27/12/2011
Guru Jahat Bersertifikat
Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/27/guru-jahat-bersertifikat/
27 December 2011
Sudahlah, kalau sistem pendidikannya masih kayak gini, ditambal kayak apapun nyaris tidak akan berpengaruh apa-apa. Ini adalah gerobak bobrok. Bahkan dalam keadaan tidak bobrok, jangan berharap gerobak bisa melaju sekencang angin. Lalu kita berbangga-bangga telah mengalokasikan dana sekian banyak persen dari duit nasional kita untuk meningkatkannya. Mau apa yang ditingkatkan? Mau disepuh emas roda-rodanya? Ah, tidak lucu! Ganti saja gerobaknya dengan pesawat, misalnya, dan tidak harus pakai emas. Pemborosan.
Sekarang di dunia perguruan kita lagi musim sertifikasi. Sebelum tahu benar ada yang itu, saya tahunya guru-guru lagi musim seminar. Kebetulan secara tidak langsung di salah satu seminar, saya ikut penasaran lihat-lihat. Saya tergiur pada judul seminarnya. Ada orang Jakartanya lagi katanya. Wah, pencerahan, pikir saya. Tapi kok, lho, banyak peserta yang cuma absen nama doang! Dan, lho, seminarnya gini-gini doang! Seperti malas mau menukik tajam pada inti permasalahan. Wah, ilmu gosip saya pun bertindak. Guru bersertifikat adalah guru yang harus punya cukup koleksi sertifikat. Haha ….!
Kalau saya merujuk pada peringkat korupsi Indonesia, apa yang perlu saya herani? Bahkan prestasi pun bisa dikorupsi. Besok-besok, kita korupsi saja sekalian muka kita. Yang asli kita jual mahal, kita ganti muka badak. Plastik saja, jangan yang kulit asli. Badak dilindungi undang-undang. Cuma ada satu masalah kecil. Jangan-jangan muka badak (plastik!) masih lebih mahal dari muka kita. Bisa tekor kita!
Saya pun dapat bisikan. Tidak semua guru memang punya kelayakan menjadi guru. Yang saya cemaskan, tidak semua ini berarti sebagian kecil saja. Bahkan bila perbandingannya 50:50 saja sudah cukup mencemaskan. Tapi, mencermati bahwa tidak ada gerakan “perlawanan” sistem yang cukup signifikan di dunia perguruan, bahwa mereka nyaman-nyaman saja di kubangannya, saya merasa tidak perlu cemas lagi. Saya ngeri!
Tapi saya percaya bahwa guru memang sejatinya harus jahat. Jahat dan baik adalah dua sisi mata uang uang yang sama. Omong kosong bila ada yang ingin jadi baik tapi menolak yang jahat. Pemisahan seperti itu mentoknya paling dalam taraf wacana. Praktiknya, keduanya tak mungkin dipisahkan. Kejahatan adalah nama lain dari kebaikan. Kebaikan adalah keburukan dalam wajah yang menawan dan menentramkan.
Sudahlah, kalau sistem pendidikannya masih kayak gini, ditambal kayak apapun nyaris tidak akan berpengaruh apa-apa. Ini adalah gerobak bobrok. Bahkan dalam keadaan tidak bobrok, jangan berharap gerobak bisa melaju sekencang