Kesatuan Mahasiswa Madapangga - Kasamampa Bima-Makassar

Kesatuan Mahasiswa Madapangga - Kasamampa Bima-Makassar Kesatuan Mahasiswa Madapangga adalah organisasi kedaerahan yang bersifat kekeluargaan. Tujuannya unt

Bimbingan Belajar untuk calon mahasiswa baru.  rektorat UIN Alauddin
19/06/2019

Bimbingan Belajar untuk calon mahasiswa baru. rektorat UIN Alauddin

29/10/2018

Penampilan musikalisasi puisi oleh team KASAMAMPA dalam acara festival seni dan budaya yang diselenggarakan oleh Komunitas of pecinta art (KOPA) Bima - dompu makassar...

The best performance from KASAMAMPA
Violin (samid), puisi (maria ulfa), gitar (agus s)

27 oktober 2018

berkemajuan

Keluarga besar KASAMAMPA dalam acara pengukuhan anggota baru..   post
29/10/2018

Keluarga besar KASAMAMPA dalam acara pengukuhan anggota baru..

post

Pertemuan awal calon anggota & pengurus serta DPO KASAMAMPAJAYALAH KASAMAMPAKASAMAMPA BERKEMAJUAN21 juli 2018
22/07/2018

Pertemuan awal calon anggota & pengurus serta DPO KASAMAMPA

JAYALAH KASAMAMPA
KASAMAMPA BERKEMAJUAN

21 juli 2018

Pelatihan penyelenggara perkaderan KASAMAMPA 2018 oleh DPO KASAMAMPA JAYALAH KASAMAMPAKASAMAMPA BERKEMAJUAN20 juli 2018 ...
22/07/2018

Pelatihan penyelenggara perkaderan KASAMAMPA 2018

oleh DPO KASAMAMPA

JAYALAH KASAMAMPA
KASAMAMPA BERKEMAJUAN

20 juli 2018 2

Rapat DPO & Pengurus KASAMAMPA membahas persiapan teknis perkaderan 2018...Jayalah KASAMAMPAKASAMAMPA BERKEMAJUAN15 juli...
22/07/2018

Rapat DPO & Pengurus KASAMAMPA membahas persiapan teknis perkaderan 2018...

Jayalah KASAMAMPA
KASAMAMPA BERKEMAJUAN

15 juli 2018

Assalamualaikum... kembali memperkenalkan para pimpinan yg pernah menahkodai KASAMAMPA...- MUSTAKIM : ketua umum periode...
24/06/2018

Assalamualaikum... kembali memperkenalkan para pimpinan yg pernah menahkodai KASAMAMPA...

- MUSTAKIM : ketua umum periode 2014-2015 berasal dari desa rade.. pernah kuliah di universitas satria makassar angkatan 2012 ..

- Andhy IM : ketua umum periode 2018-2019 (sedang menjabat). Berasal dari desa rade. Beliau mahasiswa fakultas sospol universitas muhammadiyah makassar angkatan 2014..

- MUH. ANDI APRIYANTO : ketua umum periode 2015-2016. Berasal dari desa mpuri. Beliau mahasiswa fakultas tarbiyah Universitas islam negeri Alauddin makassar angkatan 2012...

bersinergi dalam mewujudkan KASAMAMPA BERKEMAJUAN...
adalah KITA..

01/03/2018

Dalam berkehidupan, apalagi dalam berorganisasi, tentu sangat dibutuhkan orang yang memiliki kecerdasan. Akan tetapi yg tak kalah pentingnya ialah adanya orang yang mau bekerja tanpa mengharapkan pujian dan pencitraan belaka.

So... Lakukan segala sesuatu didasari keikhlasan, agar engkau mendapatkan kepuasan batin krna telah melakukan kebaikan.

MAKASSAR

15/11/2017
Open order!Sticker timbul KASAMAMPA.. bisa dipake di hp, leptop, motor pokoknya terserah deh...buruan diorder ya... harg...
31/05/2017

Open order!
Sticker timbul KASAMAMPA.. bisa dipake di hp, leptop, motor pokoknya terserah deh...

buruan diorder ya...
harga 15 k.
untuk pemesanan selama ramdhan, kami beri promo beli 2 dgn harga 25 k..

kunci dan baju kaos akan segera menyusul.. Order ya guys..!!!

16/05/2017

Semangat buat adek-adek yang sedang mengikuti ujian SBMPTN 2017. semoga adek-adek lulus dan diterima di kampus PTN.

15/05/2017

Suasana Republik yang tak usai DINISTA oleh para PENISTA hari-hari ini, mengingatkan kita semua tulisan tajam, jernih dan bernas Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Republika, 27 Nopember 2016 yang lalu.

INDONESIA SIAPA PUNYA?
Oleh : Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.

Siapa sesungguhnya pemilik Indonesia? Di negeri ini, tentu tak satu pihak mana pun berhak menepuk dada sebagai paling berdarah Merah Putih. Mengklaim diri sebagai pewaris dan penjaga utama Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945. Indonesia milik semua untuk semua.

Sangat gegabah jika ada orang menyatakan, bahwa Indonesia belum teruji kebinekaannya jika minoritas belum menjadi seorang Presiden. Lebih-lebih ketika ujaran itu diungkapkan dengan nada angkuh, seolah ukuran keindonesiaan ialah kedigdayaan diri dalam singgasana kuasa. Sebuah kesombongan yang dapat menjadi duri tajam di tubuh negeri ini.

Manakala ada segelintir orang ingin menguasai Indonesia dengan hasrat kuasa berlebih. Ingatlah pesan B**g Karno, "Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!". Jangan ada pihak yang ambisius untuk memiliki Indonesia dengan nafsu chauvisnis.

Bercerminlah pada jiwa kenegarwan para pendiri bangsa. Tatkala Ki Bagus Hadikusumo, menyampaikan gagasan Islam sebagai dasar negara pada sisang Badan Penyelidik Usaha-usaha Peraiapan Kemerdekaan (BPUPK), Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah ini dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah "seorang bangsa Indonesia tulen" dan "sebagai Muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya dan merdeka".

Pengorbanan umat.
Umat Islam meski mayoritas dan kuat keyakinan keagamaaanya, sungguh mencitai dan menjadi tonggak penyangga keindonesiaan yang setia. Umat juga sangat toleran dan menjunjungtinggi kebhinekaan. Keislamannya tidak opisisi biner dengan keindonesiaan dan kemajemukan bangsa, bahkan menjadi perekat utama. Islam menjadi kekuatan integrasi nasional, ujar Prof Koentjaraningrat.

Merupakan suatu ironi dan melukai hati manakala umat Islam dianggap sebagai golongan ekslusif, yang hanya mementingkan urusannya sendiri. Keislaman juga bukan tidak berseberangan dengan keindonesiaan. Jika ada yang berlogika, "Tak perlulah bicara Islam, sebutlah Indonesia". Pandangan itu justru beraroma ekslusif, karena mengandung makna penegasian Islam di negerinya sendiri.

Tak perlu ada Islamofobia di negeri muslim terbesar ini, karena watak umatnya juga toleran dan menjadi penyangga utama Indonesia. Ketika terdapat arus aspirasi umat Islam untuk memperoleh hak dan keadilan, sungguh bukankah primordialisme. Aspirasi itu ekspresi yang wajar, lebih-lebih salurannya demokratis dan konstitusional. Jangan pandang Islam di negeri ini sebagai ancaman keindonesiaan dengan segenap pilarnya.

Pandangan negatif itu tentu sangat tidak beralasan. Perjuangan umat Islam melawan penjajah beratus tahun sarat heroisme. Islam dan umat Ialam sangat ditakuti Penjajah, hingga memggunakan berbagai muslihat yang licik. Para tokoh seperti Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol harus menyerah karena ditipu. Snouck Hurgronje bahkan harus mengaku Muslim untuk dapat masuk ke Saudi Arabia guna mempelajari Islam untuk menaklukkan perlawanan umat Islam.

Ketika pergerakan nasional awal abad keduapuluh menggunakan cara-cara modern, umat Islam pun berdiri di garda depan. Adalah Sarekat Islam dan Muhammadiyah yang memelopori pergerakan Islam modern untuk melawan penjajah dan mengubah nasib rakyat Indonesia yang terbelakang menuju gerbang kemerdekaan dan kemajuan. Lahirnya Hizbul Wathan atau Pasukan Tanah Air tahun 1918 salah satu contoh kepeloporan bela bangsa kala itu, sebagai wujud jihad fisabilillah.

Tatkala Indonesia diambang retak satu hari setelah proklamasi 17 Agustus 1945 dalam peristiwa Piagam Jakarta, umat Islam melalui tokoh utamanya Ki Bagus Hadikusumo dengan mediator Kasman Singodimedjo memberi jalan keluar, meski harus berkorban luar biasa. Padahal Piagam Jakarta kala itu merupakan Gentlement Agreement semua golongan, yang pelopor utamanya ialah Soekarno.

Para tokoh Islam yaitu Agus Salim, Abdul Kahar Mudzakir, Abikusno Tjokrosujoso, dan Abdul Wahid Hasyim, sebagai anggota Panitia Sembilan yang disebut mewakili golongan Islam harus merelakan tujuh kata "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya" diganti menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa". Pengorbanan keyakinan Islam itu, meski ada unsur siasat tidak fair, dilakukan para wakil umat Islam demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kurang apalagi sebenarnya pengorbanan dan komitmen umat Islam Indonesia untuk bangsa dan negaranya. Jika mau memaksakan kehendak sebagai mayoritas pasti terjadi. Lebih-lebih tokoh sentral seperti Sukarno menjadi pemrakarsa dan sangat mendukung Piagam Jakarta itu, hingga pada 5 Juli 1959 dalam Dekrit Presiden, konsisten menjadikan Piagam Jakarta sebagai jiwa UUD 1945. Itulah hadiah terbesar umat Islam untuk Indonesia, ujar Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara.

Namun ibarat ibu yang melahirkan anak, kasih sayangnya melampaui luasnya samudra. Meski laksana anak gemuk yang memperoleh baju sempit karena semua diberi pakaian berukuran sama, umat Islam tetap selalu memberi tak pernah meminta lebih. Apalagi tatkala ada segolongan kecil menguasai kue nasional yang melampaui takaran, umat Islam tetap tak marah meski hatinya terluka dan dirinya marjinal dari pusaran utama Indonesia.

Urat sabar umat Islam juga cukup lebar dan tidak putus. Tatkala hak-hak dasarnya kurang terpenuhi, karena satu dan banyak sebab, yang menjadikan dirinya terpinggir dalam sejumlah hal, pengkhidmatannya untuk negara tak kenal lekang. Bahkan ketika denyut nadi keagamaannya tersakiti dan menunut keadilan, malah dipandang sebagai ancaman bagi kebhinekaan. Kebhinekaan terkesan milik sekelompok orang yang bersuara lantang di ruang publik.

Nilai luhur utama.
Keindonesiaan itu luhur dan bercita-cita. B**g Hatta berkata: "Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita, yakni hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani". Hatta menarik keindonesiaan pada cita-cita dan perwujudannya dalam dunia nyata. Manakala ada segolongan kecil yang bahagia dan berkemakmuran, sementara mayoritas nestapa maka kondisi timpang ini harus diluruskan dan dipecahkan secara kolektif. Negara atau pemerintah wajib hadir dan tidak boleh abai atas disparitas nasional ini.

Pemilik Indonesia juga bukan mereka yang setiap hari lantang memekikkan kata merdeka. Bukan p**a karena sering merayakan segala kegiatan simbolik berlabel Indonesia, kebhinekaan, dan jargon-jargon bernuansa merah-putih lainnya. Semua baju luar itu sekadar atribut dan verbalisme, belum membuktikan keindonesiaan yang esesni dan sejati. Keindonesiaan itu harus bersemi dalam jiwa, alam pikiran, sikap, dan tindakan yang luhur dan utama sebagaimana disemaikan oleh para pendiri bangsa tahun 1945 secara otentik. Keindonesiaan yang membumi.

Maka dalam keindonesiaan, termasuk di dalamnya kebhinekaan, sesungguhnya ada nilai-nilai utama yang mesti dijadikan pedoman dan ditegakkan oleh seluruh komponen
bangsa. Tumpuannya pada nilai-nilai fundamental yang hidup subur dalam bumi rakyat Indonesia, sebutlah Agama dan Pancasila. Agama di negeri ini bahkan telah menjadi jiwa kebangsaan dan mendapat tempat konstitusional sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan batang-tubuhnya pasal 29. Ingatlah kemerdekaan Indonesia itu berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Agama juga telah hidup mendarahdaging dalam jatidiri bangsa jauh sebelum negara Indonesia terbentuk.

Agama harus memperoleh tempat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Agama apapun tidak boleh disepelekan, diabaikan, dan dipinggirkan dari denyut nadi kehidupan bangsa dan negara. Sekali agama dan perasaan beragama dicederai, dinodai, dan dinista oleh perangai yang semberono maka keindonesiaan dan kebhinekaan pun terlukai. Ada niat atau tidak diniati, tindakan yang berakibat pada pencederaan keyakinan dan rasa keberagamaan tetaplah bermasalah dan muaranya menodai keberagamaan.

Namun bagi umat beragama, tentu agama pun harus menjadi nilai luhur transendental yang mencerahkan jiwa, hati, pikiran, sikap, dan tindakan bagi para pemeluknya. Sehingga dengan agama para umatnya hidup berketuhanan, berperikemanusia-an, dan berkeadaban mulia. Setiap insan beragama menjadi shaleh secara individual dan sosial, serta melahirkan sosok-sosok teladan yang otentik. Jujur dan tidak menjualbelikan urusan agama. Beragama dan menyuarakan ajaran damai pun bukanlah retorika di pentas forum dan wacana megah, tetapi harus dalam perbuatan otentik. Para tokohnya pun lurus hati dan tidak seperti burung merak. Agama harus benar-benar menjadi rahmat bagi semesta.

Nilai luhur lain dalam hidup berbangsa ialah kebersamaan yang otentik atau genuin sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan kebudayaan bangsa. Tidak boleh segelintir orang menguasai Indonesia, yang menyebabkan hilangnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Tidak boleh seseorang atau sekelompok orang karena merasa digdaya lantas berbuat sekehendak dirinya, yang menyebkan kehidupan berbangsa secara kolektif menjadi retak berantakan. Apalagi manakala perangai ugal-ugalan itu mengatasnamakan keindonesiaan, kebhinekaan, dan Pancasila.

Jika semua merasa memiliki Indonesia maka belajarlah hidup dalam kebersamaan yang otentik dan tidak egoistik. Perlu saling membangun keadaban luhur dalam berbangsa dan bernegara. Mereka yang besar jangan menguasai, yang kecil pun tidak anarki. Semua harus saling berbagi, saling memahami, serta menjamin hak hidup yang damai dan saling memajukan dengan jiwa tulus tanpa pura-pura. "Mayoritas melindungi minoritas, minoritas menghormati dan menghargai mayoritas," tutur Presiden Joko Widodo. Lalu, untuk apa menguasai Indonesia dengan hasrat angkara?

http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/11/27/oh8cu6396-indonesia-siapa-pun

Segenap keluarga besar KESATUAN MAHASISWA MADAPANGGA (KASAMAMPA) BIMA-MAKASSAR mengucapkan selamat menempuh hidup baru k...
15/05/2017

Segenap keluarga besar KESATUAN MAHASISWA MADAPANGGA (KASAMAMPA) BIMA-MAKASSAR mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada kakanda raden suratman (kabid minat dan bakat periode 2012-2013) dan yunda arfah (bendahara umum periode 2012-2014). Semoga SAMARA (SAKINAH, MAWADDAH & RAHMAH)...
,13 mei 2017

Address

Makassar

Telephone

+6285339624493

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kesatuan Mahasiswa Madapangga - Kasamampa Bima-Makassar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share