Pkkh Ugm Koesnadi Hardjasoemantri

Pkkh Ugm Koesnadi Hardjasoemantri Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pkkh Ugm Koesnadi Hardjasoemantri, Jalan Pancasila, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta City.

Ayu Utami (.fu) akan berbagi pandangannya model & sistem pengetahuan lokal yang selama ini tidak menjadi arus utama dala...
02/09/2019

Ayu Utami (.fu) akan berbagi pandangannya model & sistem pengetahuan lokal yang selama ini tidak menjadi arus utama dalam paradigma kita.
Forum Umar Kayam kali ini bertajuk RASA: ALTERNATIF MODEL EPISTEMOLOGI LOKAL. Menghadirkan Ayu Utami—dan sekaligus tersaji salam format ceramah.
Program ini juga berkolaborasi dengan Kampung Buku Jogja 2019. Senin, 2 September Pkl. 15.00-17.00. Acara ini gratis & terbuka untuk umum.

Diskusi Sastra PKKH kembali digelar. Meneruskan edisi sebelumnya, kali ini karya-karya Dewi Kharisma Michellia akan diul...
16/05/2019

Diskusi Sastra PKKH kembali digelar. Meneruskan edisi sebelumnya, kali ini karya-karya Dewi Kharisma Michellia akan diulas oleh Ni Made Purnama Sari dan .
Kami pun memulainya lebih awal Pkl. 16.00 dan sesi diskusi diakhiri dengan buka puasa bersama. Catat hari dan tanggalnya ya! Ajak teman-teman sekalian untuk diskusi dan ngabuburit bareng.

Nada Dunia: Dari Kekaryaan ke World Music Ayu LaksmiKamis, 17 Mei 2018 Pkl. 09.30 di Hall Pusat Kebudayaan Koesnadi Hard...
16/05/2018

Nada Dunia: Dari Kekaryaan ke World Music Ayu Laksmi
Kamis, 17 Mei 2018 Pkl. 09.30 di Hall Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM

Nama Ayu Laksmi belakangan dikenal khalayak sebagai aktris. Lewat film besutan Joko Anwar, “Pengabdi Setan”—Ayu populer dengan karakter ‘ibu’. Di film lainnya, Ayu kembali berperan sebagai seorang ibu bagi sepasang anak kembar, bertajuk “The Seen and Unseen” karya Kamila Andini. Namun demikian, jauh sebelum karier keaktorannya bermula, Ayu lebih dahulu dikenal sebagai World Music Diva lewat performance dan album yang diluncurkannya, Svara Semesta. Dalam forum Sesrawungan kali ini, PKKH mengundang Ayu Laksmi untuk berbagi pada publik mengenai Svara Semesta, proses kreatif, serta pandangannya mengenai world music.

Forum Sesrawungan kali ini akan berangkat dari penjelajahan kreatif Ayu Laksmi. Bagaimana musik tradisi Bali memengaruhinya karya-karyanya, baik itu dari instrumen, laras/notasi sampai sejarah musik Bali. Kemudian forum akan bergerak ke pembacaan Ayu terhadap lema world music dan kaitannya dengan lagu-lagu pada album Svara Semesta. Apakah Ayu sengaja menautkannya dengan titel world music atau bagaimana sesungguhnya pembacaan Ayu terhadap genre baru ini? Tidak lupa proses penciptaan lirik dan aransemen lagu-lagu pada Svara Semesta dipandu oleh Michael HB Raditya (peneliti di LARAS Studies of Music in Society).

Harap hadir tepat waktu, di awal sesi Ayu Laksmi akan membawakan dua lagu dari album Svara Semesta.

Bagaimana ruang dan kota dapat mengubah, bahkan memakan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya? Kump**an puisi dalam b...
19/04/2018

Bagaimana ruang dan kota dapat mengubah, bahkan memakan manusia-manusia yang tinggal di dalamnya? Kump**an puisi dalam buku Melihat Api bekerja (Gramedia, 2015) secara lugas menggambarkannya. Edisi Diskusi Sastra Nasional PKKH edisi April kali ini akan membahas lima puisi Aan Mansyur; "Menunggu Perayaan", "Memimpikan Hari Libur", "Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam", "Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia", dan "Melihat Api Bekerja" bersama Esha Tegar Putra (sastrawan nasional) dan M. Alfian (mahasiswa pascasarjana ilmu sastra FIB UGM). Agendakan dari sekarang, Rabu, 25 April 2018 Pkl. 18.30 di Hall PKKH UGM. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Nama Eka Kurniawan telah mencuri perhatian para kritikus sastra di Eropa Barat, Amerika, sampai Australia. Edisi Bahasa ...
20/03/2018

Nama Eka Kurniawan telah mencuri perhatian para kritikus sastra di Eropa Barat, Amerika, sampai Australia. Edisi Bahasa Inggris dua novel awalnya, Cantik Itu Luka (2003) diterjemahkan menjadi Beauty is a Wound dan Lelaki Harimau (2004) diterjemahkan menjadi Man Tiger terbit dan dipuji antara lain oleh Publisher's Weekly, San Fransisco Chronicle, dan New York Times. Ia juga telah berkeliling ke Jerman, Inggris, hingga Australia, dan Swedia untuk mempromosikan bukunya.

Beberapa kalangan menandai Eka sebagai penerus Pramudya Ananta Toer. Secara terbuka, Eka mengakui sekaligus mengkritik hal tersebut, meskipun dalam tugas akhirnya ia mendedah tetralogi Pram. Ia mengkritik sudut pandang Pram yang tampak modernis dalam melihat hitam dan putihnya sejarah.

Eka disandingkan layaknya Gabrielle Garcia Marquez milik Indonesia. Karyanya banyak mengadopsi gaya realisme magis, membaurkan fiksi dan realitas dalam narasi yang kompleks. Franz Roh, seorang sejarahwan Jerman, menyebut ralisme magis sebagai kemampuan menciptakan makna (magis) dengan membayangkan hal-hal biasa dengan cara luar biasa. Namun demikian, Eka tidak sepenuhnya mengamini gaya realisme magis tersebut. Ia menyebut bahwa karya-karyanya lebih dekat ke pakem cerita horor Indonesia.

Jika demikian bagaimana Eka menjelaskan karakteristik karya dan proses kreatifnya? Bagaimana p**a keterkaitannya dengan Pramoedya yang condong ke arah realisme sosialis? Dalam Forum Umar Kayam edisi II kali ini, PKKH mengundang Eka Kurniawan sebagai pembicara utama, dan Mahfud Ikhwan sebagai pemandu diskusi. Mahfud sendiri merupan cerpen*s, novelis dan editor asal Yogyakarta.

Luangkan waktumu untuk hadir dalam forum ini, Selasa, 10 April 2018 Pkl. 10.00 di Hall PKKH UGM.

Kawan-kawan yang baik, menjelang akhir bulan Februari ini, PKKH akan kembali menyelenggarakan Forum Umar Kayam. Pada edi...
22/02/2018

Kawan-kawan yang baik, menjelang akhir bulan Februari ini, PKKH akan kembali menyelenggarakan Forum Umar Kayam. Pada edisi perdananya, Forum Umar Kayam akan mengangkat tema seputar budaya populer dan aktivisme. Kami menantikan Anda untuk hadir dan berdiskusi bersama Rudolf Dethu (jurnalis, manajer band, dan aktivis) dengan dimoderatori oleh Irfan R. Darajat (alumni program pascasarjana Kajian Budaya dan Media, pegiat LARAS-Studies of Music in Society dan personil band Jalan Pulang) pada hari Selasa, 27 Februari 2018 Pkl. 14.30 di Ruang Bonang PKKH.

**Pengantar singkat**
(untuk versi lengkap dapat diakses di www.pkkh.ugm.ac.id)

Belakangan, kata aktivisme menjadi terminologi yang sering diperbincangan di berbagai kalangan dan media. Aktivisme, bukan istilah baru sebetulnya. Sebelum media digital berkembang pesat, infiltrasi budaya populer dalam aktivisme juga memiliki peranan besar dalam mendulang simpati massa. Lagu Give Peace a Chance yang dinyanyikan Lennon menjadi penanda ikon budaya populer terlibat dalam aksi massa yang menolak perang Vietnam. Ada p**a lagu We Shall Overcome yang terkenal sebagai ‘lagu protes’ dimanfaatkan dalam gerakan hak asasi manusia—kemudian menjadi judul gerakan itu sendiri yang digawangi oleh para musisi dan pegiat budaya.

Sudah empat tahun, warga lokal, anak muda, seniman menolak dengan tegas reklamasi Teluk Benoa. Berdasarkan analisis mereka, reklamasi tidak akan berdampak baik bagi lapangan pekerjaan dan justru merusak ekosistem semata demi ekspansi bisnis para pengembang. Perjalanan ForBali kini viral dengan jejaring massa baik online dan offline yang semakin meluas. ForBali ini mengelaborasi peran media digital dan budaya populer dalam aktivismenya. Nyatanya banyak anak muda yang semula enggan bergabung dalam gerakan, kemudian menganggap aktivitas ini sebagai seuatu yang keren dan menjadi militan.

PKKH mengundang Rudolf Dethu (penulis, manajer band dan aktivis yang terlibat dalam ForBali) sebagai pembicara. Forum Umar Kayam kali ini akan berkutat dengan pertanyaan seputar; Bagaimana strategi dan model gerakan yang dilakukan oleh Dethu sejauh ini? Bagaiman perkawinan antara media digital dan budaya populer mendorong efektivitas dalam aktivisme? Seberapa luas solidaritas bisa dimaknai, sementara representasi media digital telah semakin dominan? Menarik relasinya dengan aktivisme di tempat lain seperti Kendeng atau Kulon Progo, sampai di mana fungsi budaya populer? Apakah ia mampu membesarkan isu dan mendorong jejaring antar gerakan?

**tentang Forum Umar Kayam PKKH UGM**

Forum Umar Kayam adalah program diskusi yang diselenggarakan oleh PKKH UGM, yang mencoba membawa semangat dan modus operandi dari almarhum Umar Kayam. Pada masanya, alm.Umar Kayam mampu merangkul tiga elemen utama (akademisi, seniman, dan jurnalis) dalam memperbincangkan aneka persoalan, secara santai namun serius. Forum diskusi ini adalah upaya untuk menjadikan PKKH UGM sebagai tempat yang cair, tempat bertemunya orang-orang dengan beraneka latar belakang membicarakan hal-hal berkenaan dengan kebudayaan dan praktiknya terkini.

Diskusi Sastra Nasional Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri kembali hadir, sekaligus menjadi edisi perdana di tahu...
10/02/2018

Diskusi Sastra Nasional Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri kembali hadir, sekaligus menjadi edisi perdana di tahun 2018. Edisi 2017 kita telah berjumpa dengan begitu banyak cerpen menarik.

Tahun ini, puisi-puisi dari penyair kebangaan tanah air akan bertemu dengan penggemarnya di lingkungan civitas akademika UGM.
Masih meneruskan format acara yang telah bergulir, maka kali ini karya Halim Bahriz (yang pada edisi terakhir 2017 menjadi pembahas) akan diulas oleh M. Aan Mansyur dan Damay Rahmawati.

Senang sekali rasanya bila Anda turut hadir dan berpartisipasi dalam forum diskusi sastra ini. Sengaja kami unggah jauh-jauh hari, agar Anda bisa mencuri waktu dan menyempatkan menonton. Sampai bertemu nanti di Kamis, 15 Februari pkl. 18.30 di Hall PKKH.

Laris manis tanjung kimpul! Mari berbagi pengetahuan bersama. PKKH menjual buku antologi naskah dari para presenter yang...
09/01/2018

Laris manis tanjung kimpul! Mari berbagi pengetahuan bersama. PKKH menjual buku antologi naskah dari para presenter yang menampilkan naskahnya pada Seminar Kritik Sastra 2015 dalam buku POELITICS: Esai-Esai Politik Kritik Sastra di Indonesia. Bagi teman-teman yang tertarik silakan menghubungi kami. PS: harga bersahabat ❤️❤️❤️

Deskripsi:
Di Idnonesia, kritik sastra, baik sifatnya akademis dan non-akademis merupakan suatu praktik. Setiap praktik mengimplikasikan dampak-dampak politis tertentu terhadap pembacanya, dalam bentuk suatu pembentukan opini tertentu, legitimasi tertentu, relasi kuasa tertentu dan seterusnya. Kritik sastra di Indonesia tidak berdiri terpisah dari publiknya. Ia merupakan ranah politis di mana kepentingan kritikus, sastrawan, media, pembaca dan pasar dikontestasikan. Sejarah sastra Indonesia tidak lepas dari politik kritik di dalamnya. Politik tersebut bahkan sudah lahir sebelum Indonesia merdeka. Sejak konflik Balai Pustaka dan “batjaan liar” Melayu Tionghoa tahun 1920n, kritik itu terus bermunculan tanpa henti mulai dari konflik Pujangga Baru dan komunisme, Lekra vs Manikebu, konflik sastra wangi, TUK vs Boemiputera, sastra koran dan sastra pedalaman hingga penolakan terhadap berbagai festival dan penghargaan sastra semacam Ubud, KLA, DKJ dan sebagainya. Semuanya saling berebut, saling umpan ideologis, hingga yang terakhir munculnya berbagai kritik sastra terkait kontroversi 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh dalam polemik Frankfurt Book Fair 2015. Dibutuhkan suatu pembacaan teoretis atas semua peristiwa itu. Meski sejarah selalu berlangsung tak linear, terputus-putus dan tak jarang tumpang tindih, upaya pembacaan semacam ini dirasa masih dibutuhkan setidaknya untuk para akademisi, sastrawan dan masyarakat umum agar mereka ‘melek’ politik sastra. Yang terhimpun dalam bunga rampai ini adalah kump**an makalah yang dipresentasikan oleh para kontributor daam acara seminar bertajuk “Politik Kritik Sastra di Indonesia” yang dilaksanakan di PKKH pada 24 – 25 November di UGM Yogyakarta.

Kontributor:
AS. Laksana
Bandung Mawardi
Endhiq Anang P.
Esha Tegar Putra
Faruk HT
Goenawan Mohammad
Hamzah Muhammad
I.B. Putera Manuaba
Katrin Bandel
Kurniawan Desiarto
Muhammad Al-Fayyadl
Nasrudin
Tia Setiadi
Wahyu Heriyadi
Wijaya Herlambang
Yongki Gigih Prasisko
Yoseph Yapi Taum

Meskipun cuaca tidak menentu, jalanan ramai padat merayap, dan lemburan belum selesai, mari sejenak merayakan libur perg...
29/12/2017

Meskipun cuaca tidak menentu, jalanan ramai padat merayap, dan lemburan belum selesai, mari sejenak merayakan libur pergantian tahun menuju awal yang baru di 2018 dengan penuh sukacita dan bahagia. Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri mengucapkan selamat tahun baru 2018. Semoga tahun anjing tanah mendatang memberikan berkah bagi kita semua.

Selain pameran Membongkar Bingkai-Membuka Sekat yang masih akan berlangsung hingga 16 Desember nanti, ada juga dua agend...
13/12/2017

Selain pameran Membongkar Bingkai-Membuka Sekat yang masih akan berlangsung hingga 16 Desember nanti, ada juga dua agenda lain yang tak kalah menarik untuk dinikmati bersama.

Besok, Kamis (14/12/2017) PKKH berkolaborasi dengan Kalanari Theatre Movement menyelenggarakan program diskusi rutin Temen Ngobrol #7 bersama Eko Santosa atau kita mengenalnya dengan Eko Ompong. Acara diskusi akan berlangsung di ruang pameran PKKH, mulai Pkl. 15.00-17.30.

Sementara itu, lusa atau Jumat (15/12/2017) masih beriringan dengan Dies Natalis UGM dan rangkaian pameran juga, PKKH bekerjasama dengan Teater Terjal Fakultas Ilmu Budaya UGM akan mementaskan pertunjukan bertajuk Nyidam. Pentas ini berangkat dari adaptasi naskah cerpen yang bertajuk sama karya Bakdi Sumanto. Pentas teater ini akan berlangsung Pkl. 19.00 di Teater Terbuka PKKH.

Baik pameran, diskusi dan pementasan teater semuanya gratis!

Beberapa momen yang berhasil ditangkap oleh kamera dalam perayaan malam pembukaan pameran seni rupa Membongkar Bingkai-M...
13/12/2017

Beberapa momen yang berhasil ditangkap oleh kamera dalam perayaan malam pembukaan pameran seni rupa Membongkar Bingkai-Membuka Sekat yang memamerkan karya-karya alumni, dosen dan karyawan UGM semalam (Senin, 11/12). Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi teman-teman dalam pameran ini, panitia yang bertugas, pengisi acara yang sangat apik; bapak YR Landung Laksono Simatupang dan Deugalih, juga atensi sahabat sekalian yang hadir semalam. Pameran masih akan berlangsung hingga 16 Desember 2017, buka mulai Pkl. 10.00-20.00. Semua gratis dan terbuka untuk umum!

Bagi sahabat yang akan berkunjung, jangan sungkan untuk karaoke bersama lagu Darah Juang dalam bilik karaoke Darah Juang karya Uma Gumma. Luapkan juga ekspresimu dengan melempari cat dalam karya interaktif Saiful Bachri. Namun, demi kenyamanan bersama, kami harus membatasi jumlah partisipan yang hendak melempar cat pada karya Saiful Bachri untuk menghindari genangan ruangan. Jadi... jangan sungkan untuk mampir ya!

Dokumentasi acara malam pembukaan Pameran Tribute to The Maestro I Nyoman Gunarsa semalam (23/11) yang diselenggarakan o...
24/11/2017

Dokumentasi acara malam pembukaan Pameran Tribute to The Maestro I Nyoman Gunarsa semalam (23/11) yang diselenggarakan oleh Sanggar Dewata Indonesia bertempat di ruang pameran PKKH. Pameran ini memamerkan karya-karya seniman anggota Sanggar Dewata Indonesia lintas angkatan, kolega/rekan Nyoman Gunarsa selama mengajar di Yogyakarta dan sahabat beliau lainnya. Pameran berlangsung hingga 29 November 2017, buka setiap hari mulai Pkl. 10.00-20.00. Gratis dan terbuka untuk umum. Jangan lewatkan juga live sketching Joged Bumbung Dance, besok Sabtu (25/11) Pkl. 13.00 di ruang pameran PKKH. Mari bersama-sama merayakan semangat hidup dan berkesenian sang maestro, I Nyoman Gunarsa.

Address

Jalan Pancasila, Bulaksumur, Sleman
Yogyakarta City
55281

Telephone

+62274557317

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pkkh Ugm Koesnadi Hardjasoemantri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The University

Send a message to Pkkh Ugm Koesnadi Hardjasoemantri:

Share