25/11/2024
https://mediadakwah.id/sambut-hari-guru-ddii-ingatkan-kembali-pesan-pak-natsir-tentang-guru/
Menyambut Hari Guru, 25 November 2024, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, mengingatkan kembali tentang pesan penting Mohammad Natsir tentang peran guru dalam memajukan bangsanya.
Inilah pesan Pak Natsir: “Suatu bangsa tidak Akan maju, sebelum ada diantara bangsa itu segolongan guru yang s**a berkorban untuk keperluan bangsanya.”
Jadi, guru yang baik adalah kunci bagi kemajuan bangsa. Ini menunjukkan, bahwa yang terpenting dari sekolah atau universitas bukanlah bangunannya, melainkan kualitas gurunya.
Mohammad Natsir, Pahlawan Nasional yang juga pendiri DDII, merupakan pejuang pendidikan dan pelopor dalam pendidikan guru. Beliau menjadikan dirinya sebagai contoh guru teladan, yang terjun langsung sebagai guru, setelah lulus SMA. Pak Natsir memilih menjadi guru, dan mengorbankan kesempatan kuliahnya.
Tapi, Mohammad Natsir adalah guru yang s**a berkorban untuk bangsanya. Beliau menjadikan dirinya sebagai guru pejuang dan bukan “tukang mengajar bayaran”. Beliau menempatkan guru di tempat yang mulia, sebagai pejuang peradaban.
Mahfudhat terkenal menyebutkan, bahwa metode lebih penting daripada materi ajar; guru lebih penting daripada metode; dan jiwa guru adalah lebih penting dari guru itu sendiri. Guru adalah pendidik; bukan sekedar pengajar.
Dan tugas sebagai guru yang utama diletakkan kepada orang tua: jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka! Karena itu, guru harus menjadi teladan dalam pendidikan. Jangan pernah menganggap menjadi guru itu sebagai sutu hal yang biasa-biasa saja. Menjadi guru adalah aktivitas yang sangat mulia.
Menjadi guru hakikatnya adalah menjadi dai dan menempatkan dirinya sebagai pelanjut perjuangan Rasulullah saw, yaitu (1) menyampaikan ayat-ayat Allah (2) Mensucikan jiwa manusia (3) dan mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah (QS al-Baqarah: 151 dan al-Jumuah:2).
Karena itulah, di menyambut Hari Guru, Ketua Umum DDII berharap, umat Islam sangat serius dalam mendidik para orang tua agar bisa menjadi guru utama dan terbaik bagi anak-anaknya. Begitu juga diharapkan, Menteri Pendidikan Tinggi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Menteri Agama, dapat menyelenggakan pendidikan guru yang benar-benar mendidik para muridnya menjadi guru pejuang, sebagaimana diamanahkan dan dicontohkan para pendiri bangsa kita.
Pendidikan kita, bahkan bangsa kita, tidak akan meraih kemajuan yang berarti jika kita gagal dalam melahirkan guru-guru yang – kata Pak Natsir – s**a berkorban untuk keperluan bangsanya! (Humas DDII).