15/04/2022
Jumat, 15 April 2022
KEMATIAN KRISTUS, KEHIDUPAN KEKAL BAGI KITA
Refleksi memaknai JUMAT AGUNG
Yohanes 19:30 "'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."
_Hari ini umat Kristiani merayakan Jumat Agung yang mengingatkan kita kembali tentang betapa besar kasih dan pengorbanan Kristus, yang rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa umat manusia.
Seruan Kristus kepada Bapa,"Eloi, Eloi, lama sabakhtani? (Markus 15:34), yang artinya:'Bapaku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? menyiratkan suatu pergumulan batin dan penderitaan badani yang teramat berat yang harus di tanggung-Nya. Sekalipun harus mengalami aniaya dan siksaan hebat, Kristus tidak pernah melawan, seperti domba kelu yang dibawa ke pembantaian (Yesaya 53:7).
Setiap mata akan memandang lesuh akan Dia yang tergantung pada salib itu, setiap otak akan berpikir tentang caranya Ia mati, dan setiap hati akan merenung tentang apa artinya kematian Sang Kehidupan atau Sang Sumber Kehidupan demi saudara dan aku hari ini.
Hanya satu pernyataan yang bisa kita buat untuk melukiskan semua kesedihan hati kita hari ini yakni Sungguh, Ia telah mati untuk saudara dan aku.
Hari ini patutlah kita menangis dan berduka karena dosa-dosa kita yang membuat Ia harus tetap tergantung di salib itu, tapi permenungan kita tidak selamanya tentang sebuah peristiwa kematian, melainkan tentang kehidupan.
Kematian akan menjemput kita suatu waktu kiranya menjadi sesuatu yang pasti, dan tidak ada seorang manusia pun yang bisa mengelaknya.
Oleh karena itu, jika hari ini Yesus mati dan menyebabkan duka nestapa bagi setiap hati, maka semuanya bukan tentang kenapa Ia harus mati tapi bagaimana Ia telah hidup sehingga menjadi kenangan indah bagi semua orang, termasuk dan khususnya bagi saudara dan aku.