Pondok Pesantren Al-Jauhar

Pondok Pesantren Al-Jauhar Ini pun akan berlalu

Permanently closed.
05/08/2019
Monggo yg mau kuliah di jember tinggal di pondok pesantren.
29/07/2019

Monggo yg mau kuliah di jember tinggal di pondok pesantren.

05/08/2018

Kisah Sebantal Berdua Santri dan Kiai

Santri muda bernama Ibrahim itu datang jauh dari pelosok Sumatera Selatan ke Cirebon. Menemui seorang Kiai di Buntet Pesantren yang disebut-sebut oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sebagai penjaga langit tanah Jawa. Kiai Abbas namanya.

Kiai Abbas menatap tajam pada sosok di depannya. Menganggukkan kepala tanda beliau berkenan menerima Ibrahim.

“Saya tidur dimana, Pak Kiai?” tanya Ibrahim salah tingkah melihat Sang Kiai masih terus menatapnya.

‘Ya di rumah ini. Itu kamarmu.”

Ibrahim terkejut. Santri lainnya diarahkan menuju pondok, sementara ia malah diminta menetap di rumah Sang Kiai.

Maka hari-hari selanjutnya, Ibrahim menerima gemblengan berbagai ilmu khusus langsung dari Kiai Abbas. Belajar langsung bertatap muka dengan Sang Kiai adalah anugerah luar biasa.

Tapi keberuntungan Ibrahim tidak hanya sampai di sana. Sebagai Kiai NU yang disegani di wilayah Jawa Barat, Kiai Abbas sering bepergian ke sejumlah wilayah. Ibrahim dibawanya turut serta.

Berpuluh-puluh tahun kemudian Ibrahim mengenang bahwa suatu ketika ia mendampingi Kiai Abbas dalam suatu pertemuan tingkat tinggi para ulama NU di Jawa Tengah. Sebagai santri kesayangan, Ibrahim bukan saja melayani keperluan Sang Kiai selama dalam perjalanan, tapi juga turut duduk dan mengikuti berbagai pembahasan.

Dalam perjalanan p**ang, tak hentinya Kiai Abbas memuji kehadiran seorang Kiai dari Jombang yang sangat dikaguminya: Kiai Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri dan penggerak roda organisasi NU. Ibrahim mengenang bahwa Kiai Abbas terus menerus menceritakan diskusinya dengan Kiai Wahab. Kiai Abbas tak bisa menutupi kekagumannya betapa hebatnya pemikiran Kiai Wahab yang disampaikan dalam pertemuan para Kiai tadi.

Ibrahim penasaran. “Kiai Wahab itu yang mana yah?”

Kiai Abbas tersenyum, “Yang semalam tidur berbagi bantal denganmu. Itulah Kiai Wahab.”

Ibrahim terkejut. Tidak menyangka bahwa sosok sederhana yang semalam berbagi bantal (yang satu meletakkan kepala di atas bantal menghadap ke utara, dan satunya menghadap ke selatan) ternyata itulah Kiai yang tengah diceritakan Kiai Abbas dengan rasa hormat dan kagum.

Pertemuan para ulama NU memang dilakukan dengan sederhana. Selepas diskusi panjang, para Kiai beristirahat dengan alas tikar seadanya dan berbagi bantal. Satu-satunya kemewahan adalah tumpukan kitab kuning dan argumentasi yang dilakukan para Kiai saat berdiskusi. Selebihnya sederhana. Itu dulu.

Sosok Kiai Wahab Chasbullah, penerus Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari ini, merupakan Kiai yang luar biasa baik kedalaman ilmunya dan keaktifannya berorganisasi. Kecintaannya pada tanah air melegenda dalam syair Ya Lal Wathan.

Santri muda Ibrahim kelak mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) khusus Pria tahun 1971 dan Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Khusus Perempuan tahun 1979 dan sekaligus sebagai Rektornya, serta dua puluh tahun memimpin Komisi Fatwa MUI (1980-2000) dengan segala kontroversinya. Gelarnya sudah panjang saat itu: Prof KH Ibrahim Hosen, LML. Makna tatapan tajam Kiai Abbas saat menerimanya sebagai santri khusus tempo doeloe terjawab sudah.

Kelak, pada Muktamar NU ke 25 di Surabaya tahun 1971, Mbah Wahab Chasbullah sudah sepuh dan sakit namun Kiai Bisri Syansuri tidak mau menggantikan beliau selama Mbah Wahab masih ada. Maka terpilihlah Mbah Wahab kembali menjadi Rais Am. Yang menarik, dalam perumusan nama-nama pengurus, Mbah Wahab mengirim utusan meminta kesediaan Ibrahim Hosen sebagai salah seorang Rais Syuriah PBNU untuk turut membantu beliau.

Memori sebantal berdua kembali hadir di benak Ibrahim Hosen.

Namun beberapa hari kemudian Mbah Wahab meninggal dunia. Sehingga Mbah Bisri yang naik menggantikan, dan formasi kepengurusan berubah. Ibrahim Hosen dengan tawadhu’ menolak masuk dalam kepengurusan dan memilih mencurahkan waktu sebagai Rektor PTIQ.

Merasa mendapat keberkahan dari tinggal dan belajar khusus dengan Kiai Abbas Buntet, Abah saya, Prof KH Ibrahim Hosen LML, menceritakan ulang kisah sebantal berdua dengan Kiai Wahab Chasbullah kepada saya lebih dari 30 tahun yang lalu. Berkah...berkah...berkah!

Demikianlah kisah sebantal berdua antara seorang santri Buntet dengan kiai besar NU dari Tambakberas, Jombang.

Alhamdulillah untuk kedua kalinya saya sempat ‘sowan’ ke makam Kiai Wahab Chasbullah beberapa waktu lalu. Meneruskan tradisi penghormatan santri pada para Kiai. Lahumul fatihah...

Tabik.

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand
dan Dosen Senior Monash Law School

20/05/2018

FITNAH, GHIBAH DAN NAMIMAH MENEMUKAN LAHAN SUBUR DI MEDIA SOSIAL

Tiga perilaku negatif dalam judul di atas adalah senjata ampuh untuk meruntuhkan kehormatan dan harga diri seseorang. Ada banyak tokoh yang tidak mempan dibunuh dengan senjata tajam namun bisa roboh dengan tiga senjata bermodalkan mulut itu. Kalau mada masa dulu, dibutuhkan banyak tenaga dan waktu untuk memfitnah, mengghibah dan menanimah, saat ini hanya butuh beberapa menit dengan menarikan jemarinya di keyboard media sosialnya.Dengan segera, fitnah, ghibah dan namimah itu menyebar.

Dengan tiada sadar, ada banyak orang yang termakan oleh senjata-senjata itu dengan semakin menggemari isu-isu yang tidak jelas dan ikut men-viralkan seviral-viralnya. Samakah dosa sang menebar fitnah dan penyebarnya? Pertanyaan ini tak perlu dijawab karena hati nurani kita pasti sudah menjawabnya sendiri. Masalahnya bukan lagi masalah hukum, melainkan masalah manfaat dan madlaratnya. Umat Islam harus cerdas dalam konsiderasi masalah yang terakhir ini.

Saatnya kita kini berpikir tentang ummat sebagai keseluruhan, bukan sebagai pribadi saja. Kemaslahatan ummat harus benar-benar menjadi perhatian utama. Tanpa begini, maka kesatuan dan kemaslahatan ummat akan mudah tercabik dan terceraiberaikan. Berhati-hatilah menulis dan menyebarkan status atau berita. Tanyakan dulu apa ada muatan kemaslahatan di dalamnya ataukah justru kemadlaratan.

Bukan tidak mungkin bahwa kita sebenarnya tengah diadudomba,namun kita tidak pernah sadar. Ceklah kebenaran berita dan tabayyun lah sebelum dijadikan sebagai bahan berpikir dan berkeyakinan. Tidak semua hati tulus sebagaimana tidak semua lisan lurus. Tidak semua berita itu benar sebagaimana tidak semua cerita itu nyata. Cendas dan pintarlah dalam beragama dan bermasyarakat. Jangan mau diadodomba dan diceraiberaikan. Tolak fitnah, ghibah dan naminah, maka kita akan senantiasa kuat dalam persatuan. (Achmad Imam Mawardi)

07/06/2017

MUTIARA YANG DIBUANG..

Sepasang suami isteri kaya masuk rumah dan mereka mendapati ruang makan yang kotor dann tercium aroma pesing.
Sementara di sudut meja makan nampak ibu tua sedang berusaha keras untuk bisa menyapu.

Dengan suara keras membentak ibu tua itu.
Suami : Ini pasti ulah ibu, kan?
Ibu ngompol di lantai ya? Lihat tuh, meja kotor dgn makanan yg tercecer, lantai juga ( marah n geram ) Waduuh, ibu...ibu !!
Ini rumah atau gudang ?

Istri : Sudahlah pak, jgn bentak ibu seperti itu, kasian, ibu kan sudah tua
Suami: Tidak bisa begini terus menerus. Kalau tiba² ada tamu yg datang, apa jadinya? Sebaiknya esok kita bawa ibu ke panti jompo. Saya akan bawa !
Istri: Jangan pak! Itu kan ibumu, masa' dibawa ke panti jompo pak?

Setelah ibu tua itu dibawa ke panti jompo, si suami benahi kamar ibunya.
Dibawah kasur ditemukan sebuah buku lusuh dgn kertas yg agak kuning kusam.
Dia tertarik krn koq ada foto dirinya sejak kecil dan remaja, di halaman depan bertuliskan judul buku :
"Putraku buah hatiku"

Dia duduk lesu dan mulai membaca tulisan ibunya itu.
Diawali hari dan tgl lahir dia. "Aku melahirkan putra, biar terasa sakit n mandi darah, aku bangga, bisa punya anak"
Ya, aku bangga bisa berjuang tanpa suami yg mendahuluiku. Aku rawat dgn cinta, aku besarkan dgn kasih, aku sekolahkan dgn airmata, aku hidupi dia dgn cucuran keringat.

Kuingat, ketika kubawa ke klinik utk imunisasi, diatas angkot, dia nangis lalu kubuka kancing blus dan susui dia, aku tak malu, bahkan tiba² dia kencingi aku, biarlah. Tiba² dia batuk kecil, muntah n basahi rokku. Hari itu terasa indah bagiku, biarpun aku basah oleh kencing n muntahannya, aku tersenyum bangga sekali.
Kejadian itu terulang beberapa kali. Aku tak peduli apa kata org diatas angkot, asalkan putraku bertumbuh sehat. Itu yg utama bagiku.

Sambil baca, airmatanya mulai meleleh turun, hati terasa perih, dada sesak.
Tiba² dia berteriak keras, meraung "Ibuuu...ibuu.."!! Sambil berdiri, setengah berlari ke garasi.

Istrinya kaget lihat ulah suaminya dan bertanya : "Kenapa pak, ada apa?"
Terisak dia jawab : "Aku hrs bawa kembali ibuku".
Tiba² telpon berdering, diterima istrinya, lalu....
"Mohon ibu dan bapak segra dtg di panti sekarang ya"

Mereka buru² ke panti, saat masuk, nampak tubuh tua ibu sedang diperiksa dokter.
Si suami bertriak histeris sambil menangis "Ibuuu"! Ibunya lemah berusaha memeluk kepala anaknya seraya berbisik sendu "Anakku...ibu bangga punya kamu, seluruh cinta kasih hanya buat kamu, nak... Maafkan ibu, i...ibu sa...yang..padamu!" Sang ibupun meninggal.

Anaknya meraung keras menangis "Ibuu....ibuu.... aku minta ampun buu.... aku durhaka sama ibuu.. ampun...ampuni aku bu. Ibuu...jangan tinggalkan aku bu. Anak macam apa aku ini, ampuni aku buu.."

Sobatku, masih adakah ibu dan ayah disisimu? Syukur ! Nilai apa yg terbersit dari kisah ini? Ingatlah Sobat :
> kegeraman mengantar kita "memeluk dosa"
> tindakan bodoh, membuat kita "merangkul durhaka"
> sikap ego, mendorong kita "mendekap nista"
> sesal yg terlambat, menarik kita "bergelimang keperihan"

Berpikirlah arif, bertindak dengan bijak, berucaplah kasih, hiduplah penuh hikmat.
Tuhan mengasihi dan memberkati .. 🙏🙏

Semoga semua kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan lancar serta dapat mempererat jalinan Silaturahmi.
22/03/2017

Semoga semua kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan lancar serta dapat mempererat jalinan Silaturahmi.

10/09/2016

RENUNGAN SORE
Sewaktu perang Uhud berkecamuk, org2 muslim banyak yg menjadi syuhada, Rasulullah SAW terluka, gigi geraham beliau patah, bibir bawahnya sobek, dahi dan keningnya yg mulia terluka hingga mengalir darah.
Tetapi tdk henti2nya beliau menadahi tetesan darah itu dan mengusapkan ke dadanya agar tdk menetes ke tanah, walau dalam saat2 keadaan genting sekalipun..

Setelah perang usai, seorang sahabat memberanikan diri bertanya perihal perilaku beliau tersebut..
Dgn lemah lembut Rasulullah menjawab,
"Aku mendengar apa yg kalian tdk dengar, aku mendengar malaikat gunung mengatakan kpd ku: kalau ada setetes darah ku jatuh menyentuh bumi, Allah akan menurunkan adzab dari langit kpd mereka meluluh lantahkan mereka."

Dan saya tahan darah saya jngn sampai jatuh ke bumi supaya Allah swt tidak meluluh lantahkan mereka krna mungkin keturunan2 dari mereka kafir quraisy ada yg masuk Islam , Rasul SAW memikirkan masa depan keturunan2 kafir quraisy yg masih di tulang sulbi yg masih berbentuk air mani inilah idola kita semua Sayyidina Muhammad SAW , Mendengar jawaban itu para sahabat bertanya,
'Mengapa engkau tdk mendoakan celaka saja utk mereka para musuh2 Allah..?'
Rasulullah SAW menjawab,
"Sungguh aku tdk diutus untuk melaknat, tetapi aku diutus untuk berdakwah dan menyebarkan rahmat kepada sekalian alam. Ya Allah berilah hidayah kpd mereka, krn sesungguhnya mereka tdk mengetahui."

Sungguh indah akhlak Rasulullah SAW.

(Kh. Taufiqurrahman)

11/06/2016

Copas

السلام عليكم

*MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)*

KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak p**ang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.
Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:
1. Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya.
2. Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3. Baca doa Qunut Shubuh.
4. Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5. Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6. Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7. Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.
Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda p**a dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.
Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.
Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimp**annya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?
Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.
Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.
Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.
Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.
Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.
Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.
Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.
Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.
Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?
Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?
Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.
Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada.
(Diedit ulang dari tulisan Ust Sulaiman Timun Mas).

Semoga bermanfaat,
الفقير الى رب القدير
محمود طنطاوى
والسلام عليكم

04/05/2016

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
Jika kau merasa lelah dengan suatu urusan maka ingatlah dosa-dosamu, bertobatlah dan katakanlah kepada dirimu sendiri, “Karena dosa-dosaku inilah, Al-Haqq ‘Azza wa Jalla menyempitkan kehidupanku.”
Jika kau sudah bertobat dari semua dosa dan bertakwa kepada-Nya, maka Dia akan menjadikan bagimu kelapangan dari setiap kegelisahan, dan memberikan jalan keluar dari segala kesempitan.

Allah SWT berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.”
(QS Ath-Thalaq [65]: 2-3)

“Janganlah kau merasa gelisah! Janganlah engkau mengakui segala sesuatu yang tidak kau miliki dan tidak ada di dekatmu! Sebab, pada saat itu, nafsumu sedang menguasaimu; makhluk dan dunia berada di hatimu. Keduanya lebih besar di hatimu daripada Allah.

Jika kau ingin mendapatkan sesuatu yang aku tunjukkan sebelumnya, maka sibukkanlah dirimu dengan menyucikan hati dari segala sesuatu. Jika kau benar-benar orang yang berakal, sadar dan menyadari bahwa kau selalu diawasi (Allah), maka kau akan bisu di hadapan Rabb-mu. Engkau akan melihat bahwa semua perbuatan-Nya merupakan kenikmatan bagimu.

Ingatlah orang-orang lapar saat mereka sedang kelaparan, orang-orang telanjang saat mereka sedang telanjang tak memiliki pakaian, orang-orang sakit yang sedang meronta kesakitan, dan orang-orang terpenjara yang sedang merana. Dengan mengingat semua itu, musibah yang menimpamu akan semakin ringan. Ingatlah keadaan para penghuni kubur pada Hari Kiamat kelak. Ingatlah ilmu Allah SWT, pandangan-Nya, dan karunia-Nya kepada-Mu sehingga kau merasa malu.

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir

Ms arifin

29/04/2016

FENOMENA SAAT INI
Semoga menjadi nasehat untuk kita
"HIDUP TAPI SEPERTI MAYAT"
Bertamu main HP...
Ngaji main HP...
Terima tamu main HP...
Bekerja main HP...
Belajar main HP...
Sambil makan main HP...
Ditengah keluarga main HP...
Kiamatlah duniamu tanpa HP...
Kadang terlihat dua orang saling duduk berhadapan tidak berbicara sama sekali, karena salah satu atau keduanya sibuk main HP, kalaupun harus bicara akhirnya tidak nyambung dan muncul sikap tidak peduli
Punya masalahpun bukan lagi mendatangi keluarga yg terdekat, tetapi membahas di sosmed, rasanya lebih "afdhol"
Manusia menjadi "ADA NAMUN TIADA"
Sahabat... jazad-jazad yg telah menjadi zombie berkeliaran... hidupnya hanya seputar dunia dalam ponselnya
Basahnya embun pagi...
Hangatnya mentari pagi...
Jabat erat tangan sahabat telah hilang dan diganti gambar-gambar mati dalam ponsel
Gerak petualangan akan hebatnya bumi juga sudah diganti hanya dengan gerakan telunjuk dan jempol
Wajah-wajah mulai pucat, tubuh mulai ringkih, pahala-pahala beterbangan sia-sia sebagai resiko terburuk yg mungkin dimiliki,
Sedangkan engkau tidak kemana-mana dan belum melakukan apapun selain menggerakkan jempol dan jarimu pada layar kecil yg penuh sihir ini
Hidup dalam kematian itu adalah keniscayaan, tetapi "MATI DALAM HIDUP" itu pilihan
MAKA BANGUNLAHHH,,!!!
hiduplah sebagaimana manusia itu hidup,
Saat suami/istri datang, simpan HPmu,!
Saat anak bercerita, simpan HPmu,!
Saat ibu/bapak bicara, simpan HPmu,!
Saat tamu berkunjung, simpan HPmu,!
Saat rumah berantakan, simpan HPmu,!
Saat matahari merekah, udara sejuk, angin semilir, burung bersiul, anak-anak tertawa riang, simpan HPmu,!
Perhatikan duniamu dengan seksama, sebab NIKMAT ILAHI ada disana
HIDUPLAH..!!!
Engkau belum mati tapi sudah bertingkah seperti mayat.
Jumat mubarok (dikutif dari FB muhammad sadli)

25/03/2016

Anakmu yang sukses menjadi dokter yang sibuk, akankah dia ingat dan mendoakan dirimu ketika kamu sudah meninggal?

Anakmu yang sukses menjadi pengusaha yang sibuk, akankah dia ingat dan mendoakan dirimu ketika kamu sudah meninggal?

Anakmu yang sukses menjadi pengacara yang sibuk, akankah dia ingat dan mendoakan dirimu ketika kamu sudah meninggal?

Anakmu yang sukses menjadi tentara yang sibuk, akankah dia ingat dan mendoakan dirimu ketika kamu sudah meninggal?

Anakmu yang sukses menjadi insinyur yang sibuk, akankah dia ingat dan mendoakan dirimu ketika kamu sudah meninggal?

Anakmu yang sukses menjadi pilot yang sibuk, akankah dia ingat dan mendoakan dirimu ketika kamu sudah meninggal?

Kamu boleh saja menjadikan anakmu sukses dibidang apa saja dalam urusan dunia. Tapi, sesukses apapun anakmu, jika kamu gagal menjadikannya anak sholeh/ah, maka jangan berharap ada doa untukmu.

*na'udzubillah.

Nabi bersabda : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” HR. Muslim.

Semoga kita diberikan keturunan yang sholeh & sholehah. Aamiin

Address

Jalan Nias 3 No. 5
Jember
68121

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pondok Pesantren Al-Jauhar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share