03/06/2026
𝐌𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚 𝐒𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤?
Saya membaca transformasi pendidikan global sebagai teater absurd: kurikulum berubah cepat, tetapi kelas tetap monotone. Data OECD PISA 2022 menunjukkan 49 persen siswa tidak mencapai literasi dasar di banyak negara; ini bukan krisis bakat, melainkan krisis cara kita mengenalinya.
Saya bertolak pada gagasan Howard Gardner, 𝑀𝑢𝑙𝑡𝑖𝑝𝑙𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑙𝑙𝑖𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑠 (1983), yang menegaskan kecerdasan itu jamak, bukan tunggal. Ironinya, sekolah kita masih memperlakukan siswa seperti produk lini perakitan—satu ukuran untuk semua.
Riset World Economic Forum, 𝐹𝑢𝑡𝑢𝑟𝑒 𝑜𝑓 𝐽𝑜𝑏𝑠 (2023), memprediksi 44 persen keterampilan berubah dalam lima tahun; namun asesmen kita terpaku pada hafalan dan kepatuhan. Saya melihat paradoks: kita memuja kreativitas, tetapi menghukum perbedaan.
Dalam film 𝐷𝑒𝑎𝑑 𝑃𝑜𝑒𝑡𝑠 𝑆𝑜𝑐𝑖𝑒𝑡𝑦 (1989), John Keating mengajak siswa berdiri di meja untuk melihat dunia dari sudut baru. Saya bertanya: kapan guru kita terakhir diizinkan naik meja—metaforis—tanpa takut dilaporkan?
Data UNESCO, 𝐺𝑙𝑜𝑏𝑎𝑙 𝐸𝑑𝑢𝑐𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑀𝑜𝑛𝑖𝑡𝑜𝑟𝑖𝑛𝑔 (2024), mencatat kesenjangan akses dan kualitas masih tajam, terutama di negara berkembang. Ini bukan sekadar soal anggaran, melainkan desain pembelajaran yang menyempitkan potensi anak menjadi angka.
Kita sering mengulang kisah Einstein yang lambat berbicara sebagai hiburan, padahal itu sindiran telak. McKinsey pada 2021 menemukan pendekatan sosial emosional dapat meningkatkan capaian hingga 11 persen, sebuah bukti bahwa manusia bukan mesin kognitif semata.
Karena itu saya mengajukan keberanian yang terasa sederhana namun radikal, yakni merombak asesmen menjadi portofolio lintas kecerdasan. Proyek interdisipliner dan eksplorasi personal harus menjadi arus utama, bukan sisipan kosmetik kurikulum.
Bagi saya sekolah adalah taman yang terlalu lama diseragamkan menjadi lapangan rumput. Kita menyiram yang sama, memotong yang berbeda, lalu heran mengapa imajinasi mengering.
Saya melihat terlalu banyak anak kehilangan rasa ingin tahu karena dilatih untuk benar, bukan untuk ingin tahu, sementara dunia justru berubah melalui pertanyaan yang berani dan pencarian yang tak selesai.
Jika masa depan menuntut keberagaman kecerdasan, masihkah kita bertahan pada mitos peringkat dan keseragaman, atau berani mengubah cara kita mendidik agar lebih manusiawi dan adil mulai hari ini?
Selengkapnya baca:
Transformasi pendidikan tinggi di China dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika yang tidak lagi dapat dijelaskan hanya sebagai reformasi administratif. Ia lebih menyerupai reposisi epistemi . . .