Indonesian Nursing Trainers

Indonesian Nursing Trainers INT - More Than Just Nursing
Visit Our website at www.indonesiannursingtrainers.com Vision: Promoting nurses to become professional trainers

Order now...WA 0823 6815 5600
25/03/2020

Order now...WA 0823 6815 5600

KITA MISKIN BUKU OCCUPATIONAL HEALTH NURSING Negeri kita ini miskin buku Occupational Health Nursing.  Sekitar 2 juta pe...
13/03/2020

KITA MISKIN BUKU OCCUPATIONAL HEALTH NURSING

Negeri kita ini miskin buku Occupational Health Nursing. Sekitar 2 juta perawat, ribuan industri, sungguh memprihatinkan tanpa kepemilikannya. Mari gabung bersama kami untuk berkarya demi diri, profesi dan bangsa Indonesia. Untuk bikin buku ini dibutuhkan: pengalaman, minat dan sedikit dana. Anda pasti bisa.

Hubungi kami di WA: 081336691813.
Syaifoel Hardy

JON SIR, PENJARA DAN NASIB PPNI: PERANG DUA KUBU PERAWATBy Syaifoel HardyDua pekan terakhir, marak berita tentang Jon Si...
03/03/2020

JON SIR, PENJARA DAN NASIB PPNI: PERANG DUA KUBU PERAWAT

By Syaifoel Hardy

Dua pekan terakhir, marak berita tentang Jon Sir. Sosok yang dianggap penuh kontroversi di dunia maya, jagat Perawat Indonesia. Ada yang pro, ada yang kontra. Yang pro menganggap pribadi Jon Sir sebagai pribadi yang membawa angin pembaruan bagi profesi. Jon Sir adalah simbol, ‘pahlawan’ pemberani yang lantang mendobrak tirani atau rezim profesi yang selama ini dianggap menghalagi kemerdekaan berpendapat profesi keperawatan. Apapun langkah yang ditempunya, Job Sir selalu dibela. Jon Sir adalah bentuk konkrit perubahan profesi. Namanya sempat melejit dalam periode 2019 hingga awal 2020 ini.

Di sisi lain, yang kontra menganggap bahwa Jon Sir merupakan sosok perawat yang sembrono, tidak tahu etika bagaimana harus mengedepankan peran komunikasi bagi seorang professional. Jon Sir adalah sosok yang tidak punya aturan. Semua norma dilanggar. Boro-boro Pahlawan, Jon Sir bukanlah lambang kebebebasan berpedapat.

Sebaliknya, seorang Jon Sir perusak. Beiau perlu diingatkan, kalau perlu lewat jalur hukum agar tidak terulang. Perilaku yag ditunjukkan oleh Jon Sir, bisa seperti Efek Domino, menular, merambat ke generasi muda. Jon Sir identic dengan kecerobohan, di mana dia menempuh segala cara adalah halal. Masalah Jon Sir bagi kelompok ini tidak bakal selesai, sampai kasus dibawa ke rana hukum.

Pertarungan dua pendapat di atas seperti rel Kereta Api, yang tidak akan pernah ketemu. Hampir setiap hari muncul di medsos hingga saat ini. Lebih ramai lagi ketika Jon Sir masuk Penjara. Siapa yang diuntung-rugikan? Organisasi Profesi, Perawat, Jon Sir atau Pihak yang Menggugatnya?

Jon Sir adalah perawat. Jon Sir koar-koar di medsos, pasti bukan tanpa sebab. Ada 3 hal yang kemungkinan melatar-belakangi mengapa ini terjadi. Kita tidak tahu hingga diungkap di meja hijau mengapa beliau masuk Bui. Kita yang hanya berperan sebagai penonton, berusaha untuk menganalisanya.

Pertama, ini bsa terjadi karena murni kepeduliannya terhadap nasib profesi keperawatan akhir-akhir ini. Inilah yang sering diungkap oleh Jon Sir dalam setiap update statusnya. Kedua, bisa juga karena ambisi pribadi. Kita tidak tahu dalam hati seseorang, karena setiap orang pasti punya ambisi. Yang ketiga, bisa juga karena ‘dendam’ pribadi. Yang ketiga in bisa terbaca lewat coretan-coretan Jon Sir yang tidak segan-segan menuliskan nama orang dengan kosa kata menyerang secara vulgar.

Tiga persoalan di atas lah yang kemudian menimbulkan persepsi berbeda dari orang per orang, meskipun profesinya sama: Perawat. Ada yang membiarkan. Ada yang sedikit perhatian. Ada yang serius hingga sangat serius menanggapinya. Nah, yang terakhir ini yang perlu kita garis bawahi, karena ada pihak yang sangat serius inilah yang membuat Jon Sir masuk penjara.

Saudara.....

Sebagai perawat professional, kalau kita harus jeli mempelajari kasusnya. Mestinya kasus Jon Sir bisa diselesaikan di dalam wadah profesi, tanpa melibatkan Meja Hijau. Hanya saja kita sadari, persepsi dari orang per orang berbeda. Sepele bagi yang satu, bisa sangat merugikan bagi lainnya. Walaupun memang Indonesia ini adalah Negara Hukum. Akan tetapi bukan berarti bahwa yang melakukan segala sesuatu pasti ada hukumya harus dihukum. Itu namanya gegabah.

Pertama, dari sudut TransCultural Nursing. Jon Sir itu dari NTT. Kita tahu budaya orang NTT tidak sama dengan orang Jawa. NTT lebih frontal, terbuka. Tidak sama dengan mayoritas orang Jawa yang tertutup dan mengedepankan unggah-ungguh yang barangkali tidak berlaku di NTT. Karena beda kebiasaan dan budaya dan karakter ini, bukan berarti Jon Sir berbuat sebuah kesalahan bagi sementara orang. Keterbukaan Jon Sir adalah hal biasa bagi orang NTT, namun tidak bagi orang Jawa. Inilah hal pertama yang harus kita pahami.

Kedua, sisi anggota OP. Jon Sir adalah anggota OP. Jika melanggar, very simple. Panggil yang bersangkutan, ajak diskusi. Jika perlu seminarkan agar ada kepuasan dari kedua belah pihak. Diskusi dalam profesi adalah hal biasa.Keterbukaan ini penting. Mengapa Jon Sir koar-koar? Barangkali karena tidak adanya keterbukaan dari pihak OP. Akibatnya, apa yang menurut Jon Sir isu OP, ditanggapi sebagai isu pribadi oleh orang lain, hanya karena tidak terjadi penanganan professional dalam tubuh OP.

Ketiga, tidak ada penengah. Dalam OP memang ada Dewan Pertimbangan Saat anggotanya masuk Penjara karena konflik dengan sesama anggota, di mana peran Dewan Pertimbangan atau Dewan Penasehat Apakah kejadian ini dibiarkan karena diaggap rana pribadi? Inilah persoalan yang peru dijelaskan di medsos juga agar semua anggota paham. Setidaknya secara umum dulu. Tidak harus menyebutkan nama Jon Sir atau orang yang ‘diserangnya’. Dengan demikian, isu yang dilontarkan oleh Jon Sir, dijawab atau ditanggapi oleh Pengurus OP. Bukannya dibiarkan kemudian merambat ke Balik Terali Besi.

Keempat, kasus Jon Sir ini bisa berdampak negative. Anggota akan kehilangan kepercayaan terhadap pengurus. Anggota menilai bahwa pengurus seakan-akan menakut-nakuti anggota dengan Hukum dengan ancaman Penjara bagi yang kritis. OP bukannya berperan melindungi anggota. OP bukan lagi pelayan, tetapi OP adalah Boss yang antikritik, bisa berbuat apa saja terhadap anggota yang ‘nakal’. OP bukannya sebagai ‘Pembina’.

Seharusnya, kalau mau berfikir panjang. Kasus Jon Sir bisa diselesaikan internal. Panggil kedua belah pihak. Jangan ada yang merasa superior. Kita ini bukan siapa-siapa. Semua juga perawat dan akan pensiun pada masanya serta dilupakan semua orang. So, diskusikan, libatkan pihak penengah. Tuntaskan masalahnya. Bukan perang sesama anggota profesi. Percayalah, kasus seperti ini merusak reputasi kita semua.

Ringkasnya, kasus Jon Sir bisa kita jadikan bahan refleksi. Sesama perawat jika perang, yang menang pun tidak dapat keuntungan apa-apa. Malah bisa jadi Bumerang. Sementara para penonton, profesi kesehatan lain dan masyarakat, bakal tepuk tangan.

Koq hanya segini kualitas perawat Indonesia? Masih bentrokan di rumah sendiri, tega-teganya menjebloskan kolega sendiri, tidak mampu berkomunikasi, lha koq nuntut mau jadi Menteri?

Malang, 3 Maret 2020.
Syaifoel Hardy
WA 081336691813.

SEANDAINYA SAYA KETUA PPNI PERIODE  2020-2025By Syaifoel HardyKehidupan seorang profesional, tidak boleh berandai-andai....
08/02/2020

SEANDAINYA SAYA KETUA PPNI PERIODE 2020-2025

By Syaifoel Hardy

Kehidupan seorang profesional, tidak boleh berandai-andai. Profesional dituntut untuk memiliki optimisme dengan memperhitungkan segala risiko serta bagaimana mengatasinya. Karena itu, judul di atas sangat tidak menarik bagi mereka yang merasa sebagai professional sejati.

Hanya saja, sebagai manusia biasa-dan seorang professional adalah manusia biasa- tidak ada yang salah jika memiliki impian dengan kata ‘Andai...’. Karena kita sejatinya tida bisa lepas dari kata tersebut. Dalam Agama Islam misalnya, mengajarkan, mereka yang sudah meninggal dunia pun nantinya banyak yang menyesal dan meminta kepada Tuhannya: “Yaa...Tuhan, andai saja saya masih diberikan kesempatan untuk kembali ke dunia barang semenit saja, maka saya akan berikan semua kekayaan saya untuk beramal.....”
So, tidak ada yang salah dengan berandai-andai. Atau, terserah pembaca lah, mau setuju dengan judul di atas atau tidak. It is all up to you....

Well guys......., let me start......

Sekurang-kurangnya, saya memiliki 17 tahun pengalaman berorganisasi, dalam ruang lingkup PPNI. Saya bukan pemain baru. Jadi saya nulis artikel ini tidak asal jeplak. Tiga setengah tahun di Kuwait, setahun di antaranya sebagai Ketua, sisanya sebagai Dewan Penasehat. Sepuluh tahun di Dubai, walaupun saat itu PPNI cabang UAE belum terbentuk, namun organisasi kami yang bernama IMA mayoritas berprofesi sebagai perawat, masih nyrempet-nyrempet OP nursinglah. Dan tujuh setengah tahun di Qatar, di Dewan Penasehat juga. Itu belum termasuk kiprah saya saat masih kuliah. Sebuah pengalaman yang tidak tergolong singkat kan?

Makanya saya mencoba ikut nimbrung dalam perhelatan Munas ke 10 (?) PPNI di Bali dua bulan mendatang lewat tulisan ini.

Andai saya jadi Ketua PPNI periode 2020-2025:

Pada hemat saya, sebagai senior yang mengamati perjalanan organisasi profesi ini selama 40 tahunan, saya melihat ada 3 persoalan penting yang harus diseriusi yang bisa mendongkrak reputasi profesi nursing, juga organisasi ini. Tiga persoalan tersebut adalah: pekerjaan, pelatihan dan pendidikan. Mengapa? Karena inilah akar persoalan yang menjadi dasar mengapa sebuah profesi bisa maju dan anggotanya sejahtera. Mengapa anggota banyak yang protes, sewot atau tidak puas dengan organisasi di media masa? Memang, belum ada penelitian tentang hal ini dalam tubuh OP. Yang pasti mereka merasa bahwa: pertama, karena tidak atau belum sejahtera. Ini masalah ekonomi sebagai kebutuhan pokok professional. Yang kedua masalah pendidikan.

Sejauh ini, perkembangan pedidikan nursing di Indonesia sangat lambat disbanding negara-negara maju. Bayangkan, spesialisasi nursing kita saja masih 6 jumlahnya, sejak lahir program Sarjana di tahun 1985, sementara angkanya bisa 100 lebih di USA. Kita masih berkutat di Keperawatan Dasar, Jiwa, Anak, Komunitas, Maternitas dan KMB. Kalau dikritisi, kita sering ngeles, masih berbenah dan harus bersyukur. Di tingkat training, kita juga lihat masih itu-itu saja yang ditangani. Kalau tidak BTCLS, Gawat Darurat, atau yang ada hubungannya dengan 6 spesalisasi di atas. Training ICU, hemodialisa, Kamar Operasi, Ortopedi, mahal banget yang harus dibayar perawat.
Jadi Ketua PPNI yang bagaimana yang diharapkan pada periode mendatang?

Pertama, Ketua PPNI harus jeli melihat kebutuhan anggota. Ketua PPNI harus kritis dengan perkembangan dunia, Bukan hanya pintar dalam hal membuat regulasi atau aturan, tetapi tidak memecahkan inti persoalan yang dihadapi oleh anggotanya.

Kedua, Ketua PPNI harus mampu mengidentifikasi masalah kemudian memprioritaskan masalah penanganan berdasarkan kondisi riil di lapangan.

Ketiga, Ketua PPNI harus terbuka dalam menghadapi segala situasi dan kondisi yang dihadapi oleh anggotanya, sehingga aspirasi mereka merasa ditampung dan diperhatikan.

Keempat, ada openness (keterbukaan organisasi) yang dimulai dari atas, khususnya masalah finansial.

Yang terakhir, kepengurusan PPNI diharakan lebih dinamis. Merekrut anggota dari kalangan praktisi di lapangan, perbandingan antara PNS, swasta, RS, klinik, dalam dan luar negeri hingga mereka yang memiliki pengalaman industry perlu dperhatikan. Hindari dominasi oleh akademisi dengan sederet gelar tapi tidak nampak karyanya di lapangan.

Lantas, apa program Ketua PPNI pada periode mendatang?

Prioritas pertama adalah peningkatan kesejahteraan melalui peningkatan peran organisasi dalam memfasilitasi peluang kerja. Bisa dan sangat dimengerti, bahwa tugas PPNI bukan memberi atau mencarikan pekerjaan pada anggotanya. PPNI hanya sebuah OP yang memberi advise, atau sebagai advisor bagi anggotanya. Namun OP bisa menjembatani kepentingan ini dengan misalnya, mempermudah proses yang ada kaitannya dengan perolehan peluang kerja ini. Contohnya, memangkas proses pembuatan STR yang lama. Fleksibilitas dalam perolehan SKP. Mengadakan event terkait job fair, mengadakan Job Placement event, pemberian surat rekomendasi bagi yang bekerja di luar negeri tanpa birokrasi yang ribet, dan lain-lain.

Prioritas kedua, pengadaaan pelatihan. Semua paham bahwa OP bukanlah training organization. Namun OP punya andil dalam SKP dalam training. Oleh sebab itu, OP bisa memberikan mas**an (bukan aturan yang mengikat apalagi mempersulit) mereka yang menyelenggarakan pelatihan guna kepentingan pekerjaan. Di tangan OP jika OP bisa menyelenggarakan pelatihan sendiri, pelatihan harus lebih murah, praktis, efisien.

Persoalannya, duit nya dari mana untuk mendirikan gedung, fasilitas training, membayar trainer dan lain-lain? Bukankah anggota bayar iuran? Pasti ada jalan lah! Di OP kita banyak orang pintar, namun untuk merealisasikan kerja yang free, tanpa bayaran, yang siapa mau?

Prioritas ketiga, masalah pendidikan keperawatan. Semua juga paham, pendidikan bukan urusan OP, tetapi milik Dikti atau Kemenkes. Tetapi semua dosen kampus keperawatan boleh dikatakan anggota OP. Jadi, di mana sulitnya mengmpulkan mereka untuk membicarakan masa depan pendidikan keperawatan ita agar maju, berkembang serta tidak membosankan.

Contoh kecil, di negeri ini ada 37.000 lebih perusahaan level usaha menengah dan besar. Jumlah tersebut bukan sedikit. Namun demikian, kurikulum Occupational Health Nursing tidak pernah diseriusin sebagai subject yang sangat dibutuhkan di industry. Walaupun ada K3, akan tetapi hard diakuti bawa K3 tidak sama dengan Occupational Health Nursing.

OP bisa memberi mas**an untuk dibicarakan di level AIPNI misalnya. Belum lagi spesialisasi lainya seperti Teknologi Informasi dalam Keperawatan, Ekonomi, Politik, Transcultural Nursing, dll.

Semua ini jika digodok, akan membuat paket pengajaran keperawatan kita menarik dan reputasi perawat Indonesia bisa meningkat di dunia. Jangan lupa, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Jepang atau Belanda yang perlu mendapatkan perhatian di era Industri 4.0 ini.

Tiga ini aja dulu yang dikerjakan lima tahun mendatang. Lebih baik sedikit nampak hasilnya, daripada seribu, kayak buih di lautan.

Jangan lupa, syarat Ketua PPNI periode mendatang harus pintar Bahasa Inggris lho ya? Agar tidak perlu penterjemah. Malu lah.....dengan negara tetangga.

Kami yakin, jika Ketua PPNI periode depan memiliki visi misi di atas dalam debat memperebutkan kursinya yang tidak ada bayarannya itu, semua anggota akan serentak voting: yes, yes, yes.......!!!

Kalau saya jadi Ketua PPNI periode 2020-2025, akan saya kampanyekan program di atas saat debat. Tapi saya kan hanya berandai-andai.......?

Malang, 8 February 2020
WA 081336691813.

YANG SEPELEBy Syaifoel HardySaya masih ingat zamannya masih bersemangat-semangatnya belajar dulu di kampus Universitas M...
18/12/2019

YANG SEPELE

By Syaifoel Hardy

Saya masih ingat zamannya masih bersemangat-semangatnya belajar dulu di kampus Universitas Muhammadiyah Malang. Mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Jurusan yang saya anggap memiliki masa depan bagi seorang perawat.

Jurusan itu saya ambil karena lulusan SPK kalau ambil Akper, harus 3 tahun. Padahal, lulusan Akper golongan pangkatnya hanya 2B. Sementara lulusan S1 Bahasa Inggris, kuliah 4 tahun (terpaut 1 tahun dengan Akper), bisa Golongan 3A. Dari Golongan 2B ke 3A butuh waktu 12 tahun kalau lancar. Kelihatan sepele, hanya berjarak 1 tahun belajar tapi dampaknya gede banget.

Semasa belajar, ada hal sepele yang ternyata berpengaruh besar terhadap proses belajar, yakni meluangkan waktu sedikit tapi rutin. Waktu yang sedikit itu di antaranya: sedikit untuk membaca, sedikit untuk bicara, sedikit untuk mendengar serta sedikit menulis. Semuanya saya lakukan dari sejak awal dan itu setiap hari. Bahkan sebelum dosen memberikan materi misalnya, saya sudah mempelajarinya, meski tidak paham atau tidak mengerti. Yang penting: membaca, mengetahui. Kekuatannya ternyata luar biasa.

Yang sedikit demi sedikit ini lama-lama menjadi bukit. Di semester tiga, saat ikut lomba speaking competition di kampus, Alhamdulillah jadi juara. IP saya selalu di atas 3.5. Article saya diterbitkan di Majalah Hello Magazine serta dapat uang. Saya mengajar di kursus private di 2 tempat, serta di satu sekolah SPK. Ini bukan pamer kesombongan. Orang sombong itu adalah orang yang menyepelekan orang lain.

Saudara......

Ujian Bahasa Jerman di Gothe Institute beberapa waktu lalu, dari 36 peserta perawat, hanya 2 orang yang lulus. Mengapa, karena kita sering menyepelekan hal yang sangat sederhana. Yang kecil-kecil kita anggap tidak penting. Kita sering berpijak pada ‘Apa kata nanti’. Akibatnya, pada saatnya kita akan menyesal, kenapa tidak dari dulu melakukannya. Bukan hanya masalah bahasa saja, tetapi berbagai kebutuhan profesi lain, khususnya yang ada kaitannya dengan kebutuhan kompetensi.

Hikmah yang ingin saya share pada teman-teman generasi muda saat ini adalah, luangkan waktu untuk belajar sedikit saja dalam keseharian anda, tentang apapun. 10 menit tidak masalah asal rutin selama 50 hari. Jangan tunggu nanti, 500 menit dalam sehari. Procrastination dalam Bahasa Inggrisnya. Nanti akan terasa berat. Khususnya bagi mereka yang ingin kerja di luar negeri. Belajar bahasa itu tidak harus jadi orang pintar. Yang penting rajin, konsisten. Waktu yang sepele, bisa jadi seperti mutiara di masa mendatang.
Percayalah!

Malang. 19 December 2019
WA 081336691813

BELAJAR KEPERAWATAN KE THAILAND, FILIPINA & TAIWAN: MAJU KENA, MUNDUR KENABy Syaifoel HardyDalam ilmu Agama Islam, rujuk...
12/12/2019

BELAJAR KEPERAWATAN KE THAILAND, FILIPINA & TAIWAN: MAJU KENA, MUNDUR KENA

By Syaifoel Hardy

Dalam ilmu Agama Islam, rujukan belajarnya adalah di Timur Tengah. Di Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Qatar, Iraq, Yordania dan Yaman adalah beberapa nama yang bisa disebut. Ini bukan hanya karena di negeri-negeri tersebut berbahasa Arab sebagai ‘bahasa resmi’ dalam Agama Islam, namun juga dekat dengan sumbernya di mana Islam dilahirkan. Demikian p**a agama samawi lainnya, Kristen dan Yahudi. Orang akan belajar di negeri di mana kedua agama tersebut lahir sebagai sumbernya.

Walaupun tidak ada salahnya belalar ke negeri lain. Misalnya pada tahun 60-70 an, banyak pemuda Malaysia mondok, belajar Ngaji di Indonesia. Hanya saja di tingkat lanjutan, aromanya akan beda, lulusan Mesir, Madinah dengan lulusan Indonesia.

Akan halnya belajar Ilmu Keperawatan di luar negeri, tahun-tahun belakangan ini banyak pilihan. Dulu, tahun 80-90 an, pilihannya hanya USA, Canada, dan Australia. Sesudah itu terjadi pergeseran tempat. Pertimbangannya adalah: persyaratan ketat khususnya bahasa, biaya secara keseluruhan mahal, jarak jauh serta formasinya kecil. Empat hal ini yang menjadi hambatan mengapa kemudian dicari alternatifnya.

Sesudah tahun 2000, kiblat belajar ke luar negeri bergeser. Sebaga gantinya, Pemerintah, kampus, yayasan, hingga individu perawat, melirik tempat lain yang lebih negotiable. Syarat ringan, biaya murah, bahasa tidak terlalu ketat dan dekat Indonesia. Kemudian muncullah nama-nama negara di atas.

Belajar di Thailand, Filipina, Taiwan bahkan Malaysia bagi professional keperawatan dianggap dilematis. Pesertanya rata-rata dari akademisi, kampus. Untuk pemenuhan akreditasi kampus. Mayoritas untuk program S2 atau S3. Sekalian mendapatkan link untuk kerjasama luar negeri yang mampu mendongrak point akreditasi lewat program kerjasama luar negeri. Walau dianggap sangat menguntungkan, juga ada ruginya.

Di negara-negara tersebut, Bahasa Inggris bukan mother tongue. Jadi, selain bukan tempat Ilmu Keperawatan ‘dibesarkan’, dikhawatirkan, teman-teman ini bkannya makin pintar bahasa Inggrisnya, malah Bahasa Tagalog, Mandarin, Melayu atau bahasa Thai nya yang makin lancar.

Yang pasti, mereka yang belajar keperawatan di luar negeri banyak mendapatkan ilmu serta pengalaman selama di sana. Walaupun tidak sedikit cibiran saat balik ke Indonesia. Yang lulusan USA Australia bisa jadi merasa lebih ‘besar’ ketimbang jebolan Asia karena Bahasa Inggris dan ketatnya persyaratan ke sana. Padahal nilai manfaanya boleh jadi yang jebolan USA, Canada atau Australia malah tidak dimanfaatkan di kampusnya.

Jadi, kembali kepada individual. Mau belajar S2, S3 di negeri sendiri atau di luar negeri, kalau hanya asal bisa bahasa Inggris, bermanfaat bagi mahasiswa, kampus atau masyaraka luas, itu luar biasa. Belajar di luar negeri setinggi apapun kalau ujung-ujungnya tidak bermanfaat, ya untuk apa?

Tidak sedikit kasus di mana jebolan luar negeri nyatanya tidak mampu mengamakan ilmunya di negeri sendiri lantaran hambatan birokrasi, senioritas tempat kerja atau budaya Indonesia yang sulit untuk diajak berubah. Yang merasa, pasti senyum-senyum sendiri di akhir baca artikel ini.

Malang, 12 December 2019
WA 081336691813

PERAWAT INDIA: PRINSIP SUPER HEMATBy Syaifoel HardyPerawat India itu seperti Garam. Ada di semua menu. Tidak ada menu ma...
09/12/2019

PERAWAT INDIA: PRINSIP SUPER HEMAT

By Syaifoel Hardy

Perawat India itu seperti Garam. Ada di semua menu. Tidak ada menu masakan tanpa garam. Perawat India itu ada di mana-mana. Andai saja Puskesmas ada di Bulan, mungkin perawat India lah yang paling awal pergi ke sana. Di Timur Tengah khususnya, tidak ada satupun sudut pusat layanan kesehatan tanpa mereka. They are everywhere. Saudi, Oman, Bahrain, Iraq, Qatar, Kuwait, UAE hingga Yaman. Dari Eropa hingga Amerika, Dari Canada hingga Afrika. Dari Australia hingga Irlandia. Mungkin, mungkin nih, di China saja yang tidak ada perawat India yang kerja di sana, karena di China perawat dibayar murah.

Pertama kali kenal dengan perawat India tahun 1993, saat bekerja di Kuwait. Tidak sulit membedakan secara fisik orang India dengan orang dari negara-negara lain. Bagi mereka yang pertama kali ke luar negeri, mungkin agak susah bedakan perawat asal Pakistan dengan India, India dengan Srilanka, atau India dengan Bangladesh. Namun lama-lama tahu. Perawat India punya features dan karakteristik yang beda.

Waktu itu saya bekerja di Mubarak Al Kabeer Hospital, sebuah hospital besar, pendidikan. Di bangsal Surgical Urology, saya ketemu Wishnu, Valsa, Sherly, Regimol, Parvathi, Jolly dan Mr. Dash sebagai Karu. Tujuh orang India itu statusnya mayoritas. Enam orang dari negara bagian Kerala, hanya Mr. Dash yang dari Madras.

Saya s**a mengamati perilaku, karena belajar budaya asing itu bagi saya sangat menarik. Apalagi bahasanya. Mereka kalau ngomong cepat. Grammar rata-rata bagus. Maklumlah, perawat di India tergolong high-educated, jadi ngomong Inggrisnya tertata. Walaupun ada mungkin orang India yang asal bunyi, tetapi untuk perawat, standard bahasa Inggrisnya bagus. Kalau boleh saya ngasih angka rata-rata: 7.

Perawat cewek umumnya berambut panjang. Kalau ada yang pendek bisa jadi bukan perawat. Yang muslim berjilbab. Jadi tidak sulit mengetahui agama mereka, apalagi jika sudah tahu namanya. Kecuali kita kurang ilmu, tidak bakal paham.

Mayoritas perawat cewek berambut panjang, mengenakan jepit yang khas, buatan India. Japit rambut atau ikat rambut tidak bakal macam-macam. Murah sekali kasarnya. Mereka s**a menggunakan minyak rambut tradisional, seperti minyak kelapa kalau di kita. Aroma minyak rambutnya menyebar. Bagi yang tidak terbiasa, mungkin hidungnya sulit ‘menerima’.

Bedak, make-up, tidak macam-macam. Mayoritas tidak mengenakan make-up. Pakaian seragam sangat sederhana. Kalau perawat Filipina jarang yang gunakan seragam yang diberi oleh hospital yang gratisan. Perawat India kebalikannya, justru tidak ada yang jahit sendiri. Pokoknya, pantas atau tidak, kebesaran atau tidak, mereka kenakan. Termasuk pakaian pribadi. Soal warna, mereka tidak peduli, cocok atau tidak. Yang penting nutup tubuh.

Sepatu, kaos, baju, arloji dan lain-lain asesori, mereka tidak ‘gila’. Mereka akan milih yang sangat murah. Mereka selalu bilang ‘very expensive’ sekiranya ada barang-barang yang ada bandinganya yang jauh lebih murah. Produk yang mereka prioritaskan, yang penting India. Mereka tidak edan dengan produk import. Meski duitnya banyak, tidak kelihatan ‘kaya’. Kalau ada Made in Indonesia, mereka s**a. Tapi begitu mahal, mereka tidak tertarik untuk bakal beli.

Makanan, teman-teman saya rata-rata bawa dari rumah. Masak sendiri. Jarang yang mau beli di luar, apalagi seperti KFC, Mc Donalds atau Pizza Hut. Mereka akan bawa makanan tradisional untuk breakfast atau snack. Singkong sangat umum dan mereka s**a, di Kuwait mahal harganya. India memang kaya akan aneka masakan ini. Sayangnya orang kita banyak yang gak doyan. Orang India s**a gunakan tangan kalau makan, tidak gunakan sendok kayak orang Barat.

Bacaan, mereka tidak bakalan beli Koran asing berbahasa Inggris. Kalaupun ada, pilih yang gratisan milik hospital atau pasien. Tapi jangan tanya tentang bahasa inggris nya, ya memang sudah bagus dari sono nya. Mereka lebih milih majalah atau Koran dengan bahasa mereka sendiri yang kertasnya buram, kayak Koran kusam, harganya sangat merakyat.

Saat kerja di Qatar, beberapa kali saya pergi ke India, dan mengunjungi rumah teman-teman perawat yang kerja di Timur Tengah. Mereka rata-rata kaya. Ada yang rumahnya kayak Bungalow, mirip istana mini. Punya 3 buah restaurant ramai. Tanah luas. Ada teman yang menjamu semua biaya perjalanan, rekreasi, penginapan, transport, konsumsi selama saya di sana. Aslinya memang dari keluarga kaya, tetapi s**a jadi perawat karena punya gengsi. Di tempatnya, District Angamali, Kerala, hampir setiap rumah ada yang kerja di luar negeri.

Saya tidak sangka bahwa di balik kesederhanaan hidup saat di luar negeri yang gajinya besar, banyak perawat India yang aslinya kaya, tetapi gaya hidupnya sederhana. Bukan kayak kita, yang aslinya sederhana tapi gaya hidupnya kayak orang kaya.

Segitu dulu ya? Nanti kita lanjut di episode berikutnya.

Malang, 9 December 2019
WA 081336691813

MERAMAL NASIB PERAWAT SUSAH DI INDONESIABy Syaifoel HardyHingga hari ini, jumlah kontak di WhatsApp (WA) kami (Indonesia...
06/12/2019

MERAMAL NASIB PERAWAT SUSAH DI INDONESIA

By Syaifoel Hardy

Hingga hari ini, jumlah kontak di WhatsApp (WA) kami (Indonesian Nursing Trainers), ada 2125. Lebih dari 90% di antaranya perawat atau sekitar 1912 orang. Perawat ini berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua. Mayoritas (60%) berasal dari 6 provinsi yang ada di Jawa (Jatim, Jateng, Jabar, Yogyakarta, DKI dan Banten).

Dari jumlah tersebut, tidak kurang dari 40% nya berstatus sebagai pencari kerja. Boleh dibilang 90% memburu peluang ke luar negeri. Sebulan terakhir, tidak kurang dari 200 orang yang menghubungi saya untuk mengikuti program ke Germany. Sayangnya, lebih dari 180 orang (90%) yang mengaku berat atau tidak mampu secara finansial membayar biaya pelatihan (belum termasuk biaya rekrutmen). Biaya pelatihan Bahasa Jerman tergolong mahal dibanding Bahasa Inggris.

Di Goethe Institute, biaya program super intensive (tiap hari selama 5 hari/minggu), mencapai Rp 4.900.000. Itu belum termasuk makan dan pondokan. Walaupun biaya kuliah jurusan keperawatan sebenarnya mahal, ada yang Rp 12 juta per semester, kenyataaanya untuk membayar Rp 5 juta per bulan selama 4 bulan pelatihan bahasa Jerman, 90% perawat mundur teratur. Yang belum mendapat izin orangtua sebesar 10%. Data ini menunjukkan gambaran bahwa mayoritas perawat Indonesia secara finansial belum sejahtera. Karena untuk bayar pelatihan bahasa ke luar negeri saja tidak mampu, selain tidak disiapkan program ke luar negeri di kampus.

Perkiraan kami, angka pertumbuhan pop**asi perawat di Indonesia per tahun mencapai 4% (40.000 orang perawat muda). Jumlah ini hampir sama dengan angka pengangguran di Indonesia yang mencapai 5.01% (BPS) pada bulan February 2019. Perawat muda terancam pengangguran professional karena mereka belum punya STR.

Untuk bisa bekerja secara professional (dibayar rendah atau tidak) di Indonesia wajib punya Surat Sakti ini. Sesudah ikut Ukom, masih menunggu minimal 1 bulan. Sesudah itu menunggu lagi terbitnya STR paling tidak 6 bulan. Jedah waktu tunggu ini belum terhitung kesalahan cetak, keterlambatan, hilang dan lain-lain. Sesudah punya STR pun, persaingan ketat menanti di lapangan. Kerja tidak lagi muda bagi perawat pemula.

Solusi terhadap persoalan ini ada lima. Pertama, Pemerintah sudah ambil bagian dengan membuka peluang kerja sebagai PNS dengan jumlah yang masih sangat terbatas. Mungkin hanya 500 orang yang terserap (1.25%) dari jumlah perawat yang lulus per tahun. Pemerintah juga membuka Nusantara Sehat, katakan bisa membantu 2.5% dari perawat yang baru lulus (500 orang) per tahun.

Kedua, terserap di instansi swasta, magang atau kerja tidak dibayar sekitar 8000 orang (20% ?). Baik di RS, klinik, balai kesehatan, atau praktik dokter. Ada juga yang homecare. Namun, di homecare lebih dis**a yang berpengalaman. Jadi persaingan cukup ketat bagi pendatang baru.

Ketiga, Perawat baru ini menggapai apa saja yang bisa mereka lakukan, sepanjang ada aktivitas yang menghasikan. Jualan pulsa, dagang Online, jual beli motor, ikut EO, jualan Alkes, hingga membantu orangtua jualan Sembako. Oke, katakanlah jumlahnya mencapai 20% dari total perawat pemula atau sekitar 8.000 orang. Perlu diketahui, tidak semua perawat memiliki akses tersebut, khususnya dari luar Jawa. Mereka yang kuliah di Jawa kemudian balik ke p**au terpencil menghadapi kendala kerja yang besar di bagian ini.

Keempat, kesempatan kerja di luar negeri. Untuk perawat pemula, agak berat. Ke Timur Tengah, butuh pengalaman 2 tahun, selain STR dan mampu berbahasa. Peluang yang ada untuk fresh graduates hanya ke Jepang dan Jerman. Walaupu ada G to G ke Jepang yang ‘gratis’, kedua negara ini juga butuh biaya, waktu pelatihan bahasa minim 4-6 bulan, serta proses rekrutmen yang cukup panjang.

Sedikit sekali perawat pemula yang mampu tembus ikut program ini. Selain baru wisuda yang keluar banyak dana, kesiapan bahasa yang minim, serta mental juga izin orangtua. Diperkirakan tidak lebih dari 100 orang angkanya untuk fresh graduates (0.25%) setahun. Masalah ini tentu saja sangat serius.

Kelima, sebetulnya, organsasi profesi (OP), PPNI dalam hal ini, bisa ambil bagian dengan memanfaatkan uang iuran anggota (Rp 200 ribu) serta pendaftaran (Rp.100 ribu). Dengan iuran anggota, katakanlah dari 500.000 orang yang ada saat ini, dana setahun 500.000x200.000 = Rp.10 milyar itu bisa dijadikan ‘modal usaha’. Itu belum termasuk uang pendaftaran anggota baru. PPNI bisa juga dapat tambahan dana dari seminar, SKP, perpanjagan STR dan lain-lain. Jadi, tidak ada alasan miskin tidak ada dana untuk biaya operasional. Prioritas saat ini jangan bangun gedung PPNI yang ‘tidak menghasilkan’.

Duit Rp. 10 milyar tersebut bisa digunakan untuk, misalnya mendirikan Klinik keperawatan yang menghasilkan uang, training center juga menghasilkan uang, program ke luar negeri juga menghasilkan uang serta laboratorum keperawatan pusat penelitian keperawatan di Indonesia yang masih belum punya, yang juga menghasilkan uang, hingga program Homecare yang bisa laris.

Lima jenis lembaga ini, yakinlah, modalnya akan balik. Tenaganya bisa diambil dari fresh graduates. Artinya PPNI otomatis membuka peluang kerja. Pilot proyek bisa dilakukan bergantian, dari Sumatera, hingga Papua. Melalui program ini, setidaknya 1000 orang perawat baru bisa terselamatkan nasibnya (2.5%). PPNI tidak punya gedung tak masalah asal punya laboratorium atau training center untuk kesejahteraan kerja anggota.

Jika ditotal, dari 5 solusi di atas ternyata masih 50% yang bisa teratasi di atas kertas. Sisanya yang 50% nasib perawat pemula masih ‘terlantar’. Namun bisa diatasi. Pada tahun kedua, secara berangsur, terutama proaktif OP akan mampu mengatasi 10%, karena memaksimalkan penggunan dana iuran anggota.

Ke depan, dalam kurun 5-10 tahun, tujuan OP untuk menyejahterakan anggota bisa jadi kenyataan. Asalkan ada perombakan struktur organisasi, lakukan perubahan visi misi, libatkan perawat swasta jangan PNS saja, serta kalau perlu gunakan sistem bayar untuk pengurusnya. Dengan demikian pengurus akan makin bersemangat. Yang tidak becus kerjanya, gampang: pecat.

Usulan ini, terkesan ngegombal. Tapi bisa direalisasikan jika ada niat.

Malang, 7 December 2019
WA 081336691813

Address

Malang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Indonesian Nursing Trainers posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share