24/07/2015
Bukan sesuatu yang substantif tapi menggelitik karena pernah jadi bahan perbincangan di FB yang awalnya adalah postingan iseng seorang teman yang entah punya terlalu banyak waktu atau memang s**a mengulik hal-hal yang sudah jamak dan diterima khalayak ramai, berikut ini salah satunya yang ditulis ulang dan diperluas:
Menjelang daftar ulang atau saat akan mendaftar entah seminar ataupun ujian sarjana kita seringkali memerlukan, mencari dan menggunakan kedua benda ini (lihat foto dibawah teks ini):
(Gambarnya di bawah :P)
Benda ini dinamakan Stapler dan Staples.
Stapler adalah kata bahasa Inggris yang artinya alat untuk menggabungkan dua atau lebih lembaran kertas dengan menggunakan potongan logam kecil berbentuk huruf U. Potongan logam ini disebut staples. Jadi alatnya stapler dan isinya staples.
Ternyata 80% penutur dan penulis terbalik menggunakan kata tersebut atau hanya menggunakan staples untuk menyebut keduanya. Apa padanan stapler dalam Bahasa Indonesia? Setelah di-Googling, ternyata padanan tidak resminya ada beberapa: Streples, steples, jepretan, jegrekan, jegregan, ceklekan, hekter. Cukup banyak ternyata 😉.
Kenapa bisa begitu? Mari kita lihat:
(1) Jegrekan, jegregan dan ceklekan ini kemungkinan besar berasal dari penutur Bahasa Jawa yang terkadang karena alasan kepraktisan senang menamai benda berdasarkan bunyi atau suara yang ditimbulkan, karena alat ini bunyinya ketika digunakan: ceklek atau jegrek(g) menurut telinga orang Jawa maka alat inipun ditashbihkan bernama jegrekan, jegregan atau ceklekan.Karena orang Jawa merupakan mayoritas di Indonesia maka penutur paling banyak akan menentukan kata yang digunakan, jamaklah ketiga kata tersebut diterima.
(2) Bagaimana dengan jepretan? Selama ini yang umumnya menjepret adalah karet, tapi ini kenapa disebut jepretan? Mungkin karena proses penyatuan kertas menggunakan logam berbentuk U oleh beberapa kelompok penutur di Indonesia dilihat mirip dengan proses "menjepretnya" karet atau pasnya penyatuan kertas dilakukan dengan cara menjepretkan logam berbentuk U, maka alatnya disebut "jepretan" dengan menambahkan akhiran -an pada kata jepret yang otomatis menjadikan kata kerja menjadi kata benda.
(3) Kalau streples dan steples? yang mudah dulu: steples, ini jelas karena faktor lidah lebih mudah melafalkan e - e dari pada a - e dalam kata staples sehingga berubahlah staples menjadi steples. Lagi p**a bunyinya lebih berirama bukan? hahahaha. Oke sekarang kenapa staples (atau sekarang menjadi steples) yang sebenarnya adalah isi stapler menggantikan stapler? sedangkan staples isi stapler disebut (kalau tanya, minta atau beli): "Isi Steples". Hmm, ini karena yang lebih sering dikomunikasikan, dicari, dibeli dan diminta adalah isi alat ini bukan alatnya karena lebih sering habis dan tentunya lebih sering dibeli/dicari. Alatnya sendiri mungkin hanya beli sekali dalam beberapa tahun (setidaknya sampai rusak atau hilang). Alhasil aturan yang umum dan sering muncul menggantikan yang sesekali atau jarang muncul (persis dengan hubungan antara manusia...yang sering muncul mengalahkan yang diharapkan hehehe) jadilah stapler menjadi steples (pakai e) dan isinya untuk mudahnya sebut saja: Isi Steples. Ah, Bahasa Indonesia memang sederhana dan sungguh praktis, tidak perlu nama baru untuk isi sebuah alat, tinggal tambah kata di depannya jadilah kata itu nama untuk sebuah benda yang berbeda.
Lantas streples? ini boleh jadi karena kita pernah mendengar dua kata staples dan stapler tapi tak ingat dan tahu persis bedanya, samar-samar dalam memori kita ingat ini kata yang berhubungan dengan alat untuk menyatukan lembaran kertas, jadi dari pada salah gabungkan saja jadilah streples. Mungkin juga sebagian dari kita berfikir benda ini asal katanya adalah strap yang berarti ikat dalam bahasa inggris.
(4) Bagaimana dengan hekter? lucunya kata ini justru yang mungkin paling baik untuk nama benda yang kita bicaraka. Kenapa? karena ini kata yang memang merujuk ke benda yang dimaksudkan, tapi hanya mesinnya bukan isinya. Darimana kata ini berasal? Bahasa Belanda! ini berasal dari nenek kakek kita atau generasi yang lahir sebelum tahun 1965 dimana kata-kata dari Bahasa Belanda masih banyak ditemui dalam bahasa tutur dan tulis. Dan karena benda ini umum ditemui di sekolah (yang notabene tempat dimana sebuah kata diteruskan dan diajarkan antar generasi) maka jadilah kata hekter ikut diwariskan sebagai nama alat ini.
Nah, setelah semua uraian di atas, apa sih sebenarnya nama alat ini dalam bahasa indonesia? ada, cuma bunyinya agak aneh dan mungkin membuat banyak orang berkerut keningnya (meskipun ini resmi dan benar lho dan merupakan salah satu lema dalam KBBI). Apa kata itu: PENGOKOT untuk alatnya dan K***T untuk isinya!
Hehehe mari kita coba tanya kepada teman sekantor: Pinjam PENGOKOT mu atau minta K***T d**g punyaku habis....saya yakin 90% peluang yang terjadi adalah orang yang anda ajak bicara akan berkata: apa? sambil memandang aneh kepada anda. Atau kalau yang diajak bicara penutur Bahasa Jawa maka dia akan berfikir apa yang akan digigit dan kenapa dia minta gigit??? hahahah maklum dalam Bahasa Jawa COKOT artinya gigit dan COKOT(EN) adalah kata perintah yang artinya: gigitlah. Oops tapi mungkin ada benarnya karena kalau dilihat-lihat alat ini punya bagian mirip gigi taring, cara kerjanya mirip mulut yang mengangga dan mengatup dan ketika dipakai seperti meng-gigit kertas dan kalau K***T nya dilepas (karena kertasnya mau difotokopi misalnya) akan ada dua lubang bekas K***T yang tertinggal pada kertas mirip bekas gigitan Edward Cullen di leher Bella Swan dalam TWILIGHT SAGA? wkwkwkwkwkwkwkw