Sejarah Universitas Majalengka
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional dinyatakan bahwa kebijakan pendidikan tinggi diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak, berkualitas, berkepribadian dan berkemampuan akademis serta mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara. Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut
, pemerintah terus berupaya meningkatkan dan mengembangkan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Dengan upaya ini diharapkan setiap perguruan tinggi mampu menyelenggarakan pendidikan, dan dapat memberikan pengabdian yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Dalam kerangka turut mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya di Kabupaten Majalengka, pada tanggal 16 Juli 1984 Yayasan Pembina Pendidikan Majalengka (YPPM) didirikan yang disahkan dengan Akta Notaris Iskandar Wiramihardja, SH Nomor 177 tanggal 25 Oktober 1984, yang telah diubah dengan Akta Perubahan disyahkan Notaris Laila Obed Nomor 88 tanggal 31 Mei 1999 serta telah diubah lagi dengan Akta Perubahan disyahkan Notaris Wiwin Widiyaningsih, SH No. 03 tanggal 4 Mei 2007. Pendirian yayasan tersebut merupakan inisiatif dan prakarsa dari Bapak H.R.E Djaelani, SH (Almarhum), yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Majalengka dengan didukung oleh DPRD, MUSPIDA dan tokoh-tokoh masyarakat Majalengka. Sebagai langkah awal, Yayasan Pembina Pendidikan Majalengka memelopori pendirian Universitas Majalengka Persiapan dengan membuka 3 (tiga) Sekolah Tinggi yang diharapkan dapat menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Majalengka yaitu STIA-YPPM, STKIP-YPPM dan STH-YPPM. Dasar pemikiran pendirian Sekolah Tinggi ini adalah : (1) daya tampung Perguruan Tinggi Negeri masih sangat terbatas, sehingga diperlukan Perguruan Tinggi Swasta di daerah yang mampu menampung para lulusan SLTA asal Kabupaten Majalengka dan sekitarnya yang tidak tertampung di Perguruan Tinggi Negeri, dan (2) biaya pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta di beberapa kota besar relatif cukup mahal, sehingga menjadi beban orang tua untuk memajukan putra-putrinya ke Perguruan Tinggi. Untuk meningkatkan keberadaannya, Universitas Majalengka persiapan sejak berdirinya terus berupaya melaksanakan konsolidasi untuk mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam berbagai kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Namun karena adanya persoalan teknis akademis, STKIP-YPPM dan STH-YPPM pada tahun 1986 dimergerkan dengan Universitas Sebelas April (UNSAP) Sumedang dan Universitas Swadaya Gunung Djati (UNSWAGATI) Cirebon, sehingga yang tetap berdiri pada waktu itu hanya STIA-YPPM dengan Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Dengan memperhatikan berbagai aspek dan untuk menjawab tuntutan mendatang, STIA-YPPM pada tahun 1997 berhasil menambah program studi baru yaitu Administrasi Bisnis. Keinginan untuk mendirikan Universitas Majalengka telah menjadi tekad para pendiri sehingga untuk memenuhi prasyarat pendirian sebuah universitas di Kabupaten Majalengka, YPPM pada Tahun 1998 berhasil membuka Sekolah Tinggi baru yaitu STKIP-YPPM dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR). Pada tahun pertama, STKIP-YPPM telah menampakkan prospek yang cukup cerah, ditandai dengan melimpahnya jumlah mahasiswa baru yang diterima. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi YPPM, karena di tahun pertama ini STKIP-YPPM mendapat sambutan yang positif dari masyarakat Majalengka
Keberhasilan tersebut di atas, telah mendorong para pendiri untuk sesegera mungkin mendirikan Universitas Majalengka, sehingga pada Tahun 1999 YPPM telah berhasil membuka Sekolah Tinggi baru yaitu STIP-YPPM dengan Program Studi Budidaya Pertanian, Sosek Pertanian dan Sosek Peternakan serta mendirikan STIE-YPPM dengan Program Studi Manajemen dan Akuntansi. Pada tahun 2001, YPPM berupaya mendirikan Sekolah Tinggi baru lagi yaitu STIK-YPPM dengan Program Studi Manajemen Hutan dan Budidaya Hutan. Untuk memenuhi tuntutan masyarakat, pada tahun 2003. YPPM telah mendirikan lagi Perguruan Tinggi baru yaitu STAI-YPPM dengan Program Studi Tarbiyah dan Program Studi Syariah (S1) serta Program D2 PGSDI dan PGRAI. Dengan berdirinya STAI-YPPM ini, maka Sekolah Tinggi di Lingkungan YPPM telah memiliki 11 Program Studi dengan rincian 3 Program Studi Eksak dan 8 Program Studi Non Eksak. Untuk melengkapi berdirinya Universitas Majalengka, YPPM pada tahun 2004 mengusulkan 6 (enam) Program Studi Eksak, yaitu Program Studi Kehutanan pada Fakultas Pertanian dan Program Studi Teknik Informatika, Teknik Sipil, Teknik Mesin dan Teknik Manajemen Industri pada Fakultas Teknik. Dengan kerja keras dan upaya yang terus menerus dari semua pihak, pada tahun 2006 Universitas Majalengka telah mendapatkan persetujuan pendirian dari Menteri Pendidikan Nasional RI melalui Surat Keputusan Nomor 60/D/O/2006 tanggal 18 April 2006. Dua tahun setelah berdirinya yaitu tahun 2008, Universitas Majalengka telah mendirikan Program Pascasarjana Magister Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Kebijakan Publik, Kebijakan Bisnis, Administrasi Keuangan Daerah dan Administrasi Pendidikan. Lebih dari itu, pada tahun 2008-2010 Universitas Majalengka telah menambah 3 (tiga) Program Studi yaitu Hubungan Internasional dan Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Program Studi Bahasa Inggris pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.