Yayasan Al-Izzah

Yayasan Al-Izzah Yayasan Al-‘Izzah adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan.

Berdirinya Yayasan Al-‘Izzah dilatarbelakangi oleh:

1) Kurangnya perhatian masyarakat muslim terhadap pendalaman ilmu syar‘i, juga kurangnya wahana untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
2) Pentingnya upaya peningkatan sumber daya masyarakat muslim di bidang ilmu syar‘i maupun ketrampilan (skill).
3) Keinginan dan tekad untuk merekatkan tali ukhuwah sesama muslim dan menghilangkan fanatisme sempit

. Caranya adalah mengembalikan masyarakat kepada ilmu yang berlandaskan pemahaman generasi awal (sahabat, tabi‘in, tabi‘ut tabi‘in) dan mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan berbagai elemen umat Islam.

BELAJAR MATERI PER MATERISaya tertarik untuk membuat catatan ini saat melihat  foto dua cucu Dokter Tundjung Soeharso ra...
24/01/2017

BELAJAR MATERI PER MATERI

Saya tertarik untuk membuat catatan ini saat melihat foto dua cucu Dokter Tundjung Soeharso rahimahullah. Keduanya bersama Ayahanda, para asatidz, dan masyayikh sedang dalam acara “Haflatut Takrim wa Khatmil Qur’anil Karim”, semacam wisuda setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz.

Meski bukan yang pertama hafal Al-Qur’an di usia sangat belia, namun prestasi cucu pertama dr. Tundjung (10 tahun), putri dari putra beliau Muhammad Hanif, dan cucu kedua beliau (9 tahun), putri Ust. Syihabuddin, Pimpinan Ponpes Isy Karima ini, tetaplah merupakan sesuatu yang langka bagi kita, masyarakat Indonesia.

Bahkan, bagi kebanyakan dari kita, hafal Al-Qur’an masih merupakan angan-angan yang mungkin terasa mustahil dicapai.

Dalam sebuah kesempatan bertamu ke rumah Ustadz Syihabuddin Al-Hafizh, beberapa hari sesudah wisuda putri beliau, saya berkesempatan mendengarkan kisah menarik seputar program menghafal Al-Qur’an yang dijalani oleh putri beliau tersebut khususnya, juga program tahfizhul Qur’an di kuttab Isy Karima pada umumnya.

Menurut Ust. Syihab, putri beliau, sebagaimana santri Kuttab lainnya setiap hari menjalankan program khusus menghafal Al-Qur’an. Hanya menghafal Al-Qur’an.

“Apakah tidak ada pelajaran lain di Kuttab, Ustadz?” tanya saya.

“Tidak ada,” jawab beliau.

Saya mencoba menggali lebih jauh, mengapa beliau “berani” mengambil keputusan seperti itu. Apa alasan beliau hanya mengajarkan Al-Qur’an, tidak dipadu dengan pelajaran-pelajaran lain, baik umum maupun agama, seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya?

Beliau mengutip pendapat seorang ulama yang mengatakan bahwa proses belajar itu ibarat proses melahirkan. Mungkin seseorang bisa mempunyai banyak anak. Namun, pada umumnya, anak-anak itu lahir dari kandungan satu per satu. Lahir anak pertama, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya.

Begitulah anak-anak kita belajar. Anak-anak bisa mempelajari banyak ilmu. Namun, untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, ia perlu menuntaskan materi belajarnya itu satu per satu.

Pandangan beliau itu mengingatkan saya pada pandangan dua pakar pendidikan Islam, yaitu Ibnul Arabi Al-Maliki dan Ibnu Khaldun. Ibnul Arabi menekankan pentingnya belajar satu per satu, materi per materi. Beliau bahkan melarang seseorang belajar dua materi pelajaran sekaligus. Adapun pelajaran yang didahulukan adalah bahasa Arab, syair, dan matematika, baru kemudian Al-Qur’an.

baca selengkapnya:
http://www.yayasanalizzah.com/belajar-materi-per-materi/

USTADZ BUDI ASHARI AJAK GURU TINGGALKAN KURIKULUM MUBADZIR“Silahkan hitung berapa lama kita menghabiskan usia sejak TK s...
23/01/2017

USTADZ BUDI ASHARI AJAK GURU TINGGALKAN KURIKULUM MUBADZIR

“Silahkan hitung berapa lama kita menghabiskan usia sejak TK sampai kuliah? Apa yang sudah kita dapat dalam rentang waktu tersebut?” tanya Ustadz Budi Ashari di hadapan 130 peserta Pesantren Guru 2 di Kuttab Al Fatih, Depok 2-3 Januari 2013.

Menurut pakar Parenting Nabawiyah ini rentang sekolah sampai usia 22 tahun bukan untuk kepentingan pendidikan, namun hanya untuk menyalurkan gejolak. Karena remaja dipersepsi penuh masalah, maka dibuatlah berbagai lembaga dan kegiatan untuk menyalurkan gejolak dan energi mereka ke arah yang positif.

“Sehingga sampai usia kuliah begitu banyak mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan yang berujung pada kemubadziran,” katanya.

Alumni Fakultas Hadist dan Dirosah Islamiyyah di Universitas Madinah ini mencontohkan kemubadziran dalam kurikulum pembelajaran bahasa. Fungsi belajar bahasa adalah untuk bicara, mengerti saat orang bicara, paham literatur, bisa menulis literatur. Belajarnya pun cukup setahun saja.

“Kenapa mesti berlama-lama seperti sekarang? Dari usia TK sampai kuliah belajar bahasa Inggris, tapi bisakah menggunakannya? Inilah kurikulum mubadzir,” tegasnya

Ia juga menekankan kepada para pendidik untuk memperhatikan kurikulum bagi anak-anak didiknya. Jangan sampai kurikulum membuang usia sehingga menghasilkan prestasi yang tidak tepat

“Tanyakan pada diri apakah kurikulum itu bermanfaat untuk dunia dan akhirat? Jika tidak tinggalkan saja,” seru penulis Modul Panduan Kuttab Al Fatih ini di hadapan perwakilan 65 lembaga pendidikan yang hadir dari Jabodetabek, Bandung, dan Lampung.

Pakar sirah nabawiyah inipun mengajak para peserta untuk menengok sejarah. Melihat bagaimana Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa Ibrani hanya dalam 17 hari di usianya yang belia, 11 tahun. Beliaupun menerangkan bahwa sejarah juga mencatat “ALLAMAH”, yaitu ahli di berbagai bidang ilmu. “Karakter ilmu itu adalah holistik, menyeluruh. Maka menjadi ahli tidak hanya di satu bidang saja, tapi di segala bidang. Disebut ALLAMAH.“ jelasnya.

baca selengkapnya:
http://www.yayasanalizzah.com/ustadz-budi-ashari-ajak-guru-tinggalkan-kurikulum-mubadzir/

MODEL PENDIDIKAN KUTTAB AL-QUR’ANYAYASAN AL-IZZAH – Di Maroko, kuttab lebih difokuskan untuk mentalqin dan bertalaqi ilm...
20/07/2016

MODEL PENDIDIKAN KUTTAB AL-QUR’AN

YAYASAN AL-IZZAH – Di Maroko, kuttab lebih difokuskan untuk mentalqin dan bertalaqi ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Orangtua di Maroko, biasa membawa anaknya yang berumur empat tahun ke kuttab untuk belajar huruf, qiraat, hafalan, tajwid, dan rasm (tulisan) Al-Qur’an dari seorang qari’ atau faqih. Bisa dikatakan, di sana kuttab merupakan sekolah Al-Qur’an.

Model kuttab di Andalus sedikit berbeda. Ada pelajaran tentang syair dan bahasa Arab. Matan jurumiyah dan alfiyah termasuk materi yang umum dipelajari di kuttab.

Model kuttab Andalus menganggap bahwa anak-anak sulit memahami dan merenungi makna Al-Qur’an, jika tidak paham bahasa Arab. Oleh karena itu, belajar bahasa Arab didahulukan daripada belajar Al-Qur’an.

Merunut sejarah, pendidikan kuttab sendiri konon sudah ada sejak awal permulaan Islam. Sejak zaman Nabi atau para sahabat, sudah terdapat tempat-tempat pendidikan yang dikenal dengan sebutan darul quran (rumah Al-Qur’an) atau darul qurra’ (rumah para ahli Al-Qur’an).

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri merupakan guru Al-Qur’an. Perhatikan firman Allah ini:



هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة


“Dialah Yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang ummi, seorang rasul dari kalangan mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada mereka.” (Al-Jumu’ah: 2)

Tentu, kita juga ingat sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:



خيركم من تعلم القرآن وعلمه


“Yang terbaik di antara kalian adalah siapa yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.”

Di masa itu, yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah Nabi dan para sahabatnya. Merekalah umat terbaik di masa itu. Bahkan, merekalah generasi terbaik yang pernah ada di bumi.

Di masa Nabi, Al-Qur’an merupakan pelajaran pokok bagi para sahabat. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan pernah melarang para sahabat mencatat dari beliau selain Al-Qur’an. Tujuannya, agar tidak terjadi kerancuan dalam belajar dan menyampaikan Al-Qur’an. Hanya sahabat tertentu yang beliau izinkan mencatat hadits.

Saat kita berharap anak-anak kita kelak meneladani Nabi dan para sahabat, sewajarnyalah jika kita mengajarkan kepada mereka apa yang diajarkan Nabi kepada para sahabat. Dan pelajaran utamanya adalah Al-Qur’an.

Semoga, generasi di belakang kita adalah generasi qurani, generasi yang paham dan mengamalkan Al-Qur’an dengan benar, baik bacaannya, maknanya, maupun hukumnya. Aamiin.



Wallahu a’lam.

Ciamis, 6 Syawal 1437 H

Hawin Murtadlo

READ MORE:
http://www.yayasanalizzah.com/model-pendidikan-kuttab-al-quran/

16/05/2016

Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil 'alamin, hari ini Fans Page resmi Yayasan Al-Izzah sudah mulai diaktifkan. Semoga dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin di Solo pada khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya.

Address

Waringinrejo Gang Delima RT 01/21 Cemani, Grogol
Sukoharjo
57552

Opening Hours

Monday 08:00 - 14:00
Tuesday 08:00 - 14:00
Wednesday 08:00 - 14:00
Thursday 08:00 - 14:00
Saturday 08:00 - 14:00

Telephone

0271 725 635

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Al-Izzah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Yayasan Al-Izzah:

Share