07/05/2026
Di dunia transportasi darat Indonesia, nama PO ALS atau Antar Lintas Sumatera sudah menjadi legenda hidup yang tak lekang oleh waktu. Perusahaan otobus asal Sumatera Utara ini dikenal sebagai salah satu pelopor trayek bus jarak jauh di Indonesia, bahkan pernah menyandang predikat pemilik trayek bus terpanjang di Nusantara.
PO ALS didirikan pada 29 September 1966 di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, oleh H. Sati Lubis bersama beberapa saudagar kerabatnya. Awalnya, ALS bukanlah perusahaan angkutan penumpang, melainkan bergerak di bidang transportasi barang untuk mengangkut hasil bumi masyarakat Sumatera.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan transportasi umum, ALS mulai membuka layanan penumpang dengan trayek Kotanopan–Medan menggunakan armada Chevrolet C50. Dari sinilah perjalanan panjang ALS dimulai. Di masa itu, kondisi jalan lintas Sumatera masih jauh dari kata nyaman, penuh tanjakan, lumpur, hingga jalan berbatu. Namun ALS tetap hadir menjadi penghubung antar daerah.
Memasuki era 1970-an, ALS berkembang pesat dan mulai memperluas jaringan trayek ke berbagai kota besar di Sumatera seperti Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Lampung hingga Banda Aceh. Keberanian ALS membuka jalur-jalur baru membuat namanya semakin dikenal masyarakat luas sebagai bus lintas Sumatera sejati.
Ambisi ALS tidak berhenti di Pulau Sumatera. Pada era 1980-an, ketika kapal penyeberangan mulai mampu mengangkut kendaraan besar antar pulau, ALS mulai membuka trayek menuju Pulau Jawa. Rute-rute panjang seperti Medan–Jakarta, Medan–Bandung, Medan–Yogyakarta, Medan–Semarang, Medan–Surabaya hingga Medan–Jember menjadi bagian dari sejarah transportasi Indonesia.
Trayek terjauh ALS mencapai sekitar 2.920 kilometer dengan waktu tempuh hingga tujuh hari perjalanan. Karena itulah ALS dijuluki sebagai pemilik trayek bus terpanjang di Indonesia. Perjalanan panjang tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para penumpang yang merasakan langsung kerasnya perjalanan lintas pulau di era sebelum jalan tol berkembang seperti sekarang.
ALS juga dikenal memiliki ciri khas unik yang melekat di ingatan masyarakat, yakni membawa banyak barang dan paket di atas atap bus. Tumpukan barang di roof rack menjadi pemandangan ikonik yang identik dengan bus ALS selama puluhan tahun.
Tak hanya dikenal karena trayek jauhnya, ALS juga memiliki hubungan emosional yang kuat dengan penumpangnya. Ada slogan legendaris yang sangat terkenal di kalangan pecinta bus:
“Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara.”
Kalimat itu lahir dari perjalanan panjang berhari-hari yang membuat kru dan penumpang saling mengenal layaknya keluarga sendiri. Banyak pelanggan tetap ALS yang setia menggunakan jasa mereka hingga lintas generasi.
Popularitas ALS bahkan masuk ke dunia musik dan budaya masyarakat Sumatera. Lagu “Di Loket Ni ALS” yang dipopulerkan Bonardo Trio menjadi bukti bahwa ALS bukan sekadar alat transportasi, melainkan sudah menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat Sumatera.
Hingga kini, di tengah persaingan transportasi modern dan hadirnya jalan tol Trans Sumatera, nama ALS tetap bertahan sebagai simbol kejayaan bus lintas Sumatera dan saksi perjalanan panjang transportasi darat Indonesia.
Info via Bus Indonesia
Gambar Ilustrasi