28/08/2022
Rumah Proklamasi, kisah di balik pembongkaran, dan impian membangun 'rumah tiruannya'
Tahukah Anda di mana B**g Karno dan B**g Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 Jawabannya: Di teras depan rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta. Namun bangunan rumah bersejarah itu sudah lama rata dengan tanah, setelah Sukarno sendiri memerintahkan agar rumahnya dirobohkan — keputusan yang ditangisi para saksi sejarah dan sebagian sejarawan.
Tidak ada keterangan tunggal di balik alasan pembongkaran rumah Proklamasi, namun diperkirakan hal itu terjadi karena Sukarno memutuskan untuk membangun Gedung Pola di bagian belakang situs bersejarah itu di awal 1960an.
Arsitek yang peduli sejarah, Bambang Eryudhawan, memperkirakan Sukarno "mengorbankan" rumahnya sendiri untuk membangun Gedung Pola yang disiapkan sebagai lokasi pameran rencana pembangunan yang digagasnya. Senada dengan Eryudhawan, sejarawan Rusdhy Hoesein juga memiliki perkiraan yang sama bahwa B**g Karno membongkar rumahnya karena berada di muka Gedung Pola.
Pada akhir 1950an, demikian analisa Eryudhawan, Presiden Sukarno baru saja melakukan perjalanan ke mancanegara, dan dia melihat langsung berbagai bangunan megah di negara AS, India, Eropa dan Filipina. "Di India, dia dibawa (Perdana Menteri India saat itu) Nehru ke gedung parlemen di Delhi... Terus dia melihat peninggalan Mugal, mulai Agra hingga Tajmahal... Di Filipina, melihat Istana Malacanang yang bagus," ujar Eryudhawan. Hal serupa juga dia saksikan di AS dan negara-negara Eropa. Saat kembali ke Indonesia, Sukarno dianggapnya berpikir "kok Jakarta nggak OK?" Jadi, "ada perspektif baru B**g Karno, bahwa inilah saatnya membangun Jakarta, termasuk rumahnya sendiri," kata Eryudhawan. Perlu diketahui Sukarno adalah berlatar arsitek, katanya. Dari pijakan inilah, menurutnya, Sukarno kemudian memindahkan semangat Proklamasi Kemerdekaan ke Monumen Nasional (Monas). "Simbol itu dipindahkan, mirip yang dilakukan AS. Walaupun kemerdekaannya di Philadelpia, tapi pusat [simbol] kemerdekaannya dipindahkan ke Washington," paparnya.
Heyder Affan Wartawan BBC News Indonesia 1 Maret 2021