Institut Agama Islam AZMI - IAIA Kotamobagu

Directions

Institut Agama Islam AZMI - IAIA Kotamobagu ini adalah grup umum pendidikan tinggi Agama yang bertujuan mencetak insan cendikia yang cerdas serta bertalwa kepada Allah Azza wa jalla

09/08/2020

Walau sdh sering di posting,...tetap asyiik utk dibaca ber ulang ulang:

*Ceritanya bagus banget*

Suatu hari, *Umar* sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

_*”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : _*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar ... 😭😭😭

Beginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya...

SILAKAN DI BAGIKAN, JANGAN SAMPAI KISAH MULIA INI TERPUTUS DI TANGAN ANDA ... !!
Agar Umat Islam INDONESIA tidak mudah di pecah belah..

💦  F A E D A H    P A G I 💦https://telegram.me/alilmuu💤APAKAH TIDUR  DI ATAS TIKAR ITU SUNNAH❓🎙Fatwa: Syekh Abdul Aziz b...
08/08/2020

💦 F A E D A H P A G I 💦

https://telegram.me/alilmuu

💤APAKAH TIDUR DI ATAS TIKAR ITU SUNNAH❓

🎙Fatwa: Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu Ta'ala

Pertanyaan: Apakah tidur di atas tikar di masa kita ini teranggap sebagai sunnah?

Syekh: Bukan. Ia bukan termasuk sunnah. Akan tetapi ia sesuai kebutuhan.

Pertanyaan: Lantas bagaimana dengan orang yang mampu, namun ia menjadikan hari-harinya tidur di atas tikar?

Jawaban: Jika ia bertujuan untuk dijadikan sebagai nasehat dan mengintropeksi diri serta berjihad terhadap dirinya, maka tidak mengapa. Karena merupakan intropeksi diri dan mengingatkan dirinya terhadap kondisi orang-orang miskin. Namun jika tidak demikian tujuannya, maka sekiranya Allah Ta'ala telah memberi rezeki yang baik kepadanya--alhamdulillah-- Allah Ta'ala berfirman:

كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ
Makanlah dari (makanan) yang baik-baik. (Al Mu'minun:51).

📚Fatawa ad Durus

http://t.me/ukhwh

هل النوم على الحصير من السُّنة؟

س:هل يُؤخذ في وقتنا هذا أنَّ النوم على الحصير من السُّنة؟
الشيخ: لا، ما هو من السنة، إنما يكون حسب الحاجة.
س: ومَن كان مُقتدرًا لكنَّه يجعل له أيامًا ينام فيها على الحصير؟
ج: إذا أراد أن يتَّعِظَ ويُحاسِب نفسه ويُجاهدها لا بأس، من باب محاسبة النفس وتذكيرها بحال الفقراء، وإلا فلو رزقه الله الطيبات فالحمد لله، فالله قال: كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ [المؤمنون:51].
•••┈••••○❁ ✍ ❁○••••┈•••

📡 *_Berbagi Fawaid Dan Ilmu Syar'i Ahlussunnah Wal Jama'ah_

Menebar cahaya sunnah

12/05/2019

Tolong IKUT MENYEBARKAN

Ini pernyataan ustadz Musa tolong disimak

Oleh Abu Dedad

_MENENGOK SEJARAH HANCURNYA ANDALUSIA_
Pelajaran penting bagi generasi muda Indonesia:

*AL QUR'AN :*Bermuatan:
MELARANG...................
MEMVONIS....................
MENGANCAM................

*Pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Spanyol), Abdillah Muhammad bin Al Ahmar, keluar dari istana kerajaan dengan hina.*

*Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun!!*

Kini, *ia tinggalkan istana dengan hati pilu, dadanya sesak.*

Hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi.

Dari sana ia menatap *Istana Al Hambra*, *Ia menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata*.

Melihat hal itu, ibu nya berkata,
Menangislah!
Menangislah seperti perempuan!, karena *kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa!!*.

*Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia...*

Dan *belum pernah bangkit lagi hingga detik ini!!*.

*Umat Islam disana diberi pilihan 😗
1) *Masuk kristen*, atau,
2) *Dibunuh*, atau
3) *Diusir*.

*Tahu apa penyebab jatuhnya Andalusia!?*
Karena:
1. *Cinta dunia*.
2. *Meninggalkan jihad*,
3. *Berkubang kemaksiatan*,
4. *Menyerahkan urusan bukan pada ahlinya*,
5. *Bodoh dalam hal agama*.

*Bayangkan jika Indonesia nanti telah jatuh total ke tangan orang kafir*........

*pemuda Islam menangis* dan *ibu2 mereka berkata, Menangislah seperti perempuan menangis*,

Karena *kau tidak bisa menjaga bangsa ini sebagaimana seorang laki2 perkasa!!!*,

Maka *bersiaplah wahai pemuda Islam*......

*Pelajari baik-baik 5 faktor di atas*, Karena *sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama*.....

*MENGINGATKAN BUAT SAUDARA2 MUSLIM DAN MUSLIMAH*!!!

1. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Menjadikan orang Kafir Sebagai PEMIMPIN*
QS.Ali Imraan: 28,
QS.An-Nisaa’: 144,
QS.Al-Maa-idah: 57.

2. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Menjadikan orang Kafir Sebagai PEMIMPIN Walau KERABAT Sendiri*.
QS.At-Taubah: 23,
QS.Al-Mujaadilah: 22,

3. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Menjadikan orang Kafir Sebagai TEMAN SETIA*.
QS.Ali Imraan: 118,
QS.At-Taubah: 16.

4. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*SALING TOLONG dengan kafir yang akan MERUGIKAN umat islam*.
QS.Al-Qasshash: 86,
QS.Al-Mumtahanah: 13.

5. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*MENTAATI orang kafir untuk MENGUASAI Muslim*
QS.Ali Imraan: 149–150.

6. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Memberi PELUANG kepada orang kafir sehingga MENGUASAI Muslim*.
QS.An-Nisaa’: 141.

7. *Al-Qur’an*
*MEMVONIS MUNAFIQ*
*Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.An-Nisaa’: 138–139.

8. *Al-Qur’an*
*MEMVONIS ZALIM*
*Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.Al-Maa-idah: 51.

9. *Al-Qur’an*
*MEMVONIS FASIQ*
*Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.Al-Maa-idah: 80–81.

10. *Al-Qur’an MEMVONIS SESAT, kepada muslim yg menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.Al-Mumtahanah: 1.

11. *Al-Qur’an MENGANCAM AZAB, Bagi yang menjadikan Kafir cebagai Pemimpin / Teman setia*.
QS.Al-Mujaadilah: 14–15.

12. *Al-Qur’an* *MENGAJARKAN DOA*
*Agar Muslim Tidak Menjadi SASARAN FITNAH kaum Kafir*
QS.Al-Mumtahanah: 5.

*Ya Allah, Ya Robb, Ya Tuhan kami, sungguh telah kami sampaikan FirmanMu, Kami memohon ampun serta Berlindung hanya kepadaMu Ya Robbal Aalamiin*.

والله أعلم بالصواب

Silahkan share, untuk Menyelamatkan Saudara2 kita yg belum Mengetahuinya.

*Bagi muslim semua sudah jelas aturannya sehingga urusannya tinggal ke Islaman kita lah yg diuji, apakah kita termasuk orang sesat, munafik, fasiq, zalim atau kafir****

*NASIB INDONESIA 2 atau 5 atau 10 Tahun lagi seperti ANDALUSIA*

Sangat Mungkin, Bisa jadi sebentar lagi terjadi di INDONESIA.

Hampir semua Pra-Syarat Hancurnya Islam di Andalusia, telah ada dan terjadi di INDONESIA.

Dulu Philipina 100 % Muslim, sekarang tinggal 2%
Dulu Singapura 93 % Muslim, sekarang tinggal 15%

*Dulu INDONESIA 95% MUSLIM,*
*5 tahun lagi kira" tinggal ......%*

KH. Ahmad Dahlan pernah berkata :
_*"Islam tidak akan pernah Musnah dari Dunia, tapi ISLAM bisa Hilang di Negeri ini*_ Tolong IKUT MENYEBARKAN

14/09/2018

Keistimewaan Umat Nabi Muhammad Dibanding Umat Terdahulu

Dicintai dan dimuliakannya Rasulullah Muhammad ﷺ oleh Allah berdampak pada ikut dimuliakannya umat beliau. Dalam syariat Islam banyak ajaran yang menunjukkan betapa Allah begitu memuliakan umat ini dibanding dengan umat-umat sebelumnya, termasuk Bani Israil.

Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki di dalam kitabnya Syaraful Ummah Al-Muhammadiyyah menuturkan berbagai kemulian yang diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad di mana kemuliaan-kemuliaan itu tidak diberikan kepada umat Bani Israil.

Di antara perlakuan Allah yang mengistimewakan umat akhir zaman ini adalah:

Pertama, bila pakaian seorang Bani Israil terkena najis maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk mensucikan kembali pakaian tersebut adalah dengan memotong bagian yang terkena najis. Bahkan menurut sebagaian ulama bahwa bila anggota badan seorang Bani Israil terkena najis maka ia mesti memotong bagian anggota badan yang terkena najis tersebut untuk mensucikannya.

Imam Abu Dawud meriwayatkan:

كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَوْلُ قَطَعُوا مَا أَصَابَهُ الْبَوْلُ مِنْهُمْ

Artinya: “Adalah Bani Israil bila mereka terkena air kencing maka mereka memotong apa yang terkena air kencing itu.” (Abu Dawud As-Sijistani, Sunan Abi Dâwûd [Beirut: Muassasah Ar-Rayan], 1998, juz I, hal. 159)

Ini berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana untuk mensucikan apa saja yang terkena najis Allah memerintahkan pensuciannya cukup dengan air dan dengan debu untuk najis tertentu.

Kedua, bila seorang perempuan Bani Israil sedang mengalami haid atau menstruasi maka ia akan ditinggal sendirian di rumah. Mereka tidak diperbolehkan berhubungan, tinggal, dan makan bersamanya

Berbeda dari umat Nabi Muhammad yang diperbolehkan bergaul, makan bersama, tinggal serumah, dan juga tidur sekasur dengan istri yang sedang haid. Hanya saja mereka tidak diperbolehkan berhubungan intim dengannya.

Ketiga, ketika seorang Bani Israil melakukan tindak pidana pembunuhan maka satu-satunya hukuman yang diterapkan baginya adalah hukuman mati, baik pembunuhan yang dilakukan itu berupa pembunuhan yang disengaja ataupun pembunuhan yang tidak disengaja. Di dalam hukum Bani Israil juga tidak diberlakukan diyat dalam kasus pembunuhan ataupun pencederaan terhadap anggota badan.

Berbeda dari umat Rasulullah Muhammad ﷺ di mana Allah memberikan keringanan bagi umat ini dalam hal pembunuhan. Dalam syari’at Islam diberlakukan diyat sebagai pengganti qishash apabila keluarga orang yang dibunuh memberika maaf bagi orang yang membunuh.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 178:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَى بِالْأُنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan perempuan dengan perempuan. Maka barang siapa yang mendapat suatu permaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik p**a. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.”

Keempat, ketika Bani Israil melakukan kesalahan berupa penyembahan terhadap sapi maka satu-satunya jalan untuk bertaubat adalah dengan cara membunuh diri mereka sendiri. Orang yang menyembah sapi menyerahkan diri kepada orang yang tak menyembahnya untuk dibunuh. Dengan jalan seperti itu Bani Israil melakukan pertaubatan.

Tidak hanya itu. Ketika mereka melakukan sejumlah tindakan dosa tertentu pun cara taubatnya dengan memotong anggota badan yang melakukan kesalahan tersebut. Lidah harus dipotong ketika mengucapkan kebohongan, kemaluan mesti dipotong manakala melakukan perzinahan, dan biji mata dicukil ketika melihat perempuan yang bukan mahramnya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, di mana Allah memberikan jalan yang mudah bagi mereka untuk melakukan pertaubatan atas dosa-dosa yang dilakukan. Bahkan Allah mengabarkan bahwa Ia akan menerima taubat dan memaafkan setiap kesalahan.

Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Barang siapa yang melakukan kejelekan atau berbuat aniaya pada diri sendiri kemudian ia meminta ampun kepada Allah maka ia akan mendapati Allah sebagai Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kelima, bila salah seorang Bani Israil melakukan satu perbuatan dosa atau kemaksiatan maka di pagi hari akan ia temui di pintu rumahnya satu tulisan “Si Fulan telah melakukan perbuatan dosa ini dan itu. Sebagai tebusannya adalah ini dan itu.” Tulisan ini dapat dibaca oleh siapapun secara umum.

Sedangkan umat Nabi Muhammad selalu ditutup-tutupi oleh Allah manakala melakukan perbuatan dosa. Allah tidak membuka dan mengumbar kesalahan mereka kepada orang lain. Ia selalu menutup rapat kesalahan tersebut hingga terkadang justru pelakunya sendiri yang membuka aib dirinya.

Keenam, Allah tetap akan menyiksa Bani Israil yang melakukan perbuatan salah meskipun itu hanya merupakan kata hati mereka dan tidak dilakukan oleh anggota badannya. Dahulu mereka pernah mendatangi para nabi dan rasul yang diutus kepada mereka. Kepada para nabi dan utusan itu mereka memprotes atas syari’at yang tetap akan menyiksa mereka atas apa yang dibatinkan oleh hati mereka meskipun tidak sampai dilakukan oleh anggota badan. Maka mereka mengkufuri syari’at tersebut dengan mengatakan sami’nâ wa ‘ashainâ (kami dengar namun kami membangkangnya).

Berbeda dari umat ini, ketika mereka mengetahui bahwa Allah akan menghisab setiap perilaku baik yang berupa perbuatan anggota badan maupun yang berupan bisikan hati, umat Nabi Muhammad mengucapkan kami mendengar, kami mematuhi, kami berserah diri dan percaya kepada Allah, malaikat, dan para rasul-Nya. Maka kemudian Allah mengkhabarkan bahwa Ia mengampuni (tidak akan menghisab) apa-apa yang dibatinkan di dalam hati. Allah hanya akan menghisab perbuatan yang secara nyata dilakukan oleh anggota badan.

Ketujuh, dosa yang dihasilkan oleh Bani Israil karena salah dalam berbuat atau karena lupa tetap beresiko dengan disegerakannya hukuman atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah mengharamkan suatu makanan dan minuman atas mereka sebagai hukuman atas suatu dosa yang mereka lakukan.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad di mana Allah tidak menjatuhkan hukuman kepada mereka atas kesalahan, kelupaan, dan apa saja yang dilakukan karena terpaksa. Ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

Artinya: “Sesunguhnya Allah memaafkan karena aku dari umatku kesalahan, lupa, dan apapun yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, Baihaki, dan lainnya).

Kedelapan, Allah mengharamkan Bani Israil melakukan kegiatan-kegiatan duniawi di hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Pada hari itu Bani Israil hanya diperbolehkan melakukan peribadatan kepada Allah saja. Maka ketika mereka melanggarnya dengan tetap berburu ikan di lautan Allah mengubah wujud menjadi seekor kera.

Sedangkan umat Nabi Muhammad tidak diperlakukan seperti itu oleh Allah. Mereka diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan apapun meskipun di hari Jum’at sebagai hari raya umat Islam. Baik sebelum maupun sesudah shalat Jum’at umat Nabi Muhammad diperkenankan melakukan aktifitas duniawi tanpa ada ancaman hukuman apapun dari Allah.

Kesembilan, bagi Bani Israil dan kaum yang lain penyakit thâ’ûn merupakan kotoran dan siksaan. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad penyakit thâ’ûn dijadikan oleh Allah sebagai rahmat dan kesyahidan bagi mereka.

Kesepuluh, ada beberapa makanan yang diharamkan oleh Allah bagi Bani Israil. Beberapa makan itu di antaranya adalah setiap binatang yang memiliki kuku dan lemak yang ada pada binatang, kedua haram bagi Bani Israil. Keduanya diharamkan oleh Allah sebagai hukuman bagi mereka karena perilaku mereka yang berbuat dzalim, menentang dan mempermainkan syariat Allah.

Hal ini direkam oleh Allah dalam firman-Nya pada surat An-Nisa ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا

Artinya: “Maka disebabkan perbuatan aniaya dari orang-orang yahudi Kami haramkan atas mereka beberapa makanan yang baik-baik yang sebelumnya dihalalkan bagi mereka, dan juga dikarenakan mereka serig menghalang-halangi jalan Allah.“

Adapun umat Nabi Muhammad Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik, tanpa kecuali, dan mengharamkan atas mereka setiap yang jelek. Ini ditegaskan-Nya dalam ayat 5 surat Al-Maidah:

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

Artinya: “Pada hari ini telah Aku halalkan bagi kalian yang baik-baik.”

Kesebelas, ketika Bani Israil mendapatkan barang rampasan perang (ghanimah) mereka diharamkan untuk mengambil dan membagikannya. Yang diperintahkan kepada mereka adalah mengumpulkan barang rampasan itu, lalu akan turun api dari langit yang menyambar dan membakarnya sebagai tanda bahwa diterimanya peperangan yang mereka lakukan.

Sedangkan umat Nabi Muhammad diperbolehkan mengambil dan memanfaatkan barang rampasan perang, bahkan dijadikannya sebagai sesatu yang halal dan penuh berkah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 69:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya: “maka makanlah dari apa yang kalian rampas sebagai sesuatu yang halal dan baik.”

Kedua belas, umat-umat terdahulu tidak diperbolehkan melakukan shalat kecuali di tempat-tempat yang telah ditentukan seperti gereja dan pagoda. Bila mereka tidak datang bersembahyang di tempat yang telah ditentukan itu maka mereka tidak bisa menggantinya di sembarang tempat. Mereka mesti datang ke tempat peribadatan yang ada untuk mengganti shalat yang ditinggalkannya itu.

Al-Bazar dalam satu hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abas mengatakan bahwa tak ada seorang nabi pun yang melakukan shalat hingga ia berada di mihrabnya.

Sementara umat Nabi Muhammad tidak demikian. Allah menjadikan setiap jengkal tanah di bumi ini sebagai tempat shalat mereka. Kapanpun dan di manapun mereka hendak melakukan shalat bisa dilakukan di tempat manapun asalkan bersih dan suci dari najis. Tak ada tempat yang dikhususkan untuk shalat bagi umat Baginda Muhammad ﷺ.

Ketiga belas, dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad mereka hanya bisa bersuci dengan air saja. Tak ada aturan yang membolehkan mereka bersuci dengan menggunakan media selain air. Maka ketika mereka hendak shalat dan tidak menemukan air, mereka tidak bisa melakukannya sampai menemukan air untuk bersuci dan kemudian mengqadla shalat yang telah ditingalkannya.

Berbeda dari umat Nabi Muhammad, ketika mereka hendak melakukan shalat dan tidak menemukan air maka mereka bisa bersuci dengan menggunakan debu yang suci.

Demikian Allah—melalui syari’at-Nya—memperlakukan umat Nabi Muhammad ﷺ secara istimewa bila dibandingkan dengan perlakukan Allah kepada umat-umat terdahulu. Ada kemudahan dan keringanan dalam syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Atas semua itu maka selayaknya bila umat Nabi Muhammad bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan dan ketakwaan yang semestinya dan berterima kasih kepada Rasulullah dengan mengikuti akhlak mulianya.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

14/09/2018

Muhammad SAW sebagai sebab penciptaan alam semesta

Qashidatul Burdah karya Muhammad Sa‘id Al-Bushiri menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai semacam sebab penciptaan alam semesta. Oleh karena itu, Al-Bushiri menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin berambisi mengejar duniawi.

Dalam larik Qashidatul Burdah berikut ini, Imam Al-Bushiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW yang menjadi sebab penciptaan dunia takkan mungkin berhajat kepada dunia karena beliau SAW sendiri adalah penghulu dunia:

وَكَيفَ تَدْعُو إلَى الدُّنيا ضَرُورَةُ مَنْ ** لولاهُ لم تخرجِ الدنيا من العدمِ

Artinya, “Bagaimana orang yang kalau bukan karena dirinya niscaya dunia ini takkan keluar dari ketiadaannya berkepentingan terhadap dunia?”

Pernyataan Imam Al-Bushiri tidak berlebihan. Pernyataan Al-Bushiri cukup beralasan karena didasarkan pada hadits qudsi riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi yang menyatakan bahwa kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW, Allah takkan menciptakan Nabi Adam AS.

والأصل في ذلك ما رواه الحاكم والبيهقي من قول الله تعالى لآدم لما سأله بحق محمد أن يغفر له ما اقترفه من صورة الخطيئة وكان رأى على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله سألتني بحقه أن أغفر لك ولولاه ما خلقتك فوجود آدم عليه السلام متوقف على وجوده صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Dasar atas pernyataan ini adalah hadits riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi perihal jawaban Allah SWT kepada Nabi Adam AS yang meminta dengan nama Nabi Muhammad SAW ampunan terkait kekeliruannya. Nabi Adam AS ketika itu melihat catatan ‘Lâ ilâha illallâh, Muhammadur Rasûlullâh’ pada tiang-tiang Arasy. Allah menjawab, ‘Kau meminta dengan namanya (Nabi Muhammad SAW) agar Aku mengampunimu. Sungguh, kalau bukan karenanya, Aku tidak akan menciptakanmu.’ Jadi, ujud Nabi Adam AS bergantung pada ujud Nabi Muhammad SAW,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 21).

Kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW, niscaya Allah takkan menciptakan Nabi Adam AS. Kalau Nabi Adam AS tidak diciptakan oleh Allah, niscaya anak Adam atau bani Adam takkan diciptakan. Sedangkan nyatanya, Allah menciptakan Nabi Adam AS dan anak keturunannya. Allah juga menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan manusia. Jadi, hanya karena Nabi Muhammad SAW Allah menciptakan alam semesta raya ini.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri yang pernah memimpin Universitas Al-Azhar di zamannya mencoba membangun logika ini dalam Hasyiyatul Burdah berikut ini:

وآدم أبو البشر وقد خلق الله لهم ما في الأرض وسخر لهم الشمس والقمر والليل والنهار وغير ذلك كما هو نص القرآن قال تعالى خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وإذا كانت هذه الأمور إنما خلقت لأجل البشر وأبو البشر إنما خلق لأجله صلى الله عليه وسلم كانت الدنيا إنما خلقت لأجله فيكون صلى الله عليه وسلم هو السبب في وجود كل شيء

Artinya, “Nabi Adam AS memang bapak manusia. Allah menciptakan apa yang ada di bumi untuk anak manusia. Allah juga menundukkan matahari, bulan, malam, siang, dan lain sebagainya untuk anak manusia sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, 'Dia menciptakan untukmu apa yang ada di bumi semuanya,’ (Surat Al-Baqarah ayat 29) dan ‘Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan silih berganti dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang,’ (Surat Ibrahim ayat 33). Jadi, ketika semesta alam raya itu diciptakan untuk manusia, sementara Nabi Adam AS adalah bapak manusia diciptakan karena Nabi Muhammad SAW, maka dunia ini diciptakan karena Nabi Muhammad SAW. Jadi, Nabi Muhammad SAW adalah sebab bagi segala ujud,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 21-22).

Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari dalam Syarah Burdah menyatakan bahwa karena Rasulullah SAW sendiri adalah sebab atas penciptaan alam semesta, maka beliau SAW tidak berhajat dan berhasrat pada kesenangan duniawi yang fana:

ومعنى البيتين أنه صلى الله عليه وسلم لا تدعوه الضرورة الى حطام الدنيا الفانية فإن الدنيا ما أخرجت من العدم إلى الوجود إلا لأجله وكيف يكون كذلك وهو سيد أهل الدنيا والآخرة وسيد الانس والجن وسيد العرب والعجم

Artinya, “Makna bait ini adalah bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berkepentingan untuk mengumpulkan harta benda duniawi yang fana karena dunia tidak diciptakan dari ketiadaan menjadi ada kecuali karena dirinya. Lalu bagaimana bisa demikian (haus harta duniawi) dengan Rasulullah SAW, sedangkan beliau adalah penghulu (pangkal atau permulaan) penduduk dunia dan akhirat, penghulu manusia dan jin, dan penghulu bangsa Arab dan bangsa ajam,” (Lihat Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari, Syarah Khalid Al-Azhari ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Logika yang dibangun oleh Imam Al-Bushiri, Syekh Ibrahim Al-Baijuri, dan Syekh Khalid Al-Azhari merupakan refleksi dari Surat Al-Baqarah ayat 29, Surat Ibrahim ayat 33, dan hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku penghulu anak Adam, dan tidak sombong,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dari pelbagai keterangan ini, tidak berlebihan ketika Sayyid Bakri Syatha dalam mukaddimah I‘anatut Thalibin menganjurkan kita untuk bersyukur kepada Rasulullah SAW karena jasanya yang mengajarkan kita mengenal dan bersyukur kepada Allah.

Sayyid Bakri Syatha menyebut Rasulullah SAW tidak lain adalah asal penciptaan bagi semua makhluk Allah. Sayyid Bakri menganjurkan kita untuk membaca banyak shalawat. Hanya saja "asal" dan kata "sebab" penciptaan di sini mesti dipahami sebagai asal atau sebab secara majazi karena pada hakikatnya perbuatan Allah tidak tergantung pada illat atau sebab.
Meskipun demikian, shalawat terhadap Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk terima kasih atau syukur kita umat manusia terhadap Rasulullah SAW sebagai penghulu segenap manusia sebagaimana sabdanya yang mulia. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Baca Juga
Syair, Medsos Penting di Masa Rasulullah

Din Syamsudin Siap Jadi Ketum PBNU di Muktamar Mendatang

Menjauhi Orang Miskin Sama dengan Menjauh dari Rasulullah

Nafisah binti Munyah, ‘Mak Comblang’ Khadijah-Muhammad

Tiga Pesan Rasulullah dalam Pernikahan Ali-Fatimah

Enam Cara Rasulullah Merayakan Idul Fitri


KONTAK
Nahdlatul Ulama
Jl. Kramat Raya 164, Jakarta 46133 - Indonesia, redaksi[at]nu.or.id
MEDIA PARTNER
164 ChannelTV9Aswaja TVNU TVRadio NUMajalah Risalah NU
© 2016 NU Online. All rights reserved. Nahdlatul Ulama

Address

Samping Polers B. M
Kotamobagu
95715

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Institut Agama Islam AZMI - IAIA Kotamobagu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share