Darul Qur'an Al irsyadiah

Darul Qur'an Al irsyadiah pondok pesantren Lembaga Pendidikan Islam

Darul Qur'an Al irsyadiah mengucap Kan .Selamat Hari Santri Nasional ( HSN ) Ke 5.       Santri unggul,Indonesia makmur
19/10/2019

Darul Qur'an Al irsyadiah mengucap Kan .
Selamat Hari Santri Nasional ( HSN ) Ke 5.

Santri unggul,Indonesia makmur

5 Manfaat Menyekolahkan Anak di Pondok Pesantren.Setiap orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sukses di m...
18/09/2019

5 Manfaat Menyekolahkan Anak di Pondok Pesantren.

Setiap orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sukses di masa depan. Bukan hanya sukses dari segi material, tetapi juga dapat sukses di kehidupannya sehari-hari. Menjadi anak yang berbakti, anak yang baik, dan anak yang tidak mudah putus asa dalam kehidupannya. Poin ini juga menjadi dasar bagi orangtua untuk memilih sekolah yang tepat untuk anak mereka.
Salah satu alternatif sekolah yang sedang banyak diminati adalah sekolah pondok pesantren. Inilah lima manfaat sekolah pondok pesantren yang baik untuk anak-anak. Ada apa saja?

1. Menanamkan nilai-nilai agama Manfaat terpenting dari sekolah di pondok pesantren ini adalah menanamkan nilai-nilai agama untuk anak-anak. Maraknya kasus pergaulan bebas saat ini bisa menjadi pemicu utama bahwa nilai-nilai agama sangatlah penting untuk kehidupan. Apalagi tidak ada agama yang mengajarkan tentang keburukan.

2. Mendidik kemandirian
Di dalam pondok pesantren, anak-anak akan dididik untuk mengatur keuangannya dan kehidupannya sendiri di asrama. Mulai dari mencuci baju, uang jajan, membersihkan kamar, piket kamar mandi atau piket mengambil makanan. Kegiatan sehari-hari yang biasanya dibantu oleh kedua orangtua, harus mereka jalani sendiri di asrama. Nanti ketika hidup merantau, tentunya mereka tidak akan kesulitan lagi untuk menjalani kehidupannya sehari-hari.

3. Mengajarkan hidup sederhana
Pondok pesantren juga mengajarkan kepada anak-anak untuk hidup dengam sederhana. Dengan memakai pakaian serta atribut lainnya yang tidak menampakkan kemewahan, akan tetapi tetap terlihat sopan dan layak. Mengajarkan untuk makan dengan lauk apa adanya dan uang jajan yang secukupnya. Bukan berarti pelit lho ya.

4. Membangun rasa percaya diri
Manfaat lainnya adalah membangun rasa percaya diri anak. Dengan bersekolah di pondok pesantren, maka anak akan bertemu dengan teman-teman mereka lebih sering daripada di sekolah formal biasa. Tentunya tanpa campur tangan dari kedua orang tuanya. Mereka secara perlahan akan melatih diri untuk percaya diri di depan teman-temannya dan orang lain.

5. Belajar tentang arti kehidupan
Sekolah pondok pesantren ini juga mengajarkan kepada anak-anak untuk lebih memahami tentang arti sebuah kehidupan. Apa yang mereka inginkan tidak semuanya dapat terpenuhi, atau bahkan orang lain juga bisa tidak sependapat dengan mereka. Banyak belajar berbagi dengan sesama manusia, baik yang mampu atau kurang mampu.

Itulah lima manfaat yang akan orangtua dapatkan dengan menyekolahkan anak di pondok pesantren. Semoga dapat menjadi pertimbangan untuk kebaikan anak.

Malam penutupan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) 1441 H,Di hadiri oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur'an Al irsyadi...
14/09/2019

Malam penutupan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) 1441 H,
Di hadiri oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur'an Al irsyadiyah KH Salman arsyad S.Q.

Upacara Pertama Santri Setelah Liburan LebaranPP. Darul Qur'an Al-Irsyadiyah02 Juli 2019Mensango - Tabir Lintas. Rantaup...
02/07/2019

Upacara Pertama Santri Setelah Liburan Lebaran
PP. Darul Qur'an Al-Irsyadiyah

02 Juli 2019
Mensango - Tabir Lintas. Rantaupanjang, Jambi, Indonesia

27/06/2019

Darul Qur'an Al irsyadiyah

PONPES DARUL QUR'AN AL-IRSYADIYAH MENSNGO.Bagi sanak sudaro yang ingin melanjutkan pendidikan anak atau adiknyo silahkan...
18/06/2019

PONPES DARUL QUR'AN AL-IRSYADIYAH MENSNGO.
Bagi sanak sudaro yang ingin melanjutkan pendidikan anak atau adiknyo silahkan daftar segera.

Alamat di desa mensango
kecamatan tabir lintas
Kabupaten merangin..jambi

Program inti : Tahfizul Qur'an
: Kitab kuning
: Dll
Untuk lebih lanjut silahkan survei lansng kesini.

Biografi SingkatKyai Faqih lahir pada tanggal 2 Mei 1932 di Dusun Mandungan Desa Widang, Tuban. Saat kecil ia lebih bany...
07/06/2019

Biografi Singkat
Kyai Faqih lahir pada tanggal 2 Mei 1932 di Dusun Mandungan Desa Widang, Tuban. Saat kecil ia lebih banyak belajar kepada ayahandanya sendiri, KH Rofi’i Zahid, di Pesantren Langitan. Ketika besar ia sempat nyantri pada Mbah Abdur Rochim di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Kyai Faqih pernah tinggal di Makkah, Arab Saudi. Di sana ia belajar kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahnya Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Setiap kali tokoh yang amat dihormati kalangan kiai di NU itu berkunjung ke Indonesia, selalu mampir ke Pesantren Langitan.
Keberadaan kyai Faqih tidak bisa lepas dari keberadaan pesantren Langitan di Tuban, Jawa Timur. Melalui pesantren tua di Jawa Timur yang didirikan tahun 1852 oleh KH Muhammad Nur, asal Desa Tuyuban, Rembang, Langitan itulah kyai Faqih mengabdikan dirinya di jalan dakwah. Pesantren Langitan merupakan pesantren tempat pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan pernah nyantri.
Kiai Faqih merupakan generasi kelima yang memimpin Pesantren Langitan sejak 1971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid yang meninggal dunia karena usia lanjut. Kiai Faqih didampingi KH Ahmad Marzuki Zahid, yang juga pamannya.

Di mata para santrinya, Kiai Faqih adalah tokoh yang sederhana, istiqomah dan alim. Ia tak hanya pandai mengajar, melainkan menjadi teladan seluruh santri. Dalam shalat lima waktu misalnya, ia selalu memimpin berjamaah. Demikian p**a dalam hal kebersihan.
Meski tetap mempertahankan ke-salaf-annya, pada era Kiai Faqih inilah Pesantren Langitan lebih terbuka. Misalnya, ia mendirikan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, mendirikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Dalam hal penggalian dana, ia membentuk Badan Usaha Milik Pondok berupa toko induk, kantin, dan wartel.
Kesederhanaan kyai Faqih sangat nampak dari tempat tinggalnya. Kyai Faqih tinggal di sebuah rumah kecil terbuat dari kayu berwarna janur kuning, sederet dengan asrama santri dan rumah pengasuh lain.
Kyai Faqih tetap tinggal di rumah kayu itu meskipun ada bangunan berlantai dua di belakang rumah itu. Gedung berlantai dua itu untuk tinggal putri-putrinya. Kyai sendiri tetap memilih tinggal di rumah kayu berukuran sekitar 7×3 meter.
Lebih dari itu lagi, ayah 12 orang anak buah perkawinannya dengan Hj Hunainah ini juga mengarahkan pesantrennya agar lebih dekat dengan masyarakat. Di antaranya ia mengirim da’i ke daerah-daerah sulit di Jawa Timur dan luar Jawa. Setiap Jum’at ia juga menginstruksikan para santrinya shalat Jum’at di kampung-kampung. Lalu membuka pengajian umum di pesantren yang diikuti masyarakat luas.

Di kalangan NU kyai Faqih dikenal sebagai kiai khos atau kiai utama, meskipun kyai Faqih sendiri menolak disebut sebagai kyai khos atau kyai utama. Kyai Faqih dianggap mempunyai wawasan dan kemampuan ilmu agama yang luas, memiliki laku atau daya spiritual yang tinggi, mampu mengeluarkan kalimat hikmah atau anjuran moral yang dipatuhi, dan jauh dari keinginan-keinginan duniawi. Kiai Faqih kerap jadi rujukan utama di kalangan Nahdliyin, terutama menyangkut kepentingan publik.

Rabu 05/06/2019...        Kami beluarga besar ALUMNI Darul Qur'an Al irsyadiah (IKA),Mengucap kan Selamat Hari Raya 'Idu...
05/06/2019

Rabu 05/06/2019...

Kami beluarga besar ALUMNI Darul Qur'an Al irsyadiah (IKA),
Mengucap kan Selamat Hari Raya 'Idul Fitri 1440 H,

MINAL AIDZIN WAL FAIZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN....

Rahasia Kesaktian Tongkat Sunan Bonang Ubah Semua Benda Jadi Emas April 17, 2018Rahasia Kesaktian Tongkat Sunan Bonang U...
02/06/2019

Rahasia Kesaktian Tongkat Sunan Bonang Ubah Semua Benda Jadi Emas
April 17, 2018
Rahasia Kesaktian Tongkat Sunan Bonang Ubah Semua Benda Jadi Emas – Sunan Bonang, salah satu anggota Walisongo / Walisembilan memang dikenal sebagai wali yang istimewa. Mengapa tidak? Karena beliaulah seorang brandal perampok Lokojoyo atau Raden Said bisa masuk Islam hingga mendapatkan karomah wali dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Ya, Sunan Bonang adalah Guru dari Sunan Kalijaga yang kala itu awal pertemuannya adalah sebagai perampok. Raden Said ingin merampok Tongkat Sunan Bonang yang berlapis emas. Namun ternyata karomah Sunan Bonang yang satu itu jauh lebih hebat dari apapun.

Tongkat Sunan Bonang memang sangat sakti, beliau bahkan bisa mengubah benda apa saja menjadi emas berlian. Tongkat tersebut berlapis emas, dan membuat siapa saja tergiur untuk memiliki tongkat sakti itu termasuk Raden Said. Awal pertemuan mereka adalah di Hutan. Melihat Tongkat berlapis emas, tentunya Raden Said ingin mengambil paksa tongkat tersebut dari tangan Sunan Bonang. Dengan sekali tunjung buah kolang kaling yang ada di hadapan Sunan Bonang, seketika itu p**a buah kolang kaling pun berubah menjadi segerombolan emas.

Mengapa Tongkat Sunan Bonang bisa mengubah Kolang Kaling Jadi Emas?

Ternyata, kesaktian Tongkat Sunan Bonang terletak pada hati sang Sunan yang memang sangat suci, ketaatan, keimanan dan ketaqwaan Sunan Bonang pada Allah SWT sangatlah luar biasa. Dan ini membuat beliau dikaruniai ALLAH berupa karomah. Karomah yang bisa mengubah apa saja menjadi emas. Andaikata Tongkat sakti itu dipegang selain Sunan Bonang tentu saja serta merta kekuatannya akan hilang. Tongkat itu tak lagi bisa mengubah benda menjadi emas.

Melihat kesaktian sang Sunan melalui Tongkat Sunan Bonang, seketika itu juga Raden Said menyatakan bahwa dirinya siap menjadi murid sang Sunan. Sunan Bonang memang tak pernah berhenti berdzikir kepada Allah. Karena ibadah dzikir beliau inilah yang membuat Allah menurunkan rof rof satir emas dari langit ke tujuh kepada Sunan Bonang.

Selain tongkat Sunan Bonang, sebenarnya hati sang Sunan itulah yang mampu mengubah segalanya jadi emas. Karomah yang sangat berharga bagi beliau adalah emasnya budi pekerti, adab, tata krama terhadap Allah dan terhadap sesama makluk Allah. Karomah ini yang sering kita lupakan dari sosok Aulia Sunan bonang dan wali songo lainnya.

Karena kita seringkali terpedaya dan heran kepada karomah lahir, padahal para wali tidak berbangga atas itu semua. Para Wali hanya pada situasi-situasi tertentu mengeluarkan karomahnya, misalnya hanya pada waktu terdesak atau untuk media dakwah islamiah. Contohnya untuk membuat sang brandalan Raden Said menjadi manusia yang tunduk dan taqwa pada Allah SWT.

Itulah kehebatan Tongkat Sunan Bonang yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk anda. BARAKALLAH.

HARI INI 15/04/2019    Darul Qur'an Al irsyadiyah kembali mewisuda santri nya,kali ini adalah angkatan ke 9 (sembilan) T...
15/04/2019

HARI INI 15/04/2019

Darul Qur'an Al irsyadiyah kembali mewisuda santri nya,kali ini adalah angkatan ke 9 (sembilan) Tahun 2019.

Selamt dan Sukses kepada Angkatan ke IX...

PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA'BANDalam kitab Mãdzã fī Sya’bãn, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Mãliki menyebutkan ti...
09/04/2019

PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA'BAN

Dalam kitab Mãdzã fī Sya’bãn, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Mãliki menyebutkan tiga peristiwa penting yang berimbas pada kehidupan beragama seorang muslim.

1. Peralihan Kiblat.
Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban.
Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nishfu Sya’ban.

Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu s**ai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

2. Penyerahan Rekapitulasi Keseluruhan Amal kepada Allah ﷻ.
Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah ﷻ.
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad ﷺ.

“Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”

Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab,
“Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban.
Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah ﷻ.
Dan aku s**a ketika amalku diserahkan kepada Allah ﷻ, aku dalam keadaan puasa.”

Penyerahan amal yang dimaksud dalam hal ini adalah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun, menurut Sayyid Muhammad Alawi, ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah ﷻ selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan.
Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu.

3. Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah ﷺ.
Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat untuk
Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat.
Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan.
Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib-nya, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa
ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّـدِنَا مُحَمَّدْ

Allãhumma Shalli 'Alã Sayyidinã Muhammad, Wa'alã āli Sayyidinã Muhammad.



Sumber :
Kitab Mãdzã fī Sya’bãn
Karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Mãliki Al-Hasani

Ini 5 Sikap Orangtua Santri yang Bisa Menyebabkan Anaknya Gagal di PesantrenKalau jaman dahulu, masih banyak orang yang ...
08/04/2019

Ini 5 Sikap Orangtua Santri yang Bisa Menyebabkan Anaknya Gagal di Pesantren

Kalau jaman dahulu, masih banyak orang yang menuntut ilmu di pesantren dengan kemauan dan tekad sendiri. Para orangtua hanya mampu mendukung dengan doa restu, sedangkan si anak harus mencari bekal sendiri. Muncullah kelompok santri yang disebut santri kasab atau santri pekerja. Mereka belajar dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan di pesantren.

Lain dulu lain sekarang. Karena perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pergaulan anak semakin mengkhawatirkan para orangtua. Sehingga demi menyelamatkan anak dari pengaruh buruk pergaulan, dan agar lebih mudah dibentuk menjadi anak saleh, para orangtualah yang berinisatif memondokkan putra-putrinya ke pesantren.

Sehingga orangtua harus menerapkan berbagai cara agar si anak mau mondok. Demi anaknya tetap di pesantren, terkadang mereka yang anaknya sudah melewati tingkat kenakalan yang membuat pengurus angkat tangan, masih saja bersikeras agar anaknya tetap di pesantren.

Nah, terkait para orangtua yang bersemangat memondokkan anaknya, kelima sikap berikut ini layak diperhatikan. Karena, menurut pengalaman yang saya dengar dari para ustaz dan pengasuh pesantren, orangtua yang memiliki sikap tersebut anaknya justru kebanyakan tidak sukses menempuh pendidikan di pesantren. Berikut 5 sikap itu:

1. Terlalu Memanjakan Anak

Sebagian orangtua, bahkan di antaranya adalah alumni pesantren, terlalu memanjakan anaknya dengan memberi uang bekal berlebihan. Bagi alumni pesantren, khususnya yang dulunya di pesantren mengalami masa-masa sulit, hal itu dipicu keinginan agar anaknya tidak mengalami penderitaan seperti saat mereka dulu nyantri. Sebaliknya, bagi orangtua yang kaya dan bukan alumni pesantren, hal itu karena mereka ingin anaknya lebih tenang belajar.

Dalam sebagian kasus memang santri yang didukung dana berlebih bisa lebih tekun belajar. Namun sebatas yang saya jumpai di pesantren dan kata para santri senior, santri anak orang kaya biasanya justru kurang tekun belajar. Mereka terlena dengan nikmatnya punya uang banyak. Di pesantren, membelanjakan uang lebih leluasa ketimbang saat di rumah. Setiap bulan, “gajian” sudah pasti. Kalau di rumah, harus meminta dulu kalau ingin beli ini dan itu.

2. Terlalu Kritis terhadap Kebijakan Pesantren

Ada loh orangtua yang tidak terima kalau anaknya terkena hukuman karena pelanggaran di pesantren. Banyak bahkan. Kebijakan pengasuh dan pengurus pesantren mereka kritik habis-habisan. Seperti supporter bola yang mengomentari pertandingan, orangtua model ini menyodorkan berbagai usulan seolah ia paling tahu cara mendidik santri.

Kadang ia membanding-bandingkan satu pesantren dengan pesantren lainnya di hadapan kiai atau pengurus pesantren yang mendidik anaknya. “Kalau di pesantren A itu begini, di pesantren B itu begitu, harusnya pesantren sini bisa seperti mereka.” Sebenarnya, pengasuh maupun pengurus kalau menghadapi orang macam ini menahan diri agar tidak kelepasan omong seperti begini: “Ya sudah anak bapak pondokkan ke sana saja!”

Menjaga perasaan pengasuh dan pengurus pesantren perlu diperhatikan para orangtua. Kalau tidak setuju dengan satu pesantren, kurang puas dengan cara mendidiknya, Anda bisa pindahkan ke pesantren lain, tapi dengan cara yang baik dan tidak perlu merendahkan, meremehkan, atau membandingkan satu pesantren dengan lainnya di hadapan pengasuhnya dengan nada mengkritik.

3. Kurang Mengerti Kenakalan Anak

Ada juga sebagian wali santri yang anaknya mengalami hukuman terberat berupa pemulangan atau pencabutan status anak didik, justru membela anaknya habis-habisan. Mereka merasa paling mengerti tingkah anaknya dan tidak terima saat pesantren memulangkan anaknya karena suatu kasus. Mereka beranggapan bahwa pesantren tidak becus membenahi sikap anaknya. Kadang malah ada yang membela sang anak dan mengatakan anaknya di rumah selalu bersikap baik.

Pesantren, sebagaimana umumnya lembaga pendidikan, ada saat di mana merasa sudah tidak mampu menangani kenakalan salah satu santri. Dalam kondisi ini, demi menghindari efek penularan kenakalan, maka keputusan paling umum adalah memulangkan santri yang sudah parah itu ke orangtuanya.

Kalau Anda tanyakan, bukankah pesantren itu ibarat bengkel moral yang siap mendandani kerusakan santri? Jawabnya, bengkel motor atau mobil saja ada kalanya angkat tangan terhadap kerusakan kendaraan yang benda mati, apalagi pesantren yang membengkeli makhluk hidup.

4. Kurang Perhatian

Salah satu sikap orangtua yang mendorong kegagalan santri adalah kurang perhatian terhadap perkembangan atau kemuduran anaknya. Orangtua model ini tak pernah menanyakan pada anaknya sudah sampai tingkat apa madrasah diniyahnya? Sudah selesaikah tugas hafalannya, dll. Mereka hanya berpikir bagaimana membekali anaknya dengan uang yang cukup.

Maka ketika terbongkar fakta bahwa anaknya di pesantren ternyata kurang giat belajar dan cenderung melanggar aturan, mereka terkejut. Sebagian lalu bersikap seperti poin nomor 3. Sebagian yang lain merasa bahwa ternyata pesantren bukan tempat memperbaiki moral atau akhlak, tapi tempat bersemainya perangai buruk yang menular. Ia beranggapan perubahan buruk pada anaknya adalah karena ketidakmampuan pesantren mendidik santri.

5. Terlalu Memaksakan Kehendak

Saat ini kebanyakan anak mondok bukan murni keinginan sendiri. Dorongan orangtua bahkan paksaan merupakan latar belakang paling umum bagi santri. Masalahnya, orangtua yang terlalu memaksakan kehendak agar anaknya belajar di pesantren ternyata justru membuat si anak tertekan.

Akhirnya saat di pesantren justru melampiaskannya dengan cara bertindak ses**a hati. Repotnya, paksaan kepada anak agar nyantri di pesantren biasanya dikombinasikan dengan poin pertama, memanjakan anak dengan bekal berlebih.


Memang, untuk memasukkan anak agar belajar di pesantren harus ada paksaan, tetapi perlu diperhatikan agar paksaan itu dengan cara sehalus mungkin. Mungkin juga perlu mengimingi-imingi si anak dengan hadiah dan sebagainya, namun jangan sampai terjerumus memanjakannya di pesantren.

Kalau sudah buntu, si anak memang tidak bisa di pesantren dan mempunyai bakat keahlian di luar pesantren, mintalah ia agar mau membantu Anda memenuhi kewajiban membekali anak dengan ilmu agama dengan cara mencicipi belajar pesantren. Mintalah ia untuk mondok sebentar saja. Mungkin nanti setelah di pesantren, justru ia menemukan sisi nikmatnya dan malah betah di sana.

Sebagai catatan, kelima sikap tersebut tidak berpengaruh terhadap santri yang memang punya keinginan kuat dari dirinya sendiri untuk belajar di pesantren. Mau bekalnya sedikit atau banyak, diperhatikan atau tidak, mereka tetap tekun belajar. Semoga anak Anda yang semula terpaksa, setelah masuk pesantren bisa menemukan motivasi dari dirinya sendiri dan menjadi santri seperti ini.

Penulis: Nasrudin
Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta.

Address

Jalan Lintas Sumatra Km 20 Desa Tabir Lintas 37353
Jambi
MENSANGO

Telephone

+6281274380843

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Darul Qur'an Al irsyadiah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share