22/02/2017
IDEALIS v RASIONALIS
Project DA di setiap semester, selalu memunculkan beragam topik yang menarik untuk dibahas. Bukan, bukan tema atau obyek bangunannya, melainkan hal-hal non teknis yang bisa jadi tema obrolan ringan di setiap kita ngopi, atau sekedar mengikis waktu sambil sesekali bermain gitar di sudut kos.
Ringan?
Serius?
Ini DA yang kita bicarakan!
Masa dibilang ringan? Sambil gitaran, lagi?!?
Tenang. Maksudnya begini. Awal perkuliahan DA, hampir selalu diminati dengan semangat menggebu². Disertai dengan yang namanya IDEALISME. Ya, bahkan terkadang lebay.
"Gue pèngèn banget ngedesain Bandara, bro. Pakè metodenya Zaha."
Atau, "Gila, keren si Sou Fujimoto. Tower-nya bisa gua pakè di DA semester ini tuh."
Dan, most of all, berakhir mbèlgèdhès di akhir semester.
Yup, mBèl-gè-dhès, kosakata jawa timuran yang menggambarkan ke-omongkosong-an.
Dan ke-mbèlgèdhès-an ini semakin meningkat jumlah pesertanya, seiring dengan semakin tinggi jenjang DA yang ditempuh.
Dan tebakan anda tepat. Di DAA, kembèlgèdhèsan ini menjadi sebuah keniscayaan.
Kenapa? Ada yang salah dengan pemikiran yang (sok) IDEALIS? Bolèh d**g, kita punya idealisme. Ya, nggak? Ya, nggak?
Hehe, tentu saja bolèh. Syaratnya satu. Anda harus tau, bahwa beban materi, atau kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa, semakin tinggi jenjang DA-nya, semakin kompleks.
Semakin kompleks, artinya semakin banyak pertimbangan. Semakin banyak data, semakin banyak analisis. Singkatnya, semakin RASIONAL.
Rasional? Yup. Kenapa?
Karena ARSITEK adalah PROBLEM SOLVER.
Dan problem, seringkali harus dibaca dalam sudut pandang seorang IDEALIS, tapi diselesaikan secara teknis, layaknya seorang RASIONALIS.
Jadi, gak boleh IDEALIS, tapi jadi RASIONALIS?
Gak gitu juga keuleus.
Idealnya, JAGA IDEALISME dengan tetap berpikir RASIONAL.
Susah, d**g! Emang. Baru tau kalo di Arsitektur kuliahnya susah? Hehe.
Man jadda wajada.
Siapa yang mau berusaha, akan berhasil.
So, saran tipis² bagi peserta DAA:
1. Pilih tema yang DATANYA MUDAH DIDAPAT. Baik Data Primer, apalagi Data Sekunder. Syukur² temanya sesuai Idealisme, dan datanya mudah didapat. Aamiin.
2. CEKLIS itu perangkat yang memudahkan pengerjaan bagi peserta DAA, sekaligus mengobyektifkan penilaian bagi Dosèn. So, JANGAN PERNAH SEKALI-KALI MEREMEHKAN CEKLIS.
3. Asistensi-Konsultasi itu BAGIAN DARI PROFESI ARSITEK. Dan Anda belajar membiasakan dengan Etika Profesi ini sejak Mahasiswa. Sejak DAA pada khususnya. Gak usah nunggu disuruh asistensi. Be active.
4. Desain KEREN aja, GAK CUKUP. KEREN aja, tapi notasi gak bener, gak lengkap, nilai dibawah C. Tekor, kan? Bener dan lengkap, tapi GAK KEREN, minimal C. Masih mending, to?
5. Referensi kombinasi antara Karya Arsitek lain (tentunya yang terkenal lah, hehe) dan Teori, itu wajib hukumnya, so mulailah kebiasaan positif baru: BACA BUKU!
6. Peraturan, sifatnya melengkapi dan mendukung desain. Contoh, parkir. Udah gak jaman pakè asumsi²an. Lha wong di standar udah ada semua. Contoh lagi, cara meletakkan lampu outdoor di kawasan terbangun. Udah ada di SNI; mulai jaraknya, tingginya, bahkan sampai besaran dayanya. Ngapain musti mikir lagi?
7. Best for last. Doa orangtua. Selalu jadwalkan rutin tiap minggu atau 2 minggu sekali minimal, untuk memberi kabar kepada ortu tentang progress kuliah, terutama DAA. Yang paling penting, di akhir pemberian kabar ke ortu, MINTA DIDOAKAN. Sudah banyak sejarah orang sukses, yang berhasil dalam hidupnya, karena DOA ORANGTUA.
Jadi, rekan² mahasiswa pejuang DAA, akhirul kalam, saya ucapkan,
SELAMAT BERJUANG!
Stay peace, love and gaul!
Tertanda,
Dosen DAA yang juga ikut berjuang.