25/05/2026
Rektor Unimus Soroti Ketahanan Ideologi di Era Digital dalam Forum Kamtibmas Polda Jateng
Semarang | Upaya memperkuat ketahanan sosial masyarakat di tengah arus digitalisasi terus dilakukan melalui kolaborasi lintas institusi dan organisasi kemasyarakatan. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Silaturahmi Kamtibmas Polda Jawa Tengah yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), dan Forum Komunitas Ormas Bersatu (FKSB) Kota Semarang.
Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Kapasitas Komunitas untuk Menciptakan Situasi Kondusif di Era Digitalisasi” itu dihadiri berbagai unsur organisasi masyarakat, komunitas Muhammadiyah, serta tokoh masyarakat di Kota Semarang.
Hadir dalam forum tersebut Wakil Ketua PWM Jawa Tengah Ahmad Hasan Ashari Ulama’i, Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol. Latif Usman, serta sejumlah narasumber dari Direktorat Reserse Siber Polda Jateng, Pembina LDK PWM Jateng Agus Munawar Sodiq, dan Rektor Unimus Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.
Ketua LDK PWM Jateng sekaligus FKSB Kota Semarang, Dr. A.M. Juma’i, dalam sambutannya menegaskan pentingnya penyatuan persepsi dan langkah organisasi kemasyarakatan serta komunitas di Jawa Tengah agar semakin produktif dalam mendukung pembangunan daerah.
Menurutnya, momentum Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bahwa seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga persatuan, keamanan, dan kemajuan masyarakat.
“Organisasi masyarakat dan komunitas harus mampu menjadi bagian dari solusi sosial di tengah perubahan zaman, termasuk menghadapi tantangan era digital,” ujarnya.
Selain itu, Wakil Ketua PWM Jawa Tengah Ahmad Hasan Ashari menyampaikan bahwa keberadaan Lembaga Dakwah Komunitas merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-48 yang bertujuan memperkuat dakwah di tengah masyarakat dan komunitas.
Ia menyambut positif terselenggaranya Silaturahmi Kamtibmas sebagai langkah strategis membangun kerja sama antara Muhammadiyah, komunitas masyarakat, dan Polda Jawa Tengah dalam menciptakan kondisi daerah yang aman dan kondusif.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pembangunan komunitas di Indonesia melalui penguatan silaturahmi dan kolaborasi lintas elemen,” katanya.
Hasan Ashari juga menyinggung pentingnya nilai-nilai Al-Qur’an dalam membangun kesatuan komunitas yang kuat. Menurutnya, silaturahmi harus dibangun dengan prinsip saling menghormati dan tidak merendahkan kelompok lain meskipun memiliki kelebihan dalam bidang tertentu.
“Di era digital dengan perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat, masyarakat memerlukan ruang dialog seperti ini agar tetap memiliki pegangan nilai dan semangat persatuan,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol. Latif Usman mengapresiasi keterlibatan organisasi masyarakat dan komunitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Ia menilai kolaborasi antara aparat keamanan dan elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan berdaya.
“Sinergi yang baik antara masyarakat, organisasi, dan aparat keamanan perlu terus diperkuat agar tercipta situasi yang aman, damai, dan kondusif di Jawa Tengah,” ujarnya.
Menurutnya, organisasi masyarakat memiliki peran strategis dalam mengisi ruang-ruang sosial yang belum sepenuhnya dapat dijangkau pemerintah, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., dalam paparannya menekankan pentingnya penguatan karakter kebangsaan dan internalisasi nilai-nilai dasar ideologi Pancasila di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin terbuka dan dinamis. Menurutnya, era digital tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam mengakses informasi, tetapi juga membawa tantangan besar terhadap ketahanan ideologi, budaya, dan karakter generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa derasnya arus informasi di media sosial dan ruang digital sering kali memunculkan berbagai konten yang berpotensi memecah persatuan, menyebarkan hoaks, hingga memengaruhi pola pikir masyarakat apabila tidak disikapi secara bijak. Karena itu, penguatan ideologi Pancasila dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga arah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Pancasila harus terus menggema dalam kehidupan masyarakat. Jika nilai-nilai Pancasila mulai dilupakan, generasi muda akan kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi yang tidak semuanya sesuai dengan nilai kebangsaan,” ungkap Prof. Masrukhi.
Menurutnya, Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dasar negara, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap toleransi, gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial dan menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
Prof. Masrukhi menambahkan, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, komunitas, hingga institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam memperkuat ketahanan ideologi masyarakat. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi, pembinaan karakter, serta penguatan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan maupun provokasi yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban.
Ia juga menilai bahwa organisasi masyarakat perlu mengambil peran lebih aktif dalam menjadi ruang pembinaan sosial sekaligus mitra strategis pemerintah dan aparat keamanan dalam menjaga kondusivitas daerah. Menurutnya, penguatan nilai Pancasila harus berjalan seiring dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan dan mempererat solidaritas sosial.
“Ormas dan komunitas memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Dengan penguatan nilai Pancasila, masyarakat tidak hanya memiliki ketahanan ideologi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keamanan, persatuan, dan masa depan bangsa,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Masrukhi menegaskan bahwa modernisasi dan perkembangan teknologi seharusnya tidak menjauhkan masyarakat dari identitas kebangsaan. Sebaliknya, kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat pendidikan karakter, menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, dan membangun ruang digital yang sehat serta produktif.
Melalui forum tersebut, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, aparat keamanan, organisasi masyarakat, dan komunitas dalam menciptakan ruang sosial yang aman, harmonis, dan produktif di tengah tantangan era digital.