Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun

Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun Adalah kampus terbaik di Sarolangun

Selamat Sukses PBAK Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun.Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Sarolangun Ba...
07/09/2025

Selamat Sukses PBAK Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Sarolangun Bapak H. Hurmin




Best Quality For High Quantity
09/08/2025

Best Quality For High Quantity

06/08/2025

π—œπ— π—”π—  𝗑𝗔π—ͺ𝗔π—ͺπ—œ π—¬π—”π—‘π—š "π—£π—˜π—Ÿπ—¨π—£π—”"

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq

Al Imam Nawawi rahimahullah adalah ulama besar mazhab Syafi'i yang karya-karyanya mendunia. Beliau Adalah ulama yang telah mewaqafkan umurnya untuk mengabdi kepada kepada umat ini. Sehingga ulama di zamannya mengggelari beliau dengan Muhyiddin yang artinya sang penghidupnya agama.

Karena sibuknya beliau dalam mengajar, berdakwah dan menulis kitab, diriwayatkan bahwa beliau sering lupa hajat hidupnya sehari-hari seperti tidak ingat makan dan beristirahat. Kakak perempuan beliau terkadang harus datang menyuapkan makanan untuk sang imam ketika asyik membaca atau menulis.

Bahkan disebutkan imam Nawawi pernah selama 7 tahun tidak pernah tidur dengan menyengaja tidur. Tidurnya karena kelelahan diantara tumpukan kitab-kitab.

Dan kita ketahui bahwa imam Nawawi rahimahullah termasuk ulama yang meninggal sebelum sempat untuk menikah. Diriwayatkan di hari kewafatan beliau, ulama-ulama berkumpul disisinya.

Salah seorang dari mereka mengungkapkan penyesalan alangkah sayangnya ulama seperti beliau wafat tanpa menikah, sehingga ia pergi tanpa meninggalkan keturunan yang bisa mewarisi orang seperti dirimu.

Beliau pun menjawab,

β€ŒΩ„Ωˆ β€ŒΨͺΨ°ΩƒΨ±Ψͺ β€ŒΩ„ΩΨΉΩ„Ψͺ .. Ω†Ψ³ΩŠΨͺ

"Kenapa kalian baru berkata sekarang ? Seandainya dulu kalian mengingatkan, tentu aku akan menikah.”[1]

Subhanallah, sudah sering lupa makan dan tidur ternyata beliau juga lupa menikah. Karena lena dalam asyiknya menyelami ilmu. Kalau kita sejak masih belajar sampai sudah mengajar yang paling diingat ya urusan nikah.

Semoga bermanfaat
__________________
[1] Ushul al Wushul hal. 132
Simak lebih banyak di : Https://astofficial.id

Pendaftaran Gelombang I Telah Di Buka, Yook Daftar Sekarang.!
07/05/2025

Pendaftaran Gelombang I Telah Di Buka, Yook Daftar Sekarang.!

Yook Kuliah di IAI Abuya Salek Sarolangun.Daftar bisa online lho..
06/05/2025

Yook Kuliah di IAI Abuya Salek Sarolangun.

Daftar bisa online lho..

Selamat Menempuh Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Ganjil Mahasiswa Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun
13/01/2025

Selamat Menempuh Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Ganjil Mahasiswa Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun

Jum daftar sekarang 😊
10/01/2025

Jum daftar sekarang 😊

08/01/2025

Kenapa Banyak Yang Tertarik Belajar Pada Wahabi? Dan Kenapa Pengajian Umum Aswaja Kurang Berbobot?
Oleh : Lukman Aqif Z

Banyak yang bertanya mengapa banyak orang, terutama kaum urban, banyak yang tertarik untuk belajar di majelis Wahabi daripada di majelis Aswaja? Jawaban paling sederhana adalah karena ketika belajar pada wahabi, maka seseorang akan mendapat prestis secara instan.

Ketika ada orang yang begitu awam dalam agama, namun muncul kesadaran untuk belajar agama, maka dia punya dua opsi: Pertama adalah menempuh jalan instan di mana dia hanya perlu menghadiri beberapa kali kajian lalu diberi gelar dan label yang prestisius. Kedua adalah jalan terjal yang mengharuskannya menempuh masa yang panjang serta kurikulum rumit, itu pun pada akhirnya tetap dibilang bukan siapaΒ²

Jalan pertama tersebut adalah jalan wahabi. Jadi semisal seseorang baru "hijrah" ke jalan yang benar lalu mengikuti kajian mereka, maka hal pertama yg ditanamkan adalah agar tampil beda "sesuai sunnah". Dengan tampil beda, maka muncullah distingsi dari masyarakat dan dari distingsi muncullah rasa bangga dan eksklusif. Kemudian bila misalnya dia yang masih awam bertanya tentang bid'ah, maka dia akan diberi nukilan hadis "kullu bid'atin dlalalah" (semua bid'ah sesat) serta 3-4 hadis tentang celaan terhadap bid'ah yg mungkin ditambah beberapa atsar dari para sahabat dan beberapa pendapat ulama yang senada. Ini semua hanya memerlukan satu kali tatap muka, paling lama dua kali tatap muka maka sudah selesai dengan pendalamannya.

Dari pertemuan 1-2 kali tatap muka itu, dia sudah mendapat gelar sebagai pengikut sunnah dan merasa siap menyanggah orang luar yang dianggap sebagai ahli bid'ah. Meskipun dia diberi tahu bahwa Imam Syafi'i membagi bid'ah menjadi dua, yg baik dan buruk, dia akan merasa sudah melampaui Imam Syafi'i dan menyangka Imam Syafi'i salah memahami konsep bid'ah sesuai sunnah. Imam Syafi'i hanya manusia yang tidak makshum, katanya seolah pemahaman ustadznya sendiri sudah makshum. Ketika dia diberi bukti bahwa para ulama dari empat mazhab, dari satu generasi ke generasi yang lain membagi bid'ah menjadi dua juga, dia akan mengatakan bahwa mazhab empat semuanya dalilnya lemah sedangkan yang kuat hanya dalilnya sendiri. Merasa dirinya elit dan agung melampaui mujtahid, itulah kebanggaan yang ditanamkan secara instan dalam waktu yang super singkat. Wajar bila banyak yang tertarik.

Berbeda dengan itu, bila seorang awam yang baru tumbuh semangat beragamanya datang ke majelis kajian Aswaja, maka dia akan dihadapkan dengan kurikulum yang panjang dan rumit. Bila misalnya dia bertanya tentang konsep bid'ah, maka dia akan diajari untuk memahami hadis tentang bid'ah dari sudut pandang bahasa, dari sudut pandang sejarah pemahaman sahabat, tabi'in dan para mujtahid, dia juga harus menguasai ushul fikih sebelum dia diperbolehkan melakukan istinbat dari hadis sehingga tahu mana ungkapan yang umum dan yang khusus, dalil mana saja yang mentakhsis hadis "kullu bid'ah", dan dia harus tahu ilmu alat yang cukup untuk sampai ke sana. Ini semua memerlukan waktu yang sangat panjang. Contohnya saja santri yang mondok di pondok salaf. Santri itu butuh bertahun tahun untuk memahani sebuah hadits, tidak asak njeplak dan harus punya ilmunya. Contoh aja 12 disiplim ilmu sperti Fan tauhid, fiqih, tajwid, nahwu, shorof, bayan, balaghoh, ma'ani, tasawuf, mantiq, 'arudh dan qofyah

Meskipun pada akhirnya si penuntut ilmu tadi sudah memahami bagaimana itu bid'ah menurut pandangan ulama disertai seluruh perbedaan pendapat di dalamnya, dia tetap tidak mendapat gelar dan prestis apa pun. Dia hanya tetap disebut penuntut ilmu. Ketika selesai satu tahap, dia akan disodori tahap berikutnya dan dia akan terus dianggap biasa saja, bukan siapa pun di depan para mujtahid yang agung itu. Akhirnya mereka yang belajar dalam kurikulum aswaja jarang yang mengaku alim meskipun kenyataannya sangat alim, malu untuk mengklaim mengikuti sunnah sebab dia tahu ada ribuan sunnah yang tidak sempat dia lakukan, dan nyaris mustahil mereka mengklaim sudah berijtihad dan punya hasil ijtihad yang kualitasnya melampaui para imam mazhab.

Dengan kata lain, bila digambarkan seperti jenjang pendidikan formal, majelis Wahabi siap memberikan ijazah S3 bagi muridnya yang masih baru masuk TK. Sedangkan dalam majelis aswaja, yang baru masuk TK akan diberi tahu bahwa mereka harus lama di TK baru boleh lalu lanjut ke SD lalu SMP lalu SMA lalu S1 lalu S2 dan barulah menjadap ijazah S3. Tentu majelis Wahabi lebih menarik sebab yang masih TK merasa berhak berkomentar dan memberi penilaian dalam obrolan para doktor.

Di sisi lain, persyaratan jenjang yg panjang menimbulkan efek samping dalam pengajian umum Aswaja yg sifatnya ceremonial. Dalam mimbar ceramah aswaja, jarang para ulamanya membahas kajian berat sebab mereka tahu audiennya belum levelnya mendengar pembahasan itu. Akhirnya yg ditampilkan hanya pembahasan ringan yang diberi bumbuΒ² candaan dan contohΒ² lucu. Misalnya membahas bid'ah, maka kecil kemungkinan akan keluar kajian yg serius tentang itu dari berbagai sudut pandang sebab baru muqaddimah saja pasti waktunya habis. Dipaksa dengan bahasa yang singkat pun belum tentu paham. Akhirnya terpaksa yang disajikan hanya definisi yang mudah dan contoh sederhana yang kadang lucu.

Efeknya, beberapa orang yang kritis akan melihat pengajian di mimbar aswaja kurang berbobot secara ilmiah. Tapi memang mimbar seremonial bukan tempat belajar serius sehingga salah tempat bila mengharap kajian serius di sana. Ini seperti Enstein yang diundang untuk memberi pidato Sains pada wisuda anak SD, pasti yg dibahas adalah sains sederhana level elementary. Ternyata, ada anak SD yang kritis menyimpulkan bahwa ternyata Einstein tidak sehebat itu dan kurang berbobot

08/01/2025

Rektor
Dan Seluruh Civitas Akademika Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun

Mengucapkan Selamat Kepada Alumni Yang Telah Lulus Seleksi ASN PPPK 2024

Semoga Bermanfaat dan Berkah Serta Selamat Bertugas Jangan Lupa Jaga Integritas.

Address

Tepi Lintas Depan POM Bensin Pelawan
Sarolangun

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Institut Agama Islam Abuya Salek Sarolangun posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share