UPT Akademi Kebidanan Singaraja

UPT Akademi Kebidanan Singaraja Jalan Bisma Barat No. 25 A Singaraja-Bali, Telp. (0362) 7001042, Fax. (0362) 21340, Kode Pos 81117. http://www.akbidbali.blogspot.com/

04/10/2014

PERAYAAN HARI RAYA SARASWATI PADA TANGGAL 4 OKTOBER DIRAYAKAN DENGAN MERIAH DI KAMPUS AKADEMI KEBIDANAN PROVINSI BALI DENGAN DIADAKANNYA TARI - TARIAN OLEH MAHASISWI SENDIRI . PERSEMBAHYANGAN DIADAKAN PUKUL SETENGAH 8 PAGI DENGAN PERSIAPAN YANG SUDAH MATANG . MAHASISWI -MAHASISWI PUN SUDAH MENYIAPKAN BANTEN - BANTEN YANG MEREKA RANGKAI SENDIRI UNTUK DIHATURKAN KE PADMASANA. TEPAT PUKUL SETENGAH 8 PAGI SETELAH SEMUANYA SIAP, KAMI PARA SISWA DAN DOSEN - DOSEN SERTA PARA STAF MEMULAI PERSEMBAHYANGAN SAMPAI SELESAI.

05/08/2014

Tanpa Disadari, 5 Kegiatan Inilah 'Biang Keladi' Wajah Kelihatan Tua


5 fakta yang membuat wajah terlihat tampak tua
1. Merokok

Salah satu dampak yang nyata dari merokok adalah membuat si penghisapnya terlihat lebih tua. Bahkan, menurut sebuah studi yang dimuat jurnal British Medical Association perokok memiliki wajah 5 kali lebih tua dari umur sebenarnya.

Kerutan di wajah merupakan penanda kerentanan terhadap dampak asap rokok. Rokok memiliki filter, tetapi itu tidak cukup untuk menghilangkan kandungan tar yang membuat asap rokok berbahaya.

Terlebih lagi, ada bahan-bahan kimia yang ditambahkan ke dalam tembakau untuk meningkatkan rasa, selain berbahaya terhadap tubuh dan menyebabkan berbagai penyakit degeneratif, juga dapat memperbanyak kerutan-kerutan di wajah penghisapnya
2. Mengonsumsi banyak makanan manis
Setiap terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah sebanyak 1 mmol/L karena mengonsumsi yang manis-manis, wajah cenderung akan tampak 5 bulan lebih tua dari usia sebenarnya. Pada orang sehat, kadar gula dalam kondisi normal berkisar antara 5-6 mmol/L.

Studi di Leiden University yang melibatkan 602 relawan dan 60 penilai independen, seluruh pasien menjalani pemeriksaan kadar darah. Lalu wajahnya difoto dengan 2 pose dan pengaturan pencahayaan yang berbeda.

"Foto-foto ini lalu diperlihatkan ke 60 penilai yang tidak pernah mengenal para partisipan, untuk ditebak kira-kira berapa usianya. Hasilnya, makin tinggi kadar gula seseorang, baik karena gemuk atau menyandang diabetes cenderung dinilai 1-1,5 tahun lebih tua dari usia sebenarnya," kata ketua peneliti David Gunn.
3. Kurang tidur

Ilmuwan dari University Hospital Case Medical Center menemukan bahwa kualitas tidur berhubungan langsung dengan kesehatan kulit. Tidur yang tidak berkualitas membuat kulit cepat rusak, sehingga tampak lebih tua dan tidak menarik lagi.

Sang ilmuwan, Elma Baron, MD mempresentasikan hasil penelitian itu dalam International Investigative Dermatology Meeting di Edinburgh, Skotlandia.

"Penelitian kami untuk pertama kalinya menyimpulkan bahwa kurang tidur berhubungan dengan berkurangnya kesehatan kulit dan mempercepat penuaan kulit," tegas Elma.
4. Menghindari buah dan sayur


Semakin tua, tubuh membutuhkan kalori lebih sedikit. Untuk menghasilkan penuaan yang sehat dan mengurangi kulit keriput, makanlah makanan berkalori dari sumber yang bergizi.

Sumber terbaik adalah buah-buahan dan sayuran berwarna. Pastikan juga untuk mengkonsumsi ikan yang mengandung asam lemak omega 3 untuk jantung sehat, serta banyak serat dari biji-bijian.
5. Sering terpapar sinar matahari


Peneliti dari L’Oreal Research and Innovation Center, Paris, mengamati wajah 298 wanita berusia 30-78 tahun dari foto-foto mereka. Kemudian peneliti meminta sejumlah sukarelawan untuk mengamati wajah-wajah partisipan dan memperkirakan usia mereka.

Hasilnya terdapat perbedaan yang signifikan pada keriput dan kualitas tekstur kulit partisipan setelah mencapai usia 50 tahun, dengan partisipan yang paling sering terpapar matahari terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Ternyata, penambahan kerusakan kulit sebanyak dua persen mengakibatkan wajah seseorang terlihat lebih tua tiga tahun. Begitu juga sebaliknya.

Kendati begitu, peneliti mengatakan jika kulit mengendor pada wajah lansia bukanlah karena efek paparan sinar matahari, melainkan paparan gravitasi dalam jangka panjang. Untuk menghindari terlalu banyak paparan sinar matahari, sangat disarankan menggunakan tabir surya.

05/08/2014

Rahasia Bagi Para Ayah untuk Memperkuat Ikatan Batin dengan si Kecil

Jakarta, Selama ini, kedekatan antara anak dan orang tua, terutama bayi yang baru lahir didominasi ikatan batin antara anak dengan sang ibu. Padahal, ayah pun memiliki ikatan batin yang tak kalah kuat terutama saat mereka terlibat aktif dalam pengasuhan si kecil.

Baru-baru ini, peneliti di Bar Ilan University, Israel menerbitkan studi yang menunjukkan bahwa otak ayah yang aktif mengasuh anak sama aktifnya dengan kondisi otak ibu ketika mengandung. Di mana jaringan otak yang aktif tersebut memungkinkan ibu memiliki reaksi naluriah terhadap kebutuhan anak.

"Ada ikatan batin sangat kuat antara ibu dengan anaknya yang baru lahir. Pada ayah, ikatan ini pun bisa terbentuk meskipun perlu sedikit usaha yakni selalu berusaha dekat dengan anak kapanpun," tutur pemimpin studi, Ruth Feldman, profesor osikologi di Bar Ilan University dan dosen du Yale University.

Dalam studi ini, Feldman melibatkan 90 ayah dan ibu yang dibagi menjadi tiga kelompok yakni ibu sebagai pengasuh utama, ayah sebagai pengasuh sekunder, dan ayah sebagai pengasuh utama. Peneliti merekam video saat orang tua bermain dengan si anak lalu memutarnya saat peserta melakukan scan otak di mesin MRI.

Saat melihat video, otak ibu sebagai pengasuh utama memiliki respons kuat pada bagian amigdala, bagian otak yang mengatur reaksi emosional. Sedangkan, pada ayah sebagai pengasuh sekunder, jaringan otak yang mengatur proses kognitif sosiallah yang paling kuat, demikian dikutip dari CNN, Kamis (3/7/2014).

Pada ayah sebagai pengasuh utama, ditemukan respons otak yang mengatur hubungan emosional dengan anak sekaligus respons kognitif sosial. Menanggapi temuan ini, James Morris, asisten profesor psikologi di University of Virginia mengatakan ayah sebaiknya meluangkan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan sang anak.

"Meskipun, perlu diteliti lebih lanjut faktor lain yang membuat ayah sebagai pengasuh utama dan memengaruhi kedekatan mereka dengan anak. Misalnya faktor stres, pengalaman masa lalu, dan kesendirian yang dialami," tutur Morris.

03/07/2014

Selamat Beraktivitas dan selamat tes untuk adik-adik peserta calon mahasiswi baru :)

03/07/2014
22/06/2014

Jakarta, Bukan perkara mudah bagi orang tua untuk menerima adanya gejala-gejala autisme pada sang anak. Namun untuk memastikan dan memberikan terapi terbaik, orang tua disarankan untuk tidak menunda membawa anak ke dokter atau psikiater agar tak terlambat.
"Autisme itu merupakan suatu gangguan yang bisa dikendalikan. Terapi juga bisa dilakukan lebih optimal jika diagnosisnya ditemukan sedini mungkin. Kalau baru dibawa ke dokter saat usianya sudah belasan misalnya, diberi terapi apapun sudah sulit," ujar dr Ika Widyawati, SpKJ(K), dalam konferensi pers Autisme Awareness Month yang diselenggarakan di Departemen Psikiatri RSCM/FKUI, Jl Kimia, Jakarta, Rabu (21/5/2015).
Menurut Ketua Seksi Psikiatri Anak dan Remaja, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) tersebut, masa tiga tahun awal perkembangan atau yang sering disebut sebagai golden period, merupakan tahap yang paling tepat untuk memberikan terapi pada anak.
"Sangat optimal jika diagnosis dan terapi diberikan pada periode sampai dengan 3 tahun pertama. Makin kesana bisa saya katakan tingkat keberhasilannya makin sedikit. Misalnya baru datang saat usianya sudah 17 tahun, itu sudah tidak bisa diapa-apakan. Paling jika biasanya sering marah, dibantu menjadi lebih tenang," terangnya.
Pendapat tersebut diamini oleh Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ(K). Kepada detikHealth ia menjelaskan bahwa saat anak masih berusia 3 tahun ke bawah, otaknya masih bersifat plastis alias mudah dibentuk.
"Karena masih bersifat plastis maka bisa lebih cepat mengejar ketinggalan. Misalnya anak usia 2 tahun telat bicara, tidak dihiraukan sampai usianya mencapai 4 tahun. Sudah makin susah itu," ungkapnya.
Alasan mengapa orang tua kerap terlambat membawa anaknya ke dokter atau psikiater menurut dr Ika salah satunya adalah sikap menyangkal atau denial. Mereka sebagai orang tua 'menolak' anaknya didiagnosis autisme. Padahal deteksi dini akan membantu anak mendapatkan penanganan yang tepat berupa terapi dan pemberian obat jika diperlukan.

22/06/2014

PEMBERIAN SUSU FORMULA DIKAITKAN DENGAN DIARE

Terapi antiretroviral (ART) profilaksis telah mengurangi kejadian penularan ibu-ke-bayi selama kehamilan dan persalinan secara dramatis, tetapi virus dapat ditularkan melalui air susu ibu.
Di negara maju, dengan ada jaminan air bersih dan persediaan susu formula yang aman dan dapat diandalkan untuk bayi, perempuan HIV-positif disarankan untuk tidak menyusui. Tetapi, di rangkaian miskin sumber daya, WHO menyarankan untuk menyusui, terutama pada enam bulan pertama, kecuali apabila pemberian susu formula “dapat diterima, dimungkinkan, terjangkau, dan aman,” atau “AFASS ( acceptable, feasible, affordable, sustainable, safe ).”
Dalam satu sesi tentang “Masalah mendesak di dunia berkembang” pada konferensi CROIke-14 pada 25 Februari, Tracy Creek dari Centers for Disease Control and Prevention, AS (CDC) menyampaikan peninjauan tentang jangkitan diare di antara bayi di Botswana yang menyoroti kebutuhan akan pertimbangan yang cermat mengenai keuntungan dan risiko terhadap menyusui.
Di Botswana, pada 2005 hampir sepertiga perempuan hamil terinfeksi HIV. Negara tersebut memiliki program yang dikembangkan dengan baik untuk mencegah penularan ibu-ke-bayi, dan 80 persen perempuan hamil yang HIV-positif menerima sedikitnya AZT. Ibu HIV-positif juga menerima susu formula cukup untuk 12 bulan secara gratis dari klinik.
Botswana mengalami periode curah hujan yang sangat tinggi pada November 2005, dan pada Januari 2006, petugas kesehatan masyarakat mulai melihat peningkatan diare pada anak. Kasus meningkat empat kali lipat, dari sekitar 8500 pada 2004 menjadi lebih dari 35.000. Sementara itu kematian meningkat lebih dari 20 kali lipat dari 24 menjadi hampir 530. Pada Maret, petugas kesehatan mencatat kejadian sekunder yaitu kekurangan gizi pada bayi. Wabah diare berhenti awal April.
Contoh tinja dari anak yang dirawat di rumah sakit karena diare menunjukkan bahwa 60 persen terinfeksi kriptosporidium, 50 persen E.coli , 38 persen Salmonela, dan 17 persen Sigela; banyak yang dengan beragam patogen.
Penyelidikan epidemiologi terhadap wabah ini mengungkapkan bahwa sebagian besar bayi yang menderita diare tidak disusui. Dr. Creek melaporkan dalam analisis multivariat, tidak menyusui merupakan “prediktor terkuat” terhadap diare pada bayi, meningkatkan risiko 50 kali lipat. Menggambarkan besarnya jangkitan tersebut, dalam satu desa, sepertiga bayi yang diberi susu formula meninggal akibat diare, tetapi tidak satupun yang disusui.
Pada kelompok sub penelitian terhadap 153 bayi dengan diare, 93 persen tidak disusui (kira-kira tiga perempatnya diberi susu formula dan 25 persen diberi susu sapi). Tetapi hanya 65 persen ibu yang HIV-positif, menunjukkan bahwa terjadi “kelolosan” dalam pemberian susu formula pada yang tidak terinfeksi HIV. Di antara bayi, 18 persen HIV-positif. Beberapa ibu melaporkan bahwa klinik tidak mampu menyediakan cukup susu formula secara gratis. Kwashiorkor – sebuah bentuk kekurangan gizi pada anak terkait dengan kekurangan asupan protein – adalah satu-satunya prediktor kematian yang bermakna, bukan status HIV ibu atau bayi.
Setelah presentasi tersebut, Peggy Henderson dari WHO mengkaji ulang manfaat dan risiko menyusui pada ibu yang HIV-positif. Sejak terakhir kalinya WHO mengeluarkan saran tentang pemberian makanan pada 2000, telah terkumpul bukti yang menunjukkan bahwa menyusui bayi secara ekslusif selama enam bulan pertama terkait dengan penularan HIV yang lebih rendah dibandingkan gabungan antara menyusui dengan pemberian susu formula, penghentian pemberian air susu ibu dikaitkan dengan diare dan peningkatan mortalitas pada bayi terpanjan HIV, dan menyusui lebih dari enam bulan tampak meningkatkan ketahanan hidup bayi. Sebagai tambahan, perempuan yang memakai ART sepertinya mempunyai kemungkinan lebih rendah menularkan HIV melalui air susu ibu, meskipun penelitian tersebut belum selesai.
Pada Oktober 2006, HIV and Infant Feeding Technical Consultation menyepakati pernyataan yang menekankan bahwa pilihan pemberian makanan yang paling tepat untuk ibu HIV-positif tergantung pada keadaan masing-masing individu.
Dalam kesimpulannya, Dr. Henderson menekankan pentingnya untuk “melindungi” dan mendorong pemberian air susu ibu oleh perempuan yang tidak terinfeksi HIV. Lebih lanjut, semakin banyak bukti – misalnya seperti yang disediakan oleh kejadian Botswana – memberi kesan bahwa di antara perempuan HIV-positif, manfaat pemberian air susu ibu sering melampaui risiko penularan HIV (kira-kira satu persen per bulan), terutama apabila sang ibu memiliki jumlah CD4 yang tinggi dan menerima ART.

02/06/2014

Penerimaan mahasiswa baru UPT Akademi Kebidanan Dinas Kesehatan Prov.Bali TA 2014/2015 telah dibuka.
Persyaratan umum:
1. Perempuan wrga Negara Republik Indonesia
2. Lulusan SMA/MA Jurusan IPA
3. Lulusan SMA Kesehatan
4. Tnggi badan minimal 150cm
5. Brusia max 24th
6. Tdak buta warna
7. Tdak mngalami cacat yg dpt mnggngu tgas profesi.
Persyaratan administrasi:
1.Ftocopy ijasah SMU/SMK/MA yg sudah dilegalisir 1lembar
2. Pas fto hitam putih 4x6cm 5lembar
3. Uang pndftaran 300rb
4. Mlampirkan surat kterangan tdak mmpu dri aparat desa/kelurahan (bagi yg brasal dri daerah gerbangsadu)
Wktu&tmpat pndftaran:
Wktu pndftran: 2juni s/d 1juli 2014 setiap hari kerja.
Senin-kamis: 07.30-14.00wita
Jumat&sbtu: 07.30-11.00wita
Tmpat pndftran: Kampus Akademi Kebidanan Dinas Kesehatan Prov.Bali Jln.Bisma Barat No.25a Singaraja Telp.0362 7001042, fax.0362 21340 www.akbidbali.blogspot.com
Calon peserta didik hrus hdir saat mndaftar tidak boleh prwakilan.
Seleksi tulis: 3juli 2014
Pukul:09.00wita-selesai
Tmpat: Kmpus Akademi Kebidanan Dinas Kesehatan Prov.Bali jln.bisma barat no.25a Singaraja
Materi ujian: Mtematika, Bhsa Inggris, IPA (Biologi, Fisika, Kimia) Bhsa Indonesia.
Bgi peserta yg dinyatakan lulus Uji tulis dilanjutkan dgn Uji Kesehatan yg wktu dan tmpatny dismpaikan saat pengumuman uji tulis.
Bagi yg belum jelas boleh dtg lngsung ke Kampus Akbid Singraja Terima Kasih.

24/05/2014

Partisipan di grup kedua makan di antara pukul 06.00 dan 10.00 serta di antara pukul 12.00 dan 16.00, sedangkan partisipan di grup pertama bebas makan sepanjang hari. Ternyata, bobot partisipan di grup kedua turun 1,4 kilogram lebih banyak ketimbang peserta di grup pertama. Lingkar pinggang mereka juga berkurang 4 sentimeter lebih banyak ketimbang partisipan di grup pertama yang makan enam kali sehari.

"Pasien-pasien itu takut mereka akan kelaparan pada malam hari, tetapi rasa lapar itu ternyata tak terlalu mendera karena mereka sudah makan sampai puas. Sedangkan mereka yang makan enam kali sehari justru tidak merasa puas. Ini cukup mengejutkan," tutur Dr Hana Kahleova, pimpinan tim peneliti dari Institute for Clinical and Experimental Medicine.

Level gula darah partisipan di kelompok kedua juga turun lebih signifikan dibanding partisipan di grup pertama. Dr Kahleova merasa puas dengan hasil studinya. Ia mengatakan bahwa pola diet ini juga dapat diterapkan pada mereka yang tidak memiliki diabetes tetapi ingin menurunkan berat badan.

Menyoal hasil penelitian ini, Dr Richard Elliott, peneliti di komunitas peneliti diabetes Inggris menuturkan bahwa studi ini memberikan bukti tambahan bahwa makan lebih jarang dengan porsi yang lebih besar ternyata lebih efektif dibanding sering makan dalam porsi kecil. Meski demikian, ia menuturkan masih diperlukan studi yang lebih besar dalam rentang waktu lebih panjang.

"Akan tetapi, studi yang lebih besar dalam periode yang lebih panjang masih dibutuhkan untuk mendukung penelitian ini, sebelum kami bisa membuat perubahan pada saran diet untuk pasien diabetes tipe 2," ungkapnya seperti dilansir BBC dan ditulis pada Sabtu (17/5/2014).

24/05/2014

Makan Dua Kali Sehari Lebih Efektif Kendalikan Diabetes Tipe 2
Jakarta, Saran diet yang kini direkomendasikan untuk penderita diabetes tipe 2 adalah sering makan dalam jumlah kecil. Namun, sebuah penelitian di Praha membuktikan bahwa hanya menyantap sarapan dan makan siang lebih efektif mengendalikan diabetes tipe 2 ketimbang sering makan dalam jumlah kecil.

Para ilmuwan Institute for Clinical and Experimental Medicine di Praha membagi 54 partisipan pasien diabetes tipe 2 yang berusia 30 hingga 70 tahun ke dalam dua grup, masing-masing beranggotakan 27 orang. Partisipan di grup pertama menjalani pola diet makan enam kali sehari, sedangkan partisipan di grup kedua hanya makan dua kali sehari. Dua jenis diet tersebut mengandung kalori yang sama, yakni 1.700 kalori per hari.

17/05/2014

5. Thrombophlebitis

Pembengkakan pada satu atau lebih pembuluh vena sebagai akibat dari pembekuan atau penggumpalan darah.

6. Luka perineum

Luka daerah va**na dan a**s yang akan menjadi nyeri, merah, dan bengkak akhirnya luka terbuka dan mengeluarkan getah bernanah.

Selain itu perlu diwaspadai juga ancaman anemia. "Banyak ibu yang mengalami anemia selama masa nifas. Biasanya penyebab utamanya adalah infeksi. Apalagi bagi mereka yang ketika persalinan mengalami perdarahan, proses yang sangat lama, atau bisa jadi si ibu sudah menderita anemia sejak masa kehamilan," tutur dr Budi.

Hal lain yang perlu juga diwaspadai adalah perdarahan. Risiko ini bisa saja terjadi segera setelah proses persalinan selesai, khususnya pada dua jam pertama setelah persalinan. Selain itu juga preeklampsia atau eklampsia. "Risiko ini juga menjadi penyebab nomor satu kematian ibu melahirkan di Indonesia. Gejalanya bisa muncul sejak hari pertama masa nifas hingga hari ke-28," lanjut dr Budi.

Dijelaskan dr Ivan, mastitis banyak berkaitan dengan kelenjar air susu yang tersumbat. Penyebab infeksi nifas ini adalah bakteri. Untuk mengatasinya, biasanya dokter akan memberikan extra massage untuk mengurangi bengkaknya, misalnya bengkak pada payudara. Kalau tidak bisa juga, biasanya akan diberi antibiotik.

"Kalau tidak bisa juga, dokter akan melakukan penyayatan untuk mengeluarkan nanahnya," lanjutnya.

dr Ivan mewanti-wanti jika ada ibu yang kesulitan menyusui, segeralah konsultasi dengan dokter. Cara memerah ASI, sambung dr Ivan, juga penting untuk diperhatikan. Terkadang cara memerah ASI yang salah juga bisa menyebabkan infeksi mastitis ini.

"Wanita yang proses kelahirannya susah, itu rentan sekali terkena infeksi endometritis. Sedangkan wanita yang bermasalah dengan pemberian ASI-nya, itu rentan terkena mastitis. Jadi siapa saja sebenarnya rentan," ucapnya

17/05/2014

1. Endometritis

Peradangan yang terjadi pada endometrium, yaitu lapisan sebelah dalam pada dinding rahim.

2. Peritonitis

Peradangan peritoneum, selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam.

3. Bendungan asi

Pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu.
4. Infeksi payudara (mastitis)

Mastitis adalah infeksi payudara menyebabkan rasa sakit dan demam. Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi. Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara.

Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan. Sedangkan infeksi terjadi ketika organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan.

Address

Jalan Bisma Barat No. 25A
Singaraja
81117

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when UPT Akademi Kebidanan Singaraja posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share