* Pesona Cahaya Hati.*

* Pesona Cahaya Hati.* Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam mengingatkan, ”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda.

Tapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR Muttafaq ’Alaih)

19/12/2011

Abu Said Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda:

"Akan datang suatu generasi sesudah enam puluh tahun, mereka melalaikan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka orang-orang ini akan menemui kecelakaan dan kerugian. Kemudian datang lagi suatu generasi, mereka membaca Al-Qur'an tetapi hanya di kerongkongan (mulut) saja (tidak masuk ke hati) dan semua membaca Al-Qur'an, orang mukmin, orang munafik dan orang-orang jahat dan fasik (tidak dapat lagi dibedakan mana orang mukmin sejati dan mana orang yang berpura-pura beriman)".

(H.R. Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim).

* Kemudian Rasulullah 'membaca' ayat ini (QS. Maryam [19]:59)

Artinya:

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan",

(QS. Maryam [19]:59).

17/12/2011

"Segala sesuatu yang dilahirkan PASTI akan MATI,
Sesuatu yang dibangun pasti bakal berantakan,
Sesuatu yang dikumpulkan pasti bakal tercerai berai,
Sekiranya kita tidak pernah dilahirkan,
Tentulah kita tidak akan mati"

Salah satu bacaan penting dalam shalat adalah surat Al-Fatihah. Sekurang-kurangnya 17 kali ummat Islam membacanya setiap hari.
Di antara kalimat penting dalam Al-Fatihah adalah:

"Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan".

Lagi-lagi kita ikrar kepada Allah untuk beribadah hanya kepadaNya, kita tidak bergeser sedikitpun dari kondisi ini. Seluruh hidup, kita baktikan kepada Allah semata. Janji kita ini senada dengan tujuan penciptaan manusia. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepadaKu". (QS. Adz Dzariyat 56)

Yang paling penting dari itu semua adalah, bagaimana membuktikan janji-janji yang selalu kita ucapkan dan kita ulang-ulang setiap hari itu?

Kita khawatir jika nanti apa yang kita ucapkan, dengan kenyataannya jauh berbeda, bila demikian apa bedanya dengan orang-orang munafiq?

Berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu Alaihi wa Salam , bahwa tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga,

jika bicara bohong, jika bersumpah khianat, jika janji mengingkari.

Begitulah rambu-rambu yang disampaikan Rasulullah Shalallaahu Alaihi wa Salam. Karenanya kita harus benar-benar mengabdikan seluruh hidup kita untuk Islam, hidup dalam Islam dan untuk Islam, yang pertama-tama harus kita lakukan adalah memahami tujuan hidup itu sendiri.

Kita harus tahu dan yakin bahwa hidup ini memang untuk beribadah, bukan untuk main-main. Allah menciptakan dunia seisinya ini punya tujuan. Tidak ada yang sia-sia dan tidak ada yang tidak berguna.

"Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kalian sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?, Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenarnya, Tiada Tuhan selain Dia, yang mempunyai arsy yang mulia".

(QS. Al-Mukminun 115-116) .

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga,
maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan".

(QS. Ali Imran [3]:185).

Wallahu'alam...

17/12/2011

"Keadilan yang paling utama dan 'sempurna' ialah keadilan hati nurani".

15/12/2011

“Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya p**a.” (QS. Al-Zalzalah:7-8)

Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Karena dunia ini adalah rangkaian episode yang dijalani dan akan dilewati, ''tempat bekerja'', berjuang dan tempat kita bercocok tanam.

Bila kita menanam amal baik, maka buah yang akan dipanen pun akan baik p**a. Begitupun sebaliknya, jika amal buruk yang kita semai, maka buah keburukan yang akan kita dapatkan. Karena itu, marilah kita menanam amal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk kita panen di akhirat kelak.

Semoga kita senantiasa diberikan Rahmat & Hidayah-Nya.
Insya Allah, Aamiin...

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia ...
14/12/2011

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak p**a tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”

[HR. Bukhari-Muslim].

Hati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi:
1). Qalbun Shahih (hati yang suci),
2). Qalbun Mayyit (hati yang mati), dan
3).Qalbun Maridl (hati yang sakit).

Pertama, Qalbun Shahih

yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain Rasul-Nya.

Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya.

Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah.

Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim kepada syari’at-Nya. ia mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam menjadikan Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai suri tauladan dalam segala hal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS. Al-Hujurat:1].

- Kedua;

Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah SubhanahuWwa Ta’ala murka akan perbuatannya.

Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu p**a dengan membenci, memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menutup hati mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

” Dan diantara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya) dan kami letakkan sumbatan di telinganya dan jikalaupun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu‘.”
[QS. Al-An'am:25].

Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Juga tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“(Mereka berkata:) Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja p**a.”[QS. Fushilat:5].

Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman.

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah kembali kepada jalan yang benar.”

[QS. Al-Baqarah:17-18].

-Ketiga,

Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud’izah. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya.”
[QS. Al-Hajj:53].

Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan kedalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu dan sesat. Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah merasuk ke dalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di madinah (dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.”

[QS. Al-Ahzab:60].

Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan p**a hati sehat, seperti sehatnya hati orang-orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya.“
[QS. Al-Ahzab:32].

12/12/2011

“Apa yang Rasul perintahkan kepada kalian, terimalah; apa yang Beliau larang atas kalian, tinggalkanlah”. (QS Al-Hasyr : 7).

"Jikalau engkau tahu akan mati besok dan di tanganmu ada benih tanaman maka tanamlah, karena sesungguhnya kamu tidak tahu siapa yang memanfaatkannya kelak. Kalau engkau tidak menikmati maka manusia sekeliling akan menikmatinya. Kalaupun tidak, minimal burung-burunglah yang akan menikmati buahnya."
(Al-Hadits).

11/12/2011

Ketahuilah munculnya angan angan yang muluk muluk itu ada dua hal:

1. Cinta kepada dunia.
Jika manusia sudah menyatu dengan dunia,kenikmatan dan belenggunya maka hatinya akan merasa berat untuk berpisah dengan dunia, sehingga didalam hatinya tidak terlintas pikiran tentang mati, padahal kematianlah yang akan memisahkannya dengan dunia. sehingga pikirannya hanya terpusat pada hal hal itu sehingga lalai mengingat mati dan tidak membayangkan kedekatan kematiannya, angan angannya akan terus membumbung tinggi karena dia lupa bahwa dia akan mati dan berpisah dengan semua yang ada di dunia ini.

2. Kebodohan.
Seorang yang masih muda menganggap bahwa kematian masih lama menghampirinya karena dia masih muda. mereka tertipu dengan kesehatannya dan tidak tahu bahwa kematian bisa mendatanginya secara tiba tiba, sekalipun dia menganggap kematian masih lama bisa saja dia tertimpa penyakit secara tiba tiba yang membuat kematian menjadi dekat dengannya.

Andai dia mau berfikir dan menyadari bahwa kematian itu tidak mempunyai waktu yang pasti siang atau malam, tidak terikat dengan umur tertentu muda atau tua, maka dia akan mengganggap serius urusan kematian ini dan akan bersiap siap untuk menyongsongnya, dan dia akan mengendalikan semua angan angan tentang kehidupan dunia yang terlalu berlebihan.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu Iari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (Qs. Al-Jumu’ah: 8).

“Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan dapat berbicara. Yang diam adalah maut, sedangkan yang berbicara adalah Al-Qur’an.” (Al-Hadits).

10/12/2011

Soal ''PEKERJAAN'', jangan main-main. MALAIKAT rezeki sangat tidak s**a terhadap orang yg tdk serius dlm menjalankan tugas kewajibannya. Sebab orang yg mengerjakan sesuatu dg main-main, lebih banyak melangkah pd ''kegagalan''. Kalaupun seandainya ia ''sukses'', namun suksesnya tdk memuaskan HATI.

"Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain". (QS. Alam Nasyrah 7).

08/12/2011

"Seganas apapun badai dalam kehidupan ini, ia tak akan pernah menghancurkan insan yang memiliki "KETEGARAN", kesabaran, keyakinan dan niat baik, senantiasa berdoalah pada-Nya". 0(~-~)0

06/12/2011

" Tuntutlah ilmu, tapi tidak melupakan ibadah,
dan kerjakanlah ibadah tapi tidak boleh lupa pada ilmu".
~"(Al hassan Al Bashri )"~

04/12/2011

Istikharah adalah memohon agar dipilihkan dan diberi kecondongan untuk memilih yang baik. Adapun shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rekaat yang dapat dilakukan secara tersendiri atau pun menyatu dengan shalat sunnah lain (rawatib, tahiyyatul masjid, dll.). Kalau menyatu, harus ada niat bahwa dengan shalat sunnah lain itu hendak dilakukan shalat istikharah sekaligus.
Doa Istikharah:
للَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العظيم ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أن هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى ْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذا الأمر شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْه عَنْي فاصرفني عنه ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika al ‘adziim, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii fash-rifhu anni wash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu dengan ilmuMu dan aku memohon ketentuan daripadaMu dengan kekuasaanMu dan aku memohon daripadaMu akan limpah kurniaanMu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahu segala perkara yang ghaib. Ya Allah, seandainya Engkau mengetahui bahwasanya urusan ini (sebutkan..) adalah baik bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, takdirkanlah ia bagiku dan permudahkanlah serta berkatlah bagiku padanya da seandainya Engkau mengetahui bahawa urusan ini (sebutkan..) mendatangkan keburukan bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, jauhkanlah aku daripadanya dan takdirkanlah yang terbaik bagiku kemudian ridhailah aku dengannya”

Doa tersebut boleh dibaca dalam shalat atau sesudah shalat. Akan tetapi dibaca setelah salam lebih utama, kerana dalilnya menunjukan demikian. Yaitu sabda rasulullah “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a” dengan doa yang diatas.

Bagi yang berhalangan (misalnya lantaran haid, nifas dll), istikharahnya cukup dengan baca doa istikharah tanpa shalat.

Adapun waktunya boleh dilaksanakan bila saja dan boleh membaca surah apa saja setelah membaca al Fatihah. Yang lebih utama adalah membaca surat al Kafirun pada rakaat pertama dan surat al Ikhlas pada rekaat ke dua, sebagaimana shalat sunnah dua rakaat lainnya.

Istikharah boleh dilakukan berulang kali jika kita ingin istikharah pada Allah dalam suatu perkara. Karena istikharah adalah do’a dan tentu saja boleh berulang kali. Ibnu Az Zubair sampai-sampai mengulang istikharahnya tiga kali. Dalam shahih Muslim, Ibnu Az Zubair mengatakan,

إِنِّى مُسْتَخِيرٌ رَبِّى ثَلاَثًا ثُمَّ عَازِمٌ عَلَى أَمْرِى

“Aku melakukan istikharah pada Rabbku sebanyak tiga kali, kemudian aku pun bertekad menjalankan urusanku tersebut.”

Melihat dalam mimpi mengenai pilihannya bukanlah syarat dalam istiharah karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal ini. Yang tepat, istikharah tidak mesti menunggu mimpi. Dan tidak ada ritual-ritual lain setelah melakukan shalat istikharah, seperti melempar kertas undian, membuka Al Qur’an secara acak kemudian membaca ayat pertama. Apabila ayat tersebut berbicara tentang hal baik maka pilihannya adalah baik dan apabila ayat tersebut tentang hal buruk maka pilihannya adalah buruk. Ritual semacam itu adalah perkara bid’ah dan tidak ada dalilnya.

Yang jadi pilihan dan sudah jadi tekad untuk dilakukan, maka itulah yang dilakukan. Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.

Selamat mengamalkan…! Semoga Allah memilihkan untuk kita sebuah pilihan yang baik untuk urusan agama kita, dunia dan akhirat kita, Aamiin.

Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

03/12/2011

Dalam Al-Qur'an Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri.” (QS. An-Nisa`: 1)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللّهَ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian, yaitu bertakwalah kalian kepada Allah.” (QS. An-Nisa`: 131)

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Allah Ta’ala berfirman:

يِا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إَن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kepadamu furqan (pembeda).” (QS. Al-Anfal: 29)

Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (QS. Maryam: 63)

Allah Ta’ala berfirman:

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Asy-Syu’ara`: 90)

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Inilah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Address

Samarinda
75111

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when * Pesona Cahaya Hati.* posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share