10/03/2019
FAJARONLINE.CO.ID - Niphaz Diploma Club (NDC) STMIK Dipanegara mengadakan seminar nasional bertajuk “Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0” yang bertempat di Aula SMU Negeri 4 Bau-Bau, Selasa (19/2).
Dalam seminar tersebut, NDC mengundang pembicara Dr. Eng Yuyun, S. Kom., MT dari direktur Pasca Sarjana STMIK Handayani dan Dr. Hamzah, M.Kom sebagai praktisi dari Dinas Kementrian Komuniksi dan Informatika kota Bau- Bau yang dimoderatori oleh perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Teknik Informatikan Unidayan.
Tema tersebut membahas mengenai peran pemerintah daerah menghadapi era industry 4.0 dan kedua, seperti apa revolusi industri 4.0. Dengan pidato pembukaan oleh saudara Erwin sebagai Ketua Umum NDC Periode 2018-2019, dan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang dihadiri lebih kurang 180 peserta dari SMU, SMK dan Perguruan tinggi di kota bau-bau.
Isu utama dalam seminar apakah Revolusi Industri 4.0 menjadi berkah atau bahkan menjadi bencana? Presentasi dimulai dengan pembicara pertama oleh Dr. Yuyun dengan memaparkan perkembangan revolusi industry dari masa ke masa.
Menurutnya, era industri ditandai dengan ditemukanya mesin uap sebagai cikal bakal lahirnya industry 1.0. Kemudian pengembangan peralatan listrik yang membentuk industri 2.0 yang secara dratis merubah wajah dunia terutama dalam bidang industri transportasi, telekomunikasi dan lainya.
Era 3.0 adalah era dimana komputer sebagai alat untuk memudahkan dan mempercepat kerja manusia. Dan yang terakhir adalah era Industri 4.0. Era ini terjadi transformasi pemikiran ke mesin. Yang biasanya hanya manusia yang dapat melakukan tugas-tugas tertentu, tetapi kini mesin juga dapat melakukan pekerjaan layaknya manusia. Tranformasi ilmu dan pengetahuan manusia ke mesin yang disebut dengan Artificial Intelegent (AI) atau kecerdasan buatan.
Kemudian dilanjutkan oleh pembicara ke dua oleh Dr. Hamzah. Dalam pemaparnya, menekankan bahwa selain punya sisi-sisi positif, indutri 4.0 akan melahirkan pengangguran, terjadi PHK dimana-mana akibat dari pergeseran industri. Sehingga apabila tidak ditangani secera cepat dan tepat akan menimbulkan konflik. Beliau juga menambahkan bahwa saat ini pemerintah telah merancang dan menyusun regulasi untuk menghindari akibat negative dari arus informasi saat ini. Pemerintah daerah melalui Kominfo telah menyiapkan diri terkait dengan akibat dari industri 4.0.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Menurut Yuyun ada tiga faktor penting yang harus di persiapkan untuk membendung arus informasi ini yaitu, ilmu, skill dan karakter. Ketiga komponen inilah yang menjadikan kita untuk tetap bertahan dan bahkan menjadi pemenang di era industry 4.0.
Kemudian acara dilanjutkan dengan sisi Tanya jawab. Ada beberapa pertayaan menarik yang salah satunya adalah apakah trik agar kami sebagai siswa tetap exist diera saat ini? Kedua pembicara berpendapat bahwa sebagai pelajar harus memahami apa yang di dipelajari.
Pendidik harus memberikan pemahaman tentang manfaat dari apa yang dipelajari. Peserta didik juga wajib menanyakan tujuan pembelajaran dari setiap materi yang disajikan. Hal yang utama adalah siswa mengimplementasikan dalam bentuk praktek apa yang mereka dapatkan dibangku pendidikan. Sehingga dengan demikian mereka dapat meminimalisir pengaruh negative dari pergeseran zaman.
Sebagai kesimpulan seminar, industri 4.0 menjadi rahmat bila meningkatkan kualitas kerja dan menjadi bencana apabila memangkas jumlah pekerja yang berimbas pada lingkungan kerja mereka, papar kedua pembicara (hmk/ndc)