Asosiasi Alumni Pondok Pesantren se Indonesia

Asosiasi Alumni Pondok Pesantren se Indonesia ASPOPENI menghimpun Alumni Pondok Pesantren yang ada di Indonesia

TAFSIR SYARIFIYAH JUZ 28TAFSIR SURAT AL MUJADALAH Oleh : Syarifuddin Liwang( Founder Posko Yatim, ketua ASPOPENI, Pembin...
06/05/2026

TAFSIR SYARIFIYAH JUZ 28
TAFSIR SURAT AL MUJADALAH

Oleh : Syarifuddin Liwang
( Founder Posko Yatim, ketua ASPOPENI, Pembina IDMI, Sekjen DPP IPMI, mantan ketua Forkomas dan Pendiri Persaudaraan Mahasiswa Muslim ( PMM))

A.MENGENAL SURAT AL MUJADALAH
Mengenal Surat Al-Mujadalah adalah , Surah ke-58 pada Juz 28 yang Jumlah 22 Ayat dan merupakan Madaniyah karena diturunkan di Madinah
Al-Mujadalah/Al-Mujadilah (Wanita yang Berdebat/Mengajukan Gugatan).

B.ASBABUL NUZUL SURAT AL MUJADALAH
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Surat ini diawali dengan kisah Khaulah binti Tsa'labah yang mengadukan suaminya, Aws bin As-Samit, kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam karena suaminya melakukan zihar (menyamakan istri dengan punggung ibu/mengharamkan istri). Allah mendengar pengaduan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan itu salah, sekaligus memberikan solusi hukumnya.

C.TAFSIR SURAT AL MURSALAT
1. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 1
قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيْٓ اِلَى اللّٰهِۖ وَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ
qad sami‘allâhu qaulallatî tujâdiluka fî zaujihâ wa tasytakî ilallâhi wallâhu yasma‘u taḫâwurakumâ, innallâha samî‘um bashîr
Artinya
Sungguh, Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan kepada Allah, padahal Allah mendengar percakapan kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sebagaimana kami tuliskan pada asbun nuzul surat ini, bahwa Khaulah binti Tsa’labah te melapor kepadaa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tentang suaminya (yaitu Aus bin Aṣ-Ṣāmit) yang telah menziharnya dengan ucapannya , “Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku”, yakni dalam hal pengharaman pernikahan dan Khaulah memohon dan mengadukan kepada Allah terhadap apa yang diperbuat oleh suaminya kepadanya karena sangat menyiksa dirinya, dan Allah mendengar perbincangan antara kalian berdua, tak ada sesuatu pun darinya yang luput dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar perkataan hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui segala perbuatan mereka, tidak ada sedikit pun yang luput dan samar dari-Nya.

2. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 2
اَلَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ مَّا هُنَّ اُمَّهٰتِهِمْۗ اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٰۤـِٔيْ وَلَدْنَهُمْۗ وَاِنَّهُمْ لَيَقُوْلُوْنَ مُنْكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوْرًاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ
alladzîna yudhâhirûna mingkum min nisâ'ihim mâ hunna ummahâtihim, in ummahâtuhum illal-lâ'î waladnahum, wa innahum layaqûlûna mungkaram minal-qauli wazûrâ, wa innallâha la‘afuwwun ghafûr
Artinya
Orang-orang yang menzihar istrinya (menganggapnya sebagai ibu) di antara kamu, istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan yang melahirkannya. Sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Pada ayat ini ditegaskan bahwa zihar (suami menyamakan istri dengan ibunya) adalah perkataan mungkar dan dusta yang haram dilakukan. Istri bukanlah ibu kandung, dan perbuatan tersebut dianggap tidak masuk akal dan sangat menyiksa perempuan kemudian Allah subhana wataala menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa pelaku zihar wajib bertobat dan membayar kafarat (denda) sebelum kembali berhubungan suami istri.

3. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 3
وَالَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا قَالُوْا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّاۗ ذٰلِكُمْ تُوْعَظُوْنَ بِهٖۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
walladzîna yudhâhirûna min nisâ'ihim tsumma ya‘ûdûna limâ qâlû fa taḫrîru raqabatim ming qabli ay yatamâssâ, dzâlikum tû‘adhûna bih, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr
Artinya
Orang-orang yang menzihar istrinya kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan wajib memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu berhubungan badan. Demikianlah yang diajarkan kepadamu. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Pada ayat ini Allah subhana wataala menegaskan kewajiban membayar kafarat (denda) bagi suami yang melakukan zhihar (menyamakan istri dengan ibunya) sebelum kembali menggauli istrinya. Dendanya adalah memerdekakan seorang budak ( hamba sahaya) sebelum melakukan hubungan suami istri. Kafarat ( denda) ini
yang bertujuan menghapus dosa atas ucapan tersebut.

4. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 4
فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّاۗ فَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَاِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًاۗ ذٰلِكَ لِتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
fa mal lam yajid fa shiyâmu syahraini mutatâbi‘aini ming qabli ay yatamâssâ, fa mal lam yastathi‘ fa ith‘âmu sittîna miskînâ, dzâlika litu'minû billâhi wa rasûlih, wa tilka ḫudûdullâh, wa lil-kâfirîna ‘adzâbun alîm
Artinya
Siapa yang tidak mendapatkan (hamba sahaya) wajib berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya berhubungan badan. Akan tetapi, siapa yang tidak mampu, (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah ketentuan-ketentuan Allah. Orang-orang kafir mendapat azab yang pedih.

Pada ayat ini jelaskan Jika tidak mampu memerdekakan budak atau tidak bisa mendapatkan budak,maka Allah memberikan kemudahan sekaligus keringanan untuk membayar denda dengan berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika itu juga belum bisa dilakukan,maka bisa diganti dengan cara memberi makan 60 orang miskin.
Allah Maha Mengetahui mengetahui niat dan tindakan manusia, termasuk keseriusan suami dalam menebus kesalahan ucapannya.

5. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 5
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَاۤدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ كُبِتُوْا كَمَا كُبِتَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَقَدْ اَنْزَلْنَآ اٰيٰتٍ ۢ بَيِّنٰتٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌۚ
innalladzîna yuḫâddûnallâha wa rasûlahû kubitû kamâ kubitalladzîna ming qablihim wa qad anzalnâ âyâtim bayyinât, wa lil-kâfirîna ‘adzâbum muhîn
Artinya
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dihinakan sebagaimana dihinakan orang-orang sebelum mereka. Sungguh, Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata. Orang-orang kafir mendapat azab yang menghinakan.

Pada ayat ini dijelaskan dan ditegaskan bahwa orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya akan dihinakan, seperti kehinaan yang menimpa umat-umat terdahulu yang membangkang dan melanggar batasan hukum Allah. Ayat ini merupakan peringatan keras bahwa melawan aturan Allah berujung pada kehinaan, baik di dunia maupun akhirat, karena Allah telah menurunkan bukti-bukti nyata kebenaran hukum-Nya( kebenaran syariat) . Oleh karena itu, penentangan terhadap hukum Allah adalah bentuk keingkaran yang disengaja atau membuat aturan sendiri yang menyelisihi syariat akan mendapatkan azab yang pedih sebagai balasan dari perbuatannya

6. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 6
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْاۗ اَحْصٰىهُ اللّٰهُ وَنَسُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
yauma yab‘atsuhumullâhu jamî‘an fa yunabbi'uhum bimâ ‘amilû, aḫshâhullâhu wa nasûh, wallâhu ‘alâ kulli syai'in syahîd
Artinya
Pada hari itu Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal) meskipun mereka telah melupakannya. Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Allah membangkitkan manusia dari kuburnya untuk memberitakan/membalas apa yang telah mereka kerjakan di dunia.
Penegasan bahwa keadilan sejati akan ditegakkan, di mana setiap perbuatan kecil maupun besar akan diperhitungkan atau dibalas karena semua itu telah dicatat oleh Malaikat yang ditugaskan khusus oleh Allah subhana wataala.
amal baik akan dibalas kebaikan dan kebahagiaan sedangkan amal buruk akan di balas dengan azab dan siksaan yang sangat pedih

7. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 7
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
a lam tara annallâha ya‘lamu mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, mâ yakûnu min najwâ tsalâtsatin illâ huwa râbi‘uhum wa lâ khamsatin illâ huwa sâdisuhum wa lâ adnâ min dzâlika wa lâ aktsara illâ huwa ma‘ahum aina mâ kânû, tsumma yunabbi'uhum bimâ ‘amilû yaumal-qiyâmah, innallâha bikulli syai'in ‘alîm
Artinya
Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia memberitakan apa yang telah mereka kerjakan kepada mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ilmu dan kekuasaan Allah Subhana wataala maha absolut, mencakup segala hal di langit dan bumi. Allah senantiasa membersamai makhluk-Nya (dengan ilmu dan kekuasaanNya) dalam pembicaraan rahasia berapapun jumlahnya, Tidak ada pembicaraan rahasia di antara tiga orang, kecuali Allah yang keempatnya. Tidak p**a lima orang, kecuali Allah yang keenamnya dan begitu seterusnya karena Dia Allah Maha mengetahui yang tampak maupun tersembunyi, serta akan membalas setiap perbuatan manusia pada hari kiamat sebagai bentuk kehadirannya.

8. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 8
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نُهُوْا عَنِ النَّجْوٰى ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَيَتَنٰجَوْنَ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِۖ وَاِذَا جَاۤءُوْكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللّٰهُۙ وَيَقُوْلُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللّٰهُ بِمَا نَقُوْلُۗ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُۚ يَصْلَوْنَهَاۚ فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
a lam tara ilalladzîna nuhû ‘anin-najwâ tsumma ya‘ûdûna limâ nuhû ‘an-hu wa yatanâjauna bil-itsmi wal-‘udwâni wa ma‘shiyatir-rasûli wa idzâ jâ'ûka ḫayyauka bimâ lam yuḫayyika bihillâhu wa yaqûlûna fî anfusihim lau lâ yu‘adzdzibunallâhu bimâ naqûl, ḫasbuhum jahannam, yashlaunahâ, fa bi'sal-mashîr
Artinya
Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (melakukan) apa yang telah dilarang itu? Mereka saling mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Apabila datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka mengucapkan salam kepadamu dengan cara yang bukan sebagaimana yang ditentukan Allah untukmu. Mereka mengatakan dalam hati, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan?” Cukuplah bagi mereka (neraka) Jahanam yang akan mereka masuki. Maka, (neraka itu) seburuk-buruk tempat kembali.

Ayat ini turun terkait perilaku orang Yahudi di Madinah yang berbisik-bisik saat bertemu Rasulullah SAW, seringkali mengucapkan salam dengan nada menghina ) alih-alih salam yang benar, dan berencana mencelakakan kaum Muslimin meskipun ada perjanjian damai.
Larangan Najwa Jahat: Allah mencela mereka yang kembali mengerjakan maksiat dan pembicaraan rahasia (najwa) yang mengandung dosa, permusuhan, dan kedurhakaan kepada Rasulullah.
Balasan di Akhirat: Allah menegaskan bahwa neraka Jahanam sudah cukup menjadi tempat kembali bagi mereka yang melakukan perbuatan tersebut, sebagai kehinaan dan penderitaan abadi.

Pada ayat ini dijelaskan perjanjian rahasia yang dilakukan orang-orang yahudi dan orang- orang munafik di madinah untuk menghancurkan islam, karena mereka tidak menyadari bahwa Allah mengetahui rahasia jahat mereka. Tidakkah engkau,Nabi Muhammad, memperhatikan orang-orang, yakni kaum yahudi dan orang-orang munafik di madinah, yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia untuk memusuhi islam, mencelakakan, dan berusaha membunuh rasulullah, karena mereka telah mengikat perjanjian damai dengan kaum muslim dalam piagam madinah; kemudian mereka kembali mengerjakan larangan itu dengan mengabaikan kesepakatan damai tersebut; dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada rasul. Mereka mencoba memecah belah persatuan dan kesatuan kaum ansar yang dahulunya bani aus dan khazraj yang s**a berperang di antara mereka. Mereka pun memancing-mancing permusuhan dengan cara berbisik-bisik yang mencurigakan sesama mereka, jika ada seorang muslim yang lewat di hadapan mereka sehingga kaum muslim merasa tidak aman jika berada di perkampungan yahudi. Dan apabila mereka datang kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu yaitu Assalamu'alaikum ( keselamatan atas kalian semua),tetapi mereka mengucapkan As-samu 'alaikum - kematian / kehancuran untukmu atau makna yang lebih luas dari ucapannya 'mudah-Mudahan kematian menimpamu wahai abul qasim. 'rasulullah menjawab, 'dan atas kamu juga. ' dan, setelah orang-orang yahudi mengucapkan salam penghinaan kepada rasulullah tersebut, mereka mengatakan pada diri mereka sendiri dengan nada menantang, 'mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu'' kalau benar Muhammad seorang rasul, tentu Allah akan mengabulkan jawaban Muhammad, 'dan atas kamu juga, ' bencana atau kematian. Benar Allah akan mengazab setiap orang yang durhaka kepada-Nya, tetapi kapan datangnya azab itu adalah kewenangan Allah. Dia akan menimpakan azab itu bila dikehendaki-Nya, namun yang pasti adalah cukuplah bagi mereka neraka jahanam yang akan mereka masuki dengan kehinaan dan penderitaan abadi. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali di akhirat yang kekal selama-lamanya bagi orang-orang kafir.

9. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 9
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ tanâjaitum fa lâ tatanâjau bil-itsmi wal-‘udwâni wa ma‘shiyatir-rasûli wa tanâjau bil-birri wat-taqwâ, wattaqullâhalladzî ilaihi tuḫsyarûn
Artinya
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu saling mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah berbicara tentang perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Akan tetapi, berbicaralah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Bertakwalah kepada Allah yang hanya kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

Pada ayat ini Allah mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengikuti kebiasaan yahudi mengadakan pembicaraan rahasia kecuali untuk kebaikan yang bisa memberikan manfaat,wahai orang-orang yang beriman! apabila kamu terpaksa mengadakan atau terlibat dalam pembicaraan rahasia, maka perhatikanlah, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, perencanaan, cara maupun strategi; dan jangan p**a membahas permusuhan, kebencian, dan fitnah; dan jangan p**a membicarakan perbuatan yang tergolong durhaka kepada rasul, namun, jika terpaksa mengadakan atau terlibat dalam pembicaraan rahasia, maka bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan meliputi perdamaian, keselamatan dan kerukunan hidup beragama, dan penguatan takwa kepada Allah. Dan bertakwalah kepada Allah, wahai seluruh umat dengan menjaga kesinambungan iman dan ibadah, serta amal saleh, yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali pada hari kiamat untuk mempertanggung jawabkan hidup di hadapan Allah.

10. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 10
اِنَّمَا النَّجْوٰى مِنَ الشَّيْطٰنِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَيْسَ بِضَاۤرِّهِمْ شَيْـًٔا اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
innaman-najwâ minasy-syaithâni liyaḫzunalladzîna âmanû wa laisa bidlârrihim syai'an illâ bi'idznillâh, wa ‘alallâhi falyatawakkalil-mu'minûn
Artinya
Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedangkan (pembicaraan) itu tidaklah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.

Ayat ini masih terkait perilaku orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik yang s**a berbisik-bisik untuk mengganggu psikologis kaum Muslimin agar merasa takut atau sedih karena najwa (bisik-bisik/perundingan rahasia) yang berniat jahat akan menimbulkan permusuhan, kedurhakaan yang merupakan pengaruh setan.
Perlu di ketahui bahwa meskipun setan berniat jahat, tetapi tidak akan bisa memberi mudarat sedikit pun kepada orang beriman, kecuali dengan izin Allah oleh kepada itu Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa bertawakal ,bersandar dan menyerahkan urusannya hanya kepada Allah subhana wa taala.

11. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ qîla lakum tafassaḫû fil-majâlisi fafsaḫû yafsaḫillâhu lakum, wa idzâ qîlansyuzû fansyuzû yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr
Artinya
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Pada Ayat ini Allah subhana wa taala memerintahkan orang beriman untuk berlapang-lapang (memberi tempat) di dalam majelis ilmu atau pertemuan,
Juga dalam bermajelis jika ada yang meminta untuk berdiri atau bergeser saat diminta, baik untuk memberi tempat maupun untuk tujuan kebaikan seperti memberikan tempat untuk orang yang dimuliakan dalam agama dan orang yang berilmu dapat duduk di tempat itu maka hendaklah mereka berdiri, karena itu bagian dari berlapang-lapang dalam majelis karena siapa yang memberi kelapangan bagi saudaranya, maka Allah akan memberikan kelapangan bagi mereka sebagai balasannya baik di dunia maupun akhirat.
Allah subhana wa taala juga akan memberikan derajat yang tinggi bagi orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimaksud disini adalah yang bermanfaat dan diamalkan.

12. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُوْلَ فَقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوٰىكُمْ صَدَقَةًۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَاَطْهَرُۗ فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
yâ ayyuhalladzîna âmanû idzâ nâjaitumur-rasûla fa qaddimû baina yadai najwâkum shadaqah, dzâlika khairul lakum wa ath-har, fa il lam tajidû fa innallâha ghafûrur raḫîm
Artinya
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu (ingin) melakukan pembicaraan rahasia dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu. Hal itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Akan tetapi, jika kamu tidak mendapatkan (apa yang akan disedekahkan), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada ayat ini memerintahkan orang- orang beriman yakni para shahabat untuk bersedekah sebelum berbicara khusus (berbisik) dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
Sedekah ,perlu diketahui bahwa bersedekah di sini bukan bersedekah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena beliau tidak menerima sedekah, tetapi diperintahkan bersedekah kepada fakir miskin sebelum berkonsultasi dengan nabi.
Bersedekah kepada orang miskin sebelum berkonsultasi dengan nabi, memiliki tiga alasan
1. membersihkan diri sifat kikir dan dan cinta harta yang berlebihan sehingga hati lebih bersih untuk menerima ilmu dan nasehat dari Nabi yang itulah terbaik baik bagi mereka.
2.Sebagai ujian Siapakah yang betul-betul mau mengikuti perintah ini, karena pada waktu itu hanya orang-orang munafik berat untuk bersedekah

3.Sedekah bisa mendidik para sahabat agar tidak terlalu sering menanyakan hal yang tidak penting kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tetapi jika ada sahabat tidak memiliki harta atau uang (yang akan disedekahkan) sebelum bertemu nabi karena kemiskinan padahal sangat perlu berkonsultasi dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap diperbolehkan karena sebetulnya perintah bersedekah ditujukan kepada orang-orang ( Sahabat) yang mampu dan ketahuilah Allah maha pengampun dan maha penyayang


13. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 13
ءَاَشْفَقْتُمْ اَنْ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوٰىكُمْ صَدَقٰتٍۗ فَاِذْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَتَابَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
a asyfaqtum an tuqaddimû baina yadai najwâkum shadaqât, fa idz lam taf‘alû wa tâballâhu ‘alaikum fa aqîmush-shalâta wa âtuz-zakâta wa athî‘ullâha wa rasûlah, wallâhu khabîrum bimâ ta‘malûn
Artinya
Apakah kamu takut (menjadi miskin) jika mengeluarkan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan rahasia dengan Rasul? Jika kamu tidak melakukannya dan Allah mengampunimu, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini merupakan kelanjutan ayat 12 yang memerintahkan sedekah sebelum berdialog khusus (berbisik/bertanya) dengan Nabi. Karena perintah itu ada yang merasa berat, Allah memberi keringanan (rukhsah) itu hanya berlaku di awal- awal kemudian Allah memerintahkan untuk mengganti perintah bersedekah tersebut dengan menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara tulus.
Ayat ini mendidik umat Islam untuk tidak terikat pada hal duniawi (takut miskin karena sedekah) dan lebih mengutamakan ketaatan, serta menunjukkan bahwa hukum dapat berubah sesuai keringanan yang Allah berikan.

14. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 14
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْۗ مَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْۙ وَيَحْلِفُوْنَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
a lam tara ilalladzîna tawallau qauman ghadliballâhu ‘alaihim, mâ hum mingkum wa lâ min-hum wa yaḫlifûna ‘alal-kadzibi wa hum ya‘lamûn
Artinya
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum)-mu dan bukan dari (kaum) mereka. Mereka bersumpah secara dusta (mengaku mukmin), padahal mereka mengetahuinya.

Pada ayat ini Allah subhana wa taala menegur keras golongan munafik karena bersahabat dan setia (berwali) dengan kaum yang dimurkai Allah yaitu Yahudi,mereka menjadikan musuh Allah sebagai teman karib, padahal mereka bukan bagian dari kaum Yahudi tersebut, dan bukan p**a bagian dari kaum Muslimin yang jujur karena Mereka ( Orang-orang munafik) sering bersumpah dusta untuk menutupi kemunafikannya dan mengelabui kaum Muslimin agar dianggap beriman, padahal mereka tahu bahwa mereka berbohong.

15. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 15
اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
a‘addallâhu lahum ‘adzâban syadîdâ, innahum sâ'a mâ kânû ya‘malûn
Artinya
Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sesungguhnya sangat buruk apa yang selalu mereka kerjakan.

Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka ( Orang-orang munafik), yaitu ditempatkan di dalam neraka ditingkatan yang paling bawah ( dasar) baca surah An nisa ayat 145 sebagai balasan dari perbuatan buruknya di dunia, yaitu menipu Allah dan orang-orang beriman padahal tipuannya hanya membahayakan dirinya sendiri baca surat Al Baqarah ayat 9.

16. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 16
اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
ittakhadzû aimânahum junnatan fa shaddû ‘an sabîlillâhi fa lahum ‘adzâbum muhîn
Artinya
Mereka menjadikan sumpah-sumpahnya sebagai perisai, lalu menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Maka, bagi mereka azab yang menghinakan.

Orang-orang munafik yang menjadikan sumpah palsu sebagai "perisai" untuk menipu umat Islam dan menghalangi jalan Allah. , mereka sering bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka adalah orang mukmin, namun sumpah itu hanya pelindung diri (kamuflase) agar tidak diperangi dan bisa membaur dengan muslimin yang tujuan menghambat penyebaran Islam, akibat perilaku mereka yang sangat buruk, Allah menjanjikan azab yang sangat menghinakan di akhirat.

17. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 17
لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
lan tughniya ‘an-hum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai'â, ulâ'ika ash-ḫâbun-nâr, hum fîhâ khâlidûn
Harta benda dan anak-anak mereka tidak berguna sedikit pun (untuk menolong mereka) dari (azab) Allah. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

Kekayaan, jabatan, dan keluarga yang dibanggakan orang munafik tidak bisa menyelamatkan mereka dari siksa Allah yang tempat kembali mereka ( Orang-orang munafik)adalah neraka dan mereka tinggal di dalamnya untuk selamanya.

18. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 18
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيَحْلِفُوْنَ لَهٗ كَمَا يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ عَلٰى شَيْءٍۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ
yauma yab‘atsuhumullâhu jamî‘an fa yaḫlifûna lahû kamâ yaḫlifûna lakum wa yaḫsabûna annahum ‘alâ syaî', alâ innahum humul-kâdzibûn
Artinya
(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah membangkitkan mereka semuanya. Lalu, mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka mukmin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu. Mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat dari dustanya). Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah para pendusta.

Orang munafik pada hari kebangkitan akan bersumpah kepada Allah bahwa mereka adalah orang beriman, sama seperti mereka bersumpah palsu kepada kaum muslimin di dunia.
Mereka mengira sumpah palsu tersebut akan menyelamatkan mereka, padahal itu tidak berguna dan Allah subhana wataala menegaskan bahwa mereka adalah pendusta sejati yang tertipu oleh kemunafikan mereka sendiri.

19. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 19
اِسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطٰنُ فَاَنْسٰىهُمْ ذِكْرَ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ الشَّيْطٰنِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ الشَّيْطٰنِ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
istaḫwadza ‘alaihimusy-syaithânu fa ansâhum dzikrallâh, ulâ'ika ḫizbusy-syaithân, alâ inna ḫizbasy-syaithâni humul-khâsirûn
Artinya
Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikannya lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang rugi.

Ayat ini menegaskan bahwa mereka ( orang- orang Munafik dan kafir) adalah pengikut dan tentara setan karena syetan telah menguasai mereka sehingga lupa Tuhannya dan merasa dirinya benar serta menolak kebenaran, mereka adalah orang-orang yang merugi, baik di dunia maupun akhirat.

20. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 20
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَاۤدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اُولٰۤىِٕكَ فِى الْاَذَلِّيْنَ
innalladzîna yuḫâddûnallâha wa rasûlahû ulâ'ika fil-adzallîn
Artinya
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.

Ini adalah janji dan sekaligus ancaman, bagi siapa saja yang menentang Allah dan rasulNya dengan kekufuran dan berbagai kemaksiatan serta menghalangi orang untuk beriman,
Ia akan mendapatkan kerendahan dan kehinaan, dan tidak ada kesudahan baik baginya, serta tidak memperoleh kemenangan.



21. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 21
كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ
kataballâhu la'aghlibanna ana wa rusulî, innallâha qawiyyun ‘azîz
Artinya
Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha perkasa.

Janji bagi siapa pun yang beriman kepada Allah dan rasulNya serta mengikuti ajaran yang dibawa oleh para rasul. Ia menjadi bagian dari tentara Allah yang mendapatkan keberuntungan. Ia akan mendapatkan kemenangan dan pertolongan di dunia dan akhirat. Ini adalah janji yang tidak akan dipungkiri dan dirubah. Karena janji ini berasal dari Allah Yang Maha benar, Kuat, Perkasa, yang kehendakNya tidak bisa dikalahkan oleh apa pun.

22. Tafsir Surat Al Mujadalah ayat 22
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُۗ وَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
lâ tajidu qaumay yu'minûna billâhi wal-yaumil-âkhiri yuwâddûna man ḫâddallâha wa rasûlahû walau kânû âbâ'ahum au abnâ'ahum au ikhwânahum au ‘asyîratahum, ulâ'ika kataba fî qulûbihimul-îmâna wa ayyadahum birûḫim min-h, wa yudkhiluhum jannâtin tajrî min taḫtihal-an-hâru khâlidîna fîhâ, radliyallâhu ‘an-hum wa radlû ‘an-h, ulâ'ika ḫizbullâh, alâ inna ḫizballâhi humul-mufliḫûn
Artinya
Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.

Pada ayat ini Allah subhana wa taala memuji atas hambanya yang beriman dan jujur dengan berlepas diri dari kaum munafiqin dan musyrikin. Allah
Berfirman : Ketahuilah wahai Nabi Allah, engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ secara haq dan mereka yang mengetaui syariat-Nya; Berkasih sayang dan mencintai orang-orang musyrik yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ dan menyimpang dari perintah Allah, meskipun mereka orang-orang yang bermaksiat adalah kerabat; Seperti bapaknya yang wajib seorang anak mentaatinya, atau anak keturunan yang mereka adalah darah dagingnya, atau saudara yang menolong mereka, atau kaum yang diunggulkan setelah saudara; Maka mereka semua yang tidak mencintai musuh-musuh Allah,
karena Allah menanamkan keimanan dalam hati mereka sehingga syubhat dan keraguan tidak akan berpengaruh lagi terhadapnya, kemudian keimanan itu Allah tambahkan lagi dengan pertolongan-Nya dan Allah kokohkan (keimanan mereka). Dan di antara karunia Allah kepada mereka, Allah akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang luas, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka semua tinggal di dalamnya selama-lamanya. Mereka memiliki sebesar-sebesar kenikmatan dan keutamaan, Allah meridhai mereka dan tidak akan murka kepada mereka selama-lamanya. Keridhaan Allah kepada mereka karena sebab ketaatan mereka yang mendatangkan kemuliaan. Ketahuilah mereka adalah orang-orang yang tidak mencintai musu-musuh Allah, mereka ada pembela Allah dan tentara Allah yang mereka mematuhi perintah-perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya, dan memerangi musuh-musuh-Nya, dan menolong kekasih-kekasih Allah (Rasul, Nabi, wali, orang-orang beriman dll,); Mereka adalah orang-orang yang menang dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Makassar, Rabu ,6 Mei 2026/19 Dzulqaidah 1447 H

Referensi bacaan
1. Al Qur'an dan terjemahannya
2.Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili
3.Tafsir ringkas kementerian agama RI
4. Tafsir Al Misbah, Prof Quraish Syihab
5.Tafsir Jalalain, imam Jalaluddin Allah Mahalli dan Jalaluddin As Syuyuti
6.Tafsir Rahmat KH Oemar Baru
7.Tafsir Qur'an karim, Prof Muhammad Yunus
8.Tafsir Al Azhar, Prof Buya Hamka
9.Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di
10.Tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi
11.Tafsir Al Muyassar ,Kementerian Agama Saudi Arabia
12.Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram
13.Tadabbur Qur'an ust Fatahuddin Jafar,MA
14.Tafsir An Nur Prof Hasbi Asshiddiqie

Address

Jalan Syeikh Yusuf
Sungguhminasa

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Asosiasi Alumni Pondok Pesantren se Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share