05/01/2017
Nutrisi Al-Quran untuk Buah Hatiku
JULY 24, 2012 | HENI
Melepas penat sebentar dari hiruk-pikuk persiapan yudisium. Tiba-tiba jadi ingat buku ‘Nutrisi Al-Quran untuk Buah Hatiku’ yang saya beli 2 tahun lalu. Bisa dibilang ini buku parenting pertama yang saya beli. Membelinyapun tanpa sengaja, saya masukkan keranjang belanjaan saya ketika sedang ‘main-main’ ke Togamas Manyar.
Sebuah perjalanan inspiratif sekaligus unik. Seorang ibu “Gaul” yang pada mulanya nggak pengen punya anak dan nggak kenal islam. Eh…ternayata malah bisa mendidik buah hatinya mencintai Al Quran. Bahkan buah hatinya tersebut berhasil meng-khatam-kannya sebelum umur 10 tahun. Ini kisah nyata loh…! Ga percaya? Ini baca secuil penggalan ceritanya!
Itu salah satu paragraf sinopsis di belakang sampul buku ini. Mungkin sinopsis ini juga yang membuat saya ‘terpaksa’ membawa buku ini pulang.😀
Buku ini menceritakan seorang Ghea yang ‘alergi’ banget dengan anak kecil. Menurutnya memiliki anak hanya akan mengganggu urusan karir, bahkan membuat perempuan tidak bisa berkembang. Namun pandangan itu kemudian berubah sejak tokoh Ghea bertemu dan mengenal lebih dekat kehidupan sahabatnya, Lita.
Lita sosok ibu rumah tangga mengagumkan. Dia berhenti berkarir demi mengurus anak (dan suami tentunya). Lita perhatikan betul nutrisi makanan untuk Hanif, buah hati satu-satunya.
“Pada awalnya para assistant Lita di rumah heran melihat rutinitas si majikan. Banyak banget aturan menyiapkan makan buat Hanif, menyiapkan air mandinya, membuat susu formulaya menyiapkan tempat bermainnya sampai saat memakaikan pakaian setelah Hanif mandi. Semua harus diawali dengan membaca surat Al-Quran, membaca shalawat Nabi atau berzikir Asmaul Husna. Tetapi lama kelamaan mereka terbiasa, karena Lita jarang menyuruh, tetapi meneladani.”
Itu salah satu isi paragraf di BAB 2 yang menceritakan bagaiman seorang ibu (seharusnya) mengurus anak. Selain itu, yang terpenting adalah sosok Lita selalu memperdengarkan CD Murottal Al-Quran untuk Hanif, ketika Hanif tidur, menyusui, saat bermain, ataupun menjelang dan bangun tidur. Ketika menyusui Hanif pun ada ritual khusus, yaitu berwudhu sebelumnya. Alhasil, Hanif tumbuh menjadi bayi yang ‘pengertian’, tidak rewel, dan insyAllah kelak mungkin akan menjadi muslim hebat.
Selain cerita tentang Lita, ada pula cerita tentang Pak Mamat, duda beranak 3 yang memilih untuk berkonsentrasi mengurus 2 putrinya daripada menikah lagi. Pak Mamat mendidik Fatimah dan Siti, putrinya, dalam kehidupan tanpa TV. Iya, tanpa TV. Di rumah Pak Mamat hanya ada radio AM dual band yang jarang berbunyi. Karena itulah mereka tidak terkontaminasi dengan acara-acara TV yang kebanyakan memang kurang patut ditonton. Selain itu, ada aturan yang diterapkan Pak Mamat bagi putri2nya. Tidak ada sarapan jika belum membaca bismillaahirrahmaanirrahiim dengan tepat. Alhasil, putri-putri Pak Mamat tumbuh menjadi anak-anak hebat dan prestatif, serta dua-duanya mampu khatam Al-Quran di usia tujuh dan delapan tahun. Sejak bayi, anak-anak keluarga Pak Mamat tidak kenal imunisasi dan obat-obatan tapi mereka sehat fisik, otak dan jiwanya.
==============================================================================
Pernah tau teori EQ-nya Daniel Goleman? Teori ini mengatakan bahwa keberhasilan hidup diukur dari tingkat EQ seseorang. Teori ini mampu mematahkan teori IQ-nya William Stern dan dapat membuktikan bahwa IQ hanya menyumbang sekita 5-10 % keberhasilan dan kebermaknaan hidup sedangkan EQ menyumbang 80% kesuksesan.
Ada sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi :
“Allah merahmati orangtua yang membantu anaknya berbakti padanya.” “Bagaimana caranya membantu anak untuk berbakti ya Rasulullah?” Sahabat bertanya. Rasul menjawab, “Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya serta tidak pula memakinya.”
Dari hadits ini jelas ada kesesuaian dengan teori EQ yang dikemukakan oleh Goleman. Jika kita memperlakukan anak dengan baik, emosi anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Keadaan emosi berpengaruh penting bagi kegiatan anak, bagi pergaulannya, bagi perkembangan otaknya juga. Karena itulah, memperkenalkan Al-Quran sejak dini, sering meperdengarkan Al-Quran untuk anak sejak dalam kandungan sangat membantu inisiasi perkembangan EQ dan IQ anak. Alfred Tomatis yang melakukan penelitian tentang efek mozart menemukan bahwa janin ternyata mendengar bunyi-bunyian dalam rahim dan suara ibu berfungsi sebagai tali pusat suara bagi bayinya yang sedang berkembang sebagai sumber utama asuhan. Seorang psikolog asal Belanda, Prof. VAnder Hoven, mengumumkan hasil penelitiannya pada tahun 2002 bahwa membaca ayat-ayat suci Al-Quran secara teratur dan rutin ternyata mampu mencegah seseorang dari penyakit-penyakit psikologis.
“Dengan sering memberikan nutrisi Al-Quran, dengan cara memperdengarkan lantunan Al-Quran dan megajari anak sejak dini kesucian Al-Quran, berarti kita sudah menyiapkan proses pembentukan otak janin dan tumbuh kembang otak anak di masa penting 3 tahun pertamnya dengan mencintai Allah SWT. Bayangkan jika semua orang tua melakukan hal ini, Insya Allah akan lahir generasi Qur’ani yang mengedepankan kecintaan pada Allah SWT dan Rasul-Nya”
Quote yang bagus dari tokoh Teh Nia saya rasa pantas menjadi simpulan dari artikel ini.🙂
Selamat mendidik buah hati dengan Al-Quran sejak dini.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” (HR Bukhari)