04/05/2020
Yang Lalu Biarlah Berlalu
*Dikutip dari buku La Tahzan Dr. 'Aidh Al Qarni
Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.
Bagi orang yang berpikir, berkas berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat rapat, lalu di simpan dalam ruang penglupaan, di ikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuh selamanya. Atau, diletakkan diruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan takkan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.
Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau dibawah payung gelap masa silam, selamatkan diri anda dari bayangan masa lalu! Apakah anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi keperut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata kedakam kelopak mata?
Ingatlah, keterikatan anda dengan masa lalu, keresahan anda atas apa yang terjadi padanya, keterbakaran emosi jiwa anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatinkan, dan sekaligus menakutkan.
Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al Qur'an,setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan. Allah selalu mengatakan, "Itu adalah umat yang lalu." Begitiulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai p**a urusannya Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah
Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu
Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian: "Janganlah engkau mengeluarkan mayat mayat itu dari kuburnya." Dan konon, kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, "Mengapa engkau tidak menarik gerobak."
"Aku benci khayalan." jawab keledai.