17/08/2026
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
(Cuplikan lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman)
Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak lirik agung itu pertama kali berkumandang namun, jika kita jujur menatap wajah peradaban bangsa hari ini, terasa ada sesuatu yang terbalik dalam tatanan pembangunan kita.
Membangun badan atau raga bangsa ini—gedung-gedung pencakar langit, jalan tol yang membelah pulau, bandara megah, dan infrastruktur fisik lainnya—namun jiwa bangsa ini jangan dibiarkan lapar, haus, dan kian rapuh.
Lagu kebangsaan itu secara eksplisit menempatkan "jiwa" sebelum "badan", sebuah urutan filosofis yang seharusnya menjadi kompas pembangunan nasional.
Namun realitasnya, kita justru membangun cangkang luar yang gemerlap sementara isinya keropos oleh krisis karakter, hilangnya integritas, dan matinya nurani kolektif. Seolah kita sibuk membangun hard skill tapi lupa membangun soft skill.
Sejarah memberikan kita teladan paling sempurna tentang pentingnya mendahulukan jiwa.
Bagimu Negeri, jiwa raga kami..." tidak boleh direduksi menjadi sekadar retorika upacara bendera atau nostalgia masa perjuangan merebut kemerdekaan.
Lirik itu adalah kontrak sosial abadi antara warga negara dan bangsanya, yang berlaku di setiap zaman—termasuk zaman sekarang yang penuh godaan dan ujian yang berbeda bentuknya.
"Jiwa raga kami" berarti kesediaan untuk menyerahkan bukan hanya tenaga fisik, tetapi juga ketulusan hati, kejujuran pikiran, dan kemurnian niat untuk membangun negeri. Jika kita hanya menyerahkan "raga" (tenaga kerja, pajak, kepatuhan administratif) sementara "jiwa" (integritas, empati, tanggung jawab moral) kita simpan untuk diri sendiri, maka pengabdian itu hanyalah transaksi, bukan pengorbanan.
Mengubah peradaban bangsa ini memang harus dimulai dari mengubah pendidikannya, tetapi bukan sekadar mengubah kurikulum atau menambah jam pelajaran.
Pendidikan harus kembali menjadi kawah candradimuka pembentukan karakter, bukan pabrik sertifikat akademik.
Optimisme harus tetap dipupuk dalam diri kita bahwa Indonesia masih bisa berjuang untuk ragam sektornya agar terwujudnya Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.