25/08/2015
Q: Banyak yang mengatakan anak anak IBA bermain tanpa ekspresi. Apakah benar?
A: Tergantung pengertian ekspresi itu apa.
Pengekspresian sebuah lagu datang dari hati. Seseorang yang kaya pengalaman hidupnya, pernah mengalami cinta, putus asa, depresi, sakit, bahagia, perasaan menanti nanti, perasaan dendam, humor, nakal dan sebagainya ketika bermain sebuah lagu yang ditulis komposernya untuk mengekspresikan perasaannya saat itu tentulah klop. Umpama: Liszt menulis Lieberstraum yang artinya lagu cinta. Banyak lagu Rachmaninoff, Bhrams, Beethoven yang melukiskan betapa putus asa dan tidak puasnya mereka. Chopin menulis banyak lagu yang melukiskan betapa hidupnya begitu rapuh (karena waktu itu dia sakit TBC dan belum ada obatnya, dikucilkan orang orang. Dari jarak 20 meter melihat dia langsung lari, hotel tempat dia tinggal dibakar karena takut tertular). Dan sebagainya.
Pengalaman seseorang semakin kaya seiring dengan bertambahnya umur. Jika kita ingin anak anak kita bermain dengan ekspresi yang benar, maka harus tunggu dia pernah mengalami pengalaman pengalaman hidup tersebut baru musik yang dia mainkan bisa menyentuh. Jadi jika demikian? Apakah kita melarang anak anak kita main musik musik yang ekspresinya s**ar? Tentu tidak, jika dia s**a, meskipun ekspresinya tidak sesuai, jika melalui lagu tersebut dia belajar banyak hal. Umpama: Lagu Wedding Day oleh Grieg, yang romantis, seringkali jika dimainkan anak anak, terdengar gegap gempita seperti mars militer. Tetapi anak anak s**a, dan melalui lagu tersebut belajar oktaf lompat lompat, baca grup grup, karakter tanya jawab, dan sebagainya.
Ekspresi yang dibuat buat, misal: di sini dibuat tambah keras, di sini tambah lembut, disini harus dilambatin sedikit, disini begini dll. Tanpa tahu mengapa alasannya adalah musik yang artifisial (seperti bunga palsu). Terdengar bagus di telinga dan terlihat sebagai anak yang rajin, tetapi tidak menyentuh hati.
Kebanyakan ekspresi anak berkembang bagus sekali setelah dia puber. Ekspresi anak anak yang bagus sekali adalah lagu lagu yang cepat, nakal, antusias, lucu, atau untuk anak anak yang sensitif lagu lagu yang melankolis, merdu, dan sebagainya. Kebanyakan bisa terbalik, anak laki laki ketika kecil senangnya lagu yang keras, cepat, seperti militer, perang, kejar kejaran, ketika puber senangnya yang romantis, yang menghanyutkan. Ada juga anak perempuan yang ketika kecil malu dan takut takut, selalu main lagu yang lembut, ketika puber main lagu yang keras, cepat, horor, dan sebagainya. Memang musik itu hidup, dan seiring dengan perjalanan hidup kita, musik itu terus tumbuh.
Ingatlah manusia itu makhluk hidup & bukan benda mati. Seperti tumbuhan, ketika masih kecil & baru mulai tumbuh, jangan langsung dipotong-potong untuk dirapikan, lama-lama menjadi bonsai. Tetapi jika tumbuhannya sudah agak besar, saat itulah kita boleh mulai merapikannya.
Kita memberikan nutrisi yang tepat untuk otak anak kita artinya ketika dia ingin main lagu riang tanpa banyak filosofi kita berikan apa yang dia butuh. Saat itu dia akan berkembang cepat sekali memainkan lagu-lagu yang riang cepat tanpa filosofi. Sebaliknya jika kita berikan lagu-lagu yang lambat, sedih banyak filosofi, dia mungkin merasa bosan dan tidak mau main / latihan piano lagi.Orang orang asia cenderung memakai otak kanan (otak kanan lebih dominan), sehingga tidak heran p**a, ekspresi orang orang asia lebih berwarna dan lebih cepat dikuasai dalam waktu singkat begitu tiba saatnya.