21/08/2014
Ibn Al-Farid
Setiap anggota badanku melihatnya, meski ia tidak hadir disisiku
Dalam setiap zat yang halus lembut, jernih dan bahagia,
Dalam nada kecapi dan seruling yang merdu dan berbaur
menyatu dalam alunan yang bergetar,
Dan dalam padang rumput rusa yang hijau subur,
Dalam kesejukan senja dan dalam sinar-sinar cahaya pertama difajar menyingsing,
Dalam hujan berkabut yang turun dari awan dihamparan bunga,
Dan ketika angin sepoi – sepoi menyeret jubahnya menyerbarkan
Semerbak wangi harum mawar difajar yang lembut, dan bila kukecup bibir piala, kuhirup anggur jernih dalam riang dan bahagia, aku tak terkucil dari tanah kelahiranku bila ada bersamaku; pikiranku tidak terganggu dimanapun kami berada
Tempat itu tempat kelahiranku, kalau kekasihku ada disitu:
Dimana tampil bukit pasir melandai, itulah tempatku berhenti.
Aku tahu dengan pasti bahwa sesungguhnya kita adalah satu,
Dan kesadaran akan kesatuan memulihkan gagasan akan pemisahan.
Dan seluruh keberadaanku adalah sebuah lidah untuk bicara
Sebuah mata untuk memandang,
Sebuah telinga untuk mendengar
Dan sebuah tangan untuk memegang.