24/01/2017
BELAJAR MATERI PER MATERI
Saya tertarik untuk membuat catatan ini saat melihat foto dua cucu Dokter Tundjung Soeharso rahimahullah. Keduanya bersama Ayahanda, para asatidz, dan masyayikh sedang dalam acara “Haflatut Takrim wa Khatmil Qur’anil Karim”, semacam wisuda setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Meski bukan yang pertama hafal Al-Qur’an di usia sangat belia, namun prestasi cucu pertama dr. Tundjung (10 tahun), putri dari putra beliau Muhammad Hanif, dan cucu kedua beliau (9 tahun), putri Ust. Syihabuddin, Pimpinan Ponpes Isy Karima ini, tetaplah merupakan sesuatu yang langka bagi kita, masyarakat Indonesia.
Bahkan, bagi kebanyakan dari kita, hafal Al-Qur’an masih merupakan angan-angan yang mungkin terasa mustahil dicapai.
Dalam sebuah kesempatan bertamu ke rumah Ustadz Syihabuddin Al-Hafizh, beberapa hari sesudah wisuda putri beliau, saya berkesempatan mendengarkan kisah menarik seputar program menghafal Al-Qur’an yang dijalani oleh putri beliau tersebut khususnya, juga program tahfizhul Qur’an di kuttab Isy Karima pada umumnya.
Menurut Ust. Syihab, putri beliau, sebagaimana santri Kuttab lainnya setiap hari menjalankan program khusus menghafal Al-Qur’an. Hanya menghafal Al-Qur’an.
“Apakah tidak ada pelajaran lain di Kuttab, Ustadz?” tanya saya.
“Tidak ada,” jawab beliau.
Saya mencoba menggali lebih jauh, mengapa beliau “berani” mengambil keputusan seperti itu. Apa alasan beliau hanya mengajarkan Al-Qur’an, tidak dipadu dengan pelajaran-pelajaran lain, baik umum maupun agama, seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya?
Beliau mengutip pendapat seorang ulama yang mengatakan bahwa proses belajar itu ibarat proses melahirkan. Mungkin seseorang bisa mempunyai banyak anak. Namun, pada umumnya, anak-anak itu lahir dari kandungan satu per satu. Lahir anak pertama, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya.
Begitulah anak-anak kita belajar. Anak-anak bisa mempelajari banyak ilmu. Namun, untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, ia perlu menuntaskan materi belajarnya itu satu per satu.
Pandangan beliau itu mengingatkan saya pada pandangan dua pakar pendidikan Islam, yaitu Ibnul Arabi Al-Maliki dan Ibnu Khaldun. Ibnul Arabi menekankan pentingnya belajar satu per satu, materi per materi. Beliau bahkan melarang seseorang belajar dua materi pelajaran sekaligus. Adapun pelajaran yang didahulukan adalah bahasa Arab, syair, dan matematika, baru kemudian Al-Qur’an.
baca selengkapnya:
http://www.yayasanalizzah.com/belajar-materi-per-materi/