurangi suara di sekitar kita agar hati kita lebih siap menerima petunjuk-Nya.

Tentu kita bukan Rasulullah dan tidak ada wahyu setelah beliau ﷺ.

Tetapi kita tetap membutuhkan saat-saat untuk kembali kepada Allah: melalui salat, tilawah, dzikir, tafakkur, doa, dan muhasabah.

Bukan untuk melarikan diri dari dunia.

Justru agar ketika kembali kepada dunia, kita membawa hati yang lebih jernih.

Renungan hari ini

Cobalah memberi diri kita beberapa menit tanpa layar.

Tanpa percakapan.

Tanpa keinginan untuk segera membagikan apa pun kepada siapa pun.

Duduklah.

Berdzikirlah.

Lalu tanyakan perlahan:

“Di tengah begitu banyak suara yang selama ini kudengar, apakah aku masih menyediakan ruang untuk mendengar apa yang Allah ajarkan kepada hatiku?”

Rasulullah ﷺ memasuki Hira dalam kesunyian.

Kemudian beliau turun membawa cahaya yang mengubah dunia.

Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak keramaian.

Mungkin hati kita hanya membutuhkan sedikit ruang untuk kembali kepada Allah.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-02-seorang-nabi-yang-tumbuh-bersama-kehilanga...
20/08/2026

https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-02-seorang-nabi-yang-tumbuh-bersama-kehilangan/
🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*

*Hari 02 — Seorang Nabi yang Tumbuh Bersama Kehilangan*

Tidak semua kehilangan membuat seseorang menjadi lemah.

Ada kehilangan yang justru diam-diam membentuk kedalaman jiwa.

Rasulullah Muhammad ﷺ mengenal kehilangan bahkan sejak awal kehidupannya.

Ayah beliau, ‘Abdullāh, telah wafat ketika beliau masih sangat kecil—dalam riwayat sīrah yang masyhur, sebelum beliau dilahirkan.

Beliau datang ke dunia tanpa sempat merasakan pelukan seorang ayah.

Kemudian ketika berusia sekitar enam tahun, ibunda beliau, Āminah binti Wahb, wafat dalam perjalanan p**ang dari Yatsrib menuju Makkah, di sebuah tempat bernama al-Abwā’.

Bayangkan seorang anak kecil.

Dalam perjalanan bersama ibunya, lalu harus p**ang tanpa ibunya.

Setelah itu beliau diasuh oleh kakeknya, ‘Abd al-Muṭṭalib.

Tetapi sekitar dua tahun kemudian, orang yang menjadi tempat perlindungannya itu pun meninggal.

Beliau kembali kehilangan.

Ayah.

Ibu.

Kemudian kakek.

Sebelum mencapai usia dewasa, Muhammad ﷺ telah mengenal bahwa orang-orang yang kita cintai tidak selalu tinggal bersama kita selamanya.

Al-Qur'an kemudian mengingatkan beliau:

«أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ»

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia memberikan perlindungan?"
(QS. al-Ḍuḥā [93]: 6)

Perhatikan bagaimana Allah berbicara tentang masa lalu Nabi-Nya.

Allah tidak mengatakan bahwa beliau tidak pernah mengalami kehilangan.

Allah justru mengakui keadaan itu:

يَتِيمًا — seorang yatim.

Tetapi setelah kata tentang kehilangan itu, Allah menghadirkan kata yang menenangkan:

فَآوَىٰ — lalu Dia memberikan perlindungan.

Seakan ada pesan yang sangat lembut:

Kehilangan manusia tidak berarti kehilangan penjagaan Allah.

Dan yang lebih mengagumkan, pengalaman kehilangan tidak membuat Rasulullah ﷺ tumbuh menjadi manusia yang keras.

Justru sebaliknya.

Kelak beliau menjadi manusia yang sangat peka terhadap anak yatim, orang miskin, orang lemah, budak, janda, musafir, dan mereka yang sering tidak diperhatikan masyarakat.

Barangkali karena seseorang yang pernah merasakan sepi akan mengenali kesepian orang lain dengan cara yang berbeda.

Seseorang yang pernah kehilangan tahu bahwa ada luka yang tidak membutuhkan banyak nasihat.

Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang tinggal di sisinya.

🌱 *Jejak Jiwa*

Ada orang yang kehilangan ayah.

Ada yang kehilangan ibu.

Ada yang kehilangan pasangan.

Ada yang kehilangan anak.

Ada p**a yang orang-orang tercintanya masih hidup, tetapi ia kehilangan tempat untuk p**ang secara batin.

Tidak semua kehilangan terlihat.

Dan tidak semua orang yang tersenyum sedang hidup tanpa luka.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita sesuatu yang sangat indah:

masa lalu yang menyakitkan tidak harus melahirkan hati yang menyakitkan orang lain.

Kita tidak dapat memilih seluruh peristiwa yang datang dalam kehidupan.

Tetapi dengan pertolongan Allah, kita dapat memilih:

apakah luka itu akan membuat kita semakin keras,

atau justru membuat kita semakin mampu memahami luka manusia lain.

Allah mengingatkan Rasulullah ﷺ sesudah menyebut masa yatim beliau:

«فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ»

"Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."
(QS. al-Ḍuḥā [93]: 9)

Betapa indah urutannya.

Allah mengingatkan beliau tentang luka masa kecilnya, kemudian mengarahkannya menjadi kasih kepada orang lain.

Mungkin di situlah salah satu rahasia penyembuhan jiwa:

jangan biarkan luka berhenti sebagai luka.
Ubahlah ia menjadi rahmah.

Jika kita pernah tidak didengarkan, belajarlah mendengarkan.

Jika kita pernah ditinggalkan, jangan mudah meninggalkan.

Jika kita pernah diremehkan, jangan meremehkan.

Jika kita pernah menangis sendirian, jadilah orang yang menemani tangisan orang lain.

Karena terkadang Allah tidak menghapus masa lalu kita.

Allah menjadikannya jalan agar hati kita mampu memahami manusia lebih dalam.

*Renungan hari ini*

Luka apa dalam hidup saya yang selama ini hanya saya tangisi—padahal mungkin Allah ingin mengubahnya menjadi jalan untuk mengasihi orang lain?

Tidak perlu menjawabnya kepada siapa pun.

Bawa pertanyaan itu ke dalam doa.

Dan ketika Maulid datang, mari mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya karena kemuliaan beliau,

tetapi juga dengan mengenal perjalanan manusiawi yang Allah pilih untuk membentuk hati beliau.

Dari seorang anak yang mengenal kehilangan,
lahirlah seorang Nabi yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-1-sebelum-men...
18/08/2026

🌿 *30 HARI BERSAMA RASULULLAH ﷺ*
https://www.zawiyahjakarta.or.id/30-hari-bersama-rasulullah-%ef%b7%ba-hari-1-sebelum-menjadi-nabi-beliau-sudah-dipercaya/
*Hari 1 — Sebelum Menjadi Nabi, Beliau Sudah Dipercaya*

Ada sesuatu yang indah dari kehidupan Rasulullah ﷺ yang sering luput kita renungkan.

Sebelum turun ayat pertama.

Sebelum ada orang yang memanggil beliau Rasūlullāh.

Sebelum beliau berdiri menyampaikan risalah di hadapan manusia.

Masyarakat Makkah telah mengenal Muhammad ﷺ sebagai seseorang yang dapat dipercaya.

Kelak, ketika Rasulullah ﷺ berdiri di Bukit Ṣafā dan bertanya kepada Quraisy:

«أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟»

"Bagaimana menurut kalian, seandainya aku mengatakan bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?"

Mereka menjawab:

«نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا»

"Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran."
(HR. al-Bukhārī)

Perhatikan.

Yang mengatakan itu bukan para sahabat.

Bukan orang-orang yang sudah beriman kepada beliau.

Justru orang-orang yang beberapa saat kemudian akan menolak dakwahnya.

Mereka dapat menolak pesannya, tetapi sulit menyangkal integritas orang yang menyampaikannya.

Di sinilah ada pelajaran besar tentang dakwah.

Rasulullah ﷺ seakan mengajarkan bahwa akhlak sering kali berbicara jauh sebelum lisan berbicara.

Kita terkadang ingin didengar karena merasa memiliki kebenaran.

Tetapi kehidupan Nabi ﷺ mengajarkan sesuatu yang lebih dalam:

sebelum meminta manusia mempercayai perkataan kita, bangunlah kehidupan yang membuat kita layak dipercaya.

Kejujuran bukan hanya ketika berbicara di mimbar.

Ia hadir ketika tidak ada yang melihat.

Dalam janji yang kecil.
Dalam amanah yang sederhana.
Dalam urusan uang.
Dalam pekerjaan.
Dalam keluarga.
Dalam pesan yang kita kirim.
Bahkan dalam cerita yang kita teruskan kepada orang lain.

Karena seseorang dapat berbicara tentang agama dengan sangat indah, tetapi manusia akan melihat bagaimana ia hidup ketika turun dari mimbar.

Dan barangkali salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ yang paling sunyi adalah ini:

berusaha menjadi manusia yang ketika namanya disebut, orang lain merasa aman.

Aman dari kebohongannya.
Aman dari lisannya.
Aman dari pengkhianatannya.
Aman menitipkan sesuatu kepadanya.

Imam al-Būṣīrī menggambarkan kemuliaan Rasulullah ﷺ:

«مُحَمَّدٌ خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلِّهِمِ»

“Muhammad adalah sebaik-baik seluruh makhluk Allah.”

Tetapi pujian kepada Nabi ﷺ tidak seharusnya berhenti menjadi bait yang kita lantunkan.

Ia perlu turun menjadi akhlak yang kita perjuangkan.

Mungkin kita belum mampu meniru banyak hal dari Rasulullah ﷺ.

Tetapi hari ini kita dapat memulainya dari satu perkara kecil:

Jangan berdusta. Jangan mengkhianati amanah.

Sebab sebelum manusia mengenal Muhammad sebagai seorang Nabi, mereka telah mengenalnya sebagai manusia yang dapat dipercaya.

Dan mungkin di situlah perjalanan cinta kita kepada beliau perlu dimulai.

Bukan hanya dengan semakin banyak menyebut namanya,
tetapi dengan membuat akhlak beliau semakin terlihat dalam hidup kita.

🌱 *Jejak yang dibawa p**ang hari ini*

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Jika orang-orang yang paling dekat denganku diminta menggambarkan diriku dalam satu kalimat, apakah mereka akan mengatakan: ia orang yang dapat dipercaya?”

Tidak perlu menjawabnya kepada siapa pun.

Biarkan pertanyaan itu tinggal sebentar di dalam hati.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

18/08/2026

🇮🇩✨ Video Dokumentasi Semarak HUT Kemerdekaan RI ke-81 ✨🇮🇩

🎤 Lomba Puisi
🍳 Lomba Memasak
📍 Ma’had Aly Zawiyah Jakarta

Merdeka dalam hati, merdeka dalam karya! 🇮🇩

Address

Jalan Budi Harapan No. 40 Cipinang Melayu (Jakarta Timur)
Jakarta
13620

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ma'had Aly Zawiyah Jakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Ma'had Aly Zawiyah Jakarta:

Shortcuts

Share