Ponpes Al-Ikhlas Pati Kota

Ponpes Al-Ikhlas Pati Kota OFFICIAL PAGE PP. AL-IKHLAS PATI KOTA Official Page PP Al-Ikhlas Pati Kota

24/04/2026

السلام عليك يا رسول الله 🥰

Ngaji penuh makna bersama Gus Baha 🤍Seri pertama: Kitab Maulid Al-BarzanjiMembaca bukan sekadar melantunkan, tapi memaha...
16/04/2026

Ngaji penuh makna bersama Gus Baha 🤍
Seri pertama: Kitab Maulid Al-Barzanji

Membaca bukan sekadar melantunkan, tapi memahami.

Di sini, teks asli Maulid Al-Barzanji disajikan lengkap dengan terjemah bahasa Indonesia, agar hati ikut hadir, bukan hanya lisan yang bergerak.

Karena mencintai Rasul bukan hanya soal rasa…
tapi juga tentang mengenal kisah, akhlak, dan kemuliaan beliau dengan ilmu.

📖 Teks kitab + terjemah
🎙️ Penjelasan khas, ringan tapi dalam
🕊️ Menenangkan sekaligus menguatkan iman

Ikuti perjalanan ngaji ini dari awal, jangan sampai terlewat satu bait pun.

✨ Tonton sampai selesai, resapi maknanya, dan bagikan agar lebih banyak hati yang terhubung dengan Rasulullah.

Seri pertama dari kitab al Barzanji oleh KH Baha'uddin Nursalim.. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan meneladani..---Terimakasih sudah menyimak. Tekan tomb...

Selamat menempuh   untuk para peserta didik, semoga berkah manfaat ilmunya... 🤲
06/04/2026

Selamat menempuh untuk para peserta didik, semoga berkah manfaat ilmunya... 🤲

Niatkan setiap langkah belajarmu untuk
ibadah, maka Allah akan memudahkan jalan menuju impianmu.

21/03/2026

KH Hasyim Asy’ari Tegur Menantunya soal Hasil Hisab Idul Fitri

Pondok pesantren telah banyak melahirkan ulama ahli falak yang dapat menghitung masa setiap tahunnya melalui hisab maupun rukyat. Beberapa literatur kitab klasik (turats) yang membahas detail tentang ilmu falak juga dipelajari di pondok pesantren.

Meskipun mempunyai kepakaran dalam ilmu perhitungan bulan dan matahari, ulama NU dalam wadah Lembaga Falakiyah (tidak pernah menganggap hasil hisab dan rukyatnya sebagai sebuah keputusan, melainkan kabar (ikhbar). Karena wilayah keputusan ada di tangan pemerintah yang sah (umara).

Terkait ikhbar tersebut, salah seorang ulama ahli falak, KH Ahmad Ghazalie Masroeri pernah menceritakan kepada Abdul Mun’im DZ tentang KH Hasyim Asy’ari yang menegur menantunya KH Maksum Ali, ahli falak.

Kiai Hasyim Asy’ari melakukan teguran terhadap menantunya perihal hasil hisab dan rukyat yang diumumkan sendiri tanpa diserahkan kepada pemerintah yang berwenang untuk mengumumkan.

KH Maksum Ali Jombang, seorang ahli falak yang juga menulis kitab tentang falak. Sudah menjadi kelaziman bagi ahli falak untuk melakukan puasa dan lebaran sesuai hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi/melihat hilal)-nya sendiri.

Pada suatu hari sesuai dengan hasil perhitungannya, Kiai Maksum Ali memutuskan untuk ber-Idul Fitri sendiri yang ditandai dengan menabuh bedug bertalu-talu. Mendengar keriuhan itu, sang mertua, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari kaget.

Setelah tahu duduk perkaranya, ia menegur, “Hei, bagaimana kau ini, belum saatnya lebaran kok bedug-an duluan?” Mendapat teguran dari mertuanya itu Kiai Maksum segera menjawab dengan tawadhu (hormat).

“Inggih (iya) romo kiai, saya melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan hasil hisab yang saya yakini ketepatannya.”

“Soal keyakinan ya keyakinan, itu boleh dilaksanakan. Tetapi jangan woro-woro (diumumkan dalam bentuk tabuh bedug) mengajak tetangga segala,” ucap Kiai Hasyim Asy’ari.

“Tetapi bukankah pengetahuan ini harus diikhbarkan (dikabarkan), Romo?” tanya Kiai Maksum Ali.

“Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri, dan tabuh bedug itu artinya sudah mengajak dan mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Kiai Hasyim Asy’ari.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Mata Santrinya Berusia 96 Tahun

“Inggih Romo,” jawab Kiai Maksum setelah menyadari kekhilafannya.

Abdul Mun’im (2017) mencatat, pendirian Kiai Hasyim Asy’ari itu kemudian ditetapkan secara formal dalam Munas Alim Ulama NU di Cipanas, Bogor tahun 1954 bahwa hak isbat diserahkan kepada pemerintah sebagai waliyul amri.

Sedangkan para ulama NU hanya membantu melakukan ikhbar, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat setelah diumumkan oleh pemerintah. Ini sebagai konsekuensi bagi NU dalam bernegara, yakni menyerahkan sebagian kewenangannya pada pemerintah yang sah.

Di situlah para ulama pesantren berupaya mempraktikkan ajaran dan hukum agama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena walau bagaimana pun, ulama sebagai warga negara punya kewajiban menaati ulil amri. Namun demikian, ulama juga mempunyai peran penting dalam mengingatkan dan mengkritik kebijakan penguasa yang mengabaikan kepentingan rakyat.

Di antara ulama falak dari pesantren ialah KHR Ahmad Dahlan Al-Falaki Al Tarmasi (adik kandung Syekh Mahfuzh Al-Tarmasi), KH Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi Kudus, KH Maksum Ali Jombang, KHR Ma’mun Nawawi Cibogo-Cibarusah Bekasi, KH Zubair Umar Salatiga, KH Misbachul Munir Magelang, KH Ahmad Ghazalie Masroeri, KH Muhammad Manshur atau Guru Manshur Jakarta, KH Noor Ahmad, KH Ghozali Muhammad, dan lainnya. (Fathoni)

Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk mencarinya di seluruh sepuluh malam terakhir.🌙 Menurut Anda, malam Ramadan mana yang pali...
14/03/2026

Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk mencarinya di seluruh sepuluh malam terakhir.

🌙 Menurut Anda, malam Ramadan mana yang paling terasa penuh ketenangan dan kekhusyukan?

Tuliskan pengalaman spiritual Anda. Mungkin kisah Anda akan menginspirasi Muslim lain di seluruh dunia.

Malam Ini LAILATUL QADAR; Mayoritas Ulama Berpendapat Begini
___

Setiap tahun, ketika sepuluh malam terakhir Ramadan tiba, umat Islam di seluruh dunia memasuki sebuah fase spiritual yang lebih hening. Malam-malam itu terasa berbeda—seolah waktu melambat, dan langit lebih dekat dengan bumi. Di antara malam-malam tersebut tersembunyi satu malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan: Laylat al-Qadr.

Namun sejak masa para sahabat, pertanyaan yang terus bergema adalah: kapan tepatnya malam itu terjadi?

Jika kita menelusuri literatur klasik Ahlussunnah wal Jamaah, kita menemukan pola menarik. Riwayat dari sahabat besar Abdullah ibn Abbas menunjukkan kecenderungan pada malam ke-27 Ramadan. Pendapat ini kemudian diperkuat oleh sejumlah ulama besar dalam tradisi hadis.

Ulama hadits terkemuka Imam al-Nawawi menjelaskan dalam karya-karyanya bahwa banyak ulama memandang malam ke-27 sebagai kemungkinan yang paling kuat berdasarkan kumpulan riwayat sahabat. Pandangan serupa juga dianalisis secara mendalam oleh Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab monumental Fath al-Bari. Dalam penelitiannya terhadap berbagai hadis dan atsar sahabat, ia mencatat bahwa sebagian besar riwayat memang mengarah pada malam ke-27.

Namun tradisi keilmuan Islam tidak berhenti pada satu kesimpulan sederhana. Imam besar mazhab Syafi’i, Imam al-Shafi‘i, mengingatkan bahwa hikmah ilahi justru terletak pada ketidakpastian waktunya. Laylat al-Qadr bisa berpindah di antara malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir: malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.

Di sinilah kita melihat kebijaksanaan yang lebih dalam.

Jika malam itu ditentukan secara pasti, manusia mungkin hanya akan bersungguh-sungguh pada satu malam. Namun dengan dirahasiakannya waktu tersebut, sepuluh malam terakhir berubah menjadi perjalanan spiritual penuh harapan.

Setiap doa menjadi mungkin.
Setiap sujud terasa lebih panjang.
Setiap malam menyimpan peluang keabadian pahala.

Karena satu malam saja—jika itu Laylat al-Qadr—dapat menulis ulang perjalanan hidup seseorang di hadapan Allah.

✨ Satu malam.
✨ Lebih baik dari seribu bulan.

___
Jika tulisan ini menyentuh hati Anda, bagikan kepada keluarga atau sahabat. Siapa tahu, melalui pengingat sederhana ini, seseorang tergerak untuk bangun beribadah malam ini.

___

11/03/2026

Terkadang Al-Qur'an terdengar lebih dahsyat ketika dibaca di tempat-tempat di mana harapan tampaknya telah sirna.

Raising a Qur’anic Generation: Learning Before Iftar in Madinah 🔖___In the blessed atmosphere of Al-Masjid an-Nabawi, a ...
25/02/2026

Raising a Qur’anic Generation: Learning Before Iftar in Madinah 🔖

___
In the blessed atmosphere of Al-Masjid an-Nabawi, a child sits quietly with the Qur’an in his hands, reciting verses while waiting for the call to Maghrib. Around him, worshippers prepare for iftar. Dates are arranged. Prayers are whispered. Hearts are softened.

This is more than a moment.
It is a reminder.

Education does not begin in classrooms alone—it begins in the family. A father who guides, a mother who nurtures, a home that honors the Qur’an. When children grow up loving the words of Allah, they grow up with light in their hearts and direction in their lives.

Teaching a child to recite even one verse is planting a seed of faith that will continue to grow long after we are gone. Ramadan teaches patience, discipline, and sincerity—but the Qur’an teaches eternity.

May we raise children who wait for iftar with the Qur’an in their hands and gratitude in their hearts.

___

— Ponpes Al-Ikhlas Pati Kota
Supported by Makkah Madinah Daily

___

📤 Share this reminder and tag a parent who is raising a Qur’anic generation. Let us inspire families to prioritize Islamic education at home.

___





25/02/2026

An extraordinary scene unfolded after congregational Tarawih prayer as waves of worshippers filled the streets surrounding the Grand Mosque area. The three frames capture not only the scale of attendance but also the organized flow of pilgrims moving peacefully through the night.

From elevated city viewpoints to ground-level movement, the visual narrative reflects Ramadan’s spiritual magnetism — drawing believers from across the world into one synchronized act of devotion. Security personnel, structured pedestrian routes, and illuminated high-rise landmarks form the urban framework supporting this immense gathering.

This is more than a crowd. It is a living testimony of faith, discipline, and collective remembrance — where millions walk with one intention after standing shoulder to shoulder in prayer.

Supported by Makkah Madinah Daily
___
Shared by Ponpes Al-Ikhlas Pati Kota
❤️ Follow our page for verified updates, spiritual reflections, and global Ramadan moments from the Haramain.

___




17/02/2026

📌Simpan sebagai doa harian
🔖 Ketik "Aamiin" bila kamu ingin
💽 Follow Lantun.in untuk murottal

Ngaji Tafsir Al Ibriz | Haul KH Bisri Mustofa
28/01/2026

Ngaji Tafsir Al Ibriz | Haul KH Bisri Mustofa

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.

27/01/2026
Sejarah Kitab Fathul WahhabKitab Fathul Wahhab memiliki judul lengkap Fath al-Wahhab bi Syarh Manhaj ath-Thullab (فتح ال...
23/01/2026

Sejarah Kitab Fathul Wahhab

Kitab Fathul Wahhab memiliki judul lengkap Fath al-Wahhab bi Syarh Manhaj ath-Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب). Kitab ini merupakan salah satu karya besar dalam bidang fikih Mazhab Syafi’i yang sangat berpengaruh dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya di dunia pesantren.

Pengarang kitab ini adalah Imam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad bin Ahmad al-Anshari (wafat 926 H). Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar Mazhab Syafi’i yang mendapat julukan Syaikhul Islam pada masanya. Imam Zakariya al-Anshari memiliki peran penting dalam pengembangan dan penataan literatur fikih Syafi’i, terutama dalam bentuk ringkasan dan penjelasan (syarah) terhadap kitab-kitab rujukan utama.

Kitab Fathul Wahhab ditulis sebagai syarah (penjelasan) atas kitab Manhaj ath-Thullab, yang juga merupakan karya Imam Zakariya al-Anshari. Adapun Manhaj ath-Thullab sendiri adalah ringkasan dari kitab Minhaj ath-Thalibin karya Imam An-Nawawi, salah satu kitab fikih paling otoritatif dalam Mazhab Syafi’i. Dengan demikian, Fathul Wahhab berada dalam mata rantai keilmuan yang kuat dan bersambung langsung kepada karya para ulama besar.

Latar belakang penulisan Fathul Wahhab adalah permintaan para murid dan penuntut ilmu agar Imam Zakariya al-Anshari memberikan penjelasan yang lebih rinci dan sistematis terhadap Manhaj ath-Thullab. Kitab ini bertujuan memudahkan pemahaman hukum-hukum fikih dengan bahasa yang terstruktur, sekaligus memperjelas maksud dari teks ringkas yang terdapat dalam kitab sebelumnya.

Isi kitab Fathul Wahhab mencakup pembahasan fikih secara lengkap, mulai dari thaharah (bersuci), shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, munakahat, hingga jinayat dan qadha (peradilan). Penulis tidak hanya menjelaskan hukum, tetapi juga menyebutkan perincian, syarat, rukun, serta pendapat-pendapat ulama Syafi’iyah yang mu‘tabar.

Oleh karena itu, kitab ini tergolong sebagai kitab fikih tingkat menengah hingga lanjut.
Dalam tradisi pesantren di Indonesia, Fathul Wahhab memiliki kedudukan yang sangat penting. Kitab ini sering dipelajari setelah santri menguasai kitab-kitab dasar fikih, dan menjadi rujukan utama dalam memahami pendalaman Mazhab Syafi’i. Bersama Fathul Qarib dan Fathul Mu‘in, kitab ini dikenal sebagai bagian dari karya-karya fikih populer yang banyak dipelajari secara turun-temurun.

Hingga saat ini, Fathul Wahhab masih dicetak dan dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam di dunia. Keberadaannya menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan Islam serta peran besar Imam Zakariya al-Anshari dalam menjaga kesinambungan ajaran fikih Mazhab Syafi’i.

゚viralシ

Address

Jalan Panunggulan No. 2B Pati Kota
Pati
59114

Telephone

+62295381287

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ponpes Al-Ikhlas Pati Kota posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Ponpes Al-Ikhlas Pati Kota:

Share